Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Perdebatan


__ADS_3

"Mas, ibu sudah mau pulang ke kampung besok," ucap Ruby yang saat itu sedang bersandar dibahu Satya setelah mereka makan malam.


"Kenapa ibu sudah mau pulang sayang? Apa ada yang kurang dirumah ini yang membuat ibu tidak betah?" Tanya Satya sambil memainkan rambut Ruby.


"Justru karena dirumah ini berlebihan, ibu jadi tidak tahu mau ngapain mas. Ibu itu paling enggak bisa kalau enggak kerja. Dikampung ibu bisa beraktifitas sesukanya," jawab Ruby.


"Baiklah kalau itu bisa membuat ibu senang, kita lengkapi saja semua kebutuhannya dikampung," balas Satya sambil tangannya terus kemana-mana meraba setiap inci bagian tubuh Ruby.


"Mas, tangannya dikondisikan dulu yah, kita baru abis makan malam loh," ucap Ruby saat tangan Satya mulai menyelinap masuk kedalam piyama yang dipakainya.


"Emang ada larangan enggak boleh ngelakuin gituan kalau baru abis makan?" tanya Satya.


"Iya enggak sih mas, cuma gak enak aja." Ruby berbalik dan tersenyum lebar kearah Satya yang sedang cemberut.


Mulai sekarang aku mau kamu memanggilku dengan sebutan sayang, kalau tidak maka kamu akan dihukum tiga kali kecupan disini," ucap Satya tersenyum sambil memegang bibirnya.


"Kenapa bisa begitu ma..."


"Kecup sini tiga kali." Satya kembali menunjuk bibirnya saat Ruby masih terdengar ingin memanggilnya mas.


"Tapi kan belum selesai disebut sa...sayang,"


"Sama aja," jawab Satya.


"Peraturan dari mana ada seperti itu." Dengan kesal akhirnya Ruby mengecup juga bibir Satya yang sudah sejak tadi bereaksi seluruh tubuhnya.


"Sayang boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Ruby mengalihkan saat Satya sepertinya sudah ingin memulai pertarungan malam itu.


"Katakan sayang, kamu mau apa?" balas Satya sambil terus meraba setiap inci tubuh Ruby.


"Aku...aku...bagaimana dengan kerjaanku sayang?" tanya Ruby terbata-bata.


"Apa uang dari aku masih kurang sehingga kamu harus bekerja lagi?" Satya seketika menghentikan aktivitas mesumnya.


"Nanti aku suruh Bagas menambahkan uang bulananmu kalau kamu masih merasa kurang," tambahnya kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.


"Bukan begitu sayang, uang bulananku bahkan lebih dari cukup tapi kamu tahu sendiri aku pegawai pemerintahan, enggak segampang itu bisa berhenti asal berhenti saja," ucap Ruby terus merayu Satya.

__ADS_1


"Atau gini saja, kamu bisa uruskan pindahku kesini sayang jadi aku juga tidak bosan dirumah terus," lanjutnya lagi.


"Akan aku fikirkan nanti." Satya terlihat menarik nafas dalam-dalam.


"Baiklah sayang, makasih." Ucap Ruby lalu mengecup bibir Satya.


"Oya Bagas udah ada kabar?" Ruby buru-buru melepas bibirnya dan mengalihkan perhatian Satya dengan bertanya tentang Bagas.


"Hati-hati menanyakan Bagas, aku bisa cemburu kalau terlalu keseringan sayang."


"Apaan sih mas, kamu kenapa jadi sensitif gitu."


"Aku enggak suka aja istriku menanyakan laki-laki lain saat sedang bersamaku."


"Jangan begitu sayang, aku hanya menyukaimu," ucap Ruby yang kembali bersandar didada Satya sambil mempermainkan jari-jari tangannya.


"Benarkah?" tanya Satya sambil menyandarkan dagunya dibahu Ruby. Ruby bisa merasakan nafas laki-laki dibelakangnya yang selalu mengeluarkan bau mint.


"Iya sayang," jawab Ruby lembut.


"Tapi kenapa kamu beberapa kali menolakku?"


"Kamu tenang aja sayang karena mulai sekarang aku akan selalu membuat manis hari-hari kita kedepannya," balas Satya mempererat pelukannya pada Ruby.


"Makasih sayang." Satya kembali memalingkan wajah Ruby dan menghadapkan kearahnya. Ia mengecup keningnya lalu pelan-pelan mulai turun ke bibir Ruby yang selama ini menjadi candunya.


Baru saja ia akan memulai lagi permainan panasnya, ponselnya tiba-tiba berdering.


