Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Antara Kota M dan Jerman


__ADS_3

"Berikan padaku, aku akan membantumu!"


Dokter Anna yang tadinya sudah melangkah kedekat tempat tidur suaminya, kembali berbalik pada dokter Nata karena merasa kasihan pada sahabatnya itu. Ia meraih kotak salad buah yang berada dipangkuan dokter Nata.


"Tidak perlu, Na. Aku bisa makan nanti saat mama kembali."


"Kamu yakin?"


Dokter Nata menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan dokter Anna. Ia harus tahu diri dokter muda yang berada dihadapannya saat ini bukan lagi sahabatnya yang dulu tapi ia sekarang sudah menjadi istri dari pria yang berada satu kamar perawatan dengannya.


"Baiklah, terserah kamu saja." balas dokter Anna lalu menyimpan kembali kotak makanan itu diatas meja.


Ia kemudian berjalan kedekat dokter Adit dan disambut dengan senyum oleh suaminya itu.


"Aku hanya kasihan melihat Nata, mas." ucapnya dengan suara pelan setelah duduk disamping tempat tidur dokter Adit.


"Aku justru merasa senang andai Nata menerima tawaran bantuanmu."


Dokter Anna hanya tersenyum getir mendengar ucapan suaminya. Ia tahu kedua dokter tampan itu bersahabat baik bahkan sudah seperti saudara sendiri, tapi apa dokter Adit sama sekali tidak memiliki rasa cemburu pada pria yang ia tahu pernah mengisi hati istrinya itu.


Dokter muda berparas manis tersebut menghela nafas dalam-dalam, ia menahannya beberapa detik lalu menghembuskannya perlahan. Dokter Adit memang belum pernah sekalipun mengatakan cinta padanya. Ia ingat kata-kata pria dihadapannya saat ini bahwa cinta baginya tidak lebih penting dari sebuah komitmen. Dokter Anna tidak menyalahkan itu, tapi sebagai wanita ia tidak bisa memungkiri hatinya bahwa ternyata ia butuh pernyataan cinta langsung dari mulut pria yang akan menjadi parnert hidupnya melewati hari esok.


***


KOTA M


"Silahkan masuk tuan, tuan muda sudah menunggu anda didalam." ucap Eliana pada seorang pria yang memakai setelan jas warna silver dengan kacamata hitam yang masih bertengger dihidung mancungnya.


"Terima kasih." balas pria itu yang tak lain adalah Sultan.


Ia sengaja datang ke kantor Biantara Grup siang itu untuk membicarakan hasil sidang hari ini dengan CEO dari perusahaan besar tersebut. Pintu ruangan Satya seketika terbuka setelah Sultan berada tepat didepannya.


"Maaf karena harus membuat seorang CEO besar menungguku," canda Sultan setelah masuk kedalam ruangan besar dan mewah itu.


Satya tersenyum kecil dan berdiri menyalami Sultan.


"Aku yang harusnya berterima kasih karena sudah menyempatkan waktu datang kemari meski sebenarnya kamu juga sedang sibuk."


"Silahkan duduk," ucap Satya.


"Makasih," balas Sultan seraya duduk pada sofa kulit yang memang dipakai Satya untuk menerima tamu.


"Aku tidak tahu apa kamu suka atau tidak, tapi ini sudah disiapkan oleh Eliana. Silahkan dicicipi sambil kita berbincang santai." kata Satya mempersilahkan tamunya.


"Aku menyukai semua makanan halal yang bisa mengeyangkan," jawab Sultan.


Keduanya pun larut dalam obrolan santai siang itu, sambil sesekali menikmati cemilan dan minuman dingin yang disediakan Eliana. Bahkan saat Sultan sudah mulai bicara serius, sama sekali tidak terlihat wajah khawatir pada raut muka Satya. Wajah tampan itu tidak pernah menampakkan ketakutan sama sekali meski lawan sudah menodongkan senjata didepan mata.


