Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Terpuruk


__ADS_3

Satya yang baru saja keluar dari apartemen,mengemudikan mobilnya tanpa tau akan kemana tujuannya,ia kemudian teringat dokter Anna,dokter kandungan Ruby.Ia lalu menekan nama dokter Anna pada paggilan dilayar handphonenya.Satu kali deringan tidak diangkat,tapi pada akhir deringan ketiga dokter Anna mengangkat juga telfonnya.


"Halo,Na...kamu dimana sekarang?",tanya Satya.


"Maaf Sat,aku lagi ada kerjaan jadi tidak bisa menelfon lama-lama,aku sekarang ada dirumah sakit",jawab dokter Anna menahan rasa gugupnya.


"Na,Ruby pernah kesana gak dua hari ini?",tanyanya lagi dengan suara yang sangat lemah.


"Gak Sat,dia kemari terakhir waktu sama kamu",dokter Anna gemetar sambil bicara tapi ia tidak menampakkan pada suaranya.Ia sangat takut pada Satya karena sudah membohonginya,tapi ia sudah berjanji pada dokter Nata,ia benar-benar dilema saat ini.


"Emangnya kenapa,Sat?",dokter Anna seolah-olah tidak tau apa yang terjadi.


"Ruby...Ruby gak ada diapartemennya,Na",Satya mulai tidak bisa lagi menguasai dirinya.


"Apa Sat??kamu jangan bercanda dong",dokter Anna lagi-lagi berakting agar Satya tidak mencurigainya.


"Aku serius Na,ya udah nanti aku hubungi lagi,kalau Ruby atau Lila menghubungi kamu,tolong kasi tau aku",ucap Satya.


"Iya Sat",jawab dokter Anna singkat.


Dokter Anna merasa sangat takut kalau Satya mengetahui kebenarannya,ia merasa hidupnya tidak aman dikota M,ia lalu menelfon dokter Nata.


"Halo Nat,Satya baru saja menelfonku,aku sangat takut,bagaimana kalau dia tau yang sebenarnya",ucapnya dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Anna,Anna,kamu tenang dulu,kamu gak ngasi tau apapun pada Satya kan?",tanya dokter Nata.


"Gak Nat,justru itu aku takut banget sekarang!!!",sahut dokter Anna.


"Bagus Na,terima kasih sudah melakukan apa yang saya minta,ini yang terbaik untuk Ruby dan bayinya saat ini,Na",kata dokter Nata meyakinkan dokter Anna bahwa apa yang ia lakukan sudah benar.


"Tapi Nat,aku merasa hidupku sekarang terancam,aku gak bisa tenang Nat,kamu tau kan gimana Satya kalau lagi marah",suara dokter Anna semakin bergetar.


"Kalau begitu kamu pulang kerumah sekarang,kamu siap-siap untuk terbang kesini,aku akan pesankan tiket pesawat,entar aku yang telfon papa supaya menghubungi dokter kepala untuk memberimu cuti selama beberapa bulan,kamu juga bisa nemenin Ruby disini",kata dokter Nata menenangkan dokter Anna.


"Baiklah Nat,tapi kamu bisa jamin kan kerjaan aku disini,aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku Nat,kamu tau sendiri kan sangat susah masuk dirumah sakit ini",kata dokter Anna lagi.


"Iya kamu tenang saja,aku akan minta bantuan papa,aku yakin papa akan bisa mengurusnya,temanku dokter Aditya akan menjemputmu besok dibandara",


"Hahaha,kamu tenang saja,dia seumuran dengan kita,aku sama-sama melanjutkan S2 disini,tapi dia dari kampus yang berbeda dikota M,dia tampan loh",jawab dokter Nata menggoda dokter Anna.


"Baiklah Nat",dokter Anna tidak terpengaruh dengan godaan dokter Nata,ia lalu menutup telfonnya,ia langsung pulang kerumah bersiap-siap untuk penerbangan sebentar malam.


Saat dokter Anna sudah berada didalam pesawat hendak terbang ke Jerman menyusul dokter Nata,Satya masih didalam mobilnya menyusuri setiap inci jalanan kota M,ia seolah-olah sudah tidak punya tujuan malam itu.


