
Saat tengah malam Ruby terbangun, ia merasakan ada sesuatu diatas perutnya, tanpa berbalik pun ia sudah tau kalau itu Satya, ia bisa merasakan wangi maskulin dari tubuh Satya, Ruby menarik nafas dalam-dalam,
"Ya Tuhan kenapa aku bisa berada dikamar dia", batinnya, ia ingin bangun tapi badannya terlalu lemas untuk digerakkan, ia merasakan panas pada kedua matanya.
Ruby tetap berusaha untuk bangun hingga Satya merasakan pergerakan dari Ruby, ia pun membuka kedua matanya,
"Kamu mau kemana By?" tanya Satya saat Ruby berusaha untuk berdiri.
"Kenapa aku bisa ada disini mas?" suara Ruby sangat pelan, ia bukannya menjawab pertanyaan Satya, malah bertanya balik. Satya lalu bangun dan meraih tangan Ruby,
"Ya ampun badan kamu panas lagi By, kamu tidur lagi yah, aku akan mengompresmu dengan air hangat" ucap Satya saat meraba kembali kening Ruby. Ruby menurut saja saat Satya menidurkannya ketempat tidur, ia benar-benar lemas bahkan untuk bicara saja lidahnya terasa keluh.
Satya berjalan kekamar mandi dan memasukkan air dari water heater kedalam wadah kecil,ia kembali kedekat Ruby dengan sebuah waslap dan wadah air hangat ditangannya, ia kemudian mulai mengompres kening Ruby, itu ia lakukan selama lebih dari dua jam, ia baru berhenti saat melihat Ruby sudah terlelap, ia pun ikut merebahkan badannya disamping Ruby, baru saja ia hendak memejamkan mata tiba-tiba Ruby berbalik dan menaruh tangannya diatas perut Satya, Satya tersenyum tipis melihat kearah Ruby, wajah itu sangat cantik saat sedang tidur, seperti tidak ada beban yang dipikulnya.
"Mimpi yang indah sayang" Satya lagi-lagi mengecup kening Ruby, tangan kirinya menggenggam erat tangan Ruby yang sedang memeluknya,mereka pun melewati malam bersama, untuk pertama kalinya Satya kembali tidur seranjang dengan Ruby semenjak kepergiannya ke Jerman.
Bunyi alarm subuh dari handphone Ruby membuyarkan semua mimpi-mimpinya, ia sedikit menggeliat dan alangkah terkejutnya ia mendapati dirinya yang sangat tak tahu malunya masih memeluk Satya, ia buru-buru akan melepaskannya tapi tangan Satya malah semakin erat menggenggam tangannya.
"Mas,aku mau shalat" bisik Ruby perlahan ditelinga Satya. Satya bisa merasakan aroma nafas Ruby yang berada sangat dekat dengannya, Ia membuka matanya dan pandangannya pertama kali tertuju pada bibir Ruby yang selalu merah meski tidak diolesi pemerah bibir, ingin sekali rasanya Satya mengulum bibir itu, membawanya pada satu titik kepuasan tapi ia belum berani melakukannya saat ini.
"Gimana perasaan kamu sekarang?" Satya tersenyum kearah Ruby.
"Udah enakan mas,maaf aku sudah merepotkan" kata Ruby.
__ADS_1
"Aku seneng kog direpotkan sama kamu,aku ingin mengganti masa-masa sulit kamu dulu" jawab Satya masih menggenggam tangan Ruby. Ruby hanya mengulas senyum tipis.
"By,boleh aku mencium kamu?" tanya Satya.
"Aku mau shalat mas" jawab Ruby mengalihkan, ia bisa merasakan Satya menghela nafas berat tapi ia rasanya belum siap setelah apa yang sudah dilakukan Satya, meski ia tau ini bukan sepenuhnya kesalahan Satya.
"Baiklah" Satya melepaskan genggaman tangannya pada tangan Ruby, ia juga tidak ingin memaksa Ruby, ia akan melakukannya pelan-pelan.
Ruby pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Apa kamu tidak ingin berjamaah denganku?" tanya Satya yang sudah berdiri didepan kamar mandi, jangan ditanya perasaan Ruby saat itu, ia seperti dikasi minum dengan minuman susu unta dipadang pasir.
"Aku akan menunggu mas selesai berwudhu" Ruby tersenyum lebar, hatinya begitu damai.
