Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Mulai Menyambut


__ADS_3

"Assalamua'laikum." Ruby memberi salam saat memasuki kamar perawatan papa Lingga.


"Wa'alaikumsalam." Ibu Rita dan Grandma hampir bersamaan menjawab.


"Ruby sayang, bagaimana kabarmu dan cicit kesayanganku," Grandma lebih dulu bertanya saat Ruby memeluk wanita tua itu.


"Alhamdulillah aku sama Gyan baik-baik saja Grandma, saat datang kemari untuk kedua kalinya aku pasti akan membawanya," Jawab Ruby.


"Ibu sudah rindu sekali sama cucu ibu satu-satunya," Bu Rita ikut menimpali.


"Gyan sekarang ada dirumah utama bu bersama mertua dan adik iparku, aku sudah menyuruh Bagas untuk mencari rumah baru yang akan kami tempati nanti. Tinggal diapartemen sepertinya kurang nyaman untuk Gyan," ucap Satya membuat Ibu Rita bersungut.


"Kamu selalu saja buru-buru mau keluar dari rumah utama, tinggallah sebentar saja sampai Gyan pintar berjalan," harap Bu Rita.


"Nanti kita bicarakan masalah itu lagi bu, kami kesini ingin melihat keadaan papa," sahut Satya yang sudah berada disamping tempat tidur papanya.


"Apa kata dokter bu?" lanjutnya.


"Papa sempat drop lagi kemarin tapi setelah diberi obat oleh dokter papa sedikit lebih baik. Sekarang ia baru saja tidur Sat, semalaman ia tidak bisa lagi tidur nyenyak. Dokter bilang kalau minggu depan belum ada perubahan signifikan, papa akan dirujuk ke Jerman. Ibu sudah bicara sama Nata." Ibu Rita melihat kearah papa Lingga dengan pandangan kosong.


Satya menghela nafas berat, lagi-lagi ia harus berhubungan dengan dokter Nata saat ia baru saja menemukan kebahagiaan bersama Ruby.


"Lakukan yang terbaik untuk papa, Bu. Aku akan menyusul ke Jerman nanti kalau proyek perusahaan yang sedang berjalan sekarang sudah rampung," balas Satya.


"Iya sayang," jawabnya kemudian berjalan menuju sofa diikuti olah Satya dan Ruby.


"Oya mudah-mudahan ibumu betah dirumah utama, sayang. Sampaikan permintaan maaf kami karena tidak bisa menyambutnya." Ibu Rita duduk di sofa yang sama disamping Ruby.


"Kalau Lingga sudah agak baikan, kami akan kembali ke kota M. Grandma ingin mengadakan resepsi untuk pernikahan kalian," sahutnya. Mereka memang sudah tahu tentang perceraian Satya dan Rania.


"Sudah saatnya kolega dan rekan bisnis kita tahu tentang Ruby dan penerus keluarga Biantara," lanjut Grandma.


"Bagaimana kabar Rania Sat?" tanya bu Rita.


"Dia semakin baik bu, rencananya dia juga akan melangsungkan pernikahan dengan Rama setelah akta cerai kami keluar," balas Satya.


"Akan lebih baik jika kita mengadakan resepsi setelah Rania terlebih dulu menikah dengan Rama," ucap bu Rita yang dibenarkan oleh Ruby.

__ADS_1


"Iya bu, aku rasa apa yang dikatakan ibu itu benar. Aku tidak ingin tampil lebih dulu dari mba Rania, Grandma." Ucap Ruby.


"Iya, terserah kalian saja kalau begitu," balas Grandma.


"Oya, sudah sampai mana sidang perceraianmu, Sat?" Bu Rita kembali bertanya pada Satya.


"Kalau tidak ada halangan, minggu depan sidang putusannya bu. Pengacaraku sudah mengurus semuanya," jawab Satya.


"Ibu mendoakan semoga keluarga kalian sama-sama mendapatkan kebahagiaan." Doa bu Rita diaminkan olah semua yang berada diruangan itu.


"Sat..., kamu sudah datang?" Suara papa Lingga yang terdengar sangat parau khas orang sakit menghentikan perbincangan mereka.


"Iya pa, aku dan Ruby datang ingin melihat keadaan papa." Satya berdiri mendekat ke arah papa Lingga diikuti oleh Ruby dan ibu Rita.


"Ruby..." Papa Lingga memaksa tersenyum padanya. Ruby lalu mengambil tangan papa Lingga dan mencium punggunggungnya.


"Bagaimana kabar cucuku?" tanya papa Lingga hampir tidak terdengar.


