Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Konferensi Pers


__ADS_3

"Aku benar-benar enggak nyangka An, ternyata wanita yang selama ini selalu disebut-sebut papa adalah kamu," ucap dokter Aditya memulai pembicaraan setelah mereka berada dibelakang rumah dokter Anna. Ia menghela nafas dalam-dalam melihat ke arah kolam renang yang terletak didepan gazebo tempat mereka duduk.


"Aku lebih kaget mengetahui ternyata laki-laki yang akan dijodohkan sama aku adalah sahabat dari sahabatku sendiri," balas dokter Anna yang juga menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar.


Mereka berdua sama-sama terdiam mencipta hening diantara suara-suara riak air pada kolam renang. Entahlah apa yang ada dalam fikiran masing-masing kedua insan yang sedang terbalut perasaan galau tersebut.


"Kalau aku menikah dengan Adit, apa itu berarti aku akan ikut ke Jerman dan setiap hari bertemu dengan Nata?" Batin dokter Anna.


"Apa memang selama ini Anna tidak pernah memiliki perasaan dengan laki-laki lain seperti kata om Bayu? Tapi yang aku lihat ia sangat dekat dengan Nata." Dokter Aditya ikut membatin.


"Dit."


"An."


Keduanya menyebut nama bersamaan.


"Kamu duluan aja Na," ucap dokter Aditya.


"Kenapa kamu mau menerima perjodohan ini, apa kamu tidak takut kita akan gagal saat ternyata nanti kita tidak bisa saling mencintai?" Tanya dokter Anna lebih dulu.


"Aku tidak pernah berfikir akan gagal saat baru memulai sesuatu dan aku yakin papa pasti memilihkan yang terbaik untukku," balas dokter Aditya.


"Apa kamu tidak pernah menyukai seseorang?" tanya dokter Anna hati-hati.


"Menyukai seseorang? Apa itu berarti mencintai? Jujur aku pernah mencintai dan karena itu aku tau bagaimana rasanya kecewa hingga aku lebih memilih fokus pada karir dan tidak lagi memikirkan pernikahan," jawab dokter Aditya.


Dokter Anna menatap kearah dokter Aditya, ia mencoba menyelami kedalaman matanya dan hanya kesungguhan yang ia dapatkan dalam maniknya. Ia kembali menghela nafas dalam-dalam dan membuang pandangannya kearah lain.


"Kalau kamu tidak yakin akan menerimaku, aku akan mundur, biar aku yang akan menjelaskan semuanya sama papa dan om Bayu," ucap dokter Aditya melihat sikap dan raut wajah dokter Anna.


"Apa ini ada hubungannya dengan Nata?" Tanyanya kemudian dengan sangat hati-hati.


"Nata? Ia hanyalah sahabatku sejak sama-sama kuliah di universitas dan jurusan yang sama, tidak lebih dari itu," jawab dokter Anna kaget dengan pertanyaan dokter Aditya.


"Semua tergantung bagaimana keputusanmu sekarang, aku sendiri sudah meyakinkan hatiku sebelum aku datang kemari. Aku mungkin tidak bisa memberimu kebahagiaan yang berlimpah tapi aku janji akan membuatmu tersenyum setiap hari," ucap dokter Aditya.

__ADS_1


"Untuk apa aku pulang kalau aku tidak akan menerima perjodohan ini." Ada rasa sesak yang terasa didada dokter Anna saat mengatakan itu.


"Jangan melangkah maju kalau kamu merasa tidak yakin karena langkahmu bisa berhenti ditengah jalan," balas dokter Aditya.


"Kalau aku berhenti dan tidak sanggup lagi berjalan, apa kamu sanggup untuk memapahku sampai ke tujuan?" tanya dokter Anna dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau kamu izinkan, aku bahkan bisa menggendongmu asal kita bisa sama-sama sampai ketujuan," jawab dokter Aditya dengan wajah serius.


"Meskipun tanpa cinta?" tanya dokter Anna lagi.


"Cinta tidak lebih penting dari komitmen, kita sudah sama-sama dewasa sekarang. Ada banyak hal yang mesti kita lalukan, tidak hanya semata karena cinta." Balasan dokter Aditya seolah membungkam mulut dokter Anna. Tapi itu belum bisa menghapus jejak nama dokter Nata dihatinya.


Ia seolah ingin berteriak mengabarkan pada dunia tentang begitu kejamnya hatinya saat ini yang begitu sulit membuka pintu untuk cinta lain selain cinta yang tak pernah nampak.


"Ayo kita masuk kalau hatimu sudah yakin," ajak dokter Aditya sambil berdiri.


Dokter Anna tahu pasti hatinya sampai saat ini belum yakin sepenuhnya tapi ia mengikuti juga ajakan dokter Aditya untuk kembali kedalam.