Setelah shalat Ruby mengambil tangan Satya,Satya balas meraih kening Ruby dan mengecupnya, Ruby diam saja, ia tidak protes dengan perlakuan Satya.
"By, mungkin sekarang aku belum bisa sepenuhnya sama kamu karena masih ada Rania, aku juga tidak ingin menyakitinya, biar bagaimanapun kami sudah lama bersama, walau mungkin sekarang perasaanku sudah lebih berat di kamu, aku mohon kamu bisa bersabar sampai Rania menemukan orang yang tepat, aku dengar dari Bagas saat ini Rania sering pergi sama teman lamanya yang sudah berstatus duda dengan satu anak, katanya Rania sangat dekat dengan anaknya, aku harap pria itu pilihan terbaik buat Rania" kata Satya dengan wajah yang sangat serius. Ruby tidak mengeluarkan satu katapun, ia diam seribu bahasa, mutiara-mutiara bening mulai keluar dari sudut matanya, lama kelamaan mutiara bening itu semakin deras mengalir, Satya tidak tahan melihat kerapuhan Ruby, ia lalu meraihnya kedalam pelukannya, Ruby membiarkan saja apa yang dilakukan Satya,
"Maafin aku By,maafin aku,aku hanya minta kamu sedikit bersabar demi baby Gyan, ia butuh kita berdua untuk bersama-sama merawatnya, kita tidak pernah meminta berada diposisi ini tapi Tuhan yang sudah mengatur semua skenarionya, kita hanya tinggal menjalaninya" bulir bening juga menetes dari sudut mata Satya, ia tidak tau harus bagaimana sekarang, ia hanya memantapkan keyakinannya pada Tuhan bahwa semua akan dibuat indah pada waktunya.
"Aku mau pergi ke kamarku dulu mas" hanya itu yang keluar dari mulut Ruby, ia merenggangkan pelukan Satya.
"Baiklah, aku juga akan siap-siap, hari ini biar aku yang jaga Rendra karena sebentar malam aku akan balik kekota M, Bagas membutuhkan bantuanku" ucap Satya, Ruby hanya menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Kamu istirahat saja dulu hari ini,aku takut panasmu naik lagi" kata Satya yang hanya dibalas dengan senyum tipis Ruby. Lalu ia pun keluar dari kamar Satya.
Ruby menempelkan cardlock yang dipegangnya pada kotak sensor saat berada didepan pintu kamarnya, ia disambut dengan pertanyaan Nendra setelah masuk kedalam kamar.
"Bunda kog gak pulang semalam? kata ayah, ia mau gantiin bunda jagain adik Rendra", Nendra menghambur kearah Ruby dan memeluknya.
"Iya sayang, bunda..." Ruby tidak tahu mau ngomong apa pada Nendra karena ia belum pernah memperkenalkan Satya secara langsung padanya, selama di Jerman juga baru semalam Ruby nginap berdua dengan Satya.
"Bunda semalam sakit Nen, jadi bunda istirahat juga dirumah sakit supaya dokter bisa lebih dekat kalau mau ngasi bunda obat" kata Lila,ia seolah tau kebingungan diwajah Ruby.
"Baby gimana Lil, apa semalam ia rewel?" tanya Ruby.
"Gak kog non, dia cuma dua kali bangun minum susu sampai subuh" jawab Lila.
"Sekarang ia sudah tidur lagi" sambungnya. Ruby berjalan mendekati box tempat tidur baby Gyan, seolah tau bundanya datang,ia menggeliatkan badannya,
"Sayang-sayangnya bunda, bunda udah pulang nih, Gyan mau digendong gak sama bunda?" baby Gyan membuka matanya dan langsung tersenyum lebar kearah Ruby, Ruby meraih tubuh mungil baby Gyan dari dalam boxnya dan menciumi wajahnya sampai puas. Berada didekat baby Gyan ia seolah melupakan semua masalah yang sedang menjeratnya saat ini, bayi kecil itu benar-benar sudah membawa warna baru bagi kehidupan Ruby meski ia hadir dengan cara yang berbeda.
❣️❤️Cinta tidak pernah menawarkan kesedihan tapi bila kesedihan itu datang karena mencintai, berarti kita disuruh untuk lebih bersabar dalam menjalani sebuah hubungan percintaan❣️❤️
***ayo redears kesayanganku tetap kasi author semangat dengan keikhlasan kalian ninggalin jejak setelah membaca cerita ini🤗
🤩Cium jauh author😘
__ADS_1