"Tim pengacaramu sangat bekerja keras dipersidangan tadi, tapi aku tidak tahu kenapa satu orang saksi dari pihak kita tiba-tiba tidak hadir. Kalau dalam sidang minggu depan dia belum bisa datang, kita bisa kalah karena dia merupakan saksi inti dalam masalah ini."


"Kamu tenang saja. Semua akan berjalan sesuai harapan kita."


"Apa kamu sama sekali tidak takut jika nanti benar-benar kalah dan mendekam dibalik jeruji besi? Kebenaran seringkala kalah diawal oleh strategi licik dari musuh."


"Kamu benar, tapi musuh tidak lebih hebat dari aku. Biarkan saja mereka bersenang-senang sementara, karena mereka fikir sebentar lagi akan bisa mengalahkan aku. Mereka sudah salah besar bermain-main denganku."

__ADS_1


Satya tersenyum licik mengingat rencana yang akan ia lakukan untuk melumpuhkan orang yang sudah menjebaknya.


"Aku selama ini hanya mendengar dari orang-orang tentang tuan muda Satya yang tidak pernah takut pada lawan manapun, tapi sekarang aku sudah membuktikannya sendiri. Saat aku merasa terjepit pada situasi ini, kamu malah masih bisa tertawa santai."


"Hahaha, kamu beruntung karena bisa mendengar tawaku. Sebelumnya bahkan orang-orang harus membayar mahal hanya untuk melihat senyumku."


"Apa kehadiran Ruby sudah mengubah hidupmu?" tanya Sultan hati-hati.


Satya seketika berhenti tertawa dan menatap Sultan dengan tatapan tajam, membuat Sultan bergidik dan merasa takut, ia menyesal sudah menanyakan hal itu pada Satya. Sultan bisa bernafas lega saat Satya bersuara dan ternyata ia tidak marah mendengar pertanyaannya.


"Aku percaya semua hal yang terjadi dalam hidup ini sudah diatur oleh Sang Pemilik Langit dan Bumi, tidak ada yang mampu mengubah ketetapan_Nya. Kadang yang tidak terlihat baik dimata manusia, ternyata itu yang terbaik dihadapan_Nya."


"Jawaban yang sangat bijak. Maaf kalau pertanyaanku sempat menyinggungmu."


"Tidak masalah, santai saja."


Pembicaraan kedua pria tampan itu pun berlanjut ke topik lain yang sesekali diselingi oleh tawa keduanya.


***


JERMAN


Pagi itu langit Jerman terlihat berawan saat Ruby diantar oleh Bagas ke Rumah Sakit untuk menjenguk dokter Nata sekaligus melihat keadaan mertuanya. Hanya butuh beberapa menit Ruby sudah sampai di Lobby rumah sakit. Dan seperti perintah Satya, Bagas terus menguntit dibelakang Ruby menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar perawatan dokter Nata. Dokter Anna sudah mengirimkan nomor kamarnya semalam. Ia bermaksud menjenguk terlebih dulu kedua dokter yang pernah tinggal seatap dengannya itu dan sudah banyak membantunya.


"Assalamualaikum," ucap Ruby setelah berada didepan kamar dan membuka perlahan pintunya.


"Waalaikumsalam."


Jawaban bersamaan yang diucapkan oleh keempat orang yang berada didalam ruangan tersebut. Semuanya kompak menoleh kearah pintu.


Dokter Nata sedikit terkejut melihat Ruby. Ia memang tidak tahu kalau Ruby tinggal di Jerman untuk beberapa waktu.


"By, ayo masuk." ajak dokter Anna menyambut Ruby.


Ruby tersenyum dan memeluk dokter Anna dengan hangat.


"Gimana keadaan kak Adit?"


Ruby menanyakan lebih dulu keadaan dokter Adit sebelum ia melangkah kearah tempat tidur dokter Nata.


"Alhamdulillah sudah agak baikan, By. Mungkin besok sudah bisa pulang."


"Syukurlah, kak."


Ruby kemudian mendekati wanita paruh baya yang duduk disamping tempat tidur dokter Nata dan sejak tadi terlihat menatapnya. Ia meraih tangan wanita itu yang juga mengulas senyum ramah kearahnya.