"Bismillah," gumam dokter Anna hampir tak terdengar sambil melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki dokter Aditya.


"Hari ini kita jadi konferensi persnya sayang?" tanya Ruby sambil memasang dasi pada kerah baju Satya.


"Iya sayang, aku baru akan menelfon Bagas jam berapa pastinya," jawab Satya.


Ia kemudian mengambil ponselnya yang masih terletak dimeja dan mulai memanggil nomor Bagas.


"Ada apa tuan muda?" Baru pada deringan pertama Bagas sudah mengangkat telfon Satya.


"Kamu dimana sekarang?" Tanya Satya.


"Aku lagi dirumah utama tuan muda."


"Dirumah utama? Sepagi ini? Apa kamu mau numpang sarapan disana?" Tanya Satya dengan ekspresi kaget.


"Tidak tuan muda, Lila menelfon saya pagi-pagi, ia menanyakan apa tugasnya hari ini jadi saya fikir daripada dikirim lewat email lebih baik dijelaskan langsung."

__ADS_1


"Aku harap bisa mempercayai jawabanmu," balas Satya merasa sangsi.


"Tentu tuan muda."


"Jam berapa konferensi pers hari ini?" Tanya Satya lagi mengingat tujuan utamanya menelfon Bagas.


"Sejam lagi semua media terkenal di kota M akan sampai dihotel tuan muda, kalau tuan muda mau aku bisa membungkam semua mulut media tersebut," lanjut Bagas.


"Tidak perlu, aku akan bicara sendiri sesuai fakta yang terjadi. Menyembunyikan sebuah kebohongan malah akan lebih menghancurkan nantinya. Aku yakin kalau publik yang baik dan pintar akan lebih menyukai kejujuran yang menyakitkan daripada kebohongan yang membahagiakan."


"Aku tunggu kamu disini 30 menit dari sekarang," ujar Satya.


"Baik tuan muda," jawab Bagas.


"Apa tuan muda ada masalah?" Tanya Lila yang ternyata sudah ada disamping Bagas.


"Kerjakan dengan baik semua tugas yang ada didalam note itu, aku akan pergi sekarang," perintah Bagas pada Lila dan tidak menunggu jawaban Lila, Bagas kemudian berlalu keluar.


"Tugas apaan lagi ini, masa aku disuru membersihkan taman belakang. Aku kan asisten non Ruby bukan tukang kebun. Dasar mas Bagas menyebalkan!" gerutu Lila yang sudah tidak terdengar ditelinga Bagas.


Tidak berapa lama Bagas sudah sampai di hotel tempat Satya menginap sekaligus tempat ia akan mengadakan konferensi pers hari ini. Disana sudah berdatangan semua media terkenal dikota M yang sudah diundang oleh Bagas. Nampak pula pengacara keluarga Biantara yang sudah lebih dulu duduk dikursi yang telah disediakan.


Saat konferensi pers sudah akan dimulai, Satya baru keluar dengan wajah dingin tanpa ekspresi membuat auranya ikut menular keseisi penghuni ruangan tersebut, menyusul dibelakangnya Ruby yang menggendong baby Gyan. Ia terlihat sangat gugup tapi masih bisa tersenyum tipis. Semua perwakilan dari masing-masing media sudah bertanya-tanya siapa wanita yanga ada disamping Satya sekarang. Tapi mereka sudah diperingati oleh Bagas agar tidak melontarkan pertanyaan pada tuan mudanya atau rumah berita mereka akan ditutup jika melanggar perintah Bagas.


Satya kemudian membuka konferensi pers dengan menyapa semua media yang datang hari itu. Semua juru kamera tidak henti menyorot Ruby dan baby Gyan. Pada sesi pertama tidak ada yang dibolehkan bicara sebelum Satya memulai lebih dulu.


"Saya sengaja mengundang kalian kemari untuk memberitahukan bahwa saya dan Rania Paradista sudah resmi bercerai." Satya berhenti sesaat setelah menekankan kata bercerai pada ujung kalimatnya. Ia kemudian melanjutkan kembali.


"Karena suatu kesalahan yang saya lakukan tanpa sengaja, saya dan Rania sudah sepakat menjalani kehidupan masing-masing. Tidak adalagi yang merasa disakiti disini."


***BERSAMBUNG***


❤️ Konferensi persnya dilanjut di bab selanjutnya yah, mohon dukungannya readers kesayangan, jari mungil kalian sangat berarti buat mommy🤗🤗


❤️ Hidup itu penuh dengan harapan, tidak salah berharap banyak asal siapkan hati seluas samudera agar pada saat harapan itu belum tercapai, kekecewaan hanya akan mampir sebentar dan bukan untuk tinggal selamanya💙

__ADS_1


__ADS_2