Istri Tak Dianggap Tuan Satya

Istri Tak Dianggap Tuan Satya
Akhirnya Dokter Adit Belah Duren


__ADS_3

"Apa kamu sudah berada di apartemen Bagas, Lil?" tanya Satya dari seberang telfon.


"Iya, tuan muda."


"Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Tadi tuan Bagas sempat pingsan tapi sepertinya sekarang ia sudah lumayan membaik."


"Kalau begitu tetap disana. Aku titip Bagas sama kamu."


"Apa? titip mas Bagas sama aku? Apa itu artinya tuan muda menyuruhku menginap disini?" batin Lila.


"Apa kamu mendengarku, Lil?"


"I-iya tuan muda."


"Kamu tenang saja, Bagas tidak akan berani ngapa-ngapain kamu karena kalau itu sampai terjadi, ia harus rela menghabiskan masa tuanya bersama penguin di Kutub Selatan tanpa menikah."


"Baik, tuan muda."


Lila sebenarnya ingin tertawa mendengar ucapan Satya tapi mengingat ia akan semalaman berada dirumah rivalnya, tawanya tiba-tiba tertahan.


"Urus dia dengan baik. Aku ingin dia segera cepat sembuh karena banyak urusan yang harus kami selesaikan."


"Iya, tuan muda."


"Makasih atas pengertianmu, Lil."


"Sama-sama tuan muda. Anda jangan merasa sungkan."


Sambungan telfon pun terputus setelah keduanya menyudahi pembicaraan.

__ADS_1


***


Malam itu sehabis makan malam, dokter Anna sengaja masuk lebih dulu kedalam kamar. Ia akan pura-pura tidur agar suaminya tidak menagih janji padanya. Bukan ia tidak mau melayani pria yang sudah SAH baginya itu tapi ia merasa sedikit takut dan malu melewati malam pertama dengan pria yang menikahinya karena perjodohan.


Sungguh ia tidak bermaksud sama sekali untuk bersikap kekanak-kanakan tapi wanita yang mengalami hal sama dengannya, pasti tahu perasaan yang sedang dialaminya sekarang karena ia sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara gamblang.


Dokter Anna perlahan naik ke tempat tidur dengan memakai piyama berlengan panjang seolah membentengi dirinya dari hal yang akan dilakukan suaminya. Ia pelan-pelan menutup matanya yang sama sekali tidak mau terlelap.


Tidak berselang lama ia mendengar suara pintu kamar dibuka dan langkah kaki seseorang masuk kedalam bahkan mulai mendekatinya. Ia yakin itu pasti suaminya. Ia bisa merasakan bau parfum pria itu sekarang berada sangat dekat dengan hidungnya. Ia merasa jantungnya seketika memompa lebih cepat. Belum memulai permainan saja, serasa ia sudah kesulitan bernafas.


Sementara dokter Adit yang tidak mengetahui bahwa istrinya itu kini sedang berpura-pura, hanya menarik berat lalu membuangnya kasar. Ia kemudian ikut merebahkan badan disamping wanita itu. Dipandanginya lekat-lekat wajah dokter Anna lalu ia menyibak rambutnya yang jatuh kedepan, kebelakang telinganya.


"An, apa kamu lupa dengan janjimu tadi pagi?" ucap dokter Adit berbisik sambil memeluk pinggang istrinya.


Sementara dokter Anna yang merasakan lengan kokoh suaminya bertengger diatas perutnya, seketika merasa merasa bersalah pada pria itu. Ia kini sudah SAH menjadi seorang istri, lalu kenapa ia masih bersikap seperti ini. Perlahan ia membuka matanya dan menatap manik dokter Adit yang tak berjarak dihadapannya.


"Maaf, Na. Kalau aku sudah membangunkanmu."


"Nggak apa-apa, mas. Aku juga belum lama tertidur." jawabnya berbohong.


Dengan malu-malu dokter berparas manis itu mengangguk pelan.


"Aku akan melakukannya dengan lembut, Na."


Dokter Anna tidak menjawab lagi. Ia hanya menutup mata saat suaminya mendekatkan wajah kearahnya. Dokter Adit meraih tengkuk istrinya lalu mengecup lembut bibir wanita itu. Semakin lama ia semakin ******* bibir kenyal dokter Anna, tentu saja masih dengan cara yang lembut sekalipun nafsunya sudah berada diubun-ubun tapi ia tidak ingin membuat istrinya itu merasa takut karena ia yakin ini untuk pertama kalinya bagi wanita itu.