"Shit, siapa yang nelfon malam-malam gini," makinya sambil melepaskan pelukannya pada Ruby kemudian ia mengambil ponsel yang ia letakkan dinakas. Lagi-lagi aktivitasnya tertunda untuk kesekian kalinya malam ini.


"Nata?" ucapnya melihat nama yang tertera di layar ponsel.


"Angkat dulu sayang, siapa tahu penting," ucap Ruby. Satya lalu menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dokter Nata.


"Iya Nat, ada apa menelfon malam-malam?" tanya Satya tanpa basa basi setelah panggilan telfon tersambung.


"Maaf kalau aku mengganggumu Sat," kata dokter Nata dari seberang telfon.

__ADS_1


"Kalau ini mengenai papa, tidak masalah Nat."


"Tapi ini bukan mengenai papamu Sat, ini tentang Anna." Jawaban dokter Nata membuat Satya mengerutkan keningnya.


"Anna? Ada apa dengan Anna?" tanya Satya.


"Besok ia akan melansungkan pertunangan Sat, tapi ia sama sekali belum mengenal laki-laki yang akan menikahinya itu. Aku pernah bilang agar ia mengikuti kata hatinya tapi setelah aku fikir-fikir Anna tidak akan bahagia hidup bersama dengan orang yang tidak ia cintai. Anna sahabat kita Sat, aku minta tolong kamu menghubungi dia dan menasehatinya karena ka tidak mau mengangkat telfonku dari kemarin." Dokter Nata menghela nafas kasar setelah mengeluarkan semua yang ingin ia katakan.


"Kalau kamu ingin Anna bahagia, kenapa tidak kamu saja yang membahagiakannya Nat?" Kata-kata Satya seperti air panas yang disiram diwajah dokter Nata.


"Bagaimana caraku membahagiakannya kalau aku hanya mempunyai perasaan layaknya seorang sahabat sama dia, apa sepanjang hidup kami akan lewati tanpa cinta?" Dokter Nata lagi-lagi menarik nafas kasar.


"Apa Anna pernah memberitahumu siapa laki-laki yang dicintainya selama ini?" Tanya Satya.


"Tidak," jawab dokter Nata singkat.


"Kita berteman dengan Anna sejak kuliah, dan aku tidak pernah melihatnya jalan dengan laki-laki lain selain kamu padahal aku sangat tahu kalau banyak teman-teman kampus kita yang berusaha mendekatinya. Apa kamu tidak berfikir bahwa sebenarnya Anna menyukaimu?" tanya Satya membuat dokter Nata tersentak.


"Tidak mungkin Sat, Aku sama Anna sudah seperti saudara. Perasaanku padanya sama seperti perasaanku padamu," jawab dokter Nata.


"Tapi kamu tidak pernah menanyakan perasaan Anna terhadapmu kan?"


"Tanpa aku tanya pun aku sudah tahu Sat kalau ia juga menganggapku tidak lebih dari sahabat."


"Kamu jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan sendiri Nat."


"Aku dan Anna juga tidak mungkin bersama Sat..." dokter Nata tidak melanjutkan ucapannya.


"Apa karena kamu mencintai wanita yang sudah menjadi milik pria lain?" Tanya Satya menyindir dokter Nata.


"Aku menelfonmu untuk meminta tolong memberi pengertian pada Anna bukan ingin berdebat denganmu," balas dokter Nata


"Ayolah Nat, kamu sudah jelas menaruh hatimu pada tempat yang salah, kenapa kamu tidak mengambilnya saja dan membawanya ketempat yang lebih pantas." Satya mulai terlihat kesal pada dokter Nata.


"Asal kamu tahu Nat, aku tidak akan pernah melepaskan Ruby sekarang. Maafkan aku karena pernah mengabaikannya sehingga kamu akhirnya masuk dan terjebak didalam tapi tolong keluarlah dari sana. Diluar ada kebahagiaan yang sudah lama menunggumu." Satya merasa frustasi dengan sikap dokter Nata. Ia memang sudah berjanji untuk menjauhinya bersama Ruby tapi Satya tidak yakin karena dokter Nata belum menemukan tempat berlabuh yang bisa membuatnya untuk tidak menoleh ke belakang.


Satya meremas wajahnya kasar saat sambungan telfon terputus. Sedangkan Ruby yang berada didekatnya hanya diam saja tidak bisa berkata apa-apa.

__ADS_1


💚 Terimakasih bagi yang sudah membaca cerita ini, maafin segala kekurangan mommy yah, jangan lupa ninggalin jejak readears kesayangan❤️


❤️ Yang bisa membolak balikkan hati manusia hanya Tuhan. Mintalah terus pada_Nya agar dipalingkan dari rasa yang tumbuh tidak pada tempatnya🤗


__ADS_2