
"Bagaimana keadaan Anna, nak Adit?" Mama Ambar yang berada disamping dokter Anna terlihat sangat khawatir.
"Ia cuma pingsan biasa ma, sebentar lagi ia juga akan sadar."
"Kalau begitu kami sebaiknya kembali kehotel saja dulu Dit. Biarkan Anna istirahat sebentar memulihkan tenaga untuk acara nanti malam."
Satya yang ikut masuk kedalam kamar dokter Anna berpamitan kembali ke hotel untuk beristirahat.
"Baiklah Sat, terima kasih atas perhatian kalian semua." Balas dokter Aditya.
"Jangan sungkan Dit, kalian sahabat kami." Satya menepuk-nepuk bahu dokter Aditya.
"Kami pamit dulu kak Adit, berkabar kalau kak Anna sudah siuman yah."
Ruby yang berada disamping Satya ikut menambahkan. Ia yang tadi juga terlihat sangat kaget, sekarang sudah merasa lebih lega setelah dokter Aditya memeriksa istrinya.
Mereka kemudian keluar dari kamar tersebut setelah berpamitan juga pada mama Ambar dan ibu Lisa. Diluar sudah menunggu semua kerabat inti dokter Anna termasuk Lila yang sejak tadi menenangkan baby Gyan.
"Bagaimana keadaan Anna, nak Satya?" Tanya papa Ardi mendahului semuanya.
"Anna belum siuman om tapi kata Adit ia hanya tertidur, sebentar juga akan sadar." Balas Satya.
"Kami pamit kembali kehotel dulu om," katanya pada papa Ardi dan papa Bayu.
"Iya nak, iya."
Papa Ardi dan papa Bayu hampir bersamaan menjawab. Ruby yang mendorong stroller baby Gyan lalu mendekati Rania yang berada tidak jauh dari tempat papa Bayu.
"Mba Rania, maaf tidak bisa menemani mba lama-lama karena aku ingin kembali ke hotel. Gyan sangat rewel hari ini."
"Iya nggak apa-apa By. Boleh aku gendong baby Gyan bentar?" Tanyanya meminta persetujuan Ruby.
"Boleh mba, silahkan." Balas Ruby mengulas senyum ramahnya.
Rania pun mengangkat tubuh mungil baby Gyan dari atas stroller. Satya yang melihatnya merasakan kecanggungan dalam hatinya. Ia tidak ingin berlama-lama didekat kedua wanita yang pernah dan sekarang menjadi bagian dari hidupnya tersebut.
"Aku kesana dulu yah."
Pamitnya pada Ruby dan Rania menunjuk kearah Bagas yang sedang berada didekat pintu keluar bersama Nendra. Kedua wanita itu hanya mengangguk mengiyakan.
"Udah makin gede yah baby Gyan sekarang. Wajahnya semakin mirip mas Satya," ucap Rania sambil mencium pipi gembul Gyan.
"Iya mba."
Ruby sebenarnya juga merasa canggung berlama-lama dengan Rania. Tapi karena Rania yang meminta, ia tidak punya alasan untuk mengelak.
__ADS_1
"Apa mba Rania juga akan nginap malam ini?"
"Liat nanti kondisi Rama aja By. Ia suka mengeluh kecapean beberapa hari ini. Mungkin karena terlalu sibuk mengurusi persiapan pernikahan kami."
"Kalau mba Rania butuh bantuan, jangan sungkan menghubungi aku mba. Siapa tau aku bisa bantu dalam persiapan pernikahan mba."
"Iya, makasih By."
"Kamu udah mau balik yah. Maaf jadi kelamaan gendong baby Gyan, abisnya lucu banget sih, pengen colek-colek pipinya terus."
Kelihatan sekali diwajah Rania bagaimana ia sangat gemes pada baby Gyan. Ruby bersyukur akhirnya ia bisa menjalin hubungan baik dengan Rania saat ini.
"Ma, Andin mau cium, boleh nggak?" celutuk Andin yang sejak tadi seolah jadi asisten Rania.
"Boleh sayang."
Ruby mendahului Rania menjawab.
"Apa nanti Andin juga akan punya adik begini, ma?" Tanya Andin setelah puas menciumi baby Gyan.
Rania yang tadinya berwajah ceria seketika murung mendengar pertanyaan Andin. Tapi untungnya itu tidak berlansung lama karena ia segera menjawab sambil mengulas senyum.
"Baby Gyan kan adiknya Andin juga. Iya kan By?"
"Benarkah?" Andin membulatkan matanya penuh kegembiraan.
"Tapi kenapa ia tidak satu rumah dengan mama. Kalau begitu kan Andin tidak bisa main sama adik."
Rania tidak bisa lagi membalas pertanyaan Andin yang semakin ingin tahu.
"Kalau Andin mau, Andin bisa kerumah adik Gyan tiap hari untuk main bareng."
Ruby membantu Rania menjawab, melihat wanita cantik itu sudah kesulitan menanggapi Andin.
"Benarkah tante?"
"Iya sayang."
"Horeee, aku sudah punya adik."
"Makasih By," ucap Rania pelan yang dibalas Ruby dengan anggukan sambil tersenyum ramah.
"Pergilah By, mas Satya sudah lama menunggu. Sampai ketemu nanti malam." Ucap Rania menaruh kembali baby Gyan kedalam strollernya.
"Iya mba, apa mba masih mau tinggal?"
__ADS_1
"Nggak By, aku juga sudah mau balik ke hotel sebentar lagi." Balas Rania.
