Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Salad Buah Dokter Sophy


__ADS_3

KOTA M


Pagi ini adalah sidang pertama kasus yang menjerat Satya digelar dipengadilan negeri kota M. Tapi tidak ada yang berubah dari aktifitasnya sehari-hari. Ia tetap datang lebih awal ke kantor dan memulai meeting dengan para kepala divisi. Ia memilih tidak datang langsung ke pengadilan dan hanya mempercayakan semuanya pada tim pengacara keluarga Biantara.


Satya tidak pernah gentar dengan masalah apapun yang dihadapinya, terlebih ia sangat yakin tidak bersalah dalam hal ini.


Selesai meeting, ia kembali ke ruangannya. Sambil menunggu kabar dari tim pengacaranya, ia mengerjakan beberapa file yang sudah dikirim Bagas ke emailnya.


Saat sedang serius menyelesaikan file-file itu, ponselnya berdering. Ia langsung tersenyum melihat nama yang tertera pada layar ponsel.


"Assalamualaikum, sayang." sapanya pada sipenelfon yang ternyata adalah Ruby.


"Waalaikumsalam, mas. Apa aku mengganggumu?"


"Tidak ada yang lebih penting dari kamu sayang, jadi tidak ada alasan kamu akan menggangguku."


Jawaban Satya membuat Ruby berasa terbang kelangit ketujuh.


"Benarkah, mas?"


"Untuk apa aku berbohong. Katakan, ada apa sayang?"


Karena termakan gombalan Satya, Ruby hampir lupa alasan kenapa ia menghubungi suaminya saat ia tahu suaminya saat jam itu sudah berada dikantor.


"Oh iya mas, Bagas sudah sampai disini. Mas benar-benar mengirimnya kemari?"


"Iyya sayang, apa Bagas bikin masalah? Kamu sepertinya kurang senang dengan kedatangan Bagas disana."


"Bukan begitu, mas. Aku hanya memikirkan kerjaanmu disana kalau tidak ada Bagas. Kamu pasti kerepotan."


"Aku sudah pernah bilang, jangan fikirkan itu. Kamu belum tahu saja kemampuan suamimu ini. Aku bisa mengatasi semuanya."


Ruby terdengar menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar. Ia tahu Satya bisa mengatasi perusahaan sendiri tapi itu berarti ia akan sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk istirahat. Hal itu akan berdampak pada kesehatannya.


"Oya sayang, apa Gyan sedang tidur?" tanya Satya mengalihkan.


"Iya mas, ia langsung tertidur sehabis makan siang."


"Aku merindukan kalian," ucap Satya seketika terdengar sendu.


"Kami juga merindukanmu, mas. Apa lebih baik aku kembali ke kota M saja?"


"Jangan sayang, jangan sekarang. Ibu masih membutuhkanmu disana."


"Tapi disini aku lebih banyak dihotel ketimbang dirumah sakit nemenin ibu, mas."


"Setidaknya ibu merasa lebih dekat dengan anak dan cucunya kalau kamu berada disana, sayang."


Lagi-lagi Ruby menarik nafas berat. Tapi ia juga membenarkan apa kata suaminya. Ibu Rita bisa merasa bahagia jika berada lebih dekat dengan cucunya karena ia bisa kapan saja menciumi pipi menggemaskan baby Gyan.


"Iya kamu benar, mas."

__ADS_1


"Oya, kata kak Anna, kak Nata sudah ada dirumah sakit yang sama dengan kak Adit. Apa aku boleh menjenguknya besok pagi?" tanya Ruby hati-hati.


"Pastikan Bagas mengantarmu dan biarkan ia ikut masuk kedalam kamar Nata."


"Baik, mas. Makasih yah. Kalau begitu aku tutup dulu telfonnya, kamu pasti lagi banyak kerjaan. Entar malam kita Video Callan yah."


"I miss you, sayang. Ummmuach..."


"Miss you too sayang. Ummuach..."


***


JERMAN


"Maaf mba, aku datangnya kesiangan. Tadi ada pasien gawat yang mesti ditangani cepat."


Dokter Sophy baru saja masuk kedalam kamar perawatan dokter Nata dengan membawa sebuah bingkisan ditangannya. Ia langsung menyapa tante Arayu dengan mencium pipi kanan dan kirinya. Ia kemudian beralih pada dokter Nata yang sedang dijaga oleh istri dari kakak kandungnya itu. Dokter muda dengan paras tampan tersebut perlahan mengangkat tangannya dan meraih tangan dokter Sophy.


"Bagaimana keadaanmu sekarang, Nat? Apa kamu merasa lebih baik?"


"Alhamdulillah, tan. Seperti yang tante lihat. Ketampananku tidak berkurang, kan?" balas dokter Nata mencoba bercanda.


"Ini semua gara-gara kamu, Soph. Andai saja kamu memberitahu kami lebih awal tentang rencana keberangkatan Nata, pasti ini semua tidak akan terjadi." ucap tante Arayu masih terdengar kesal pada dokter Sophy.


"Ma, udah dong. Ini bukan salah tante sophy, tapi aku sendiri yang bersikeras ingin kesana dan melarangnya memberitahu Papa dan Mama."


Dokter Sophy yang mendengar pembelaan dokter Nata hanya diam saja. Ia tahu kakak iparnya sangat menyayangi putra satu-satunya itu, hingga ia benar-benar syok saat tahu dokter Nata hilang di Yunani. Ia memang sudah bersiap dengan semua kemarahan dari orangtua dokter Nata yang akan diterimanya.


"Hi dok, sudah lama?"


Perdebatan mereka dihentikan oleh suara dokter Anna yang baru masuk kedalam kamar dan menghampiri ketiganya. Dokter Anna baru saja makan siang diresto rumah sakit yang berada dilobby.


