
Alex menemani Dafa bermain bola dilapangan bola itu. Dia sengaja meluangkan waktunya untuk menemani putranya itu. Meskipun Dafa tidak tahu kalau itu Papanya, bagi Alex bisa sekedar bermain saja bersama Dafa sudah membuatnya senang. Apalagi Dafa begitu senang bermain bersamanya.
"Gol.....Dafa menang Om"ucap Dafa.
"Iya Dafa hebat"ucap Alex.
"Om juga hebat"ucap Dafa.
"Karena Dafa menang, mau hadiah apa?"tanya Alex.
"Hadiah? tapi Dafa belum bilang sama Bunda, boleh gak ya minta hadiah?"ucap Dafa.
Alex menghampiri Dafa dan mengelus ubun-ubunya.
"Dafa kemarin Om sudah minta izin pada Bunda untuk menemui Dafa, jadi Bunda pasti setuju kalau Om memberi Dafa hadiah"ucap Alex.
"Anakku kau sudah sebesar ini, maafkan Papa tidak ada disisimu selama ini"batin Alex.
"Kalau begitu Dafa mau makan es krim yang banyak Om"ucap Dafa.
"Oke"ucap Alex.
Alex mengajak Dafa makan es krim dikedai es krim dekat lapangan bola itu. Dafa begitu menikmati es krim miliknya sampai habis dua mangkuk.
"Dafa kau suka es krim nak?"tanya Alex.
"Dafa suka es krim cuma kata Bunda gak boleh banyak-banyak"ucap Dafa.
"Benar kata Bunda, makan es krim memang gak boleh banyak-banyak"ucap Alex.
"Om temannya Bunda ya?"tanya Dafa.
"Benar Dafa, jadi Dafa kapan-kapan lagi bisa bermain bersama Om"ucap Alex.
"Dafa ini Papa nak"batin Alex.
"Papa Zion juga sering bermain bersama Dafa" ucap Dafa.
"Apa kau menyayangi Papa Zion?"tanya Alex.
"Iya"ucap Dafa.
"Papa Zion, orangnya bagaimana?"tanya Alex.
"Papa Zion orangnya baik dan sayang Bunda. Dafa senang Bunda bahagia bersama Papa Zion" ucap Dafa.
"Aku ikut senang, akhirnya Dianka bahagia bersama Zion saudara kembarku. Walaupun hatiku sakit harus melepas Dianka"batin Alex.
"Dafa mau pulang? biar Om antar"ucap Alex.
"Boleh Om"ucap Dafa.
Alex mengantarkan Dafa pulang ke rumahnya. Sampai dirumah itu, Alex bertemu Dianka.
"Presdir Betrand terimakasih sudah mengantar Dafa pulang ke rumah"ucap Dianka.
"Sama-sama"ucap Alex.
"Om Dafa masuk dulu mau mandi"ucap Dafa.
"Iya Dafa"ucap Alex.
"Mari masuk saya buatkan minum"ucap Dianka.
"Iya terimakasih"ucap Alex.
Alex masuk ke dalam rumah besar itu, dia duduk di ruang tamu menunggu Dianka membuatkannya minuman. Dia melihat-lihat foto yang terpajang didinding.
"Dianka sepertinya hidupmu sudah bahagia bersama Zion. Apalagi Zion pengusaha kaya pasti hidupmu berkecukupan, maafkan aku yang tidak ada disisimu disaat kau kesulitan apalagi saat kau melahirkan Dafa"ucap Alex.
Tak lama Dianka membawa jus dan camilan untuk Alex. Dia meletakkan jus dan camilan itu dimeja ruang tamu itu.
"Silahkan diminum Presdir Betrand"ucap Dianka.
"Iya....., Dianka panggil aku Betrand saja"ucap Alex.
__ADS_1
"Oke"ucap Dianka.
"Dianka dimana Zion? aku ingin bertemu dengannya"ucap Alex.
"Zion sedang ada urusan diluar kota"ucap Dianka.
"Oh.....padahal aku ingin sekali bertemu dengannya"ucap Alex.