"Gyan baik pa, makanya papa cepat sembuh yah biar bisa pulang main sama Gyan," ucap Satya mencium tangan papanya. Papa Lingga hanya mengangguk kecil mendengar ucapan Satya.


Satya merasa sangat sedih melihat keadaan papanya saat ini yang semakin hari semakin kurus. Tidak adalagi tubuh tegap dan wajah ceria papanya yang selalu melempar senyum pada siapa saja saat memasuki perusahaan. Ia sangat berbeda dengan Satya yang tidak menampakkan wajah persahabatan pada karyawannya.


"Iya pa, papa istirahat saja dulu," balas Ruby menambahkan.


"Bagaimana kabar Tuan Biantara hari ini?" Dokter visite baru datang keruangan papa Lingga.


"Masih seperti biasa dok, Kalau nyeri dadanya datang, ia bisa dibuat pingsan." Bu Rita yang menjawab.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin bu, tapi tidak ada salahnya kalau kalian ingin membawanya ke Jerman," ucap dokter itu.


"Iya dok, aku sudah bicara dengan mantan dokter keluargaku yang sudah bekerja disana saat ini," balas bu Rita.


"Baiklah." Dokter itu terlihat memberi suntikan pada selang infus papa Lingga kemudian ia pamit keluar. Tidak lama setelah diberi suntikan oleh dokter, papa Lingga kembali tertidur.


"Kalian pulanglah ke hotel, kalau sudah diberi suntikan begitu biasanya papa tidur sampai sore," ucap bu Rita.


"Iya, lebih baik kalian pulang, istirahatlah dulu, kalian baru datang dini hati tadi. Biar besok saja kalian kemari lagi menggantikan Grandma dan ibumu menjaga Lingga," tambah Grandma.

__ADS_1


Ruby dan Satya saling pandang sebelum akhinya Satya menjawab lebih dulu.


"Baiklah Bu, Grandma, kami pulang sekarang."


Setelah berpamitan, mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana kalau kita cari tempat makan dulu sebelum kembali ke hotel," ajak Satya.


"Terserah mas saja," jawab Ruby.


Satya memilih tempat makan yang sangat privat, ia memesan sebuah ruangan VVIP agar bisa menikmati makan siang dengan santai tanpa gangguan dari pengunjung lain.


"Mas aku ingin menelfon Gyan," ucap Ruby setelah mereka bersantap.


"Baiklah, aku akan memesan snack, kita bisa bersantai disini lebih lama, aku sudah membooking ruangan ini," ucap Satya yang dianggukkan oleh Ruby.


"Halo sayang, Gyan lagi apa? Tidak bikin nenek repot kan?" Ruby bertanya saat bu Rumana sudah mengangkat panggilan videonya. Terlihat baby Gyan disana sedang tertawa terpingkal-pingkal karena sedang bermain dengan Aydan.


"Tidak bunda, Gyan tidak nakal kog." Bu Rumana yang menjawab khas suara anak-anak.


"Gimana keadaan mertuamu nak?" tanya bu Rumana.


"Belum banyak perubahan bu, ibu doakan saja muda-mudahan papa bisa segera pulih," jawab Ruby.


"Iya nak."


"Ibu betah dirumah utama?" Kali ini Satya mengambil alih ponsel Ruby.


"Tidak ada yang tidak akan betah disini nak, rumah kamu seperti istana. Masya Allah, ibu kadang bingung mencari dimana kamarnya."


"Tapi kalau kalian sudah pulang, ibu akan balik ke kampung, ibu merindukan kebun sayur dibelakang rumah," lanjut bu Rumana.


"Kalau ibu mau, aku bisa menyuruh kepala pelayan membuat kebun sayur ditaman belakang," balas Satya.


"Tidak usah, tidak usah nak." Bu Rumana terkekeh mendengar ucapan Satya. Tidak ada sesuatu yang dianggap sulit untuk menantunya itu.


Setelah puas melihat baby Gyan, Ruby pun memutuskan sambungan video. Satya yang sejak tadi memperhatikan bibir Ruby tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk merasakan manisnya bibir itu. Diraihnya Ruby dalam dekapannya lalu ia memiringkan sedikit kepala Ruby kemudian ia mulai mengecupi bibir merah itu. Karena mendapat sambutan dari Ruby, lama kelamaan Li***nya ikut menari didalam mulut Ruby.

__ADS_1


🤩 Terima kasih yang sudah membaca novel ini, jangan lupa dukungannya yah😘🤗


*** Kadang untuk melihat sebuah taman diatas ketinggian, kita harus melewati jalan yang terjal. Tidak sedikit orang yang gagal sampai di puncak tapi banyak juga yang berhasil mencium harum bunganya karena kesabaran yang dimilikinya❤️💙


__ADS_2