
Setelah kembali dari toko kue, Lila melenggang masuk ke apartemen dengan santai, ia tidak perlu membunyikan bel karena ia memiliki access card sendiri.
"Non Ruby, boleh Lila masuk," Lila mengetuk pintu kamar Ruby. Setelah mengetuk lebih dari tiga kali dan belum juga ada sahutan dari dalam, ia pun memberanikan diri memutar gagangnya, pintu perlahan terbuka dan menampakkan seisi kamar Ruby yang terlihat begitu sepi. Lila mengedarkan pandangannya keseluruh kamar sampai kebalkon tapi ia tidak juga menemukan Ruby.
Lila mulai merasa panik saat ia berjalan kekamar mandi mencari Ruby dan lagi-lagi Ruby tidak ada disana, ia kemudian memeriksa lemari pakaian Ruby, ternyata masih utuh, tapi ia langsung terkejut melihat semua perlengkapan baby Gyan sudah tidak ada ditempatnya, tangannya sudah gemetar menerka-nerka apa yang sudah Ruby lakukan. Lila duduk terkulai lemas ditempat tidur Ruby, tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas diatas sebuah amplop pada nakas disamping tempat tidur tersebut.
Perlahan Lila meraih kertas tersebut, dan matanya langsung membulat sempurna seiring tangannya yang semakin gemetar saat ia membaca pesan Ruby dikertas itu.
Lila yang sudah aku anggap seperti saudara sendiri...
Maafkan aku karena aku harus pergi tanpa memberitahumu lebih dulu, aku hanya tidak ingin kali ini kamu terlibat lagi dengan masalahku yang belum menemukan ujungnya, biarkan aku menangani semuanya sendiri, semoga kamu juga bisa bahagia dengan seseorang yang mencintaimu...
Terima kasih yang tak terhingga aku ucapakan Lil atas semua bantuanmu selama ini, aku sangat beruntung bisa mengenalmu...
Oya dibawah note ini ada sebuah amplop, aku titip buat mas Satya yah...by Ruby**
Air mata Lila lolos begitu saja setelah membaca pesan dari Ruby.
"Non Ruby kenapa harus pergi, kenapa tidak sekalian saja membawa Lila, bagaimana non bisa mengatasi baby Gyan sendiri, dan apa yang harus aku katakan pada tuan muda, tuan Bagas pasti menghukumku," dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk dikepalanya, ia menyandarkan kepalanya pada tempat tidur, menarik nafas dalam-dalam, kemudian diraihnya amplop yang dititipkan Ruby untuk Satya, ia memejamkan matanya, tidak tau harus bicara apa pada Satya.
Setelah mengumpulkan sisa-sisa kekuatan dalam dirinya, pelan-pelan ia menghubungi ponsel Satya. Baru pada deringan kedua telfonnya sudah terhubung.
"Halo Lil, apa ada masalah?" jawab Satya yang saat itu sedang memimpin meeting di kantor Biantara Grup, ia langsung menaikkan tangannya tanda interupsi meeting saat melihat panggilan Lila, karena Lila tidak akan menghubunginya langsung kalau bukan masalah yang sangat penting, ia sudah tidak ingin kejadian dulu terulang lagi saat Ruby mengalami pendarahan.
"Anu tuan muda...non Ruby dan baby Gyan...," nafas Lila seolah terhenti, ia sangat takut bicara dengan Satya.
"Ruby dan Gyan kenapa Lil, ngomong yang jelas kamu," tanya Satya dengan nada suara agak meninggi membuat semua yang ada diruangan itu melihat kearahnya tapi tidak ada seorangpun yang berani bertanya.
"Non Ruby...non Ruby tidak ada diapartemen tuan muda...," ucap Lila terbata-bata sambil membuang nafas lega.
__ADS_1
"Apa?, maksud kamu tidak ada gimana?," tanya Satya dengan nada suara yang semakin meninggi, ia mulai terlihat panik.
"Non Ruby sudah pergi membawa baby Gyan, ia menitip surat untuk tuan muda," entah kekuatan dari mana Lila bisa selancar itu bicara.
"Apa???, aku akan sampai disana dalam dua puluh menit," Satya langsung mematikan ponselnya.
"Maaf tuan-tuan semua saya harus pergi sekarang juga, ada masalah yang harus saya selesaikan, Bagas akan menggantikan saya memimpin rapat," Ucap Satya, ia terlihat membisikkan sesuatu ditelinga Bagas kemudian berlalu dari ruangan itu.
Benar saja dalam waktu dua puluh menit Satya sudah terlihat memasuki apartemen Ruby, ia dengan langkah memburu berjalan memasuki lift dan langsung menuju kamar Ruby saat lift berhenti dilantai 18.
Satya melihat Lila masih menangis dikursi ruang tamu saat ia masuk kedalam.
