
"Dimana dokter Nata?" Tanya dokter Almira pada suster Dina, rekannya dari kota yang sama saat mereka baru saja pulang dari Athena. Ia membiarkan dokter Nata menunggu diluar sementara ia masuk kedalam posko mengantar obat-obatan tersebut. Tapi saat ia kembali, ia sudah tidak lagi mendapati dokter Nata ditempatnya.
"Aku tadi melihatnya disini, tapi kenapa ia tiba-tiba menghilang?" Suster Dina bertanya balik karena ia sendiri tidak memperhatikan kemana perginya dokter Nata.
"Shit, kenapa ia selalu saja menyusahkan." Gerutu dokter Almira.
"Ayo kita cari kesana," ajaknya pada suster Dina lalu berjalan kearah tempat yang biasa didatangi dokter Nata.
Tapi ternyata nihil, setelah mencari lebih dari satu jam, mereka tidak juga menemukan dokter tampan itu.
"Bagaimana ini dok?" Tanya suster Dina terlihat khawatir.
"Kita harus menghubungi rumah sakit yang sudah mengirim dokter Nata kemari tapi sebelumnya kita melapor dulu pada keamanan yang bertugas hari ini," jawab dokter Almira.
"Baiklah dok."
Mereka lalu berbalik dan berjalan menuju pos keamanan. Setelah melapor disana, dokter Almira kemudian mencari nomor telfon rumah sakit yang mengirim dokter Nata ke Yunani.
Tidak menunggu lama setelah ia mendapatkan nomor telfon rumah sakit tersebut, ia langsung menghubunginya. Tidak perlu bertanya kesana kemari untuk langsung mendapat respon dari rumah sakit itu saat menyebut nama dokter Nata, karena dokter Nata yang sangat kompoten dan berdedikasi tinggi dalam menjalankan tugas, ia sangat populer dikalangan dokter rumah sakit tersebut. Apalagi ia direkomendasikan langsung oleh profesor Ludwig, petinggi Fakultas Kedokteran terbaik di Jerman.
Dokter yang menerima telfon dari dokter Almira langsung menghubungkan sambungan telfon ke ruangan dokter Sophy.
"Halo, maaf mengganggu waktu anda dok. Perkenalkan saya dokter Almira. Apa betul saya bicara dengan dokter Sophy sekarang?" Tanya dokter Almira membuka percakapan.
"Iya betul, apa anda tahu saya dari Indonesia?"
Dokter Sophy merasa heran karena si penelfon langsung memberi bahasa persatuan negaranya.
"Iya dok, saya tahu dari dokter yang tadi menerima telfon saya. Ia bilang kalau sesuatu yang berhubungan dengan dokter Nata sebaiknya saya langsung bicara pada anda."
"Nata? Ada apa dengan anak itu?"
"Maaf dok, tapi saya harus memberitahu kabar yang tidak mengenakkan ini."
"Katakanlah, apa yang terjadi pada Nata?"
Nada suara dokter Sophy semakin terdengar khawatir.
"Dokter Nata menghilang dok. Kami sudah berusaha mencarinya tapi sampai sekarang kami belum menemukannya."
"Apa?"
Dokter Sophy sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Ia hampir saja kehilangan kesadarannya, andai ia tidak cepat mengendalikan dirinya. Ia yang diberi tanggung jawab oleh dokter Arghany untuk menjaga dokter Nata tapi ia bahkan tidak bisa menahannya untuk tetap pergi.
"Dok, apa dokter masih disana?"
"I...iya, jadi apa yang sudah kalian lakukan disana?" Tanya dokter Sophy dengan suara bergetar.
"Kami sudah melapor pada keamanan disini dok, dan mereka juga sudah mulai mencari keberadaan dokter Nata."
"Baiklah, terus hubungi saya perkembangan selanjutnya. Mohon bantuannya yah." Ucap dokter Sophy memohon.
"Pasti dok, kami akan berusaha sebisa yang kami mampu." Jawab dokter Almira dengan suara lantang.
__ADS_1
"Terima kasih," balas dokter Sophy.
"Sama-sama dok."
