
"Apa perjalanan dari kota M sampai ke kota B butuh waktu lebih dari lima jam?" Tanya Satya saat menghubungi Bagas lewat telfon karena ia belum datang juga saat hari sudah mulai sore.
"Tidak seperti itu tuan muda, hanya saja tadi ada insiden kecil saat di perjalanan." Jawab Bagas memberi alasan.
"Itu bukan alasan karena kamu ingin berlama-lama sama Lila kan?"
"Jangan bercanda tuan muda, anda pasti sudah tahu apa jawabanku."
"Hem, semoga kamu tidak pernah melupakan ucapanmu suatu saat nanti."
Bagas tidak menjawab perkataan Satya karena ia sebenarnya juga takut kalau suatu saat ucapannya sendiri akan berbalik melawannya.
"Dimana kamu sekarang?" Tanya Satya saat tidak terdengar lagi suara Bagas menjawabnya.
"Aku sudah dilobby tuan muda."
"Sayang, tanya Lila dimana, aku mau bicara."
Ruby yang berada didekat Satya berbicara tanpa suara, hanya menggerak-gerakan mulutnya naik turun. Satya mengangguk tanda mengiyakan.
"Lila mana? Ruby ingin bicara."
"Tunggu tuan muda."
Bagas lalu memberikan ponselnya pada Lila.
"Nyonya muda mau bicara," bisiknya ditelinga Lila.
"Iya non, aku sudah dilobby sekarang. Maaf kami terlambat karena tadi ada sedikit insiden kecil."
"Iya nggak apa-apa Lil, entar kamu langsung kekamarku dulu yah. Aku mau ngasi sesuatu buat kamu."
"Baik non."
Lila memberikan kembali ponsel pada Bagas.
"Apa masih ada yang mau dibicarakan tuan muda?" Tanya Bagas.
"Kamu tidak berencana satu kamar dengan Lila kan?" Satya malah balik bertanya.
"Ini tidak lucu tuan muda, sepertinya aku semakin jadi bulan-bulanan tuan muda belakangan ini." Ketus Bagas.
"Hahaha, cepatlah. Sebentar lagi kita akan kerumah Anna."
Satya tidak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Bagas karena apa yang dikatakannya memang benar adanya.
Sementara Ruby yang berada didekat Satya ikut tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kejahilan suaminya.
"Sepertinya ide bagus kalau aku menjodohkan Bagas sama Lila."
Satya seolah berucap pada dirinya sendiri tapi pandangannya melihat kearah Ruby.
"Emang Bagas belum punya pacar?" Tanya Ruby mengerutkan keningnya.
"Ia bahkan tidak punya waktu untuk sekedar berkenalan dengan seorang wanita selain Eliana dan orang-orang terdekatku," jawab Satya.
"Sungguh miris nasib Bagas."
"Lebih miris nasibku sayang karena sudah beberapa malam ini tidak dapat jatah dari kamu," ucap Satya sambil memeluk pinggang Ruby dan hendak menciumnya tapi tangan Ruby lebih dulu menempel pada wajahnya.
__ADS_1
"Ada Nendra disana sayang," bisik Ruby menahan tawanya.
Satya hanya bisa menghela nafas berat menahan gairahnya yang tertahan.
"Biar aku aja sayang, sepertinya itu Lila."
Ruby lalu berdiri dari tempatnya saat mendengar bel pintu berbunyi. Benar saja saat Ruby membuka pintu, wajah Lila yang tengah tersenyum manis disamping Bagas muncul disana.
"Masuk dulu Lil, Gas." Perintahnya pada kedua asisten tersebut.
Keduanyapun mengikuti langkah Ruby masuk kedalam. Langkahnya terhenti saat melihat Satya memandang kearah mereka.
"Selamat sore tuan muda," sapa Bagas yang diikuti oleh Lila sambil menundukan kepalanya.
