Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Kedua Dokter Siuman


__ADS_3

JERMAN


Dokter Adit perlahan membuka mata saat siluet matahari pagi menyapanya dari balik tirai kamar perawatannya. Ia menekan kepalanya yang masih terasa agak pening. Matanya langsung tertuju pada seorang wanita yang masih tertidur disampingnya sambil memeluk perutnya. Ia menarik pelan kedua ujung bibirnya saat tahu siapa wanita yang sedang menunggui tidurnya.


Melihat wanita yang ingin dijadikannya partner meraih rumah tangga sakinah tersebut masih berada dialam bawah sadarnya, ia merasa tidak tega membangunkannya. Dibiarkannya saja tangan wanita itu berada diatas perutnya. Ada rasa senang bercampur bahagia menyelinap didasar hatinya. Pelan-pelan ia kemudian mengusap rambut dokter Anna.


Meskipun sangat pelan tapi dokter Anna bisa merasakan ada tangan yang menyentuh kepalanya. Ia pun membuka mata dan langsung menyuguhkan senyum indahnya dihadapan suaminya itu.


"Kamu sudah sadar, mas?" ucapnya mendahului dokter Adit mengawali pembicaraan pagi itu.


Dokter Adit membalas senyum istrinya seraya mengedipkan mata dan mengangguk kecil.


"Maaf, sudah merepotkanmu menjagaku."


"Sudah menjadi tugasku sebagai seorang istri, mas"


Keduanya kembali saling melempar senyum.


"Aku tidak tahu kenapa panasku bisa tinggi disana, padahal sebelumnya aku baik-baik saja." kata dokter Adit tanpa ditanya.


"Semua bisa saja terjadi mas, tidak ada jaminan untuk kita akan sehat-sehat terus meskipun kita tenaga medis."


"Kamu benar, An. Apa...kamu mencemaskan aku?" tanya dokter Adit menyelidik lewat tatapan matanya.


"Apa jawabanku begitu penting sampai kamu sudah dua kali menanyakannya?" balas dokter Anna tersenyum tipis.


"Aku hanya ingin tahu sudah sampai mana rasamu melangkah, meskipun belum bisa berlari asal sudah bisa merangkak dibelakangku." ucap dokter Adit lagi-lagi tersenyum.


"Kamu bisa aja mas, yang pasti aku ingin terus beriringan denganmu." jawab dokter Anna seraya menunduk karena tersipu malu.


"Are you sure?"


Dokter Anna hanya mengangguk kecil menanggapi pertanyaan suaminya.


"Udah dong nanyanya mas, aku mau kebawah dulu nyari sarapan."


"Apa kamu tidak ingin menanyakan perkembangan pencarian Nata di Yunani?"


"Kalau kamu merasa butuh mengatakan sesuatu tentang Nata, kamu pasti mengatakannya tanpa menunggu aku yang bertanya."

__ADS_1


Pembicaraan keduanya yang tadinya diwarnai dengan senyum sekarang berubah serius.


"Aku...aku belum berhasil menemukan Nata dan harus kembali karena keadaanku yang sudah tidak memungkinkan disana. Aku sahabat yang tidak berguna." sesal dokter Adit pada dirinya sendiri.


Dokter Anna yang sudah bersiap untuk melangkah keluar, berbalik dan menatap kearah manik dokter Adit.


"Kamu sudah berusaha sebisa yang kamu mampu mas. Nata beruntung punya sahabat seperti kamu yang rela meninggalkan istri yang baru saja dinikahinya demi menyusul ke Yunani untuk mencari keberadaannya." balas dokter Anna meyakinkan suaminya.


Dokter Adit yang tadinya sempat berwajah muram, kini kembali tersenyum mendengar ucapan istrinya.


"Makasih atas dukunganmu, An." ucapnya singkat.


"Iya mas. Kalau gitu aku tinggal bentar yah."


Dokter Adit hanya mengangguk kecil mengiyakan ucapan dokter Anna.


***


YUNANI


Hanya berselang satu jam dokter Almira sudah kembali ke kamar rawat dokter Nata yang ukurannya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan kamar rawat dokter Adit di Jerman. Ia mendapati dokter muda itu sedang terlelap. Keadaannya hari ini sudah lebih baik dibanding saat ia baru datang semalam. Wajah tampannya mulai terpancar kembali meski ia sedang tertidur, membuat detak jantung dokter Almira seolah berpacu saat ia menatap tajam kearah dokter Nata. Tidak ingin terlalu larut dengan perasaannya jika terus-terus memandang dokter tampan itu, ia buru-buru memalingkan wajahnya.


"Kamu sudah datang?"


"Seperti yang kamu lihat," balasnya.


Dokter Nata hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan sinis dokter cantik berwajah ayu itu.


"Aku sudah membawakan sarapanmu, silahkan dimakan." ucap dokter Almira seraya menunjukkan sarapan yang dibawanya pada dokter Nata.