"Aku temannya kak Nata, tan."


"Kamu cantik sekali nak, kamu dari kota M juga?"


"Makasih, tan. Iya, aku dari kota M juga."


"Nata kog nggak pernah cerita yah kalau punya teman secantik kamu."


Ruby hanya tersenyum tipis mendengar ucapan tante Arayu, dokter Nata yang sejak tadi mendengarnya ikut menimpali.

__ADS_1


"Ini Ruby ma, istri Satya."


"Apa? Jadi kamu juga sudah punya suami?"


Tante Arayu yang tadinya terlihat bersemangat, lagi-lagi harus merasa kecewa mendengar ucapan dokter Nata.


"Iya, tan." jawab Ruby.


"Udah punya anak juga," tambah dokter Nata sengaja ingin membuat mamanya semakin kesal.


Kandungan Ruby yang baru berjalan tiga bulan membuat perutnya belum terlihat membuncit sehingga tidak ada yang tahu kalau ia sedang hamil.


"Kamu terlalu lama berfikir untuk menikah hingga semua wanita sudah berstatus istri orang," balas tante Arayu ketus.


Dokter Nata tersenyum melihat raut wajah mamanya, meskipun ia terdengar kesal, wajahnya masih terlihat cantik.


"Kamu istri dari Satya Hadian Biantara sahabat Nata?" tanya tante Arayu kemudian.


"Iya, tan." jawab Ruby sedikit membungkukkan badannya.


"Tapi bukannya istri Satya tidak pakai jilbab?" tanya tante Arayu lagi penuh rasa ingin tahu.


"Ma, udah dong. Ruby kesini bukan untuk ditanya-tanyain sama mama."


"Nggak papa kog, kak. Aku istri kedua dari mas Satya, tan."


"Oh, maaf sayang kalau tante banyak tanya."


Tante Arayu akhirnya terdiam dan bermaksud menanyakannya nanti saja pada dokter Nata. Begitu banyak pertanyaan yang menari-nari dikepalanya saat ini.


"Nggak apa-apa kog, tan." balas Ruby menarik kedua ujung bibirnya.


"Bagas, jangan cuma berdiri disana. Duduk saja disofa. Aku pastikan Satya tidak akan menghukummu kali ini." perintah dokter Nata beralih pada Bagas yang sejak tadi hanya berdiri didepan pintu.


"Oke." jawab Bagas singkat.


"Oya gimana keadaan kak Nata sekarang?" tanya Ruby kemudian.


"Seperti yang kamu lihat, By. Tanganku mengalami patah tulang dan sulit untuk digerakkan."


"Aku mendengar dari kak Anna tentang apa yang sudah kak Nata alami disana. Pasti sangat mengerikan."


"Sebenarnya tidak ada yang lebih mengerikan dari hati yang patah. Kalau tangan patah masih bisa diobati tapi kalau hati, tidak punya penawarnya." ucap dokter Nata mencoba bercanda.


"Kak Nata bisa aja." balas Ruby dengan tawa.


"Siapa bilang tidak punya penawar. Kamu cari saja cepat-cepat calon istri, pasti ia bisa menyembuhkan hatimu yang sudah patah." Sela tante Arayu terdengar sinis.


Ruby dan dokter Nata hanya tersenyum mendengar ucapan tante Arayu yang lagi-lagi menyindir keras putra kesayangannya itu.


_BERSAMBUNG_


*** Happy reading kesayangan mommy, Maaf yah jika ada yang merasa cerita ini menoton yang bergulir disitu-situ saja. Mommy hanya ingin cerita ini berjalan seperti kehidupan sehari-hari yang benar-benar dijalani oleh para tokohnya😘🤗


❤️ Jangan mengejar sesuatu yang sudah menjadi Milik oranglain karena saat kamu dihadapkan pada hal yang sama, kamu akan menerima pembalasan yang lebih kejam😊

__ADS_1


__ADS_2