Malam semakin larut dan Satya belum juga pulang kerumah,Rania sudah sangat mencemaskan Satya,sedari tadi ia menelfonnya,tapi tidak diangkat juga,ia kemudian menelfon Bagas,


"Gas,kamu dimana sekarang?",tanya Rania saat Bagas mengangkat telfonnya.

__ADS_1


"Nyonya Muda,kenapa menelfon malam-malam begini?",Bagas bukannya menjawab pertanyaan Rania tapi malah balik bertanya,ia tidak tau harus menjawab apa karena ia juga masih berada diluar rumah saat itu menyusuri jalanan demi jalanan untuk mencari keberadaan Ruby,Satya tidak membolehkannya kembali sampai ia menemukan petunjuk keberadaan Ruby,bahkan Satya besok akan mengirimnya ke daerah Ruby kalau malam ini mereka tidak menemukan apa-apa.


"Gas,apa Satya ada bersamamu?",tanya Rania lagi dengan suara yang terdengar sangat cemas.


"Gak ada Nyonya muda",jawab Bagas.


"Apa seharian ini dia bersamamu dikantor?",tanya Rania lagi.Bagas tidak tau harus menjawab apa karena dari pagi mereka keluar menangani masalah yang bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan kantor,Satya malahan mencancel semua meeting hari ini termasuk meeting penting.


"Tidak Nyonya muda,waktu saya keluar,tuan muda masih ada diruangannya",Bagas tidak berbohong karena memang Satya keluar belakangan dari Bagas.


"Baiklah Gas,tapi kalau Satya menghubungimu,tolong kabari saya",ucap Rania menarik nafas berat.


"Baik Nyonya muda",balas Bagas,ia memarik nafas lega saat Rania menutup telfon.


Jam sudah menunjukkan waktu dini hari saat mobil Satya memasuki apartemen Ruby,dia malam ini memutuskan akan menginap disana.Satya sama sekali tidak menghubungi Rania sedari tadi,ia ingin menenangkan fikirannya dulu yang saat ini benar-benar kalut,hatinya hancur seperti sebuah kertas utuh yang diremas-remas,sulit untuk kembali licin.


Satya memasuki kamar Ruby setelah berada didalam apartemen,ia merebahkan badannya di tempat tidur,ia merasakan masih ada wangi parfum Ruby disana,ia kembali menangis,menyesali kebodohannya.


"Ruby,andai waktu bisa diputar kembali,aku akan mengenalkanmu pada dunia bahwa kamu juga adalah istri sah ku,aku akan meyakinkan Rania sampai bisa menerimamu,kalaupun ia memberiku pilihan berarti ia akan lebih memilih berpisah denganku daripada menerima keberadaanmu.Aku merindukanmu By,aku ingin memelukmu,ingin mengelus perut buncitmu agar anakku didalam sana merasakan bahwa ayahnya sangat menantikan kedatangannya didunia.Dimana kamu By,bagaimana anak kita didalam sana?apa kalian baik-baik saja?sebentar lagi waktumu melahirkan By,aku ingin mendampingi kelahiran anak kita,aku ingin aku yang pertama mendengarkan ditelinganya suara adzan.By,beri aku petunjuk kemana harus mencarimu,aku tidak bisa apa-apa lagi By,fikiranku dipenuhi rasa bersalah dan rasa rindu akan kehadiranmu",Satya terus meracau berbicara pada dirinya sendiri,sampai menjelang subuh ia masih terus terjaga,entah sudah puluhan kali handphonenya berdering tapi ia tak kunjung mengangkatnya karena ia tau itu dari Rania.


Mata Satya baru bisa terpejam sesudah shalat subuh,ia yang selama ini kurang memperhatikan shalat,hari ini duduk bersimpuh diatas sajadahnya,masih dengan setelan jas kerjanya dengan wajah yang sangat lusuh,rambut yang berantakan seperti tidak pernah terkena shampo beberapa hari.


😍❤️Hi redears kesayangan tetap dukung author yah supaya author amatir ini semakin semangat menulis,yang udah ngasih saran makasih banyak sayang😘

__ADS_1


Tunggu kelanjutannya besok lagi yah🤗


__ADS_2