"Selamat sore juga Bagas dan Lila, duduklah." Perintah Satya pada keduanya.
"Aku sebaiknya langsung kekamarku saja tuan muda. Sebentar lagi akan masuk waktu magrib, aku ingin bersiap-siap terlebih dahulu." Sahut Bagas.
"Baiklah, terserah kamu saja." Balas Satya.
"Aku permisi tuan muda." Satya menganggukan kepalanya menjawab ucapan Bagas.
Bagas pun berlalu keluar dari kamar itu.
"Lil, tunggu dulu."
Ruby menghentikan Lila yang hendak ikut keluar mengikuti Bagas. Ia terlihat memberikan sebuah kebaya dari kain brokat berwarna pink salem pada Lila.
"Kak Anna menyuruh kita memakai baju ini malam nanti. Katanya ini seragam yang sudah dipersiapkan untuk kita." Lanjut Ruby.
"Apa aku pantas memakai pakaian yang sama dengan non Ruby?" Tanya Lila menerima kain itu dari tangan Ruby.
Lila terharu mendengar ucapan Ruby. Matanya sampai terlihat berkaca-kaca, andai saja disana tidak ada Satya mungkin air matanya sudah jatuh dipipi putihnya. Satya yang sedang asyik mengajak baby Gyan bercanda tidak terlalu memperhatikan pembicaraan Ruby dan Lila.
"Makasih non." Ucap Lila yang dibalas oleh anggukan Ruby sambil mengulas senyum.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu bersiap-siap, non."
"Iya."
Pukul enam lewat tiga puluh menit Satya sekeluarga serta Lila dan Bagas berkumpul di lobby sebelum kerumah dokter Anna.
Ruby nampak sangat cantik dengan kebaya warna salem yg dipakainya dipadukan dengan rok batik etnik yang senada dengan kemeja Satya dan Nendra.
Untuk pertama kalinya Satya terlihat memakai pakaian batik, ia tidak berhenti melihat dirinya didepan cermin karena merasa penampilannya tidak maximal tapi Ruby akhirnya bisa meyakinkannya bahwa apapun yang ia pakai tidak ada yang bisa menyaingi ketampanannya.
Ia yang selama ini terbiasa dengan setelan jas mewah yang sering dipakainya, harus menuruti keinginan Ruby untuk memakai kemeja batik kali ini.
Sama seperti Satya, Bagas pun memakai kemeja batik yang pas dibadannya menampakkan lekuk tubuhnya yang berotot. Bedanya kemeja yang dipakai Bagas tidak senada dengan rok yang dipakai Lila tapi malam itu mereka semua terlihat tampil maximal dengan kecantikan dan ketampanan masing-masing.
Hal yang sama nampak pula dirumah dokter Anna, semua keluarga yang datang sudah terlihat cantik dengan kebaya dan pakaian adat yang mereka pakai. Wajah-wajah mereka terlihat sumringah dengan senyum merekah yang terkembang, seindah kembang-kembang yang menempel pada sudut-sudut dan langit-langit tenda.
Tapi berbeda dengan wajah para tamu-tamunya, sang calon mempelai malah menampakkan wajah sendu menyiratkan ada banyak fikiran yang mengganggu kepalanya. Dan hal itu dapat dilihat oleh mama Ambar yang saat itu datang ke kamarnya.
"Sayang kamu kenapa ? Sebentar lagi nak Adit dan keluarganya akan datang, apa ada sesuatu yang kamu fikirkan?" Tanya mama Ambar.
Dokter Anna berusaha tersenyum menyembunyikan kegalauan hatinya saat ini.
"Tidak ada apa-apa ma, aku hanya sedikit gugup saja," balasnya.
__ADS_1
"Tidak usah gugup sayang, ada mama disini. Tenangkan hatimu, semua akan berjalan lancar." Tambah mama Ambar.
