
Ketika malam semakin merambat, saat jalanan kota M masih disibukan dengan lalu lalang kendaraan ditengah kerlap kerlip lampu jalan yang menerangi seluruh sudut kota. Diruang tunggu bandara kota tersebut terlihat Satya sedang menunduk seraya meremas rambutnya setelah melepas keberangkatan istri dan anaknya ke Jerman. Ruby hanya ditemani oleh Lila dan baby Gyan, sedangkan Nendra tetap dirumah utama bersama Grandma dan Candra yang akan tiba juga subuh nanti.
Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia kemudian berdiri dari tempatnya duduk dan mulai melangkah dengan gontai menuju mobil dimana pak Tanto sudah menunggu disana.
Dalam perjalanan pulang kerumah, fikiran Satya berkelana kemana-mana, hatinya seolah ikut terbang ke Jerman. Hingga saat ia sudah sampai dirumah utama dan berada didalam kamarnya, ia sulit memejamkan mata. Sepanjang malam, ia hanya bolak balik di kamar itu. Duduk di sofa kemudian berdiri, berbaring sebentar di ranjang, lalu berdiri lagi dan kembali duduk di sofa. Ia sangat memikirkan Ruby dan kehamilannya. Saat istrinya itu mengandung baby Gyan, ia tidak bisa berada di dekatnya, dan sekarang saat ia hamil anak keduanya pun sama. Mereka harus berpisah lagi.
"Shit, kurang ajar. Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan untuk membalas tindakan bodohmu ini karena sudah berani bermain-main denganku." Makinya pada orang yang sudah menuntutnya ke meja hijau.
Saat matahari sudah mulai menampakkan cahayanya yang terlihat dari sibakan gorden pada jendela kamar, Satya masih belum bisa memejamkan matanya. Ia melihat pada jam di ponselnya, waktu baru menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Masih ada tujuh jam lagi, ia baru bisa menghubungi Ruby.
Waktu terus berlalu, jarum jam terus berputar, hingga waktu sudah masuk pukul tujuh barulah kedua mata Satya merapat. Tapi baru saja ia akan terlelap, ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan enggan ia merabanya diatas nakas tanpa membuka mata dan tanpa melihat siapa yang menelfonnya sepagi itu, ia langsung menggulir tombol hijau untuk menjawabnya.
"Iya halo."
Dengan suara yang terdengar berat dan sedikit parau, jelas sekali ia sedang malas berbicara.
"Apa aku mengganggu mas?"
Suara seorang wanita terdengar dari seberang telfon.
"Nia? Apa ada masalah kamu menelfon sepagi ini?" Tanya Satya saat tau yang sedang menelfonnya adalah Rania.
"Tidak mas, aku hanya ingin menanyakan apa undangan yang aku kirim untuk mas Satya dan Ruby sudah sampai? Maaf aku dan Rama tidak bisa mengantarnya langsung karena masih banyak yang harus kami urus."
"Iya tidak apa-apa Nia. Undangannya sudah sampai. Acaranya tiga hari lagi kan?"
"Iya mas."
"Ruby menitip sebuah hadiah untukmu dan permintaan maaf karena ia tidak bisa hadir dihari bahagiamu."
"Kenapa tidak bisa mas? Apa terjadi sesuatu pada Ruby?"
"Ia baru saja berangkat ke Jerman dini hari tadi bersama Lila dan Gyan."
"Kenapa perginya mendadak mas? Apa papa Lingga baik-baik saja?"
"Kondisi papa Lingga semakin membaik. Ibu cuma ingin ada yang menemaninya disana karena Grandma akan kembali ke kota M."
"Syukurlah kalau gitu mas, tapi kamu datang kan?"
__ADS_1
"Iyya, aku pasti datang."
"Makasih mas."
Sambungan telfon pun akhirnya terputus setelah Rania membalas ucapan Satya. Dan setelahnya itu mata Satya sudah tidak lagi merasakan kantuk. Karena merasa kesal ia belum juga bisa tidur, ia pun akhirnya menelfon Bagas.
"Handle semua meeting hari ini, aku sepertinya tidak bisa ke kantor. Dan beritahu Eliana untuk segera membawa kemari semua berkas kerjasama dari perusahaan cabang yang saat ini sedang menjeratku kedalam masalah."
"Baik tuan muda." Jawab Bagas dari seberang telfon.
"Apa tuan muda menemukan petunjuk baru?"
"Aku sepertinya curiga pada seseorang tapi aku belum bisa memastikan kecurigaanku. Kita lihat saja perkembangan selanjutnya."
"Baiklah tuan muda, apa adalagi?"
"Untuk sementara itu saja dulu. Terus cari tahu perkembangan selanjutnya dan kabari aku sekecil apapun berita yang kamu dapat."