Setelah puas bermain pada bibir dokter Anna yang sesekali dibalas oleh wanita itu. Dokter Adit kini turun kearah gunung kembar istrinya yang masih ditutup oleh piyama lengan panjang.


"Apa aku boleh membukanya?" tanya dokter Adit meminta izin terlebih dulu.


Lagi-lagi dokter Anna hanya mengangguk tanpa bersuara. Ia merasa benar-benar seperti anak ABG saat ini.

__ADS_1


Melihat itu dokter Adit kemudian melepas satu persatu kancing piyama tersebut dan terlihatlah kini didepan matanya dua gunung kembar yang membuatnya semakin bernafsu untuk cepat-cepat memainkannya. Ia kemudian membuka pengaman dibalik gunung kembar tersebut.


Pelan-pelan ia memilin gunung kecil diatas gunung besar itu. Tak terelakkan lagi, kini dokter Anna sudah meracau dengan desahan yang nyaris tak terdengar karena ia menggigit bibir bawahnya. Apalagi saat dokter Adit meremas lalu mengulumnya, dokter Anna menggelinjang dan tanpa sadar bokongnya sedikit terangkat keatas.


Setelah merasa cukup bermain pada kedua gunung milik istrinya. Sambil memberi waktu pada dokter Anna mengatur nafas, ia kemudian melepas pelan-pelan celana panjang yang masih melekat pada tubuh istrinya. Dan kini tersisa underware renda berwarna hitam. Dokter Adit menelan salivanya, dibawah lampu tidur yang remang-remang ia bisa melihat gundukan dibalik underware tersebut. Tapi sebelum melanjutkan aksinya. Ia lagi-lagi meminta izin pada dokter Anna.


"Apa kamu sudah benar-benar siap, sayang?"


Untuk kesekian kalinya dokter Anna hanya mengangguk pelan seraya memejamkan kembali matanya. Kalau ia bisa berkata jujur pada pria dihadapannya saat ini, sebenarnya ia juga sudah tidak tahan ingin mencapai puncak kenikmatan di malam pertama mereka.


Melihat anggukan dokter Anna, dokter Adit pun dengan cepat melepaskan celana yang dikenakannya. Ia bahkan langsung melepas underwarenya. Dokter Anna yang masih memejamkan matanya tidak bisa melihat senjata pamungkas suaminya yang sudah berdiri tegak bersiap menerjang kewanitaannya.


Cukup lama dokter Adit mengambil ancang-ancang untuk memasukkan senjata miliknya, ia terlebih dulu meraba setiap sudut kewanitaan istrinya, memberikan sensasi yang membuat wanita itu kini tidak bisa lagi mengendalikan desahannya. Ia merasa seluruh inci bagian tubuhnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.


"Aku masukkan sekarang yah, sayang." ucap dokter Adit mengarahkan senjatanya pada bibir kewanitaan istrinya.


"Iya, mas. Pelan-pelan yah." balas dokter Anna dengan suara yang sangat pelan.


Ia kini sudah membuka matanya.


"Auh..., sakit mas..., pelan-pelan..."


"Iya, sayang ini udah pelan-pelan kog."


Dokter Adit kembali mengulum bibir istrinya agar tidak terlalu merasakan sakit saat senjatanya sudah berada jauh kedalam.


"Ahhhhhhh...."


Suara teriakan dokter Anna langsung dibungkam kembali oleh dokter Adit dengan bibirnya. Akhirnya tepat sasaran juga senjatanya masuk kedalam. Ia mulai memainkannya maju mundur. Sampai akhirnya suara erangan keduanya terdengar bersamaan saat sama-sama mencapai puncak kenikmatan.


🧡 Siapa yang BAPER sama malam pertama dokter Adit dan dokter Anna, hayooo ngaku🤭😂

__ADS_1


❤️ Ayo dong mampir ke sebelah juga, Abang ganteng Zafran nungguin loh😘


💜 Bersabarlah jika Cinta datang terlambat karena yang Terbaik kadang selalu datang dibelakang💜


__ADS_2