Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Pertempuran Pagi


__ADS_3

Satya pulang larut malam hari itu karena setelah bertemu Rania ia langsung ke kantor untuk mengadakan meeting dengan para pemegang saham sekaligus lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Saat ia memasuki rumah utama, keadaannya sudah sangat hening karena semua penghuninya sudah berada dialam mimpi. Pun ketika ia sampai di kamarnya lampu kamar sudah dimatikan menyisakan lampu tidur yang temaram.


Dibalik cahaya lampu tidur, samar-samar Satya melihat Ruby yang meringkuk dibawah selimut dipinggir ranjang. Tapi ia tidak mendapati baby Gyan disampingnya saat ia mendekat kesana. Satya menyunggingkan senyumnya, ia tahu ibu mertuanya selalu ingin membuat mereka tidur berdua.


Setelah membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaian kerjanya, ia ikut masuk kedalam selimut yang dipakai Ruby. pelan-pelan dilingkarkannya tangan pada perut Ruby. Karena Satya semakin mempererat pelukannya, Ruby akhirnya berbalik perlahan dan membuka matanya.


"Mas sudah lama pulangnya?"


"Sekitar setengah jam yang lalu," jawab Satya.


"Sudah makan mas?"


"Makan nasi sudah, makan yang lainnya belum." Satya tersenyum penuh arti kearah Ruby, Ruby langsung mengerti arah pembicaraan suaminya yang semakin lama semakin mesum. Belum sempat ia menbalas ucapan Satya, Satya sudah lebih dulu menempelkan bi***nya pada bi*** Ruby.


Semakin lama nafasnya semakin memburu, ia kembali melepaskan pakaian Ruby satu per satu. Jadilah malam itu malam yang panjang untuk kesekian kalinya bagi Satya dan Ruby.


Mereka baru memejamkan mata setelah merasa lelah habis bertempur sampai dini hari.


Keesokan harinya mereka berdua bangun kesiangan. Baru saja Ruby akan bangun setelah melihat ada siluet matahari dari balik gorden kamar yang tersibak, Satya langsung menariknya sehingga tubuhnya menindih tubuh Satya. Tangan Ruby bergerak cepat menempel di wajah Satya saat Satya hendak menempelkan lagi bibirnya.


"Aku mau shalat dulu mas," jawab Ruby. Satya terlihat manyun mendengar jawaban Ruby sedangkan Ruby puas melihat suaminya dengan wajah seperti itu.


"Semakin hari kamu semakin mesum aja mas." Ucap Ruby lalu buru-buru ke kamar mandi, takut Satya menerkamnya lagi. Satya hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu.


"Pak Karyo, antar sarapan ke kamar saya," ucap Satya lewat panggilan telfon.


Berselang setengah jam terdengar bel pintu kamar Satya berbunyi saat Satya baru keluar dari kamar mandi. Ia langsung berjalan ke arah pintu masih dengan handuk yang melilit ditubuhnya.


"Biar aku saja yang buka mas, kamu pake baju saja dulu. Siapa tau itu ibu," ucap Ruby yang sudah terlihat cantik dalam balutan gamis casualnya.


"Lalu kenapa kalau itu ibu? Ibu malah akan senang melihat tubuh atletisku ini secara gratis, aku enggak telanjang kog." Ucap Satya sambil mengunci Ruby di tembok kamar.


"Mas udah dong, aku mau buka pintu."


"Kamu sendiri yang selalu memancing aku duluan."

__ADS_1


"Memancing bagaimana, orang pakaian aku tertutup gini. Emang kamunya aja yang tambah mesum mas." Satya tersenyum mendengar ucapan Ruby.


"Ya sudah, kali ini kamu lolos lagi," balas Satya melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan Ruby.


"Tuan muda, sarapan anda sudah datang," ucap suara pak Karyo dari luar kamar.


"Kamu nyuruh pak Karyo bawa sarapan kesini?" Tanya Ruby mengerutkan keningnya.


"Iya, apa ada masalah?"


"Mas, kenapa kita mesti sarapan dikamar?" Aku mau keluar, mau liat Gyan juga." Ruby terlihat kesal.


"Kita keluar sebentar lagi, kamu tenang saja Gyan aman sama ibu. Waktu ditinggal ke Singapura saja dia enggak rewel kog." Jawaban Satya selalu bisa membuat Ruby tidak bisa membalasnya.