"Oya Betrand, apa kau sudah menikah?"tanya Dianka.
"Sudah, dulu aku memiliki dua istri yang baik hati, tapi karena kesalahanku dimasa lalu aku kehilangan keduanya"ucap Alex.
"Aku harap kau bisa belajar dari kesalahanmu dan tidak mengulanginya lagi"ucap Dianka.
"Kau benar, selama tujuh tahun ini aku berusaha memperbaiki semuanya dan menjadi diriku yang baru"ucap Alex.
"Semoga kau bisa menemukan seseorang yang akan mendampingimu selamanya"ucap Dianka.
"Terimakasih Dianka"ucap Alex.
"Sama-sama"ucap Dianka.
Setelah itu Alex pamit pulang, dia senang bisa bertemu Dianka dan Dafa. Alex juga senang saat tahu Dianka dan Dafa hidup bahagia bersama Zion saudara kembarnya.
*************
Gibran terbangun dari tidurnya, dia mendapati tubuhnya tanpa sehelai benang. Dia coba mengingat apa yang sudah terjadi. Dia ingat terakhir dia bersama seorang gadis bernama Siva. Gibran bangun dan melihat disprei tempatnya tidur ada noda darah.
"Apa semalam terjadi sesuatu? Siva, gadis itu menjajakan dirinya. Apa semalam dia tidur denganku?"ucap Gibran masih kebingungan.
Gibran mandi ditoilet hotel itu kemudian mengenakan pakaiannya kembali. Dia mengambil dompet dimeja dekat ranjang itu.
"Uang dan atmku hilang, apa Siva mengambilnya?"ucap Gibran.
Gibran keluar dari hotel itu, dia ingin mencari Siva. Bukan karena uang dan atmnya tapi dia ingin tahu apa yang terjadi semalam.
Rumah Sakit Royal Garden
Siva masuk ke dalam rumah sakit. Dia ingin melunasi pembayaran untuk operasi adiknya.
"Biaya operasi dan perawatannya masih kurang, hari ini tidak mungkin bisa menarik uang lagi dari atm itu. Apa nanti malam aku ke club malam lagi ya"ucap Siva.
Siva berjalan menemui adiknya diruang perawatan. Adiknya sedang berbaring lemah diranjang itu. Siva menghampirinya dan duduk disamping ranjang.
"Kakak, aku pikir kakak sibuk kerja gak bisa menjenguk dede"ucap Acha.
"Maafkan kakak ya de, kakak kemarin kerja dulu" ucap Siva.
"Kak, apa dede akan sembuh, badan dede sakit semua rasanya"ucap Acha.
Siva memeluk adik kecilnya itu sambil menangis.
"Dede pasti sembuh, kakak akan berusaha agar dede bisa dioperasi dan diobati, dede gak usah sedih hik...hik...."ucap Siva.
"Kalau dede mati, dede udah ikhlas kak"ucap Acha.
"Dede gak boleh bicara seperti itu, dede satu-satunya keluarga kakak, kalau dede pergi kakak sendirian hik....hik....."ucap Siva.
"Iya kak, dede pasti sembuh"ucap Acha.
Siva sangat takut kehilangan adiknya, jika Acha meninggal, dia tidak punya siapa-siapa lagi. Dia sangat menyayangi Acha.
Club Roxis
Siva mengenakan dress yang minim masuk ke club malam itu. Dia menggoda para lelaki hidung belang. Saat dia mau dibawa oleh lelaki hidung belang, Gibran menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari club malam itu. Dia memasukkan Siva ke dalam mobilnya dan membawanya pergi dari club malam itu. Siva duduk dikursi depan bersampingan dengan Gibran.
"Om mau membooking saya lagi ya?"tanya Siva.
Gibran langsung menghentikan mobilnya ditempat yang sepi.
"Siva aku mau tanya, semalam apa yang sudah terjadi?"tanya Gibran.
"Om kok tanya begitu, bukan kita tidur bersama tadi malam. Apa mau diulang lagi, Siva siap Om asal bayarannya sesuai"ucap Siva.