"Kamu tidak berniat membantuku sekali lagi?" tanya dokter Nata, membuat dokter Almira mengerutkan keningnya.


"Membantu apa?"


"Aku sepertinya masih agak susah menggerakkan tangan keatas."


"Maksud kamu?"


"Aku pasti akan kesulitan saat makan, tapi kalau kamu nggak bisa, nggak apa-apa kog. Menunda makan sehari kayaknya tidak masalah."

__ADS_1


Lagi-lagi dokter Almira menghela nafas dalam-dalam. Meskipun dengan berat hati, ia akhirnya mengambil juga makanan dokter Nata dan duduk pada kursi yang berada disamping tempat tidur.


Dokter Almira kemudian mulai menyendokkan makanan kedalam mulut dokter Nata tanpa menoleh sedikit pun kearah dokter muda tersebut.


"Dengan tangan bergetar seperti itu, apa kamu tidak takut makanan justru akan jatuh dan tidak masuk ke mulutku?" tanya dokter Nata sambil tersenyum tipis melihat tangan dokter Almira gemetar.


"Ya Allah bantu aku mengendalikan diriku," batinnya.


"Aku hanya kurang tidur jadi badanku sedikit tremor," balasnya kemudian mencoba bersikap biasa saja agar Nata tidak mengetahui bahwa sebenarnya jantungnya sudah ingin loncat keluar dari tempatnya.


"Maafkan aku sudah membuat istirahatmu terganggu."


Dokter Nata merasa bersalah, ia berfikir karena dirinyalah dokter Almira kurang beristirahat. Dan fikirannya memang benar, tapi dokter cantik itu masih berusaha menyangkal semuanya. Ia tidak ingin dokter Nata berfikir lain tentang dirinya meski sebenarnya telah tumbuh sesuatu dalam hatinya yang belum bisa ia ungkapkan karena ia sendiri belum yakin rasa apa itu.


"Ini bukan karena kamu kog, selama menjadi relawan disini, waktuku memang lebih banyak tersita diluar."


"Apa kamu masih mau melanjutkan makan?" tanyanya mengalihkan saat suapannya sempat terhenti beberapa saat.


Dokter Nata mengangguk kecil mengiyakan pertanyaan dokter Almira. Dokter muda itu pun kembali menyendokkan makanan kedalam mulut dokter Nata. Kali ini ia bisa lebih santai, meski matanya belum berani melawan tatapan dokter tampan yang sedang mengulum senyum dihadapannya.


Berbeda dengan dokter Almira yang tidak mau menatap dokter Nata, dokter Nata malah lebih banyak menatap dokter cantik tersebut yang sesekali menggigit bibir bawahnya. Andai saja ia tidak bisa mengendalikan dirinya, ia sudah menggigit bibir merah merekah itu.


Dokter Almira kemudian ingat tujuannya datang membawakan sarapan adalah untuk mengetahui cerita dokter Nata bisa terbebas dari sekapan.


"Jadi bagaimana kamu bisa membebaskan diri dari sana? Padahal menurut cerita tidak ada orang asing yang bisa keluar dari sana dengan selamat."


Kali ini dokter Almira sudah menatap mata dokter Nata. Saat manik keduanya bertemu, dadanya kembali sesak karena pacuan jantungnya yang semakin kencang.


"Kata orang-orang itu memang benar. Hanya keajaiban dan kehendak Allah, aku bisa berada kembali disini. Aku sangat menyesal tidak mendengar perkataanmu tempo hari."


Dokter Nata menerawang kedepan, ia seolah tidak mampu menceritakan perjalanan kelam yang sudah dialaminya selama menjadi tawanan disana.


"Kamu lihat sendiri keadaanku semalam. Dan sampai hari ini bahkan aku belum bisa menggerakkan tanganku seperti semula."


Sampai disitu dokter Nata berhenti, ia menarik nafas berat dan membuangnya kasar.


"Seorang anak gadis dari suku itu yang mungkin menyukaiku, telah membantuku melepaskan diri dari ikatan. Tapi saat ia berusaha membawaku keluar, dua orang pria mendapati kami. Kedua pria itu menariknya dan saat hendak menariknya kembali, salah satu pria malah menebas lengan kiriku. Gadis itu berteriak menyuruhku pergi. Karena mengingat ibuku, akhirnya aku berlari sekencang-kencangnya dari sana sampai berada dibatas. Selanjutnya aku tidak tahu lagi bagaimana nasib gadis itu." lanjutnya seraya mengusap matanya yang mulai berair.


❤️ Maaf readers kesayanganku karena mommy yang janjinya akan up tiap hari, baru bisa up hari ini. Lagi-lagi karena kesibukan🙏😘🤗

__ADS_1


❤️Happy reading😘


__ADS_2