
Keesokan harinya Satya sengaja bangun lebih awal karena hari ini ia akan bersiap-siap melakukan perjalanan kedesa Ruby. Ia sudah nampak sangat tampan dengan setelan jas brandednya seperti biasa.
Setelah sarapan pagi dengan secangkir cappucino mocca dan roti selai, ia pun keluar dari rumah utama menuju mobilnya yang sudah diparkir pas didepan pintu utama, pak Tanto sudah terlihat menunggu disana sejak tadi. Satya berjalan dengan elegan kearah mobil tersebut. Mobil alfard keluaran terbaru itu pun melaju dengan kecepatan sedang diantara hiruk pikuk kota M dipagi hari saat Satya sudah duduk diatas sambil menyilangkan kedua kakinya.
Tidak sampai satu jam sampai juga ia di bandara, Bagas yang sejak tadi menunggu disana langsung menyapa tuan mudanya saat ia turun dari mobil.
"Bagaimana Gas, apa sudah kamu siapkan semua yang akan aku bawa kedesa? tanya Satya.
"Sudah tuan muda, semua juga sudah dikemas dengan baik agar sampai dengan aman kesana," jawab Bagas. Satya memajukan sedikit bibir bawahnya.
"Kerja bagus, kamu memang selalu bisa aku andalkan," ucapnya.
"Nah ini dia tuan muda, yang akan tuan muda bawa sebagai buah tangan," kata Bagas menunjuk dua buah troli, setiap troli berisi lima buah kardus sedang.
"Apa kamu yakin aku akan membawa semua ini?" tanya Satya membelalakkan matanya.
"Iya tuan muda saya yakin, ini semua barang-barang yang disukai ibu-ibu seusia Nyonya besar," jawab Bagas mantap.
"Oke, terserah kamu saja, aku percaya sama pilihanmu," ucap Satya.
"Terima kasih tuan muda," balas Bagas sambil membungkukkan sedikit badannya. Mereka kemudian berjalan menuju keruangan khusus yang biasa ditempati Satya sambil menunggu persiapan penerbangannya.
Ia sengaja tidak memberi tahu Ruby tentang kedatangannya kali ini, ia akan memberi kejutan untuk Ruby dan keluarganya.
Saat Satya dan Bagas berada didalam ruangan khusus tersebut, Bagas kembali memberanikan diri menanyakan tujuan Satya ke kota M.
"Maaf tuan muda, tapi boleh aku bertanya sekali lagi?".
__ADS_1
"Katakan, kamu mau bertanya apa?" balas Satya.
"Apa yang membuat tuan tiba-tiba akan berangkat kekota M dengan membawa banyak barang untuk ibu-ibu?".
"Kamu ternyata sangat kepo juga, baiklah kalau kamu sangat ingin tahu, aku akan memberitahumu. Aku kesana untuk menemui Ruby dan keluarganya," ucap Satya.
"Apa anda sudah mengetahui keberadaan Nyonya Muda kedua?" tanya Bagas lagi.
"Apa kamu tuli sampai tidak berhenti bertanya, aku kan sudah bilang aku akan menemui Ruby, itu artinya aku sudah mengetahui dia dimana sekarang," balas Satya, membuat Bagas dongkol dalam hati.
"Sudah aku tebak dia pasti akan menjawab seperti itu," ucap Bagas sangat pelan sehingga Satya hanya samar-samar mendengarnya.
"Kamu bilang apa Gas?"
"Gak ada apa-apa tuan muda," jawab Bagas cepat, ia tidak ingin membuat tuan mudanya marah karena dirinya yang asal bicara. Ia sangat tahu Satya adalah orang yang baik, ia sudah memberi Bagas gaji yang sangat tinggi diperusahaan dan ia juga selalu memberi bonus lebih untuknya. Kalau masalah sikapnya yang dingin dan sinis, memang dari Satya lahir sudah seperti itu adanya.
Setelah menunggu beberapa menit, jet pribadi milik Satya akhirnya siap untuk tinggal landas. Satya pun berjalan menuju jet pribadinya dengan Bagas yang masih setia mengantar disampingnya.(Sultan mah bebas🤭)
"Baik tuan muda, semoga perjalanan anda menyenangkan," balas Bagas menundukkan kepalanya yang hanya dibalas dengan anggukan Satya.
Didalam jet Satya melempar pandangannya keluar jendela, hatinya saat ini terasa tenang karena saat ia kembali menemui Ruby, Rania sudah lebih dulu menemukan kebahagiaannya, Ia sekarang lega tidak perlu terbebani dengan sebuah hubungan yang rumit, untuk kedepannya ia benar-benar sudah menanamkan dalam hatinya untuk lebih berhati-hati lagi mengambil langkah dan keputusan.
