
"Halo sayang, ada apa nelfon pagi-pagi?" tanya Rania pada orang diseberang yang sedang menelfonnya.
"Aunty lagi dijalan sayang ada janji sama temen" Rania memang pagi ini akan bertemu dengan Sultan.
"Kamu jangan sedih sayang, besok aunty janji nemenin kamu main" kata Rania lagi, sepertinya orang yang ditemaninya bicara saat ini sedang merajuk.
"Ayo senyum dong, iya aunty janji besok jemput kamu" Rania terlihat mengulas senyum manisnya.
"Maafin Andin, Nia, aku sudah melarangnya tapi dia tetap ngotot mau nelfon kamu" handphone sekarang sudah berpindah ke tangan Rama, ternyata tadi Andin anak Rama yang menelfon Rania.
"Gak papa Ram, jangan dimarahi, Andin masih kecil" ucap Rania mendengar nada kesal Rama.
"Oya Ram besok boleh aku jemput Andin di sekolah?, aku tadi udah janji mau bawa dia main" tanya Rania.
"Boleh sekali Nia kalau itu gak merepotkan kamu, makasih yah sudah mau peduli pada Andin" balas Rama.
"Iya Ram, aku gak repot kog, aku malah suka, Andin anaknya asyik, lagian aku juga gak punya anak" ucap Rania lagi dengan suara melemah.
"Kamu boleh kog nganggap Andin anak kamu sendiri" Rama seolah mengerti dengan nada suara Rania.
"Makasih yah Ram, oya udah dulu yah, aku lagi nyetir nih" kata Rania.
"Iya, iya Nia, kamu hati-hati nyetirnya, jangan ngebut-ngebut" balas Rama kemudian sambungan telfon pun terputus.
Mobil Rania terlihat memasuki sebuah cafe elit yang berada di pusat kota M, setelah memarkir mobilnya ditempat parkir VIP, ia berjalan masuk kedalam cafe, ia melihat kekiri dan kekanan mencari meja yang sudah dipesan oleh Sultan sebelum akhirnya ia melihat seseorang yang melambai tangan kepadanya dan ia adalah Sultan.
"Udah lama Sul?" tanya Rania setelah berada dimeja Sultan.
"Belum begitu lama" jawab Sultan.
__ADS_1
"Hi Nendra apa kabar?" Rania beralih pada Nendra yang sedang asyik memainkan ponselnya disebuah meja lain yang berdekatan dengan mejanya dan Sultan. Sultan sengaja memesan satu meja untuk Nendra agar Nendra tidak ikut dalam pembicaraan orangtua.
"Baik tante" Nendra tersenyum ramah pada Rania.
"Senyumnya mirip Ruby" ucap Rania.
"Iya, namanya juga anaknya" mereka kemudian tertawa bersama.
"Oya kamu mau pesan apa Nia?" tanya Sultan.
"Aku coffe latte saja sama roti bakar coklat almond" jawab Rania. Sultan pun memanggil waitres lewat bel didepan mejanya kemudian ia menyebut pesanan Rania saat waitres datang kemejanya.
"Aku tidak tau mau memulai darimana pembicaraan ini" kata Sultan tersenyum tipis.
"Hahaha, santai saja mas, aku malah suka tertawa sendiri mengingat kekonyolanku dulu" balas Rania.
FLASBACK ON
Rania tentu saja menolak keras perjodohan itu karena ia memiliki pilihan sendiri apalagi ia masih anak sekolah, ia belum berfikir terlalu jauh tentang sebuah pernikahan tapi papanya tetap bersikeras untuk melanjutkan perjodohan itu lebih cepat, ia takut Rania akan jatuh dalam pergaulan bebas, papa Rania pun akhirnya mengadakan pertemuan keluarga dengan keluarga Sultan, awalnya Rania pura-pura mau didandani tapi saat suara mobil keluarga Sultan sudah berada didepan rumah, ia pun keluar mengendap-endap lewat pintu belakang dan memanjat pagar besi didepan yang sudah digembok, padahal saat itu ia sedang mengenakan dres selutut.
Rania sempat menghilang selama dua hari, ia bersembunyi dirumah temannya sampai akhirnya ia ditemukan oleh papanya, sejak saat itu papanya sudah berjanji untuk tidak menjodoh-jodohkannya lagi dengan siapapun, meskipun ia sebenarnya sudah malu pada keluarga Sultan tapi untungnya mereka bersahabat baik jadi papa Sultan bisa mengerti. Setelah cukup dua tahun papanya bertugas dikota S, ia pun dipindah tugaskan lagi ke kota lain tapi Rania lebih memilih tinggal dirumah mereka yang berada dikota M dan bersekolah disana, papanya sudah mengalah pada Rania dan memberinya kepercayaan sampai ia bertemu dengan Rama tapi akhirnya malah menikah dengan Satya.
