
Akhirnya tamu yang dinanti-nantikan oleh seluruh keluarga besar dokter Anna tiba juga di kediamannya saat jam menunjukan pukul tujuh malam.
Orangtua dokter Aditya lebih dulu masuk dengan senyum merekah yang terus terkembang dibibirnya. Menyusul dibelakang keluarga besarnya yang masing-masing membawa buah tangan sebagai pelengkap acara inti malam itu. Semua terlihat cantik dalam balutan kebaya bagi para wanita dan kemeja bagi laki-laki untuk mempermanis tampilannya.
Dokter Aditya sendiri muncul ditengah-tengah keluarganya yang diapit oleh paman dan bibinya. Ia mengenakan kemeja batik senada dengan rok batik yang dipakai oleh dokter Anna. Dokter Aditya terlihat sangat tampan dengan model rambut barunya yang membuat ia nampak lebih fresh.
Ada kecanggungan tercipta saat maniknya bertemu dengan manik dokter Anna yang sudah duduk diantara kedua orangtuanya. Dokter Aditya terpana melihat kecantikan dokter Anna yang malam itu benar-benar mengeluarkan inner beautynya.
Susunan acara demi acara berjalan dengan lancar, tidak ada yang tidak menitikkan air mata termasuk Ruby dan Satya saat dokter Anna dengan berurai air mata meminta izin pada kedua orangtuanya untuk melepas masa lajangnya. Suara bergetarnya menambah hati para keluarga yang datang semakin tersentuh.
Pun dengan dokter Aditya yang merasa masih belum bisa membahagiakan kedua orangtuanya, sekarang harus memikul tanggung jawab yang sangat berat dipundaknya. Sebagai penghujung dari rangkaian acara tersebut adalah sesi istirahat yang diisi dengan menikmati beberapa macam kue khas pernikahan sambil bercengkerama dengan calon keluarga baru dan dihibur dengan live musik yang sengaja diundang oleh keluarga dokter Anna.
Sebagai pengusaha terkaya dikota M sekaligus sahabat dokter Anna, papa Bayu sangat meminta kesediaan Satya untuk menyumbang sebuah lagu diacara penting tersebut yang nantinya akan diabadikan dalam sebuah video disc.
Awalnya Satya menolak dengan halus tapi setelah mendapatkan tiga kali anggukan dari Ruby, ia akhirnya setuju.
Bak seorang model, semua mata tertuju padanya saat ia berjalan kedepan para tamu undangan. Suasana yang tadinya ramai seketika menjadi hening saat suara lembut Satya menggema diruangan tersebut.
๐ถ Aku tak bisa luluhkan hatimu
๐ถ Dan aku tak bisa menyentuh cintamu
๐ถ Seiring jejak kakiku bergetar
๐ถ Aku telah terpagut oleh cintamu
๐ถ Menelusup hariku dengan harapan
๐ถ Namun kau masih terdiam membisu
๐ถ Sepenuhnya aku ingin memelukmu
๐ถ Mendekap penuh harapan
๐ถ Tuk mencintaimu
๐ถ Setulusnya aku akan terus menunggu
๐ถ Menanti sebuah jawaban
๐ถ Tuk memilikimu
Untuk pertama kalinya Ruby mendengar suaminya bernyanyi. Ia tidak menyangka suara Satya ternyata sebagus itu. Ia sampai terbawa suasana dan terhanyut dalam lirik lagu tersebut yang maknanya begitu dalam. Begitupun dengan para tamu lainnya, mereka seolah tidak percaya kalau orang seperti Satya yang perawakannya tidak hangat bisa bernyanyi seindah itu.
Sementara Bagas dan Lila hanya bisa saling pandang. Entahlah perasaan siapa diantara mereka yang sesuai dengan lirik lagu tersebut. Hanya mereka berdua yang tahu.
Dokter Anna sendiri jangan ditanya. Air matanya sudah membanjiri pipi putihnya. Untung saja ia memakai MUA profesional hingga tidak membuat make upnya berantakan. Lirik demi lirik yang dinyanyikan oleh Satya seolah mewakili perasaannya saat ini. Ia kembali teringat kebersamaannya dengan dokter Nata selama bertahun-tahun hanya dengan status sahabat, dan selama itu ia bisa menyembunyikan dengan rapat perasaannya berharap suatu saat dokter Nata lebih dulu mengungkapkan cinta padanya tapi ternyata semua mimpinya kini telah sirna karena didepannya kini sudah ada seorang pria yang besok akan resmi menjadi suaminya.
