Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Tidak Bisa Percaya


__ADS_3

JERMAN


"Lil, kog perasaanku nggak enak gini yah." ucap Ruby saat ia dan Lila sedang bersantai didepan TV sehabis sarapan pagi.


"Memangnya ada apa, non?"


"Tumben-tumbenan mas Satya nggak nelfon semalam, aku telfon juga nggak diangkat-angkat. Mudah-mudahan ia baik-baik saja yah, Lil."


Terlihat jelas kekhawatiran diwajah Ruby. Biasanya Satya akan selalu menelfon sebelum ia tidur. Tapi semalam bahkan telfon Ruby pun tidak diangkatnya.


"Mungkin tuan muda lagi sibuk, non. Apa non Ruby sudah menghubunginya pagi ini?"


"Belum, Lil."


"Coba dihubungi lagi, non."


Ruby kemudian meraih ponselnya diatas meja. Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia lalu melakukan panggilan telfon pada suaminya. Tapi sampai pada deringan terakhir pun telfonnya belum juga dijawab oleh Satya. Ia lalu menoleh kearah Lila seraya menggelengkan kepalanya.


"Coba sekali lagi, non. Kalau belum dijawab juga, nanti kita hubungi tuan Bagas."


Lagi-lagi Ruby menghela nafas berat sebelum kembali melakukan panggilan pada nomor Satya. Setelah beberapa kali deringan masuk terdengar ditelinganya, akhirnya suara bariton Satya yang ditunggu-tunggu Ruby sejak semalam terdengar dari seberang telfon. Terdengar dari suaranya ia sepertinya baru bangun tidur.


"Halo sayang," sapa Satya.


"Kamu baru bangun, mas?"


"Iya sayang." balasnya sambil memulihkan kembali kesadarannya.


"Aku menelfonmu beberapa kali semalam, mas."


Mendengar nada suara Ruby yang ketus, Satya langsung teringat semalam ia lupa menelfon Ruby karena terlalu lelah saat sampai dirumah.


"Maaf sayang, kemarin ada berita duka tapi aku tidak sempat memberitahumu karena terlalu sibuk mengurusi semuanya disini. Semalam aku pulang sudah sangat larut jadi aku langsung saja tidur, tidak sempat lagi menelfonmu."


"Berita duka apa, mas?"


"Kamu pasti tidak akan percaya mendengarnya tapi ini benar terjadi. Aku sendiri masih belum percaya sampai hari ini."


"Ada apa, mas? Apa yang sudah terjadi disana?"


"Rama...Rama...ia sudah pergi untuk selama-lamanya..."

__ADS_1


"Maksud kamu i...ia su...sudah me...me...ninggal, mas?" Suara Ruby terdengar bergetar.


"Iya sayang."


Serasa mendengar suara petir menggemuruh yang memekakkan telinga, Ruby refleks menjatuhkan ponsel dari tangannya. Lila yang sedang menyuapi baby Gyan didekat Ruby, ikut terkejut mendengar ucapan Ruby.


"Siapa yang meninggal, non?"


Ruby tidak langsung menjawab pertanyaan Lila karena ia sendiri merasa syok. Sementara diseberang telfon, Satya terus memanggil Ruby yang sudah tidak mendengarnya lagi karena ponselnya sudah terjatuh kelantai. Ia lalu mematikan telfon dan melakukan panggilan ulang. Saat mendengar ponselnya berdering dan dilayar tertera nama Satya, perlahan Ruby meraihnya dilantai dan menjawab telfon suaminya sambil mengatur keterkejutannya.


"Kamu baik-baik saja, sayang?" tanya Satya terdengar khawatir.


"Iya, mas. Aku hanya syok mendengarnya. Lalu bagaimana dengan mba Rania? Ia pasti sangat sedih, baru saja menikah tapi harus ditinggal pergi untuk selama-lamanya."


"Mereka belum sempat menikah, Rama menghembuskan nafas terakhir sebelum selesai mengucapkan akad nikah."


"Ya Allah, sungguh besar kuasa_Mu. Aku nggak apa-apa kog mas kalau kamu mau memberikan penghiburan untuk mba Rania sementara waktu."


"Kamu tidak usah khawatir sayang, aku lihat sejak kemarin Sultan selalu berada didekat Rania dan berusaha menenangkannya."


"Kak Sultan?"


"Iya, Sultan ayah Nendra. Aku tidak tahu mereka punya hubungan apa dimasa lalu tapi sepertinya mereka sudah kenal lama."


Ruby tidak ingin terlalu jauh membicarakan hubungan antara Rania dan Sultan.


"Itu yang kita semua inginkan, sayang."


"Oya dimana pangeran kecilku? Kita ganti panggilan video yah."


"Iya, mas."