FLASBACK OF
"Sampai sekarang aku masih belum bisa percaya kalau kita akan bertemu lagi dalam keadaan yang seperti ini" ucap Sultan kemudian.
"Iya kak, aku juga" balas Rania, mereka pun bercerita tentang keluarga masing-masing setelah terjadi insiden panjat pagar itu, Rania dan Sultan tertawa bersama seolah tidak ada beban dihati mereka.
"Oya kak gimana kabar istri kakak sekarang?" tanya Rania setelah tawanya reda.
__ADS_1
"Maksud kamu Tiara?" Rania hanya mengangguk mengiyakan, Sultan terlihat menarik nafas berat.
"Berkas perceraianku sama Tiara sudah ada dipengadilan agama, sisa menunggu keputusan hakim dan aku yakin dia akan mengabulkan permohonanku" katanya kemudian.
"Apa?, maksud kak Sultan kakak mau berpisah lagi dengan Tiara?" Rania terlihat kaget mendengar ucapan Sultan.
"Iya Nia, Tiara ternyata sudah menipuku dan sialnya aku tau setelah hampir setahun bercerai dari Ruby, anak yang dikandungnya ternyata anak pria lain dan ia sudah mengakui itu. Aku memang sudah curiga dari awal makanya aku sebenarnya tidak ingin bercerai dari Ruby tapi Ruby tidak mau lagi memberiku kesempatan, dan waktu itu aku sama sekali tidak punya bukti apa-apa" Sultan berhenti sampai disitu, ia menarik nafas dalam-dalam, kemudian ia kembali melanjutkan.
"Tapi Nia, aku sudah berbohong pada Ruby dengan mengatakan hubunganku baik-baik saja bersama Tiara, aku malu, sangat malu jika sampai Ruby tau kalau ternyata aku akan berpisah lagi" ucap Sultan.
"Kenapa mesti malu kak?, bukannya malah bagus jadi Ruby bisa tau kalau seperti apa Tiara" sahut Rania.
" Masalahnya tidak sesederhana itu Nia karena aku memang sudah berselingkuh dengan Tiara tapi ternyata Tiara wanita murahan yang mau tidur dengan laki-laki manapun yang punya kantong tebal" ucap Sultan lagi, Rania juga menghela nafas berat, ternyata bukan cuma rumah tangganya yang pelik tapi rumah tangga Ruby dan Sultan juga jauh lebih rumit.
"Mas Satya ngajakin aku makan siang" kata Rania setelah membuka pesan whatshap dari Satya diponselnya.
"Aku juga habis ini mau ke apartemen Ruby, ia memintaku membawa Nendra kesana" ucap Sultan.
"Apartemen?, bukannya Ruby tinggal dirumah utama semalam?" Rania terlihat mengerutkan keningnya.
"Aku juga gak tau, tapi ia tadi sharelock apartemen yang ditempatinya sekarang" sahut Sultan.
"Apa yang sudah terjadi pada mereka" Rania lagi-lagi menghela nafas berat.
"Nia sebenarnya bagaimana perasaan kamu terhadap Satya dan Ruby?, maaf kalau pertanyaanku sudah menyinggungmu" kata Sultan ragu-ragu.
"Jujur kak, awalnya aku sangat marah, aku tidak bisa menerima kenyataan tapi seiring berjalannya waktu, entah kenapa rasa itu perlahan memudar, apalagi sejak aku tahu siapa Ruby, ia wanita yang baik, aku tau ia tidak pernah bermaksud menyakitiku, ia bertahan sekarang cuma demi anaknya, anak itu butuh ayah dan ayah kandungnya adalah mas Satya" mata Rania terlihat sayu saat berbicara.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" tanya Sultan, Rania diam saja, ia belum berniat menjawab pertanyaan Sultan.
__ADS_1
🤩❣️ Hi Hi readers kesayangancuuu, jangan lupa Like, Vote, dan Komentnya yah, kalau ada yang mau kasi saran juga monggo, author dengan senang hati menerima😘😘
***Jangan pernah kau abaikan seseorang yang sudah menitipkan cinta dalam hatimu karena saat ia menjadi terbiasa dengan keadaan itu, rasanya perlahan akan memudar dan akhirnya sirna😊😊