Setelah berkata begitu, sambungan telfon pun terputus.
"Aku harus menghubungi Prof ludwig kalau begini," kata dokter Sophy pada dirinya sendiri.
"Nataaaaa, aku sudah melarangmu kesana tapi kenapa kamu tetap bersikeras. Mas Arghany pasti akan memarahiku habis-habisan kalau ia tahu."
Terlihat jelas kekhawatiran bercampur rasa takut dari wajah cantik dokter Sophy. Ia kemudian kembali mengusap layar ponselnya mencari kontak Prof Ludwig. Ia langsung menekan tombol hijau saat menemukan nama Prof Ludwig pada kontak telfon.
"Halo Prof, ada masalah besar yang terjadi pada Nata di Yunani." Ucapnya lalu mulai menceritakan semua yang tadi disampaikan oleh dokter Almira.
"Apa yang harus kita lalukan dok?" Tanya dokter Sophy.
"Apa? kita harus mengirim lagi orang kita kesana?" Tanyanya lagi membalas tanggapan Prof Ludwig.
"Tapi siapa yang Prof maksud?"
"Aditya? Tapi dokter Aditya baru saja menikah hari ini Prof."
"Baiklah Prof, akan saya sampaikan."
Dokter Sophy semakin bingung setelah menutup telfon, ia harus menghubungi dokter Aditya dan menyuruhnya terbang ke Jerman besok atas perintah Prof Ludwig.
Prof Ludwig ingin bertatap muka langsung dengan dokter Aditya sebelum mengirimnya ke Yunani untuk membantu pencarian dokter Nata sekaligus mengambil alih tugasnya selama ia belum ditemukan. Tapi dokter Sophy tidak akan memberitahunya tentang rencana itu, biarlah Prof Ludwig sendiri yang mengatakannya setelah dokter Aditya tiba di Jerman.
***
"Dit, aku kenapa?" Tanya dokter Anna saat ia sudah siuman.
"Tadi kamu pingsan," jawab dokter Aditya datar seolah tidak terjadi apa-apa.
Dokter Anna kemudian ingat kejadian tadi dimana ia langsung terjatuh dari duduknya saat mendengar kabar bahwa dokter Nata sudah berada di Yunani tapi ia tidak ingin membahasnya lagi dengan dokter Aditya yang sekarang sudah SAH menjadi suaminya. Pun demikian dengan dokter Aditya, ia tidak ingin membahas masalah pesan whatsapp dokter Anna yang salah kirim saat ini. Biarlah menunggu sampai selesai resepsi, toh semua juga sudah terjadi, untuk mundur pun sudah kecil kemungkinan.
"Tenangkan dirimu, sebentar lagi kita akan berangkat ke hotel. MUA yang akan meriasmu sudah dua kali datang kemari," perintah dokter Aditya kemudian berdiri menuju kamar mandi.
"Iya," jawab dokter Anna pelan.
Akhirnya malam resepsi pun berjalan dengan lancar. Begitu pintar dokter Anna dan dokter Aditya bersandiwara didepan para tamu undangan yang datang hingga mereka terlihat sangat bahagia, tidak ada yang tahu saat mereka saling bertemu pandang tercipta kecanggungan yang tidak bisa mereka mengerti.
Pas selesai resepsi, dimana para tamu undangan hanya menyisakan keluarga inti dari kedua mempelai, ponsel dokter Aditya tiba-tiba berdering.
"Halo Dit, maaf jika mengganggumu." Suara diseberang terdengar sangat berat dan itu adalah suara dokter Sophy.
"Tidak mungkin anda menelfon kalau tidak ada masalah yang serius, dok. Katakanlah, ada apa?" Balas dokter Aditya.
"Dengan berat hati saya harus mengatakan ini bahwa Prof Ludwig menyuruhmu kembali kesini besok," jawab dokter Sophy.
"Apa? Tapi kenapa, dok?"
Dokter Aditya mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Prof Ludwig memanggilnya dan kalau pun seperti itu pasti ada masalah yang sangat besar sedang terjadi disana.
