Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Mengetahui Yang Sebenarnya


__ADS_3

Suhu pendingin ruangan malam itu tidak bisa mendinginkan perasaan dokter Adit yang semakin panas. Ia berada tak berjarak dengan dokter Anna diatas ranjang yang sama. Dengkuran halus wanita itu bahkan bisa ia dengar dengan jelas. Ingin rasanya ia memeluk wanita yang sekarang sudah halal baginya itu tapi entah kenapa keberaniannya tiba-tiba menciut.


Malam semakin merambat tapi mata dokter muda itu masih juga terjaga. Sementara dokter Anna sudah terlelap sejak tadi. Saat ia hendak menyentuh bahu wanita itu, dokter Anna tiba-tiba berbalik kearahnya. Sekarang dokter Adit bahkan bisa melihat wajah cantik istrinya dari jarak yang sangat dekat tanpa polesan makeup sedikitpun. Jantungnya kali ini berdetak berpuluh-puluh kali lipat dari biasanya. Dipandanginya terus bibir wanita didepannya, ia membayangkan bibirnya menempel pada bibir merekah itu.


Fikiran dan hatinya saat ini sedang berdebat, bahkan sebentar lagi akan berperang hebat karena dokter Adit merasa sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Wanita didepannya kini sudah halal baginya, ia bebas melakukan apa saja yang ia mau pada wanita itu.


Dokter Adit menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia kemudian meremas wajahnya dan tanpa sengaja tangannya mengenai lengan dokter Anna saat diayunkan kebawah. Dokter Anna perlahan membuka matanya merasakan ada sesuatu yang menimpa lengannya.


"Maaf, Na. Aku tidak sengaja."


"Mas, kamu belum tidur? Kamu lagi ngapain tengah malam begini?"


"Nggak ngapa-ngapain kog, Na. Tanganku cuma sedikit pegal jadi aku ayun-ayunin sedikit, nggak taunya kena lenganmu. Maaf yah."


"Nggak apa-apa kog, mas. Ayo tidur."


Dokter Adit hanya mengangguk kecil. Melihat dokter Anna kelelahan mengurusnya beberapa hari dirumah sakit, ia jadi mengurungkan niatnya untuk melakukan sesuatu lebih jauh pada istrinya itu. Tidak lama setelah dokter Anna kembali tertidur, ia pun menyusul dan tidak butuh waktu lama lagi, ia sudah ikut terbuai mimpi dialam bawah sadarnya.


Keesokan harinya saat dokter Anna terjaga dari tidur, ia melihat ada sebuah tangan melingkar pada pinggangnya. Ia tahu itu tangan suaminya yang memeluknya dari belakang. Ia tersenyum tipis yang tentu saja hanya dilihat oleh tembok didepannya. Karena tidak ingin membangunkan dokter Adit jika ia menggerakkan badannya. Ia terpaksa diam seperti patung dan menikmati kehangatan tangan suaminya yang bisa ia rasakan dibalik kain piyamanya yang tipis.


Beberapa menit berlalu dan belum juga ada tanda-tanda dokter Adit akan bangun, dokter Anna yang sudah sangat ingin buang air kecil, perlahan melepaskan tangan suaminya. Dengan berjingkrak-jingkrak ia turun dari tempat tidur dan melangkah pelan-pelan ke kamar mandi. Setelah dokter Anna hilang dibalik pintu kamar mandi, barulah dokter Adit membuka mata yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi tapi ia masih ingin berlama-lama memeluk istrinya hingga ia berpura-pura masih tertidur.


"Sepertinya Anna sudah bisa move on dari Nata. Mungkin memang sudah saatnya kami berdua memasuki babak baru pernikahan seutuhnya." ucap dokter Adit pada dirinya sendiri.


***


"Bagas, Lila hari ini masak banyak. Kami tidak akan bisa menghabiskannya berdua saja. Kamu makan siang disini yah." ucap Ruby dari balik ponselnya saat menelfon Bagas pagi itu.


"Tidak perlu nona, aku makan diresto saja."


"Apa perlu aku menelfon mas Satya? Ini permintaan calon babyku loh."


"Baiklah nona, aku akan datang sebentar lagi." jawab Bagas dari seberang telfon dengan hembusan nafas yang berat.


Ia tidak tahu ini hanya akal-akalan nona mudanya untuk mendekatkannya dengan Lila. Ia hanya takut kalau sampai benar wanita itu menelfon suaminya, pasti masalah malah akan jadi panjang, dan ujung-ujungnya ia juga yang direpotkan, lebih baik ia menurut saja.


Sementara Lila yang melihat Ruby menelfon Bagas seketika membulatkan kedua matanya.


"Non Ruby kenapa manggil dia makan siang disini?"


"Makanannya kan banyak, Lil. Sayang kalau nggak habis."


"Kan non sendiri yang nyuruh bikin banyak. Aku kira non Ruby yang mau makan."

__ADS_1


"Yang bener aja Lil, makanan sebanyak gini aku habisin sendiri." jawab Ruby dengan tawa renyahnya.


"Berarti non Ruby sengaja dong mau panggil mas Bagas sarapan disini. Dia kan bisa makan diresto hotel." ucap Lila masih dengan nada ketus.


"Sekali-kali nggak apa-apa, Lil. Kamu kenapa sih, kayaknya nggak suka banget sama Bagas?"


"Dia itu nyebelinnya sudah tingkat kronis, non."


"Akh masa' sih? Tapi sepertinya dia baik loh."


"Yah karena non Ruby majikannya jadi dia baik. Dia itu sok kecakepan banget."


"Sama yang lain juga dia kelihatan baik. Dan emang dia cakep, Lil. bukan sok kecakepan."


