Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Kembalinya Dokter Nata


__ADS_3

Pukul dua dini hari, saat dokter Almira baru saja mengantar dokter Adit menaiki helikopter yang akan membawanya kembali ke Jerman, ia dikagetkan oleh suara familiar saat baru saja akan membuka pagar basecamp yang ditempatinya selama menjadi relawan di Yunani.


"Dok, to...long sa...ya."


Suara itu terdengar bergetar dan seolah sedang menahan sakit. Dokter Almira kemudian berbalik dan alangkah terkejutnya ia mendapati orang yang berada didepannya kini adalah orang yang selama ini dicarinya bersama dokter Adit.


Pria itu yang selama ini ia kenal sebagai dokter paling tampan diantara semua dokter kenalannya, sekarang terlihat sangat kumuh seperti seorang gelandangan. Dan lebih mengejutkan lagi ia terus memegangi lengan kirinya yang sudah berlumuran darah.


"Dokter Nata?"


Seakan tidak percaya dengan penglihatannya saat ini, dokter Almira ingin berteriak histeris tapi melihat keadaan dokter Nata yang sudah semakin lemas karena darahnya yang terus mengalir, ia lalu buru-buru memapahnya masuk kedalam.


"Ma...afkan sa...ya."


"Tidak usah banyak bicara, aku akan menjahit lukamu terlebih dulu."


"Suster Dina," teriak dokter Almira dari luar meminta bantuan suster Dina.


Suster Dina tidak kalah kagetnya seperti dokter Almira saat melihat ternyata dokter Nata sudah kembali dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Sebuah luka robek dengan panjang sekitar 25 centimeter dilengan kirinya yang ditekan oleh tangan kanannya untuk menahan perdarahan.


"Dimana dokter menemukan dokter Nata?" Tanya suster Dina pada dokter Almira.


"Ia datang sendiri, sus. Kita akan menanyakannya nanti setelah kita mengobati luka robeknya."


"Baiklah dok."


Tanpa banyak bertanya lagi suster Dina membantu dokter Almira memapah dokter Nata.


Kedua wanita single tersebut membawa dokter Nata ke sebuah ruangan yang didalamnya hanya terdapat sebuah tempat tidur kecil dan sebuah lemari pendek serta satu tiang infus yang sudah sedikit berkarat.


"Siapkan alat heacting, kita harus segera menutup lukanya agar darahnya berhenti keluar." Perintah dokter Almira.


Dengan cekatan suster Dina mengeluarkan semua alat-alat yang diperlukan untuk menjahit luka dari dalam kotak yang biasa dibawanya ke posko bersama dokter Almira.

__ADS_1


Dokter Almira kemudian mulai membersihkan luka tersebut, sementara suster Dina melakukan pemasangan infus pada dokter Nata. Karena sudah banyak darah yang keluar, membuat dokter Nata akhirnya terkulai lemas hingga dibutuhkan pemasangan infus terlebih dulu.


Luka robeknya cukup panjang tapi untungnya tidak compang camping hingga dokter Almira tidak kesulitan menanganinya dan hanya butuh waktu tidak sampai tiga puluh menit luka dokter Nata sudah tertutup sempurna.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya suster Dina merasa khawatir karena dokter Nata belum membuka mata dan tidak sekalipun meringis saat kulitnya bersentuhan dengan jarum jahit.


"Ia hanya pingsan karena kekurangan banyak darah," jawab dokter Almira.


"Apa perlu dilakukan transfusi, dok?"


"Tidak perlu, berikan saja ia suntikan untuk mengembalikan kestabilan tubuhnya. Setelah bangun nanti, ia akan merasa baikan."


"Baik, dok."


Setelah suster Dina memberikan suntikan pada dokter Nata, ia kemudian pamit kembali ke kamar meninggalkan dokter Almira yang masih terus berdiri disisi tempat tidur sambil memandangi tetes demi tetes cairan infus yang jatuh dari botolnya masuk kedalam tubuh dokter tampan yang sedikit mengganggu fikirannya itu.


Dokter cantik bertubuh lansing tersebut menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar. Entah kenapa hatinya merasa trenyuh melihat dokter yang berada didepannya sekarang tidak berdaya. Perasaan yang dirasakannya saat ini berbeda dengan perasaan pada rekan-rekan dokternya yang lain.


