Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Meninggalkan Kota M


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Setelah keluarga Biantara yang hendak berangkat ke Singapura mampir ke aparteman Ruby siang itu, yang tentunya tanpa Satya, ponsel Ruby berdering saat ia baru saja masuk kedalam kamar.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam"


"Kak Rubyyyyy," suara diseberang terdengar histeris begitu mendengar balasan salam dari Ruby.


"Dek..., apa ini kamu?" tanya Ruby yang sepertinya mengenal suara orang yang menelfonnya saat ini.


"Iya kak, ini Aydan," jawab suara diseberang. Aydan adalah adik bungsu Ruby.


"Ya ampun dek gimana kabarmu, ibu bagaimana, apa dia baik-baik saja?"


"Satu-satu nanyanya kak, alhamdulillah aku baik, cuma ibu sering sakit-sakitan akhir-akhir ini, aku sering menghubungi kakak tapi nomor kakak tidak pernah aktif," kata Aydan.


"Iya dek, kakak ada sedikit masalah disini jadi simcardnya diganti, kakak tidak sempat menyalin semua nomor disimcard lama jadi kakak tidak bisa menghubungi kamu. Ibu sekarang dimana dek?"


"Dia ada dirumah kak, aku sekarang dikecamatan karena pengen nelfon kakak, dirumah signalnya tidak bagus, aku dapat nomor handphone kakak sama kak Maya, dia pulang kampung kemarin," Ruby ingat seminggu yang lalu Maya pernah menelfonnya, katanya ia dapat nomornya dari Sultan.

__ADS_1


"Oooo iya dek, aku kangen banget sama kalian," ucap Ruby, selama bercerai dari Sultan, Ruby memang tidak pernah pulang ke kampungnya.


"Iya kak, kami juga sangat merindukan kakak, Ibu pengen kakak pulang biar sebentar saja," ucap Aydan.


"Iya dek kakak usahakan yah," jawab Ruby.


"Yah udah kak, besok-besok aku telfon lagi,"


"Iya dek, kamu baik-baik yah disana, jagain ibu, kakak akan usahakan pulang secepatnya," ucap Ruby lalu ia menutup telfon setelah menjawab salam dari Aydan.


Setelah menerima telfon dari Aydan, pandangan Ruby tiba-tiba menerawang jauh, ia rasanya ingin segera pulang berkumpul dengan keluarganya, bersenda gurau dengan Aydan yang selalu menuruti kata-katanya, dan menjahili Amri adik pertamanya yang tidak pernah banyak bicara.


"Apa ini cara Tuhan untuk menjauhkan aku dari mas Satya?" Ruby tiba-tiba punya fikiran untuk benar-benar pergi dari Satya. Dipandanginya baby Gyan yang sedang tertidur lelap didekatnya, ada rasa trenyuh di hatinya tapi itu tidak bisa mengurungkan niatnya untuk tetap pergi.


"Tapi bagaimana dengan Lila?, sepertinya aku harus menyuruh Lila membeli sesuatu besok pagi," ucap Ruby lagi, ia tidak ingin memberitahukan kepergiannya kali ini pada Lila, ia benar-benar akan menghilang dari siapapun yang mengenal Satya.


Lama Ruby terdiam ditempatnya sampai tidak terasa waktu sudah beranjak sore dan merambat kemalam, ia baru keluar dari kamar saat makan malam, ia masih sempat bercengkerama dengan Lila sampai ia masuk kedalam kamar saat baby Gyan sudah tertidur diatas baby bouncernya yang berada disampingnya.


Ruby menaruh baby Gyan diatas tempat tidur, menunggu sampai bayi kecil itu tertidur pulas lalu ia mulai mengemasi perlengkapan baby Gyan yang akan dibawanya, ia sendiri tidak akan membawa pakaian selain pakaian yang melekat dibadannya. Setelah ia merasa semua yang dibutuhkan sudah siap, ia mengambil buku dan pulpen dari dalam laci, ia kemudian berjalan kearah meja yang terletak didepan sofa dan mulai menulis surat yang ditujukan untuk Satya. Beberapa kali ia meremas kertas itu lalu menulis lagi dikertas baru, diremas lagi sampai ia benar-benar mendapat kata-kata yang pas setelah lebih dari tiga jam bersitegang dengan kertas-kertas itu. Tidak lupa ia menulis note untuk Lila. Setelah dini hari ia baru bisa memejamkan mata disamping baby Gyan.