Dokter Aditya yang melihat begitu dalam kesedihan dokter Anna, hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu menghempaskannya kasar.
"Ada apa sebenarnya dengan Anna, kenapa ia harus sesedih itu mendengar lirik lagu yang dinyanyikan oleh Satya. Ia tidak akan seperti itu kalau tidak ada sesuatu yang disimpan dalam hatinya," lirih dokter Aditya.
__ADS_1
"Aku harus memperjelas keputusan ini sebelum acara sakral besok," batin dokter Aditya.
Tapi sepertinya ia tidak bisa melakukan niatnya saat kedua orangtuanya berpamitan pada keluarga dokter Anna dan memanggilnya ikut pulang.
"Ambar, kami permisi pulang dulu yah. Adit harus istirahat full malam ini karena besok ia harus kerja keras mengucapkan lafadz akad." Gurau Ibu Lisa.
"Iya mba Lis, kamu benar. Anna juga harus istirahat, dia kebanyakan nangis karena takut berpisah dari orangtuanya." Mama Ambar ikut tertawa, ia mengira dokter Anna menangis karena sebentar lagi akan berpisah dengannya.
Hanya dokter Aditya yang merasakan ada sesuatu yang terjadi pada dokter Anna hingga seperti itu tapi malam itu ia tidak diperbolehkan berbincang dengannya.
Setelah keluarga besar dokter Aditya meninggalkan kediaman dokter Anna. Kini giliran Satya cs yang ikut berpamitan untuk kembali ke hotel.
"Istirahat yang cukup yah kak, besok hari paling penting dalam hidup kak Anna," ucap Ruby sambil memeluk dokter Anna.
Ia pun sebenarnya bertanya-tanya kenapa dokter Anna menangis sampai segitunya tapi ia tidak ingin bertanya lebih jauh masalah privasi wanita yang sudah dianggapnya seperti kakak sendiri itu.
"Iya By, doakan semuanya berjalan lancar yah," balas dokter Anna.
"Insya allah kak."
"Makasih Lil, Bagas, kalian sudah mau menyempatkan diri datang kemari." Dokter Anna beralih kearah Lila dan Bagas yang berada dibelakang tuan mudanya.
"Tidak usah sungkan dok, kita sudah satu keluarga," jawab Bagas.
"Benar kak." Lila menambahkan.
"Besok datang cepet yah nak!" sahut mama Ambar yang berdiri disamping dokter Anna.
Mereka pun berjalan ke tempat mobilnya tadi diparkir dan masuk kedalam mobil masing-masing yang perlahan bergerak membelah malam kota B.
***
KOTA M
"Apa kamu kenal baik dengan dokter Anna?" Tanya Rama pada Rania yang sedang sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dipakainya besok diacara akad nikah dokter Anna.
"Kenal baik sih tidak Ram tapi aku tau ia sahabat Satya dan Nata, mantan dokter pribadi keluarga Biantara." Jawab Rania.
"Ooooo." Rama hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
"Apa Andin beneran mau ikut? Apa kita tidak akan kerepotan selama disana?" Tanya Rama lagi.
"Enggak apa-apa Ram, Andin juga udah gede. Udah enggak diurus kayak bayi lagi," balas Rania.
"Terserah kamu sajalah kalau gitu." Rania tersenyum kearah Rama mendengar ucapan pasrahnya.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu yah Nia, besok subuh-subuh sekali aku datang menjemput kamu."
"Baiklah Ram."
Rama memang tidak pernah pulang diatas pukul sembilan malam tiap kali datang bertamu kerumah Rania.
__ADS_1
"Ayo Andin," ajaknya pada Andin yang malam itu ikut kerumah Rania.
"Andin mau nginap disini pa sama mama Nia," balas Andin dengan gaya manjanya.
