
KANTOR BIANTARA GRUP
"Bagas, atur konferensi pers untukku dan Ruby besok di hotel milik Biantara Grup," ucap Satya setelah sampai dikantor.
"Apa tuan muda sudah berniat memperkenalkan nyonya muda pada publik?" tanya Bagas.
"Aku dan Rania sudah bercerai. Rania berhak menjalani kehidupannya sendiri tanpa embel-embel keluarga Biantara yang selama ini melekat pada dirinya." Ucapan Satya membuat Bagas meganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baiklah tuan muda," jawabnya.
"Sertakan juga pengacara kita dalam konferensi pers besok," tambah Satya saat Bagas sudah hendak berbalik keluar dari ruangannya.
"Iya tuan muda." Baru saja Bagas akan melangkah keluar, Satya kembali memanggilnya.
"Oya satu lagi, bonusmu bulan ini dipotong lima puluh persen, itu sebagai hukuman karena kamu sudah pergi selama dua hari tanpa kabar," kata Satya membuat Bagas membulatkan kedua matanya.
"Kenapa mesti potong bonus tuan muda," sahut Bagas tidak bersemangat.
"Masih untung kamu tidak aku kirim ke Kutub Selatan, atau kamu lebih milih terbang kesana?" tanya Satya.
"Potong bonusku saja." Setelah membalas ucapan Satya, Bagas lalu keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal sementara Satya mengulas senyum kemenangan karena sudah berhasil membuat Bagas kesal.
Hari itu mereka akan meeting di dua tempat berbeda tapi kali ini Satya dan Bagas tidak akan membagi diri seperti biasanya, mereka akan menghadiri kedua meeting itu bersama.
"Bagaimana perkembangan cuti Ruby, apa ada masalah dikantor kepegawaian negara?" Tanya Satya saat mereka sudah berada didalam mobil menuju tempat meeting.
"Sama sekali tidak ada masalah tuan muda. Tidak ada yang berani memecat nyonya muda setelah para petinggi tahu bahwa tuan muda sendiri yang bertanda tangan pada permohonan cuti nyonya muda," jawab Bagas meyakinkan.
"Bagus kalau begitu. Ruby kemarin sempat menyinggung keinginannya untuk kembali bekerja tapi aku sepertinya tidak akan mengizinkannya. Perpanjang cutinya selama yang aku minta tapi selama Ruby cuti berhentikan gaji yang diterimanya tiap bulan. Aku bisa memberinya bahkan berpuluh kali lipat dari gajinya," ucap Satya.
"Baik tuan muda," jawab Bagas yang selalu bisa menangani semua masalah Satya bahkan masalah pribadi sekali pun.
"Masih ada satu hal yang ingin aku tanyakan, apa kamu punya hubungan serius dengan Lila?" tanya Satya membuat Bagas tertawa yang dibuat-buat.
"Maksud tuan muda hubungan yang seperti apa itu?" tanya Bagas balik setelah tawanya mereda.
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu atau bonusmu aku naikin potongannya," jawab Satya.
__ADS_1
"Pertama, dia jauh banget dari kata menarik tuan muda, kedua dia sama sekali bukan tipeku. Aku tidak mungkin menyukainya," jawab Bagas cepat karena takut bonusnya dipotong lagi.
"Hati-hati Bagas, nanti kamu termakan omonganmu sendiri," ucap Satya.
"Tidak mungkin tuan muda," jawab Bagas. Satya hanya memajukan bibir bawahnya menanggapi ucapan Bagas.
***
RESTORAN CEPAT SAJI KOTA M
"Pelan-pelan makannya sayang," ucap Rania pada seorang gadis kecil cantik yang saat itu memakai rok selutut dipadukan baju tanpa lengan dengan rambut panjang yang diurai.
Yah Rania siang itu sedang makan siang bersama Andin disebuah restoran cepat saji sambil menunggu Rama yang masih meeting dengan kliennya.
Rania sengaja memilih restoran itu sebagai tempat makan siang atas permintaan Andin yang ingin makan hamburger.
"Papa lama banget yah Ma," ucap Andin yang sudah mulai bosan menunggu papanya.
"Papa udah dijalan kog sayang, pasti entar lagi nyampe," jawab Rania sambil mengusap-usap rambut panjang Andin.
Benar saja, tidak berselang lama terlihat seorang pria tampan yang masih memakai setelan jas kerja berjalan mendekati meja Rania dan ia adalah Rama.
"Papa katanya abis ini mau bawa Andin main, kalau lambat begini pasti enggak jadi lagi," sahut Andin. Rama menoleh kearah Rania sambil menaikkan bahunya.
"Kalau papa enggak bisa ikut, Andin pergi berdua aja sama mama, oke." Rania kini yang membujuk Andin.