Keesokan harinya Ruby terbangun saat alarm diponselnya berbunyi tanda sudah masuk waktu subuh. Ia mandi lebih awal dari biasanya setelah shalat subuh kemudian ia juga memandikan baby Gyan yang memang sudah terbiasa bangun diwaktu itu. Saat matahari sudah semakin naik dari peraduannya, ia pun keluar kamar mencari Lila, tentu saja setelah ia memesan taxi online sebelumnya.

__ADS_1


"Lil, aku mau minta tolong dibeliin kue coklat ditoko dekat belokan sebelum kemari, boleh?" tanya Ruby.


"Tentu saja boleh non, tapi apa toko itu sudah buka jam segini?" tanya Lila.


"Sudah Lil, toko itu memang buka pas waktu sarapan karena ia juga memiliki cafe disampingnya," jawab Ruby.


"Yah udah aku ambil kunci dulu non," sahut Lila.


"Makasih Lil," Ruby mengulas senyumnya dan Lila sama sekali tidak curiga dengan apa yang akan dilakukan oleh Ruby. Ia pun mengambil kunci mobil dan langsung berlalu keluar.


Setelah Lila menghilang dibalik pintu, buru-buru Ruby mengambil baby Gyan dikamar, digendongnya bayi kecil itu dan babybag yang juga sudah diselempangnya. Ia turun dari lift dengan perasaan harap-harap cemas, takut kalau Lila kembali dan mendapatinya. Ia baru merasa lega setelah berada didalam taxi online yang sudah menunggunya didepan apartemen. Bulir-bulir bening mulai mengalir dari sudut matanya saat mobil itu perlahan bergerak meninggalkan apartemen yang menyimpan banyak kenangan dan menjadi saksi kisah pilu seorang janda yang berniat menenangkan diri dikota M tapi malah jatuh kedalam masalah yang lebih berat.


Air mata Ruby terus saja mengalir, ia tidak perduli dengan sopir yang sejak tadi memperhatikannya lewat kaca depan, baby Gyan ikut menangis seolah ia tau kalau ia akan pergi jauh dari papanya. Ruby melepas baby Gyan dari gendongan dan menaruhnya didekat ia duduk, ia kemudian membuat susu masih dengan linangan air mata, baby Gyan akhirnya tenang setelah diberi susu oleh Ruby.


Perjalanan menuju terminal yang akan dituju Ruby melewati kantor pusat Biantara Grup, ia menutup matanya rapat-rapat saat ia berada didepan gedung yang menjulang tinggi tersebut, gedung yang ditempati oleh laki-laki yang sudah membuatnya seperti sekarang, ia ingat pertama kali bertemu Satya, waktu itu ia benar-benar takut berada ditempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya dan hanya Satya yang berada diluar saat itu yang bisa ia minta tolongi, salahnya karena tidak memperhatikan Satya yang sudah mabuk, yang ia fikir adalah ia bisa cepat pulang kerumah.


Taxi itu terus melaju membelah jalanan kota M dan berhenti di terminal bus yang disebutkan oleh Ruby. Setelah turun dari taxi Ruby cepat-cepat mencari bus tujuan kota S. Ia langsung menaiki bus yang didepannya tertulis masing-masing tujuan tiap kota.


Setelah berada sekitar lima belas menit didalam, bus itu belum juga berangkat, Ruby sudah gelisah ditempat duduknya, ia menoleh kekiri dan kekanan, takut kalau ada orang yang mengikutinya karena ia bisa memastikan Lila sekarang sudah kembali ke apartemen. Perasaannya sedikit tenang kala bus itu perlahan bergerak, dan ia akhirnya menghela nafas lega saat didepan ia melihat tulisan selamat jalan dipintu gerbang kota M. Baby Gyan sudah tertidur dalam dekapan Ruby, ia sengaja membeli karcis untuk dua orang agar tempat duduknya tidak terlalu sempit untuknya dan baby Gyan.


😍😍Cerita ini masih berlanjut yah readers, terima kasih bagi yang sudah membaca, semoga kalian menyukainya, saya hanya penulis pemula yang masih banyak kekurangan🙏🙏

__ADS_1


Jangan lupa untuk tetap mendukung author dengan ninggalin jejak LIKE, VOTE, dan KOMENT🤗🤗


**Setiap manusia bernafas pasti punya lika liku kehidupan masing-masing, jangan menyerah bagi pemilik masalah dan jangan menghakimi jika hanya melihat dengan kasat mata❤️❣️


__ADS_2