Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Rencana Menyusul Ruby


__ADS_3

"Baiklah bu, aku akan menelfon mas Satya sebentar malam, tapi apa keputusan ini adalah yang terbaik bu?" Ruby kelihatannya masih ragu.


"Ini sudah konsekuensi yang harus kalian ambil nak, ini terjadi diluar kesengajaan, tidak ada yang bisa disalahkan disini, ikuti keputusan suamimu," ucap ibu Rumana.


"Kamu sudah pernah gagal membina rumah tangga, ibu yakin kamu sudah punya setidaknya sedikit pertimbangan untuk rumah tanggamu yang sekarang nak, terkadang tidak semua mengikuti kata hati itu adalah kebaikan karena kebaikan bagi seorang istri itu adalah berbakti pada suaminya," lanjut ibu Rumana.


"Tapi bagaimana kalau kebaikan itu akan menyakiti hati wanita lain bu?" tanya Ruby.


"Lakukan dengan niat baik nak, tidak ada niat baik yang akan berakhir dengan kesedihan dan kebencian," jawab ibu Rumana sambil merangkul Ruby. Diusapnya kepala Ruby yang tersembunyi dibalik kerudungnya. Ruby merasa sangat nyaman dalam dekapan ibunya.


Ia kini sudah memantapkan hatinya untuk menghubungi Satya, dan masalah Rania ia ingin berbicara dari hati ke hati bagaimana langkah selanjutnya. Ruby belum tahu kalau ternyata Sidang perceraian Satya dan Rania sedang dalam proses.


Malam itu sesudah makan malam Ruby pun diantar oleh Aydan kekantor kecamatan karena hanya disana bisa mendapatkan signal bagus. Simcard Ruby tidak bisa dipakai didesanya, ia akan menelfon Satya memakai ponsel Aydan.


Sebelum memasukkan nomor Satya pada tombol-tombol diponsel Aydan, Ruby lebih dulu menarik nafas dalam-dalam, tangannya terlihat bergetar. Setelah merasa sedikit lebih tenang, akhirnya panggilannya tersambung juga ke ponsel Satya.


"Halo," terdengar suara Satya mengangkat telfon pada deringan ketiga.


"Halo, ini siapa, apa anda tau dengan siapa anda bicara sekarang?" Ruby yang masih diam membuat Satya merasa kesal.


"Assalamua'laikum Mas, ini Ruby." Satya yang hendak mematikan ponselnya mendadak kaget sekaligus sumringah mendengar suara pelan Ruby.


"Waa'laikumsalam."


"Ruby, ini beneran kamu?" tanya Satya seolah tidak percaya dengan pendengarannya.


"Iya mas, maafin Ruby sudah pergi diam-diam dari apartemen," ucapnya.


"Bagaimana keadaanmu sama Gyan? apa kalian baik-baik saja?" Satya bukannya menjawab ucapan Ruby tapi malah balik bertanya.


"Alhamdulillah mas kami baik-baik saja," jawab Ruby.


"Kamu dimana sekarang By?" tanya Satya lagi.


"Aku ada didesaku mas, aku pulang kerumah ibu."


"Maaf By, kita sudah hampir setahun menikah tapi aku sama sekali belum tau daerah asalmu, sampaikan permohonan maafku pada ibu," Ada kesejukan yang hinggap dihati Ruby saat Satya menyebut ibunya tidak pake kata KAMU dibelakang.


"Dari kota B butuh waktu tujuh jam untuk sampai kedesaku mas dan itu tidak bisa dijangkau dengan menggunakan jet pribadi," ucap Ruby yang mengulas senyum tipis tapi Satya tentu saja tidak melihatnya.


"Aku tau By," balas Satya yang merasa sedikit disinggung disini.


"Apa aku bisa melakukan panggilan video dengan baby Gyan?" tanya Satya.


"Gyan ada dirumah mas, di rumah jaringan tidak bagus, aku lagi dikecamatan sekarang nyari jaringan bagus," jawab Ruby.

__ADS_1


"Oya mas bagaimana kabar mba Rania?"


"Rania...dia...kami sudah dalam proses perceraian," Satya menjawab terbata-bata karena ia tidak tau bagaimana cara menjelaskannya pada Ruby.


"Apa mas?" Ruby kaget mendengar ucapan Satya.


"Aku akan menceritakannya nanti kalau kita sudah ketemu," balas Satya.


"Baiklah mas," ucap Ruby.


"Apa aku boleh tinggal disini dulu sementara sama ibu?" tanya Ruby pelan.


"Iya boleh, oya apa nama desa kamu?" tanya Satya.


"Kampung Lembana Desa Mekarsari," jawab Ruby.


"Udah dulu yah mas, nanti aku telfon lagi."


"Baiklah, cium jauh buat Gyandra," ucap Satya.


"Iya mas," jawab Ruby singkat.