Setelah terlepas dari Satya, Ruby kemudian membuka pintu kamar dan mengambil troli yang berisi beragam makanan dari tangan pak Karyo.


"Makasih pak Kar."


"Selamat menikmati sarapannya Nyonya Muda." Pak Karyo membungkukkan badannya yang dibalas Ruby dengan senyum dan menganggukkan kepala.


"Aku kerja dimana saja juga bisa, tidak akan ada yang berani memecatku," jawabnya melebarkan senyum. Membuat Ruby harus waspada karena ini tanda-tanda ia akan mengganti lagi pakaiannya.


"Kalau gitu kita sarapan aja dulu yah, abis itu aku mau bawa Gyan berjemur ditaman belakang. Ibu sepertinya jarang bawa dia berjemur." Ruby mencari-cari alasan supaya bisa terbebas dari Satya.


"Gyan itu sudah bukan bayi baru lahir lagi, masih butuh dijemur," balas Satya tidak mau kalah.


"Berjemur itu tidak mesti bayi mas, orang dewasa aja dianjurkan berjemur untuk mendapatkan vitamin C dan D yang alami."


"Dan vitamin C dan D itu didapat saat berjemur antara jam 10 dan 11." Satya tersenyum puas bisa mengalahkan Ruby.


"Sudah yah membahas berjemurnya, kita sarapan dulu sekarang," ucap Satya kemudian.


Benar saja, dugaan Ruby tidak meleset karena Satya baru membebaskannya setelah mereka melakukan pertempuran pagi.


"Makasih sayang," ucap Satya mengecup kening Ruby setelah mereka selesai bertempur. Ruby hanya membalas dengan tersenyum tipis.


"Kamu kog tambah mesum mas, apa kamu minum jamu yah?" Pertanyaan Ruby malah membuat Satya terkekeh.

__ADS_1


"Aku mesum cuma sama kamu sayang, kamu tahu sendiri aku sudah break dari setahun lalu, jadi sekarang aku merapelnya," ucap Satya tersenyum jahil sambil menaikkan alisnya. Ruby meremas wajah menggemaskan itu.


Dengan enggan Ruby bangkit dan berjalan ke kamar mandi untuk mandi yang kedua kalinya.


Sementara Satya yang masih ditempat tidur meraih ponselnya dinakas dan menghubungi Bagas.


"Halo tuan muda, apa kabar hari ini?" Tanya Bagas setelah telfon tersambung.


"Dimana kamu menyembunyikan Lila?"


"Apa tuan muda membutuhkannya?"


"Ruby selalu bertanya tentang Lila."


"Kalau ujiannya selesai, aku akan segera mengirimnya kembali kesini," jawab Bagas.


"Aku tunggu dalam waktu dua puluh empat jam, dia harus sudah ada dirumah utama," balas Satya.


"Tapi tuan muda ujiannya dua hari lagi."


"Itu urusanmu." Sambungan telfon langsung terputus. Diseberang masih terdengar Bagas ingin membantah ucapan tuan mudanya tapi Satya sudah tidak memberinya lagi kesempatan.


"Lila akan kembali dalam waktu dua puluh empat jam sayang," ucap Satya setelag Ruby keluar dari mandi.


"Benarkah?" aku senang mendengarnya, jadi kemana-mana aku tidak lagi sendiri," jawab Ruby.


"Tapi Lila sebenarnya kemana mas?" Ruby masih penasaran tentang keberadaan Lila.


"Cuma Bagas yang tahu kemana perginya Lila, tapi itu tidak masalah, yang penting ia kembali," ucap Satya.


"Hanya Lila yang bisa aku percayai menjaga kalian, ia sudah membuktikan hasil kerjanya saat bersama kamu kemarin," lanjutnya lagi.


"Makasih sayang," balas Ruby mengecup pipi Satya.


"Kamu jangan memancing aku lagi kalau kamu tidak ingin mandi untuk yang ketiga kalinya," ucap Satya menggoda Ruby. Ruby langsung menjauh mengambil langkah seribu menuju ruang ganti. Meninggalkan Satya yang tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahnya.


🤩 Hi readers jangan lupa ninggalin jejak yah, maaf jika masih banyak kekurangan, mommy hanya penulis receh pemula🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2