"Kalau begitu aku duluan yah mba, sampai ketemu nanti malam." Ucap Ruby kemudian berlalu dari sana.
"Mari nyonya," ucap Lila yang sejak tadi berdiri disamping Ruby. Ia merasa ikut bahagia melihat kedua wanita itu berhubungan sangat baik setelah sempat mengalami ketegangan sebelumnya.
Sementara itu dokter Aditya yang masih berada dikamar terus bertanya-tanya dalam hati tentang sikap dokter Anna yang sangat berbeda jika itu menyangkut dokter Nata. Tapi tidak ia tunjukkan dihadapan mama Ambar dan ibu Lisa yang saat itu masih berada di kamar dokter Anna.
"Anna baik-baik saja bu, ma. Kalian istirahat saja, ada aku disini yang jaga Anna." Katanya pada kedua wanita paruh baya tersebut.
"Iya Ambar, kita istirahat dulu yah. Takutnya nanti malam kita malah drop saat resepsi. Disini kan sudah ada Adit yang menjaga Anna." sahut ibu Lisa.
"Baiklah mba," balas mama Ambar menuruti perkataan besannya.
Keduanya pun berdiri dan melangkah keluar dari kamar tersebut.
Sekarang tersisa dokter Aditya yang berada disisi tempat tidur dokter Anna. Dipandanginya wajah Anna dalam-dalam, wanita itu masih terlihat cantik dengan riasan dan baju pengantin yang masih menempel pada wajah dan tubuhnya. Ia menghela nafas berat. Entah kenapa setelah kejadian tadi, ia sekarang merasa bimbang bahwa keputusan yang diambilnya sekarang sudah tepat.
Dokter Aditya mengambil ponselnya yang tadi ia letakkan dimeja rias dokter Anna. Ia bermaksud menghubungi dokter Sophy tapi sebelum itu ia terlebih dulu memeriksa pesan whatsapp yang masuk.
"Ada pesan dari Anna? Kenapa nggak langsung nelfon saja." Katanya pada diri sendiri melihat nama kontak dokter Anna ada pada deretan pesan-pesan yang masuk.
Dan matanya lansung membelalak melihat kata pertama pada pesan tersebut adalah nama dokter Nata. Hatinya seketika bergemuruh, ia merasakan sesak pada dadanya. Meskipun ia juga belum yakin ia sudah mencintai dokter Anna tapi entah kenapa ia merasakan sakit saat ia membaca kata demi kata pesan tersebut.
Nat, ada banyak hal yang mungkin tidak terungkapkan selama kita menjalin hubungan persahabatan karena aku tahu kamu hanya menganggapku tidak lebih dari itu dan selamanya akan seperti itu.
Tapi apa salah jika aku memiliki perasaan berbeda padamu? Aku hanya wanita biasa Nat, aku sendiri tidak tahu kapan rasa itu tumbuh, yang aku tahu aku merasa nyaman bersamamu. Aku tidak ingin melihatmu berada dalam kesulitan hingga bahkan itu akan mengancamku, aku akan tetap membantumu. Berharap kamu akan bisa merasakan perasaan itu. Tapi ternyata sampai detik ini belum ada yang berubah dari hubungan persahabatan kita.
Nat, aku sebentar lagi akan menjadi istri Adit. Tidak adalagi harapan untuk memupuk terus rasaku yang berbeda itu. Aku akan mengabdikan diriku untuk suamiku setelah ini. Dan kita hanya akan terus menjadi sahabat selamanya tapi sebelum itu aku ingin memberitahumu tentang ini agar hatiku lega dan tidak memiliki beban meniti rumah tangga kedepannya dengan Adit.
Anna Maharani πππ
Bagai disambar petir, dokter Aditya langsung terkulai lemas di tempatnya. Tangannya bergetar, ia sekarang sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya beberapa hari ini. Ada luka yang tak berdarah dirasakan disudut hatinya tapi ia tidak bisa menyalahkan dokter Anna karena perasaan itu murni dan ia yang memang datang belakangan.
"Dikirim pada pukul tiga dini hari, apa itu berarti Anna tidak tidur semalaman?" Lagi-lagi ia berbicara pada dirinya sendiri. Diremasnya wajahnya dengan kasar, ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah dokter Anna yang masih menutup matanya dengan rapat.
"Kenapa kamu tidak bilang ini dari awal Na, kalau begitu aku mungkin bisa mempersatukanmu dengan Nata. Aku tidak tahu kenapa, tapi kalau feelingku tidak melesat, Nata juga sebenarnya sudah mulai mencintaimu, ia hanya tidak menyadari itu."
Dokter Aditya benar-benar frustasi dengan kejadian yang baru saja mengaduk-aduk jiwanya dan mencabik-cabik hatinya.
"Ya Tuhan apa yang harus aku lalukan sekarang dengan pernikahan yang baru terjadi dalam hitungan menit," ucapnya.
β€οΈ Hi readers kesayangan happy reading, maafin mommy kalau banyak kekurangan. Tolong kasi masukannya yah kalau cerita ini membosankan tapi mommy yakin dokter Anna ini ada dikehidupan nyataππ€
π seberapa dalam pun kamu mencintai, jika sudah ada seorang imam yang akan menuntunmu, kubur rasa itu dalam-dalam. Biarkan ia menghilang tanpa jejak mencari tempat menetap hingga ia tidak akan pernah kembali lagiπ
__ADS_1