
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dua jam, Satya dan Ruby akhirnya sampai juga di kediaman dokter Anna. Dihalaman depan rumahnya sudah nampak sebuah tenda yang berdiri kokoh dengan dekorasi yang simple tapi terlihat mewah melambangkan pribadi pemiliknya.
Dokter Anna memang akan mengadakan akad nikah dirumahnya dengan mengundang kerabat dekat saja dan dilanjutkan dengan resepsi disebuah hotel berbintang di kota B dengan ratusan undangan dari kerabat kedua calon pengantin.
Kedatangan Ruby sudah ditunggu dokter Anna sejak tadi Ruby menelfonnya saat mereka sepeluh menit lagi sampai dirumahnya. Kedua orangtua dokter Anna dan beberapa keluarga yang lain ikut menyambut diluar rumah saat tahu bahwa presdir Biantara Grup sudah hampir sampai disana.
Tidak ada orang penting disetiap kota yang tidak tahu tentang keluarga Biantara, pemilik perusahaan terbesar dinegaranya.
Seperti biasa Satya turun dari mobil dengan langkah anggunnya tapi sedikit berbeda dengan dirinya dulu yang tidak pernah memperhatikan sekelilingnya, sekarang ia lebih bisa bertegur sapa dengan orang yang ditemuinya. Sejak bersama Ruby yang low profil, ia sedikit bisa mengikuti pribadinya.
"Selamat datang dikediaman kami tuan Biantara," sambut papa Bayu setelah Satya berada didepannya.
"Terima kasih om Bayu, tidak usah terlalu formal, aku sahabat Anna. Panggil saja aku Satya."
Walaupun Satya bersahabat dengan dokter Anna waktu kuliah, ia tidak begitu dekat dengan keluarganya seperti dokter Nata. Ia juga bisa mengenal dokter Anna dari dokter Nata, hingga mereka sering hangout bareng tapi hanya diluar rumah.
"Selamat datang nak, kami sangat senang kalian mau menyempatkan diri kesini menghadiri pernikahan Anna."
Mama Ambar menyalami Satya dan mencium pipi kanan dan pipi kiri Ruby.
"Kami pasti datang tante, karena kak Anna sahabat dekat kami," jawab Ruby.
"Panggil saja mama Ambar sayang."
Ruby tersenyum dan merasa terharu dengan kebaikan orangtua dokter Anna.
"Akhirnya sampai juga kesini By," ucap dokter Anna sambil memeluk Ruby yang sedang menggendong baby Gyan.
"Ponakan onty yang ganteng rewel nggak selama perjalanan?"
Dokter Anna beralih pada baby Gyan dan langsung mengambilnya dari gendongan Ruby.
"Onty kangen banget cayang, makin montok yah, ih gemesnya."
Dokter Anna menciumi dan mencolek pipi gembul baby Gyan.
"Lucu yah anaknya, ganteng kayak papanya," ucap mama Ambar ikut mencolek pipi baby Gyan.
"Ini kakaknya juga? sudah besar yah!" lanjut mama Ambar mengusap-usap kepala Nendra yang sejak tadi berdiri dibelakang Satya.
"Iya ma," jawab Ruby.
"Apa kita mau berdiri terus saja disini?" Tanya papa Bayu sambil terkekeh.
"Iya yah pa, sampai lupa nyuruh tamu kita masuk gara-gara keasyikan ngobrol." Mama Ambar ikut terkekeh.
"Mari nak Satya, nak Ruby kita masuk kedalam. Mama udah nyiapin makan siang untuk kalian.
Mereka semua pun masuk kedalam rumah dengan senyum yang terus tersungging dibibir keduanya membalas senyum semua keluarga dokter Anna yang ada disana.
"Kita langsung kemeja makan saja yah nak." Ajak mama Ambar yang diikuti oleh semuanya.
"Semoga kalian suka dengan makanannya nak," ucap Mama Ambar saat Ruby dan Satya sudah mulai menyendok makanan kedalam l
piring mereka.
"Enak sekali makanannya ma," jawab Ruby.
"Oya By, Lila nggak ikut?" Tanya dokter Anna.
"Lila masih dibelakang sama Bagas kak. Tapi kog belum nyampe yah mas, dia pergi kan tidak lama setelah kita pergi. Dan kita malah beberapa kali singgah." Ruby menoleh kearah Satya.