Setelah puas melihat aktifitas putranya pada layar ponsel lewat panggilan video, Satya pun mengakhiri panggilannya. Sementara Lila yang sejak tadi ingin tahu cerita tentang Rama tapi tidak enak menyela pembicaraan tuan mudanya, akhirnya bersuara juga setelah Ruby menyimpan kembali ponselnya diatas meja.


"Apa yang sudah terjadi pada tuan Rama, non?"


"Rama meninggal sebelum menyelesaikan akadnya, Lil. Sangat sulit dipercaya tapi itulah kenyataannya."


"Benar, non. Aku seolah tidak percaya mendengarnya. Kasian nyonya Rania."


"Iya, Lil. Mba Rania pasti sangat sedih."

__ADS_1


Lila tidak bisa lagi berkata apa-apa, begitu pun Ruby. Keduanya sama-sama terdiam dan larut dalam fikiran masing-masing.


***


KOTA M


"Ma, meskipun papa udah nggak ada, tapi aku tetap ingin disini sama mama." ucap Andin terisak sambil memeluk Rania.


Rania mengusap rambut anak perempuan tersebut sambil berderai air mata. Sementara Sultan yang berada didekatnya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putri kesayangan Rama itu. Matanya juga turut berkaca-kaca melihat pemandangan yang disuguhkan didepannya. Seorang anak yang tidak mempunyai hubungan darah sama sekali dengan wanita yang tidak jadi dinikahi oleh papanya tapi tidak ingin berpisah dengan wanita cantik itu.


"Kamu tidak akan kemana-mana, sayang. Kamu akan tetap disini sama mama sampai kamu dewasa nanti." ucapnya sangat pelan dengan suara parau karena sudah menangis semalaman.


Keduanya kembali saling menangisi dan semakin mempererat pelukannya. Mulut Rania terasa keluh, ia tidak bisa berkata-kata lagi, hanya air matanya yang berbicara tentang kesedihan yang dirasakannya saat ini. Tentang betapa kehilangannya ia dengan sosok seorang Rama yang selama ini jadi tempatnya berlabuh saat ia sedang hilang arah dan tidak tahu akan kemana.


"Nia, sudah yah, kamu sudah semalaman menangis. Aku takut kamu malah jadi sakit. Kalau kamu sakit siapa yang akan mengurus Andin."


Mendengar ucapan Sultan, Rania perlahan melepaskan pelukan Andin. Ia membenarkan apa yang dikatakan oleh laki-laki yang sejak semalam ikut terjaga karena menemaninya menangis. Ia kemudian mengusap sisa-sisa air mata dipipinya. Bola matanya hampir tidak terlihat lagi karena matanya sudah membengkak.


"Andin, kamu duluan ke kamar yah sayang. Mama juga ingin istirahat."


Gadis kecil itu pun mengangguk dan melangkah perlahan menuju kamarnya ditemani asisten rumah tangga Rania. Setelah Andin berlalu dari hadapan Rania, wanita dengan mata sembab itu beralih menatap Sultan.


"Pergilah istirahat, Sul. Aku juga ingin sendiri dulu sekarang. Kamu tenang saja, aku akan baik-baik saja" ucap Rania pelan.


"Baiklah, tapi kamu janji yah jangan menangis lagi. Ikhlaskan kepergian Rama, ini semua sudah jadi ketentuan Tuhan. Kita tidak bisa menolak apa yang sudah digariskan Tuhan untuk kita."


Meskipun terasa sangat berat, Rania perlahan mengangguk sambil menahan tangis yang hendak pecah lagi.


"Aku pulang yah. Setelah istirahat sebentar dan ganti pakaian, aku akan kesini lagi."


Rania kembali mengangguk pelan untuk kedua kalinya.


"Aku tadi sudah memesankan bubur ayam untuk kamu. Kamu makan dulu baru istirahat. Kamu harus kuat. Ingat, Rama menitip Andin sama kamu."


"Makasih untuk semuanya, Sul." lirih Rania.


Sultan hanya mengangguk menanggapi ucapan Rania kemudian ia berlalu keluar dari rumah itu meninggalkan Rania sendiri terpaku ditempatnya.


Setelah kepergian Sultan, Rania berdiri dan melangkah gontai menuju kamarnya. Ia bermaksud beristirahat sebentar. Tapi sesampainya dikamar, ia bukannya beristirahat malah kembali menangis.


"Kenapa kamu bohong sama aku, Ram. Kamu bilang kita akan sama-sama membesarkan Andin. Kamu janji akan menemani aku sampai menua. Tapi kenapa kamu malah pergi duluan meninggalkan aku secepat ini. Kenapa, Ram? Kenapa kamu ingkar? Apa salahku?"

__ADS_1


Rania terus saja berbicara pada dirinya sendiri. Hingga akhirnya gejolak batinnya menjadi pengantar ia terpejam pagi itu setelah terjaga semalaman.


❤️ Happy reading kesayangan mommy. Selamat menanti saat berbuka puasa bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin🙏😘🤗


__ADS_2