Ia tau kali ini sudah salah melangkah, hanya karena ia tidak bisa menuruti kemauan ibunya untuk menikah lagi akhirnya ia menenangkan diri dengan minuman beralkohol yang efeknya sebentar tapi akibatnya lama. Sampai ia menghamili seorang wanita karena sudah tidak sadar dibawah pengaruh alkohol dan harus mengorbankan rumah tangganya, tapi ia tidak mau lagi melihat kemasa lalu saat ini, ia hanya ingin fokus kembali membina sebuah rumah tangga dengan baik.
Sementara itu didesa, Ruby sedang membawa baby Gyan jalan-jalan pagi mengelilingi kampungnya. Baby gyan begitu tenang diatas stroller barunya yang dibelikan oleh Amri pamannya saat kekota, sesekali bayi mungil itu tertawa kearah bundanya. Aydan yang ikut bersama Ruby tidak henti-hentinya berceloteh sepanjang jalan. Ruby sama sekali tidak tau kalau sebentar Satya akan datang. Ia berfikir mereka akan bertemu lagi saat Ruby kembali kekota M.
"Eh Ruby, itu siapa yang dibawa?" tanya kerabat jauh Ruby yang rumahnya berada lumayan jauh dari rumah ibu Rumana.
__ADS_1
"Ini anak aku tante," jawab Ruby menghentikan jalannya.
"Ya ampun By, kamu sudah nikah lagi, tante tau kamu datang tapi tante belum punya kesempatan kerumah ibumu," balasnya mendekati Ruby.
"Tante turut berduka cita yah atas kepergian Rendra," ucapnya setelah berada disamping Ruby.
"Iya tante, makasih," jawab Ruby.
"Lucu banget anaknya, halo sayang," perempuan setengah baya itu mencubit pipi baby Gyan karena gemasnya, baby Gyan yang mendapat perlakuan seperti itu bukannya menangis malah melebarkan tawanya seolah sedang diajak main.
"Suami kamu juga ada dirumah ibu?" tanyanya lagi.
"Tidak ada tan, aku cuma berdua sama anakku," balas Ruby.
"Oya, suami kamu sekarang gak kalah sama Sultan kan? Mencari pengganti itu harus yang berada lebih diatas mantan," ucapnya memajukan bibir bawahnya persis seperti tukang ghibah ulung. Ruby hanya tersenyum tipis mendengar perkataan wanita itu, ia memang sejak dulu suka sekali mengurusi hidup Ruby. Kalau mengurusi yang baik-baik sih tidak apa-apa, ini dia sengaja mencari kelemahan Ruby.
"Aku duluan yah tan, ibu menunggu sarapan bersama dirumah," ucap Ruby mengalihkan karena tidak ingin berlama-lama disitu.
"Yah udah, eh Ruby tunggu, kamu sekarang harus lebih berhati-hati supaya suami kamu tidak selingkuh lagi kayak kemarin," ucapannya bernada menasehati tapi raut mukanya terlihat sangat mengejek.
Ruby lagi-lagi hanya tersenyum tipis menanggapinya. Aydan yang sejak tadi telinganya panas mendengar ucapan wanita tersebut hendak membalas kata-katanya tapi Ruby lebih dulu menyenggol lengannya sebagai isyarat untuk diam saja.
Ruby dan Aydan pun kembali kerumah, beberapa orang yang melihatnya menyapanya pagi itu, tapi hanya wanita paruh baya tersebut yang ucapannya sulit ditelan.
Sore hari saat Ruby sedang menyiram bunga dihalaman rumah ibunya, tiba-tiba sebuah mobil mewah dan sebuah mobil bak berhenti pas didepan rumahnya. Ruby menghentikan aktivitasnya, ia penasaran siapa yang sudah datang tapi ia sama sekali tidak mengira bahwa itu Satya karena semalam saat bicara ditelfon, Satya juga tidak memberitahukan apa-apa padanya tentang kedatangannya hari ini.
Satya tidak perlu lagi menelfon Ruby menanyakan alamat detailnya karena orang-orang yang sudah disiapkan Bagas untuk melayaninya selama dikota B bekerja sangat baik. Hanya dengan menyebutkan nama desa Ruby mereka sudah tau dan tanpa banyak bertanya mereka melajukan kendaraan kedesa tersebut.
__ADS_1
🤩 Jangan lupa dukungannya readers dengan LIKE, VOTE, dan KOMENT. Terima kasih bagi yang sudah menyukai cerita ini dan mohon maaf karena belum bisa crazy up dan masih banyak kekurangan😘🙏
*** Tidak ada satu hal pun terjadi pada diri kita yang perlu disesali karena TUHAN sudah mendesain sedemikian rupa Takdir yang akan kita jalani saat masih berbentuk janin didalam tubuh wanita hebat🤗❤️