"Kita akan tahu alasannya saat mereka tiba."
__ADS_1
Jawaban Satya membuat Ruby tidak bertanya lagi dan melanjutkan makannya.
Selesai makan, mereka memilih tempat duduk pada gazebo dibelakang rumah untuk bersantai sambil menikmati penganan yang disediakan oleh mama Ambar.
Tidak berselang lama setelah Satya menghabiskan moccanino di cangkirnya, terdengar suara ribut-ribut dari luar rumah.
"Bu Ambar diluar ada tamu datang membawa mobil bagus!" Seru seorang wanita tua yang datang tergopoh-gopoh mendekati mama Ambar.
"Mobil bagus?" Tanya mama Ambar terlihat heran.
"Mungkin itu mobil yang dikirim Bagas," sahut Satya.
"Bagas? Maksud kamu apa Sat?" Dokter Anna juga dibuat heran dengan ucapan Satya.
"Kita langsung lihat keluar saja," balas Satya.
Tanpa menjawab lagi, mereka semua kembali berjalan keluar rumah. Dokter Anna dan kedua orangtuanya membulatkan kedua matanya melihat sebuah mobil sedan berwarna merah terang yang didepannya dihias dengan pita dan kembang warna pink sudah terparkir indah dihalaman rumah.
"Ini hadiah kecil dari kami Na, untuk pernikahanmu."
Satya yang berucap tapi ikut diiyakan oleh Ruby dengan anggukan kepalanya.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan Sat?" Tanya dokter Anna yang masih merasa kaget dengan hadiah Satya.
"Ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan hubungan baik kita selama ini Na," balas Satya.
"Iya kak Anna." Ruby ikut menambahkan.
"Makasih Sat, makasih By." Dokter Anna mendekati Ruby dan memeluknya.
"Makasih nak Satya dan nak Ruby atas hadiahnya untuk Anna. Ini sungguh hadiah luar biasa."
Mama Ambar ikut menimpali, sedangkan papa Bayu tidak bisa berkata apa-apa lagi saking terharunya.
"Loh, kalian nggak nginap disini? Mama udah nyiapin kamar buat kalian," balas mama Ambar.
"Iya By, nginap sini saja," tambah dokter Anna.
"Kami sudah booking hotel saat di kota M, ma. Lain kali kalau ada kesempatan kesini lagi kami pasti menginap," jawab Ruby mewakili Satya.
Mereka sengaja menyewa hotel karena tidak ingin merepotkan keluarga dokter Anna yang sudah disibukan dengan persiapan pernikahan.
"Baiklah kalau begitu nak."
"Kami pamit ma, om, kak Anna." Ucap Ruby pada semuanya.
"Iya By. aku tunggu nanti malam yah," balas dokter Anna yang diiyakan oleh Ruby.
Sebelum mereka berlalu dokter Anna masih sempat-sempatnya mencolek pipi Gyan. Mereka terus berdiri diluar rumah sampai mobil yang membawa Ruby dan Satya menghilang dibalik pagar.
***
Sementara itu dibatas kota B, terlihat perdebatan yang terjadi antara seorang pria dan wanita. Pria dan wanita itu adalah Bagas dan Lila. Setelah hampir masuk ke kota B ban mobil mereka kendarai mengalami kebocoran.
"Kenapa kalau aku bareng sama kamu, selalu saja mendapat sial." Ucap Bagas sambil menendang ban mobilnya yang bocor.
"Enak saja ngatain aku kayak gitu, memang dasarnya kamu saja yang sudah sial." Batin Lila.
Yang tidak bisa ia keluarkan lewat mulutnya karena perasaan takutnya pada Bagas masih lebih besar daripada nyalinya untuk melawan.
"Kog aku sih mas." Hanya kata itu yang keluar dengan suara pelan dari mulutnya.
"Sudahlah, lebih baik sekarang fikirin gimana caranya mobil ini bisa jalan kembali," jawab Bagas terlihat kesal.
__ADS_1
"Yah ditambal bannya mas," ucap Lila asal membuat Bagas semakin kesal.
"Orang bodoh juga tau kalau ban bocor mesti ditambal dulu baru bisa jalan," ketusnya.