"Siap tuan muda."
***
"Iya tante."
Dokter Anna pun mengikuti langkah tante Arayu yang langsung menuju dapur.
"Kamu duduk aja disitu nak sambil liatin tante masak," perintahnya pada dokter Anna menunjuk pada kursi mini bar didapur tersebut.
"Apa ada yang bisa aku bantu, tan?"
Dokter Anna bukannya duduk, malah berdiri disamping wanita cantik itu.
"Nggak perlu nak, tante mengundangmu kemari untuk makan malam, bukan untuk memasak," balasnya tersenyum kearah dokter Anna.
"Nggak apa-apa kog tan, aku juga sekalian belajar masak."
"Kamu memang anak baik nak, nggak salah penilaian tante selama ini. Andai saja kamu jadi menantu keluarga Arghany, pasti tante akan senang sekali."
Dokter Anna hanya tersenyum tipis mendengar ucapan tante Arayu, andai saja wanita disampingnya ini tahu bahwa ia pernah menyimpan rasa untuk anaknya, apa ia akan menyesali Nata yang tidak pernah peka merasakannya. Akh tapi sudahlah semua juga sudah berlalu. Apa pun itu, ia sekarang sudah memiliki seorang suami.
__ADS_1
"Ini mau dibikin apa tan?" Tanya dokter Anna seraya mengangkat bawang bombay di tangannya, mengalihkan perhatian tante Arayu dari tanggapan ucapannya tadi.
"Ini mau diiris-iris sayang, apa kamu bisa?"
"Iya tan, bisa kog."
"Kamu tahu kan nak, ini makanan kesukaan Nata. Kalau lagi santai dirumah, ia pasti selalu nyuruh tante masak ini."
Dokter Anna tidak menjawab, pandangannya terus terarah pada bawang yang sedang diirisnya. Ia sangat tahu ayam tepung saus asam manis berada pada list pertama makanan favorit dokter lajang itu. Fikirannya kembali berkelana kemasa lalu, menelisik hari-harinya yang lebih banyak dihabiskan bersama dokter Nata.
"Bagaimana kabar Nata sekarang. Apa suamimu sudah menelfonmu?"
Pertanyaan tante Arayu mengagetkan dokter Anna dari lamunan. Ia melihat wanita itu kembali menyiratkan gurat-gurat kesedihan di wajahnya.
"Belum tan, aku akan menelfonnya saat kembali nanti."
"Iya sayang, doakan Nata baik-baik saja yah."
"Iya tan. Aku selalu berdoa semoga Adit dan Nata kembali secepatnya dalam keadaan baik-baik saja."
"Iya sayang."
Tante Arayu tersenyum penuh kelembutan pada dokter Anna.
Keduanya terus berbincang sampai masakan sudah siap dan mereka mulai menyantapnya.
Selesai makan malam dan mengobrol sedikit, dokter Anna pun pamit pada tante Arayu untuk kembali kerumahnya.
"Kamu sering-sering saja makan disini yah sayang, sebelum suamimu pulang. Tante juga kesepian, om Arghany belum datang."
"Iya tan," jawab dokter Anna seraya menyunggingkan senyum kemudian berlalu keluar.
Hanya perlu beberapa langkah ia sudah berada kembali didalam rumahnya. Ia berniat menelfon dokter Adit setelah membersihkan diri dan naik keatas ranjang mengatur posisi duduk dipinggirnya.
Ditekannya nama dokter Adit yang belum berubah pada kontak di layar ponselnya. Tapi setelah dua kali panggilan belum juga dijawab oleh pemilik ponsel diseberang sana. Dokter Anna hanya menghela nafas dalam-dalam, disandarkannya kepalanya pada ranjang. Bukan ia menyesali nasibnya yang seperti ini, ia hanya merasakan nelangsa mengingat ia yang baru saja menikah, kembali harus tinggal sendiri dinegara orang.
Ia memilih mengikuti dokter Adit ke Jerman karena ia tidak tahu suaminya itu akan ditugaskan menyusul dokter Nata ke Yunani. Tapi saat ia sekarang sudah berada disini, ia tidak akan kembali lagi ke kota M. Ia hanya akan menunggu kepulangan suaminya dinegara ini.
❤️ Maaf readers kesayangan, mommy baru bisa up. Beberapa hari ini mommy sibuk, sedikit waktu untuk bisa konsentrasi penuh pada cerita ini, harap dimengerti yah🙏🤗
__ADS_1
💚 Meskipun hidup itu sebuah pilihan tapi alurnya sudah ditentukan oleh pemilik bumi. Kita yang bernaung dibawahnya hanya perlu mengikuti alur tersebut dengan dasar kebaikan dan keyakinan pada_Nya😇