
"Belum dimakan juga sarapannya, bi?" tanya Sultan pada asisten rumah tangga Rania saat ia baru saja datang dan melihat makanan yang dibelinya tadi pagi masih utuh diatas meja.
Padahal siang ini ia kembali membawakan kotak makan siang untuk Rania.
"Belum, tuan. Nyonya belum keluar dari kamar sejak tadi."
Sultan menarik nafas berat mendengar ucapan asiten rumah tangga tersebut.
"Apa bibi bisa masuk ke kamar Rania dulu mengecek keadaannya?"
"Iya tuan, tunggu sebentar yah."
Perempuan paruh baya yang dipanggil bibi itu pun berlalu ke kamar Rania. Setelah mengetuk beberapa kali, barulah pintu kamar terbuka. Dari balik pintu nampak Rania dengan mata sembab dan wajah yang sangat lusuh. Terlihat jelas jika ia sedang merasakan kesedihan yang luar biasa. Bahkan mungkin kesedihannya kali ini lebih dalam dibanding saat ia berpisah dengan Satya.
"Didepan ada tuan Sultan, Nyonya."
"Oh, iya By." jawabnya sangat pelan hampir tak terdengar.
"Apa nyonya mau menemuinya atau..."
"Aku akan kedepan, bi."
Ia lalu menutup pintu kamarnya dan melangkah lebih dulu kedepan. Melihat Sultan sudah duduk diruang tamu, ia memaksa menarik kedua bibirnya.
"Nia, kamu kenapa belum sarapan juga? Ini sudah waktunya makan siang."
Sultan berdiri dari duduknya dan mendekati Rania yang memilih duduk di ujung sofa. Ia sangat prihatin melihat kondisi wanita cantik itu. Belum pernah Ia melihatnya terpuruk seperti ini.
"Aku belum lapar, Sul."
"Nia, kamu bisa jatuh sakit kalau seperti ini terus. Dari kemarin kamu belum makan apa-apa."
Rania hanya diam saja mendengar ucapan Sultan. Pandangannya lurus kedepan.
"Tadi pagi kamu janji bakal sarapan saat aku sudah pulang, tapi aku lihat makanannya belum berkurang sama sekali."
Karena Rania lagi-lagi diam, Sultan kemudian berdiri mengambil makanan yang dibelinya tadi yang sudah dipindahkan kedalam piring oleh asisten Rania.
Ia lalu mengambil tempat duduk tepat disamping Rania. Ia bermaksud menyuapi Rania karena ia tidak mau melihat wanita itu jatuh sakit gara-gara tidak memperhatikan makannya.
"Aku tahu kamu sedang sedih, Nia. Aku bisa merasakan berada diposisimu saat ini, tapi kita tidak bisa menentang kehendak Tuhan. Rama juga tidak bakal tenang dialam sana melihat kamu seperti ini, apalagi ia menitipkan amanah yang besar pada kamu."
"Kamu makan yah, sedikit saja."
Setelah berkata begitu, Sultan lalu menyendokkan makanan kemulut Rania. Dengan berurai air mata yang kembali lolos dari pelupuk matanya, Rania perlahan membuka mulutnya dan mengunyah makanan dengan sangat pelan.
"Kenapa kamu begitu perduli sama aku?" tanya Rania pelan tanpa menatap kearah Sultan.
"Aku hanya ingin melihatmu kembali seperti Rania yang dulu. Yang kuat dan ceria. Rania yang aku kenal tidak seperti sekarang."
__ADS_1
"Setiap orang pasti akan mengalami perubahan saat merasa berada dititik yang paling rendah. Aku tidak tahu apa yang sudah aku lakukan dimasa lalu, hingga harus menerima pembalasan yang seperti ini. Aku rasanya tidak sanggup lagi."
"Kamu tidak boleh berkata begitu, Nia. Kamu orang yang terpilih karena Tuhan merasa yakin kamu akan mampu menghadapi keadaan ini."
"Tapi aku menyerah, Sul. Aku tidak kuat lagi."
Tangis Rania kembali pecah membuat Sultan menghentikan suapan ketiganya. Ia kemudian menyimpan piring makan diatas meja lalu meraih Rania kedalam pelukannya. Untuk sesaat ia tidak mampu berkata-kata lagi, hanya usapan lembut dikepala wanita cantik itu yang dilakukannya.
"Aku tahu setiap orang pasti pernah berada dititik terendah tapi aku yakin kalau kita punya keinginan yang kuat untuk bangkit, kita pasti bisa melewati semua ini. Kita pernah sama-sama gagal dalam berumah tangga. Dan akhirnya kamu bisa juga memulai hubungan baru dengan Rama, yang menghadirkanmu seorang gadis lucu untuk menemani hari-harimu kedepan. Bukankah ini cara Tuhan untuk memberimu satu kebahagiaan lain?"
Mendengar ucapan Rama, tangis Rania perlahan meredup. Ia pelan-pelan melepaskan diri dari pelukan hangat laki-laki yang pernah dijodohkan dengannya itu. Meskipun belum sepenuhnya menerima kepergian Rama tapi ia bisa sedikit berdamai dengan hatinya saat ini.
"Kamu makan lagi yah."
Rania hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan Sultan.