__ADS_1
"Masalah apa yang sudah terjadi, dok?" Tanyanya ingin tahu.
"Prof Ludwig ingin bertemu langsung denganmu. Maaf Dit, tapi aku tidak bisa apa-apa. Aku hanya menyampaikan pesan dari Prof Ludwig."
"Baiklah dok, aku akan kesana. Terima kasih atas informasinya."
Usai berkata begitu sambungan telfonmu terputus. Dokter Anna yang berada didekat dokter Aditya langsung bertanya, melihat raut wajah suaminya yang langsung berubah setelah menerima telfon.
"Aku harus ke Jerman besok," jawabnya yang juga didengar oleh ibu Lisa.
"Apa? Bukannya cutimu masih seminggu lagi?"
Tanya ibu Lisa dengan nada yang sedikit tinggi membuat mama Ambar dan Ruby mendekati mereka. Sementara dokter Anna tidak bisa berkata-kata lagi. Ia tahu itu perintah penting.
"Iya bu tapi ini perintah langsung dari Prof Ludwig, aku tidak bisa menolaknya."
"Ada apa nak Adit?" Tanya mama Ambar.
"Ada panggilan darurat dari Jerman ma, dan aku harus kesana besok."
"Apa tidak bisa ditunda dulu? Kamu kan baru saja menikah." Ucap mama Ambar.
"Ini sepertinya masalah besar ma, aku tidak bisa tidak berangkat." Jawabnya.
Mama Ambar hanya bisa menarik nafas berat. Ia tahu bagaimana dedikasi menantunya terhadap pekerjaannya saat ini.
"Lalu bagaimana dengan kak Anna?"
Pertanyaan Ruby membuat semua orang yang ada disitu sontak menoleh kearah dokter Anna. Manik dokter Aditya bertemu dengan manik dokter Anna.
"Ia akan tetap disini," balas dokter Aditya mantap.
"Tidak, aku akan ikut ke Jerman." Ucap dokter Anna dengan yakin.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengabdi pada suaminya. Tidak mungkin ia membiarkan dokter Aditya berangkat ke Jerman sendiri. Ini sudah konsekuensi yang harus ia terima saat memutuskan menikah dengan dokter Aditya. Dan dari awal ia harusnya sudah tahu akan sampai ke tahap ini.
"Tapi bagaimana kerjaan kamu disini nak?" Tanya mama Ambar.
"Kalau Anna mau kerja di Jerman mengikuti suaminya, aku rasa bukan masalah besar untuk aku mengatur kepindahannya. Bagas akan mengurus semuanya." Sela Satya yang baru saja datang kesana.
Ia yang sejak tadi melihat terjadi ketegangan didekat pelaminan, memutuskan mendekat.
"Aku rasa itu ide bagus nak Satya, bagaimanapun suami istri itu sebaiknya hidup bersama, bukan malah terpisah!" Sahut ibu Lisa.
Dokter Aditya hanya terdiam mendengar ucapan-ucapan itu yang seolah berdenging di telinganya. Apa suatu keputusan yang benar jika ia membawa dokter Anna ke Jerman, sementara disana ada dokter Nata. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Kemudian akhirnya ia berkata.
"Baiklah, terserah Anna saja."
Dokter Anna tersenyum tipis mendengar jawaban dokter Aditya sementara mama Ambar terlihat sedih karena ia akan benar-benar jauh dari putri satu-satunya tersebut. Ibu Lisa yang bisa melihat dan merasakan kesedihannya, perlahan mendekati mama Ambar dan memeluknya. Ia mencoba menguatkan wanita paruh baya tersebut.
๐ Happy reading kesayangan mommy. Jangan lupa ninggalin jejak yah๐๐ค
๐ Sebelum koment, dibaca baik-baik dulu yah redears kesayangan, mommy sayang kalian๐๐ค
__ADS_1
๐ Jangan terpaku pada masa lalu yang bisa menghanyutkan karena sejatinya hidupmu saat ini adalah masa depan. Yakinlah ada secercah kebahagiaan yang menantimu didepan jika kamu terus melangkah tanpa menoleh ke belakang๐ค