Lila tersenyum menyembunyikan wajahnya dari Bagas. Tapi ternyata Bagas melihatnya dari kaca spion mobil hingga muncul niat untuk kembali mengerjai Lila.
"Aku sudah tahu caranya. Aku akan masuk kedalam mobil untuk mengendalikannya dan kamu akan mendorong mobil dari belakang," sahut Bagas tersenyum jahil pada Lila.
"Apa? Mas yang benar saja dong. Aku nggak mau," balas Lila balik kesal.
"Oke, kalau begitu kamu jangan menunggu transferan gajimu bulan depan."
Bagas selalu memakai ancaman ini saat Lila menolak perintahnya dan benar saja cara ini seratus persen manjur.
"Cepat naik, aku akan mendorong dari belakang."
Sambil bersungut Lila akhirnya menuruti juga perintah Bagas. Bagas yang sudah berada dibelakang setir mobil tersenyum penuh kemenangan.
Untungnya ada sebuah bengkel yang tidak jauh dari tempat ban mobilnya bocor. Lila sudah kehabisan tenaga sesampainya disana.
"Nih minum dulu," tawar Bagas sambil memberikan botol soft drink pada Lila yang terlihat ngos-ngosan
"Makasih," balas Lila sinis.
"Kenapa? Kamu marah?" Tanya Bagas.
"Enggak."
"Kamu marah juga enggak apa-apa."
Bagas melenggang masuk kedalam bengkel lagi-lagi sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Iiiihhhh, ngeselin banget sih," omel Lila.
"Terbuat dari apa perasaan lelaki menyebalkan itu," tambahnya.
Lila menghentak-hentakan kakinya dan mengepalkan kedua tangannya seolah hendak meninju Bagas.
***
Ditangan kiri dokter Aditya terdapat dua buah cincin dari emas putih kelas atas yang dibelakangnya sama-sama memiliki inisial A dan harganya ditaksir mencapai ratusan juta rupiah sepasang. Sedangkan ditangan kanannya terdapat sepucuk surat dengan lipatan yang sangat rapi. Dokter Aditya membuka surat itu pelan-pelan lalu mulai membaca kata demi kata yang terukir diatas kertas tersebut.
My brow Aditya
Kita berdua pasti sama-sama tidak ingin kan dianggap seperti wanita melow hanya karena tidak saling menghadiri pernikahan satu sama lain. Keberangkatanku sangat mendadak dan banyak yang harus aku urus sebelum berangkat kesana hingga aku bahkan tidak punya waktu untuk menghubungimu.
Tapi percayalah brow, doaku selalu menyertaimu.
Dikotak ini ada sepasang cincin yang aku pesan khusus dan kilat dari Cina untuk pernikahan dua sahabat terbaikku. Aku tahu kamu pasti sudah menyiapkan cincin pernikahan sendiri tapi tolong Dit pakailah cincin pemberianku ini dijari kalian berdua saat menikah nanti karena sebagai sahabat aku ingin terlibat dalam persiapan pernikahan kalian agar kamu dan Anna ingat bahwa pernah ada seorang sahabat sepertiku.
Salam sama Anna.
Nata*****
Dokter Aditya membungkus kembali surat itu sesuai lipatannya tadi. Ia menarik nafas sangat berat lalu kembali menghembuskannya kasar.
"Mungkin sekarang aku belum tahu alasan kepergianmu ke Yunani tapi mudah-mudahan itu murni karena keinginanmu untuk membantu penduduk disana Nat. Kamu selalu akan jadi sahabat terbaikku meski bumi memiliki dimensi lain." Kata dokter Aditya bergumam.
*** BERSAMBUNG ***
โค๏ธ Happy reading kesayangan mommy, maaf yah tapi bukan maksud mommy ingin menggantung kalian cuma hanya sampai pembahasan ini dulu hari ini karena mommy masuk kantor. Mommy minta votenya dong bagi yang suka cerita ini๐๐
๐ Tidak ada yang lebih berharga dibumi selain hubungan yang baik dengan sesama manusia. Tidak perlu sebuah pertalian darah untuk mengikat suatu hubungan baik karena kadang yang tidak memilikinya pun bisa menjalin hubungan yang lebih awet๐ค๐ค
__ADS_1