"Belum begitu lama, Na."


Dokter Anna hanya membungkukkan sedikit badannya dengan tersenyum tipis lalu kembali berjalan kearah tempat tidur suaminya. Hal yang sama dilakukan oleh dokter Sophy.


"Oya Nat, tante bawain salad buah kesukaan kamu." ucapnya mengalihkan topik tadi.


"Benarkah, tan? Pasti saladnya enak." jawab dokter Nata girang.


Ia memang sangat menyukai salad buah apalagi dengan toping keju yang banyak.


"Kamu mau makan sekarang?" tanya adik dari dokter Arghany itu.


"Iya, tan. Ma, boleh minta tolong ambilin?"


"Makannya entar aja yah, sayang. Mama mau ngajak tante Sophy menemui dokter dulu. Sejak pagi kog dokternya belum visite, padahal mama mau menanyakan perkembangan kondisi kamu."


Tante Arayu yang tadi terdengar sedikit kasar nada suaranya, tiba-tiba saja melembut. Membuat tante Sophy dan dokter Nata menjadi heran.


"Dokternya memang biasa datang agak sorean, mba."

__ADS_1


"Tapi aku rasa akan lebih baik jika kita bicara diruangannya. Bisa lebih santai."


Entah apalagi yang sedang direncanakan wanita paruh baya itu. Dokter Nata menaruh curiga pada mamanya sendiri. Tapi ia tahu tidak akan bisa melawan keinginan mamanya.


"Baiklah, mba. Mari kita pergi sekarang." balas dokter Sophy.


Ia sangat tahu tidak akan berhasil jika berdebat dengan kakak iparnya itu.


"Tante tinggal dulu yah, Nat."


Dokter Sophy kemudian mengulas senyum kearah dokter Anna dan mengisyaratkan akan keluar kamar. Dokter Anna membalas dengan ikut menyunggingkan senyumnya. Ia lalu berjalan kearah pintu. Tante Arayu yang mengikut dibelakangnya, terlebih dulu mendekati dokter Anna dan membisikkan sesuatu ditelinganya.


"Na, tadi Sophy bawain Nata salad buah. Nata sudah pengen sekali memakannya, tapi tante fikir mumpung Sophy ada disini sekalian saja aku minta ia menemaniku menemui dokter yang menangani Nata. Kalau tidak keberatan, tolong Nata yah! Kamu kan sahabatnya."


Dokter Nata merasa penasaran apa yang diucapkan oleh mamanya pada dokter Anna tapi ia tidak bisa lagi bertanya karena tante Arayu sudah buru-buru keluar mengejar dokter Sophy tanpa menunggu jawaban dokter Anna. Baru saja ia akan bertanya pada dokter Anna, dokter Adit sudah lebih dulu terbangun.


"Kamu udah lama datang, Na?" tanya dokter Adit pada istrinya yang sudah terlihat duduk disampingnya.


"Baru saja, mas."


Dokter Adit tersenyum kemudian menoleh kesamping kearah tempat tidur dokter Nata.


"Tante Arayu mana, Nat?" tanyanya saat tak mendapati wanita cantik itu disamping putra kesayangannya.


"Mama baru saja keluar sama tante Sophy."


"Oh."


Dokter Anna melihat sekilas kearah meja kecil yang berada ditengah dan menjadi pemisah antara tempat tidur suaminya dan tempat tidur sahabatnya itu, disana terletak sebuah bingkisan yang masih tersimpan rapi. Ia bisa menebak itu salad buah yang dibawa oleh dokter Sophy.


Sementara dokter Nata yang sejak tadi ingin sekali memakan salad buah tersebut, berusaha menggapainya meski tangannya terasa sedikit nyeri. Wajahnya terlihat meringis menahan sakit. Melihat itu dokter Anna merasa kasihan tapi ia tidak juga beranjak dari tempat duduknya sebelum suaminya berucap,


"Na, apa kamu bisa tolong Nata? Sepertinya ia ingin mengambil sesuatu diatas meja."


"Iya, mas. Aku akan membantunya."


Dokter Anna pun berdiri dan menghampiri dokter Nata. Ia kemudian mengeluarkan kotak makanan dari dalam bingkisan itu dan memberikannya pada dokter Nata.


"Makasih, Na. Tapi sebenarnya aku bisa sendiri."


"Mas Adit menyuruhku membantumu."


Dokter Nata menoleh kearah dokter Adit dan mengucapkan terima kasih yang hanya dibalas senyum oleh dokter muda itu.


Dokter Anna lalu berbalik dan hendak kembali kedekat suaminya, tapi tiba-tiba ia mendengar dokter Nata meringis.


"Au...sakit."


Dokter Nata baru saja akan memasukkan salad buah ke mulutnya, tapi bukannya masuk, malah salad buah itu terjatuh diatas dadanya. Lagi-lagi dokter Anna kasihan melihatnya. Bagaimanapun juga, pria itu pernah menjadi bagian dari hari-hari bahagianya saat persahabatan mereka sedang erat-eratnya. Dokter Nata yang selalu membantunya dalam semua hal yang pernah terjadi dikehidupan mudanya. Ia tidak mungkin melupakan begitu saja semua kebaikan yang pernah ditorehkan pria tak berdaya didepannya saat ini.


❤️ Happy reading readers kesayangancuuu😘🤗

__ADS_1


❤️ Tuhan punya banyak cara untuk mempertemukanmu dengan ia yang akan mengisi hari-hari indahmu. Pada akhirnya semesta akan berpihak pada kebahagiaanmu, olehnya itu jangan pernah berhenti berharap🤗


__ADS_2