"Tapi pakaian kamu dirumah Ndin, kamu kan harus ganti baju sebelum berangkat besok." Tambah Rama.
"Tapi aku mau disini pa." Andin mendekati Rania dan memeluknya.
"Udah Ram, biarin aja Andin disini, besok kamu cepat-cepat aja kemari. Nanti aku yang ganti pakaiannya disini."
Rania menengahi perdebatan yang mungkin sebentar lagi akan terjadi antara ayah dan anak itu karena ia merasa kasihan melihat wajah memelas Andin.
"Hem, baiklah. Maaf Nia, Andin selalu merepotkanmu." Rama merasa tidak enak pada Rania.
"Enggak apa-apa kog Ram, namanya juga anak-anak. Ia cuma butuh teman dan perhatian," jawab Rania yang dibalas oleh Rama dengan senyum tersungging.
Rama lalu berjalan keluar dan masuk kedalam mobilnya yang selang beberapa detik sudah berada diatas aspal jalanan kota M dengan kecepatan sedang sambil mendengarkan lagu hitz tahun ini. Ia yang seminggu lagi akan menikah dengan Rania akhir-akhir ini merasakan sedikit masalah pada kesehatannya tapi ia tidak ingin membebani Rania dengan memberitahunya.
***
YUNANI
Saat dokter Anna sedang mengadakan malam adat dikediamannya, dokter Nata baru saja pulang ke tempat ia tinggal selama berada di Yunani. Selisih waktu antara Kota M dan Yunani adalah lima jam. Pukul tujuh malam di kota B, di Yunani baru menunjukan pukul dua siang. Dokter Nata baru saja akan makan siang dengan mie instan setelah pulang dari posko saat hatinya tiba-tiba tertancap sesuatu dan fikirannya langsung menerawang jauh ke kota B.
"Apa yang sedang aku fikirkan, kenapa aku tiba-tiba merindukan Anna. Mungkin ini hanya perasaan rindu untuk seorang sahabat. Tapi kenapa aku merasa ingin terbang menemuinya saat ini," batinnya.
"Berbahagialah Anna dan Adit, kedua sahabatku yang ternyata dipertemukan jodohnya lewat aku tapi kenapa aku tidak rela begini melepas Anna. Kenapa aku merasa kesal sama Adit yang akhirnya akan menikahi Anna padahal aku harusnya senang karena mereka adalah sahabat-sahabat terbaikku."
Batin dokter Nata terus saja meracau sampai-sampai ia tidak jadi makan siang itu padahal sejak pagi hanya sepotong roti yang mengisi perutnya.
Ia berjalan keluar, mencari sedikit udara alam untuk melegakan sesak dadanya. Saat ia baru saja akan berbelok kearah kanan menuju tempat biasa ia menenangkan diri, sebuah suara lembut terdengar memangilnya.
"Hey, mau kemana?"
Terlihat dokter Almira berjalan kearahnya masih dengan pakaian kebesaran dokter yang dipakainya.
"Aku mau ke tempat biasa," jawab dokter Nata kurang bersemangat.
"Apa? Aku sudah memberitahumu bahwa disana berbahaya, kamu bisa-bisa disendera kalau kedapatan sama orang asli sini." Dokter Almira merasa sedikit kesal.
"Iya maaf, aku lupa." Jawab dokter Nata asal.
Dokter Almira menghela nafas berat lalu menghempaskannya kasar.
"Besok aku dan tim medis akan turun ke kota untuk mengambil beberapa obat-obatan, kalau kamu mau, kamu bisa ikut dengan kami ke Athena." Ucap dokter Almira.
Ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang difikirkan oleh dokter Nata hingga ia seperti orang tidak fokus.
โค๏ธ Happy reading say, jangan lupa ninggalin jejak. Yang minta tokoh Ruby dihilangkan maaf yah sayang karena Ruby disini tokoh utama jadi tidak bisa hilang๐๐๐ค๐ค
๐ Jangan membenci terlalu dalam karena ada sang penguasa bumi dan langit yang sudah mengatur skenario perjalanan hidup kita, kita bahkan tidak tahu apa kita bisa pastikan untuk tidak pernah menyakiti seseorang suatu saat nanti tanpa sengaja๐๐
__ADS_1