"Dimana Andin?" tanyanya.
"Andin juga sedang makan ditemani bibi, tadi aku beli makanan buat semua orang rumah."
"Makasih."
Saat Sultan hendak lagi menyendokkan makanan kemulut Rania, Rania mengambil alih piring makan itu.
"Aku bisa sendiri kog. Kamu juga pasti belum makan, kan? Kita makan sama-sama yah." ucapnya pada Sultan.
Sultan mengangguk seraya tersenyum kearah wanita cantik yang dulu pernah dikaguminya itu.
"Tuan muda, sudah waktunya makan siang. Anda mau makan dimana?" tanya Bagas sebelum keluar dari ruangan Satya setelah mengerjakan laporan perusahaan.
Satya yang langsung menelfon Ruby hanya mengangkat tangan pada Bagas dan Bagas sudah mengerti maksudnya bahwa ia disuruh menunggu.
"Telfonnya nggak diangkat. Coba kamu telfon Lila, Gas!" perintah Satya setelah melakukan dua kali panggilan tapi Ruby tidak menjawabnya.
Sementara Bagas yang disuruh menelfon Lila seketika membulatkan kedua matanya.
"Kenapa? Apa kamu mau membantah lagi?"
"Tidak tuan muda, aku akan menelfon Lila sekarang."
Bagas kemudian mengklik nama diponselnya yang tertulis "CEWEK GALAK". Hampir saja Bagas dibuat kesal lagi oleh Lila karena ia harus menunggu lama telfonnya dijawab oleh wanita yang selalu ingin dikerjainya itu.
"Halo, ada perlu apa mas Bagas menelfon?" jawab suara dari seberang.
"Dimana Nyonya Muda? Tuan muda ingin bicara dengannya."
Kali ini tidak terdengar suara Bagas yang biasa mengintimidasi Lila karena ada Satya didepannya.
"Non Ruby sedang dikamarnya. Aku akan memberitahunya nanti saat ia keluar untuk menghubungi tuan muda."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu."
"Oya, apa anda sedang bersama tu..."
Tut...tut...tut
Belum selesai Lila bicara, Bagas sudah mematikan ponselnya.
"Selalu seperti itu. Apa dia tidak bisa sedikit saja menghargai oranglain selain tuan mudanya." gerutu Lila menahan kesal pada Bagas.
Tidak lama setelah ia menerima telfon dari Bagas, Ruby terlihat keluar dari kamarnya dan sepertinya sudah bersiap untuk pergi.
"Non, Bagas baru saja menelfon. Ia mengatakan tuan muda ingin bicara dengan nona."
"Oh iya Lil, aku baru ingat tadi ada missed call dari mas Satya. Aku akan menelfonnya sekarang."
Ruby lalu meraih ponsel dari dalam tas yang dibawanya. Tidak lama setelah ia melakukan panggilan telfon pada Satya, terdengar suara bariton Satya dari seberang sana.
"Halo sayang, kamu dari mana saja? Kenapa telfonku nggak dijawab?"
"Maaf mas, tadi aku lagi bersiap untuk ke rumah sakit."
"Apa kamu sudah melakukan chek up kehamilan?"
"Rencananya hari ini mas, aku sudah bikin janji sama dokter kandungan dirumah sakit tempat papa dirawat."
"Apa Lila juga akan ikut bersamamu?"
"Sepertinya tidak, mas. Baby Gyan lebih baik dirumah saja dulu. Kasian kalau harus ikut bolak balik rumah sakit."
"Jadi kamu pergi sendiri?"
"Aku nggak apa-apa kog, mas. Aku akan jaga diri baik-baik."
Satya menghela nafas berat mengingat Ruby hanya ditemani oleh Lila dinegara orang. Ia jadi khawatir sendiri, apalagi papanya belum bisa diandalkan saat ini.
"Sepertinya aku harus mengirim Bagas kesana untuk menemani kalian."
"Tapi kamu kan lagi banyak kerjaan dikantor, mas. Kamu tenang saja, aku akan baik-baik disini. Lagipula ada kak Anna juga."
"Anna sekarang sudah punya tanggung jawab sendiri. Kamu tidak bisa lagi berharap sama dia. Kamu tidak usah membantah. Besok Bagas sudah akan tiba disana. Aku lebih menghawatirkan kamu dibanding perusahaan."
"Baiklah. Terserah kamu saja, mas. Tapi siapa yang akan membantumu diperusahaan?"
"Masih ada Eliana disini. Kamu tidak usah fikirkan itu. Cukup jaga dengan baik kehamilanmu karena aku tidak berada didekatmu."
Suara Satya sangat pelan karena menahan sedih. Untuk kedua kalinya ia tidak bisa menemani Ruby saat hamil.
"Iya, mas."
__ADS_1
Setelah mengobrol beberapa saat dengan Suaminya. Ruby pun memutus sambungan telfon dan bergegas untuk kerumah sakit. Sebelum keluar rumah ia terlebih dulu memberikan kecupan untuk pangeran kecil kesayangannya yang ditinggal dirumah bersama Lila.
π Happy reading sayang, oya jangan lupa ngasi vote rekomendasinya besok yah bagi yang suka sama cerita receh iniπππ€