"Lila, apa sebenarnya yang sudah terjadi?" tanya Satya mengagetkan Lila, ia terus saja menunduk sambil menangis, ia tidak berani menatap Satya.
Perlahan Lila mengangkat wajahnya dan menceritakan kejadian tadi pagi pada Satya, Satya yang masih berdiri didekat Lila seketika meremas wajahnya kasar dan menarik nafas sangat berat.
"Rubyyyyy, kenapa kamu melakukan ini padaku," Lila terkaget mendengar teriakan Satya. Satya kemudian meraih ponsel didalam saku celananya dan terlihat menelfon seseorang.
"Baik tuan muda," jawab suara Bagas, tanpa banyak bertanya ia langsung mengiyakan perintah Satya.
Satya perlahan duduk dikursi ruang tamu didepan Lila, ia kembali meremas rambutnya dan menundukkan kepalanya, Lila bisa melihat sudut mata Satya yang sudah berair saat Satya mengangkat wajahnya.
"Tuan muda non Ruby menitipkan ini untuk tuan," kata Lila sambil menyodorkan sebuah amplop pada Satya. Satya langsung meraih amplop tersebut dari tangan Lila.
"Lila, tinggalkan saya sendiri," ucap Satya setelah menerima amplop tersebut.
"Baik tuan muda," jawab Lila kemudian berlalu masuk kedalam kamarnya.
Satya membuka amplop itu pelan-pelan, ia berhenti sejenak memandangi tulisan tangan Ruby sebelum ia memulai membacanya.
__ADS_1
Teruntuk mas Satya yang aku hormati...
Aku terlebih dulu memohon maaf yang sebesar-besarnya karena aku pergi tanpa memberi tahu mas Satya, tapi yakinlah mas ini semata-mata karena aku tidak ingin melihat rumah tangga mas dengan mba Rania hancur...
Seperti yang sudah aku bilang, kalau aku tidak ingin menjadi wanita yang berbahagia diatas sakit hati wanita lain, aku sudah terlanjur merasakan sakit karena ulah seorang wanita, aku tidak ingin hal yg sudah terjadi padaku terjadi juga pada mba Rania...
Binalah Rumah tangga mas Satya dan mba Rania dengan baik, jangan pernah mencari aku, aku janji akan menjaga Gyan dengan baik, kelak kalau TUHAN mengizinkan mas akan bertemu dengan Gyan, dan saat itu tiba aku dengan senang hati akan berbagi pengasuhan Gyan pada mas Satya...
Maaf sekali lagi aku ucapkan, aku bersujud memohon ridho dari mas Satya, bukan hal mudah untukku menjalani semua ini tapi jalan ini harus juga aku lalui...
Peluk cium Gyandra untuk mas Satya...
Hormatku
Ruby
Satya menyimpan surat itu dimeja, ia benar-benar frustasi memikirkan sikap Ruby, tanpa ia sadari sudut matanya kembali berair, ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang begitu cengeng tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya yang sangat merindukan baby Gyan.
"Kamu tidak tau By kalau Rania sudah berencana mengajukan gugatan cerai padaku," ucap Satya pada dirinya sendiri, ia memang belum memberitahu Ruby tentang keinginan Rania.
Saat Satya masih larut dengan perasaan sedihnya, ponselnya kembali berdering, ia melihat kelayar dan ternyata itu dari Bagas.
"Halo tuan muda, maafkan saya, saya dan anak buah saya sudah memeriksa semua penerbangan hari ini dan juga pemberangkatan kapal dipelabuhan tapi tidak ada nama Nyonya muda kedua dalam daftar penumpang disana," kata Bagas dari seberang telfon.
"Pokoknya aku tidak mau tau Gas, kamu kerahkan semua kemampuan kamu untuk mencari Ruby, aku yakin dia belum jauh dari sini karena Lila langsung menghubungiku setelah ia kembali keapartemen," balas Satya.
"Baik tuan muda, saya akan mencari Nyonya muda kedua bahkan kelubang semut sekalipun," Bagas tau kalau Satya sudah bertitah seperti itu, siapapun tidak bisa menolaknya.
❤️Hi readers jangan lupa ninggalin jejak yah, kalau ada yang bilang ceritanya kebanyakan surat, maaf yah tapi memang alurnya author bikin sudah seperti itu, hihihi, tungguin aja part2 selanjutnya, kalau surat sudah habis pasti percakapannya akan lebih banyak, makasih untuk kalian yang sudah membaca dan menyukai karya amatir ini, maafin segala kekurangan author😘😘
__ADS_1
Jangan Lupa mampir juga dikarya keduaku CINTA DIBALIK PENOLAKAN😍
***Tidak semua kebahagiaan itu datangnya instan, ada yang butuh banyak air mata untuk memperolehnya, tapi saat ia sudah datang bertamu, kesedihan itu hanya akan jadi pemanis perjalanan selanjutnya❣️😍