"Jadi semalam......."ucap Gibran.
__ADS_1
"Tidak.....tidak mungkin, aku sudah mengkhianati Lara.....tidak"ucap Gibran.
"Lara? istri Om ya?"tanya Siva.
"Iya"ucap Gibran.
"Tenang Om Siva bisa jaga rahasia kok, Siva juga gak akan nuntut Om nikahin Siva. Ini murni pekerjaan bukan hubungan asmara. Siva tidak mau terlibat dalam urusan rumah tangga Om, Siva hanya butuh uang saja selebihnya terserah Om saja"ucap Siva.
"Siva kau baru pertama menjual dirimu padaku, benarkan?"tanya Gibran.
"Ah masa sih....Siva udah biasa kok jalan sama Om-om"ucap Siva.
"Kau bohong, akulah orang pertama yang bersamamu"ucap Gibran.
"Baiklah aku terpaksa jujur, Om memang pelanggan pertama Siva, sebelumnya Siva gak pernah jual diri, semalam memang hari pertama Siva menjual diri"ucap Siva.
"Kenapa kau harus menjual dirimu Siva?"tanya Gibran.
"Aku butuh uang Om"ucap Siva.
"Butuh uang untuk apa?"tanya Gibran.
"Adikku sakit, ada tumor ganas dibahunya. Dia harus segera dioperasi"ucap Siva.
"Jadi itu sebabnya kau menjual dirimu?"tanya Gibran.
"Iya"ucap Siva.
"Memang biaya operasi masih kurang sampai kau menjual diri lagi?"tanya Gibran.
"Iya, apa Om mau membookingku, ku mohon"ucap Siva.
"Siva aku tidak mau membookingmu, tapi aku akan memberimu uang yang kau butuhkan"ucap Gibran.
"Loh kenapa Om? apa pelayanan saya kurang memuaskan?"tanya Siva.
"Bukan itu Siva, tapi aku tidak bisa melakukan itu dengan wanita lain. Aku sangat mencintai istriku"ucap Gibran.
"Aduh....maaf ya Om yang semalam. Sebenarnya Siva sengaja menjebak Om, habis Siva kepepet. Untung Om punya uang dan atm yang bisa Siva ambil, kalau gak Siva sudah menyerahkan kehormatan Siva cuma-cuma"ucap Siva.
"Siva jangan pernah menjual dirimu lagi. Aku akan membayar seluruh biaya perawatan adikmu sampai dia sembuh, jadi kau tidak perlu khawatir"ucap Gibran.
"Beneran Om?"tanya Siva.
"Iya"ucap Gibran.
Siva langsung memeluk Gibran.
"Makasih ya Om"ucap Siva.
"Sama-sama, tapi Siva lepaskan pelukanmu"ucap Gibran.
"Maaf Om reflek"ucap Siva.
Siva melepas pelukannya dari Gibran.
"Siva ambil jaketku ini, pakailah, dressmu terlalu terbuka"ucap Gibran nemberikan jaketnya pada Siva.
"Iya Om"ucap Siva.
"Rumahmu dimana? aku akan mengantarmu pulang"ucap Gibran.
"Ke rumah sakit saja Om, aku tidur dirumah sakit menemani adikku"ucap Siva.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit" ucap Gibran.
"Tapi Siva mau membersihkan diri dulu ya Om" ucap Siva.
"Iya"ucap Siva.
Gibran mengantar Siva ke toilet umum. Siva berganti pakaian yang sehari-hari dipakainya dan membersihkan make upnya. Setelah itu dia masuk ke mobil Gibran. Saat dia masuk, Gibran sempat terkesima melihat Siva yang cantik saat tidak berhias. Wajahnya cantik alami, penampilannya terlihat berbeda dari sebelumnya, dia terlihat kalem dan sopan.
"Om....ada apa? apa ada yang salah dengan Siva?"tanya Siva.
"Gak ada apa-apa"ucap Gibran.
__ADS_1
Gibran langsung mengendarai mobilnya ke rumah sakit.