"Oke deh kalau begitu, yang penting Andin main," balas Andin dengan senyum lebar yang disunggingkan diwajah polosnya.
"Rania selalu bisa ngerayu Andin," batin Rama menatap kearah Rania.
"Oya mas, pihak butik tadi menelfon, katanya kita sudah bisa kesana hari ini untuk fitting baju," kata Rania disela-sela makan siang mereka.
"Oke, habis ini kita langsung kesana. Dari sana baru aku kembali kekantor," balas Rama.
"Baiklah mas, entar dari butik juga aku langsung ketempat main sama Andin," lanjut Rania.
"Pulang kantor kamu langsung jemput dia dirumah saja mas," tambahnya.
__ADS_1
"Oke, tapi kamu jangan terlalu manjain dia Nia." Andin yang sejak tadi asyik makan mengangkat kepalanya mendengar ucapan papanya.
"Aku tahu batasannya kog mas," jawab Rania kembali mengusap kepala Andin untuk menenangkannya.
Setelah makan siang, Rama langsung melajukan mobilnya kealamat butik langganan Rania, tempat mereka memesan gaun pengantin. Ia dan Rania mengendarai mobil yang berbeda mengingat tujuan mereka tidak sama setelah dari butik.
"Selamat siang nyonya Biantara," sapa pegawai butik saat Nia baru masuk kedalam.
Pemilik butik yang mendengar ucapan pegawainya langsung mendekati Rania sambil menatap tajam kearah pegawai tersebut. Sementara Rama yang berada disamping Rania hanya diam saja. Ia sudah menduga hal ini pasti terjadi karena mantan suami Rania bisa dibilang orang nomor satu dinegaranya. Lima puluh persen pendapatan Negara berasal dari perusahaan Biantara Grup dari berbagai cabang.
"Maaf nyonya Rania, pegawai saya baru saja habis cuti melahirkan jadi ia belum tahu hubungan anda sekarang dengan tuan Biantara," jawab pemilik butik itu sambil membungkukan badannya.
Sebelum Rania menjawab ia terlebih dulu menarik nafas dalam-dalam.
"Oke tidak masalah mba, aku dan Satya memang belum mengumumkan ke publik tentang perceraian kami."
Pegawai yang tadi menyapa Rania terlihat sangat terkejut mendengar ucapannya.
"Mari masuk kedalam nyonya, gaun anda sudah jadi, tinggal pakaian tuan Rama yang belum sepenuhnya rampung, mungkin besok atau lusa juga sudah jadi," kata pemilik butik tersebut.
"Tidak apa-apa mba, waktunya juga masih ada lebih seminggu kog," jawab Rania.
"Ini yang aku takutkan Nia, kalau Satya belum mengumumkan kepada publik tentang perceraian kalian, mereka akan mengira kamu masih istrinya," ucap Rama saat pemilik butik sedang mempersiapkan gaun yang akan difitting Rania.
"Kamu tenang saja Ram, aku sudah membicarakan ini dengan mas Satya. Ia tadi sudah whatshap ke aku katanya besok ia dan Ruby sudah mengadakan konferensi pers dihotel miliknya.
"Baguslah kalau begitu, kita bisa menjalani kehidupan kita sendiri kedepannya," balas Rama. Mereka berdua sama-sama saling mengulas senyum.
"Silahkan dipakai dulu gaunnya nyonya Rania," kata pemilik butik yang sudah berada didekat mereka membawa sebuah ball gown yang sangat mewah dengan detail floral yang anggun menampilkan warna-warna pastel yang tidak mencolok seperti ciri khas pemakainya.
"Gimana Ram?" tanya Rania setelah memakai gaun tersebut. Rama seolah di bius dengan kecantikan Rania, matanya tidak berkedip memandang kearah wanita yang sebentar lagi akan jadi istrinya itu.
"Kamu cantik sekali, Nia." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rama.
❤️ Hi readers hari ini mommy sepertinya cuma bisa up satu bab dulu yah. Maafkan mommy tidak bisa membalas koment kalian satu persatu🙏
❤️ Sultan mah bebas yah bisa masuk kerja semaunya, mommy aja nih kalau udah gak masuk tiga hari udah was-was entar dapat surat peringatan.hihihi.
__ADS_1
Ini hanya ada dalam dunia novel guyz, harap dimaklumi yah kalau tingkat kehaluan mommy terlalu tinggi.hihihi🤭
💚 Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin kalau sang pemilik nafas sudah berkehendak, jangan terlalu yakin dengan apa yang akan terjadi pada dirimu dimasa depan karena bahkan untuk hari esok pun kau sama sekali tidak bisa menebaknya💚