"Apa bundanya Gyan tidak mau dapat sun jauh juga?" tanya Satya menggoda Ruby, Ruby hanya tersipu malu, ia tidak menjawab ucapan Satya.


"Waa'laikumsalam."


Sambungan telfon pun terputus, hati Satya merasa sangat lega karena ia sudah tau keberadaan Ruby, ia berencana kedesa Ruby besok, tapi ia tidak akan memberitahukan pada Ruby sekarang karena ia bermaksud membuat kejutan.


Setelah berbicara dengan Ruby ditelfon, Satya berniat menelfon Rania, ia pun mengklik nama Rania pada panggilan keluar diponselnya.


"Halo Nia, apa aku mengganggu?" tanya Satya saat Rania mengangkat telfonnya.


"Tidak kog mas, aku cuma lagi makan malam sama Rama..., sama Andin juga," jawab Rania menoleh kearah Rama, Rama menganggukkan kepalanya tanda mengizinkan Rania berbicara dengan Satya didepannya.


"Aku sudah tau keberadaan Ruby," ucap Satya langsung pada intinya.


"Benarkah mas? Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Rania.


"Aku berencana kedesanya besok siang," jawab Satya.


"Ide yang bagus mas, aku nitip salam yah sama Ruby, sampaikan padanya aku sudah mengikhlaskan semuanya," ucap Rania dengan senyum yang terkembang.


"Makasih Nia, sudah dulu yah, salam sama Rama."


"Baik mas, akan aku sampaikan." Kemudian sambungan telfon mereka pun terputus.

__ADS_1


Setelah Satya menghubungi Rania, ia pun akan menelfon dokter Anna selaku orang yang dekat dengan Ruby selama ini. Ia belum berniat menghubungi ibu Rita yang masih berada disingapura saat ini, biarlah ia memberitahu keluarganya saat Ruby sudah benar-benar kembali.


"Halo Sat, ada apa malam-malam begini menelfon?" dokter Anna lebih dulu menyapa Satya saat sambungan telfon sudah terhubung.


"Apa aku mengganggu Na?" tanya Satya.


"Aku masih ada waktu dua puluh menit sebelum visite malam pada pasien VIPku," jawab dokter Anna.


"Aku cuma mau ngomong sebentar Na," balas Satya.


"Aku sudah tau dimana Ruby sekarang."


"Benarkah? Dimana ia sekarang Sat?" Satya belum selesai bicara, dokter Anna sudah memotong ucapannya.


"Sabar dong Na, itulah kenapa aku menelfonmu."


"Ruby pulang kedesanya, ia sekarang lagi dirumah ibunya di Desa Lembana Kecamatan Mekarsari. Aku berniat akan kesana besok siang," ucap Satya.


"Kalau saja aku tidak sibuk, aku ingin ikut kesana Sat, tapi minggu ini pasien VIP ku full, sampaikan saja salamku sama Ruby, suruh dia cepat kembali," kata dokter Anna.


"It's okey," jawab Satya lalu Sambungan telfon pun terputus.


Orang ketiga yang ingin ditelfon Satya malam itu adalah Bagas, baru pada deringan pertama, Bagas sudah mengangkat telfonnya.


"Ada apa tuan muda?" tanya Bagas.


"Aku ingin berangkat kekota B besok siang, kamu urus penerbanganku dan semua kebutuhan saat tiba disana," ucap Satya.


"Apa ada masalah tuan muda?" tanya Bagas terdengar khawatir, mengingat masalah Satya disana yang berurusan dengan jaksa penuntut Sultan belum selesai.


"Iya dan masalahnya sangat besar, harus aku sendiri yang kesana," jawab Satya.


"Kalau begitu aku akan ikut dengan tuan muda kekota B," ucap Bagas lagi.


"Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri, kamu cukup mencari sesuatu yang saat ini sedang disenangi oleh ibu-ibu seperti ibuku untuk aku bawa sebagai buah tangan," kata-kata Satya semakin membingungkan Bagas.


"Apa maksud tuan muda?," tanyanya.


"Kamu tidak perlu banyak tanya, kamu kerjakan saja apa yang aku bilang tadi, kita ketemu besok dibandara," ucap Satya.


"Baiklah tuan muda," Bagas akhirnya mengalah untuk tidak bertanya lagi.


❤️ Jangan lupa LIKE, VOTE, dan KOMENTnya yah, oya author minta maaf banget readers karena sesuatu dan lain hal author hanya bisa UP SATU BAB sehari, semoga kalian tidak kecewa yah😘🙏


*** Kebimbangan seringkali datang saat berada dalam posisi sulit, jika kamu ingin berdiri ditempat bahagia ikuti aturan TUHANMU bukan kata hatimu karena hati masih bisa menjebak tapi TUHAN tidak pernah salah dengan ajarannya🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2