Malam itu baru akan diadakan pertemuan dua keluarga besar dokter Anna dan dokter Aditya sekaligus meminta izin secara resmi kepada kedua orangtua dokter Anna dan juga akan diadakan acara seserahan dari calon mempelai pria.
"Ya sudah mama keluar dulu yah sayang, yakinkan hatimu. Keyakinanmu akan menghilangkan rasa gugupmu."
Mama Ambar pun keluar dari kamar dokter Anna meninggalkannya menatap bayangannya sendiri didalam cermin. Ia berulangkali mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Ditarik dalam-dalam lalu dihempaskannya lagi perlahan sampai ia merasa sesaknya sedikit lega.
***
YUNANI
"Hey what are you doing there?"
Seorang wanita cantik yang wajah dan perawakannya mirip dengan wanita-wanita dinegaranya datang menghampiri dokter Nata dan setengah berteriak ia bertanya padanya tapi dokter Nata diam saja dengan pandangan tetap kedepan dan tidak bergeming sama sekali. Ia hari itu memang sengaja menepi karena sedang ingin sendiri. Meski raganya sudah berada di Yunani tapi jiwa dan fikirannya masih tertinggal di kota B. Ia sendiri belum menemukan alasan dibalik keadaan hatinya yang seperti itu.
"Hey, can you hear me?"
Tanyanya lagi menaikkan sedikit volume suaranya hingga dokter Nata akhirnya berbalik.
"Are you talking to me?" Tanya dokter Nata balik sambil menaikkan jari telunjuknya kedepan wajahnya.
"Yes, on who else." Balas wanita itu sedikit sinis.
"Where are you come from?" Tanyanya lagi pada dokter Nata masih dengan wajah yang kurang bersahabat.
"I was sent by the German Hospital but I come from Kota M." Balas dokter Nata datar tanpa ekspresi.
"Kota M in Indonesia country?" Wanita itu terlihat kaget dan membulatkan kedua mata indahnya.
"Yes, do you know Kota M?"
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan satu negaraku disini." Ucap wanita itu mulai sedikit tersenyum.
"Apa kamu juga berasal dari Indonesia?" Tanya dokter Nata yang tidak kalah kagetnya mendengar wanita itu fasih menggunakan bahasa persatuannya.
Wanita itu mengangguk sambil mengulas senyum yang ternyata jauh lebih cantik saat ia berwajah masam pada dokter Nata.
"Aku Nata."
Nata berdiri dan mengulurkan tangannya tanda perkenalan yang disambut hangat oleh wanita itu.
"Almira," balasnya dengan suara yang sudah mulai melembut.
Dokter Nata bisa merasakan suhu dingin pada tangan Almira yang menjalar keseluruh tubuhnya.
"Aku sudah beberapa bulan disini dan aku sudah lumayan tahu tempat ini. Disini tempat terlarang, kalau ada yang melihatmu mereka bisa menyanderamu."
Almira memberitahu dokter Nata kenapa ia tadi sedikit berteriak saat menanyainya.
"Terima kasih sudah memberitahuku, apa kamu juga seorang dokter dari Indonesia?" Tanya dokter Nata.
"Iya, aku dokter dari tempat terpencil yang kemudian diutus kemari oleh dokter kepala di kotaku," balas Almira.
"Senang bisa berkenalan denganmu yang ternyata berasal dari negara yang sama," tambah dokter Nata yang dibalas oleh senyum indah Almira.
*** BERSAMBUNG ***
💚 Happy reading kesayangan mommy, jangan lupa ninggalin jejak yah, syukur-syukur kalau ada yang mau ngasi vote dan tipðŸ¤
__ADS_1
💚 Seberapa kuat kita berusaha, seberapa dalam lautan kita selami, kalau dia yang kita inginkan tidak ditakdirkan TUHAN menjadi milik kita maka ia akan semakin menjauh. Ikuti saja kemana langkah kaki membawamu hingga ia berhenti pada takdir yang sudah digariskan🤗🤗