Ruby sengaja ingin menggoda Lila. Ia memang berharap Lila berjodoh dengan Bagas. Ia lihat Bagas pria bertanggung jawab, ia pasti bisa membahagiakan Lila suatu saat. Meski sekarang mereka seperti Tom and Jerry tapi Ruby punya keyakinan jika nanti mereka akan berubah seperti Romie dan Juliet.


Ruby sudah menganggap Lila seperti saudaranya sendiri. Ia ingin yang terbaik untuk wanita itu. Dan hatinya berkata Bagas adalah orangnya.


Lila tidak menanggapi lagi ucapan nonanya, meski fikirannya sekuat tenaga menolak tapi hatinya tidak bisa berbohong ia mengakui kebenaran kata Ruby.


Beberapa menit kemudian Bagas benar-benar datang ke kamar Ruby. Kamar hotel tempat Ruby menginap memiliki meja makan yang tidak bersekat dengan ruang tamu.


"Silahkan duduk, Gas!" perintah Ruby saat Bagas sudah berdiri didekat meja makan.


Bentuk mejanya yang bundar membuat mereka duduk melingkar, sehingga tidak ada pilihan untuk Lila menghindar dari Bagas. Tapi ia sama sekali tidak menyapa Bagas meskipun keduanya duduk berdekatan, ia pura-pura serius menyendokkan makanan kedalam mulut baby Gyan.


"Kita makan sekarang yah. Udah Lil, makanan baby Gyan udah habis loh." ucap Ruby sambil mengambil piring makan baby Gyan yang memang tersisa sedikit.


"Tapi, itu masih ada non."


"Udah, tinggal sedikit juga. Baby Gyan udah kenyang tuh."


Lila akhirnya mengalah dan membiarkan baby Gyan memainkan musik pada keretanya. Mereka pun memulai makan siang tanpa bersuara, hanya terdengar suara sendok dan garpu yang beradu diatas piring.


Tidak ingin berlama-lama larut dalam kecanggungan, Ruby akhirnya bersuara lebih dulu.


"Masakan Lila enak yah, Gas?"


Bagas hanya tersenyum kecil seraya mengangguk. Masakan Lila memang enak, pas dilidahnya, tapi andai saja pertanyaan itu tidak berasal dari Ruby, ia pasti sudah mencelanya habis-habisan.


"Ngapain sih non Ruby minta pendapat beruang kutub segala. Aku juga tidak butuh penilaiannya. Eh tapi dia tadi mengangguk loh, itu berarti jawabannya iya. Apa dia menyukai masakanku?" batin Lila tersenyum kecil sambil menyembunyikan wajahnya.


Ia tidak sadar tenyata Bagas melihatnya sekilas.

__ADS_1


"Wanita itu kenapa senyum-senyum sendiri. Apa ia sudah gila? Dasar cewek aneh." Bagas ikut-ikut membatin.


Mereka pun kembali melanjutkan makan siang dalam suasana hening.


Selesai makan, Lila membawa baby Gyan kembali kekamar. Sementara Bagas minta izin ke toilet sebentar. Ia meninggalkan ponselnya diatas meja. Ponsel tersebut tiba-tiba berdering, Ruby melirik sekilas dan melihat nama suaminya yang tertera pada layar ponsel. Ia berfikir lebih baik mengangkatnya saja karena ia juga kebetulan bermaksud menelfon ayah dari putranya tersebut.


"Halo Gas, saksi yang sudah kita siapkan ternyata tidak datang ke pengadilan, sidang akan kembali dilanjutkan minggu depan. Sampai saat ini aku masih berstatus tersangka."


Bagai disambar petir disiang bolong, kaki Ruby seolah tidak berpijak pada lantai saat ini. Seluruh badannya seketika bergetar.


"Pengadilan? Tersangka?" ucapnya dengan nada bergetar seraya terduduk dilantai.


"Ruby? Kamu... kenapa kamu yang jawab telfon Bagas?"


Tidak kalah kagetnya dengan Ruby. Satya sekarang merasa frustasi, ia tidak tahu harus bilang apa pada istrinya itu.


"Jadi ini alasan utama kamu mengirimku kesini, mas?"


Air mata Ruby kali ini sudah tidak bisa terbendung lagi. Ia bicara sambil terisak.


"By, Ruby dengar aku dulu sayang. Ini hanya masalah biasa, kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya."


"Mas, kenapa kamu nggak ngomong sama aku? Apa kamu kira aku nggak akan kuat saat mengetahui ini? Aku bukan wanita lemah, mas. Aku sudah melewati banyak hal selama ini. Harusnya sekarang aku ada disana mendampingimu, mas. Bukannya malah jauh begini."


"Aku nggak apa-apa kog sayang. Aku cuma tidak ingin kamu banyak fikiran yang akhirnya bisa mengganggu kehamilanmu."


"Kandunganku kuat, mas. Nggak akan ada masalah. Aku akan pulang sekarang juga ke kota M."


"Tapi, By..."


"Tolong, mas."


"Baiklah, Bagas akan mengurus kepulanganmu."


Tanpa berbiacara lagi, Ruby memutuskan sambungan telfon. Bersamaan dengan kembalinya Bagas.


"Apa nona baik-baik saja? Kenapa ponselku bisa ada ditangan nona?" tanya Bagas heran melihat keadaan Ruby yang tadinya berbeda.


"Aku ingin kembali ke kota M sekarang, tolong uruskan semuanya." balas Ruby.


"Tapi apa tuan muda sudah tahu?"


Belum sempat Ruby menjawab, ponsel Bagas kembali berbunyi dan itu dari Satya.

__ADS_1


❤️ Happy reading kesayangan mommy. Votenya mana nih, kalau senang sama cerita ini, ayo dong dukung dengan ngasih vote😘🤗


__ADS_2