Setelah puas memandangi botol infus bergantian dengan wajah lusuh dokter Nata, dokter Almira pun keluar dari ruangan itu. Tapi ia bukannya kembali ke kamar, malah mengambil kursi dan membawanya kedalam ruangan tempat dokter Nata dirawat. Ia akan menunggui dokter Nata disana sampai terbangun nanti.


Siang itu setelah Satya dan pengacaranya melakukan meeting untuk mambahas beberapa bukti yang ia temukan, mobilnya kembali terlihat memasuki kantor Biantara Grup. Ia turun dari mobil dan berjalan naik ke ruangannya.


"Tuan muda, pukul tiga sore nanti nyonya Rania akan menikah."


Untung saja Eliana mengingatkan Satya saat ia melewati meja kerjanya. Padahal ia hampir lupa bahwa hari ini adalah hari pernikahan Rania dan ia diundang sebagai saksi disana.


Satya melihat jam dipergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul satu lewat lima menit. Itu berarti ia sudah harus bersiap-siap dari sekarang.


"Baiklah, aku akan segera kesana," jawabnya kemudian kembali melangkah masuk kedalam ruangannya.


Satya langsung masuk kedalam kamar pribadinya diruangan itu. Ia tidak langsung menuju kamar mandi membersihkan dirinya, malah berbaring telentang diujung tempat tidur tanpa melepas sepatu kantor yang dikenanakannya.


Kepalanya terasa sangat berat memikirkan masalah yang saat ini sedang menjeratnya, ditambah lagi ia juga sangat kefikiran dengan kehamilan Ruby saat ini. Ia menarik nafas berat seraya memandang kearah langit-langit kamar tapi fikirannya sebenarnya sedang tidak berada pada fokus matanya.

__ADS_1


Andai saja bukan Rania yang akan menikah, ia sangat enggan untuk pergi. Ia lebih ingin menghabiskan waktu beristirahat dikamar dan menyuruh Eliana menggantikannya.


Setelah hampir setengah jam bersibaku dengan hatinya, ia pun akhirnya bangkit dari tempat tidur dan berjalan masuk ke kamar mandi.


Hanya berselang beberapa menit, ia sudah keluar dari sana dan mulai mengenakan setelan jas yang baru dibelinya khusus untuk dipakai dipernikahan Rania.


"Apa tuan muda akan berangkat kesana sekarang?" Tanya Eliana setelah Satya keluar dari ruangannya.


Matanya seolah tidak berkedip melihat kearah presdirnya itu. Apapun yang dikenakan olehnya selalu terlihat bagus dan indah dipandang. Eliana mengakui ketampanan bosnya tersebut.


"Iya. Handle kantor untuk sementara sebelum Bagas kembali," jawab Satya singkat kemudian berlalu dari hadapan Eliana.


"Baik tuan muda."


Satya memasuki mobil yang sudah dibawa pak Tanto ke depan pintu utama kantor besar tersebut. Ia kali ini tidak ingin menyetir sendiri karena merasa sangat lelah. Saat ia sudah duduk menyilangkan kaki didalam mobil, ponselnya tiba-tiba berdering. Satya tersenyum tipis melihat nama di penelfon yang tertera dilayarnya.


"Halo sayang, apa kamu menelfon karena sedang merindukanku?" Tanyanya.


"Iya sayang," jawab si penelfon yang ternyata adalah Ruby mengiyakan pertanyaan Satya.


"Aku juga merindukanmu sayang. Sabar yah."


"Aku selalu sabar mas. Oya apa mas ingat kalau hari ini adalah hari pernikahan mba Rania?"


"Ini aku sudah dijalan menuju ketempat acaranya akan dilaksanakan."


"Syukurlah mas. Sayangnya aku tidak bisa hadir, mba Rania pasti sedih."


"Aku menyampaikan permintaan maafmu sama dia, ia bisa ngerti kog sayang."


Ruby merasa lega setelah mendengar ucapan Satya. Tadinya ia benar-benar kefikiran karena tidak bisa datang padahal Rania sendiri yang mengundangnya.


"Bagaimana kabar anakku yang masih didalam perutmu sayang? Apa ia tidak rindu ingin dikunjungi papanya?" Tanya Satya mengalihkan.

__ADS_1


"Ia merindukanmu mas. Tapi ia mengerti kog papanya sekarang lagi sibuk." Jawab Ruby yang sudah terbiasa meladeni candaan suaminya itu.


❤️ Happy reding kesayangan mommy😘🤗


__ADS_2