
Lara dan Dianka sampai dikediaman Gibran. Mereka masuk ke dalam rumah besar itu. Dianka langsung diajak Lara naik ke kamar Mahira. Saat Dianka berjalan dia melihat foto-fota Lara bersama keluarga kecil, Dianka merasa Lara sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Dia ikut senang dengan kebahagiaan yang didapatkan Lara. Mereka berkumpul dikamar Mahira. Kedua anak mereka asyik bermain, sementara Lara dan Dianka mengobrol bersama.
"Dianka, kau bisa bertemu Zion dimana?"tanya Lara.
Dianka bingung menjawabnya karena pertemuannya dengan Zion tidak dalam keadaan yang baik.
"Eee.......kami bertemu saat aku diundang menyanyi dirumahnya"ucap Dianka.
"Kau jadi seorang penyanyi?"tanya Lara.
"Iya, setelah melahirkan aku bekerja sebagai penyanyi"ucap Dianka.
"Tapi sekarang kau tak perlu menyanyi lagi, Zion pasti mampu membahagiakanmu"ucap Lara.
"Ee...iya ha....ha...."ucap Dianka.
"Justru dia mempersulit hidupku, bisanya cuma memerintahku, dasar Zion menyebalkan"ucap Dianka dalam hatinya.
Dianka hanya tersenyum dengan kenyataan yang tak seperti diucapkan.
"Kau bertemu Gibran dimana?"tanya Dianka.
"Saat itu dia menawariku untuk mengungkap kasus kejahatan Alex, kebetulan Gibran seorang polisi yang menangani kasus Alex"ucap Lara.
"Baguslah, akhirnya kau bertemu dengan orang yang baik dan menyayangimu"ucap Dianka.
Mereka terus mengobrol, sedangkan Mahira dan Dafa sedang bermain mainan.
"Dafa kau jadi polisinya, aku jadi princess yang dikurung penculik, nanti tolongin aku ya"ucap Mahira.
"Iya cantik"ucap Dafa.
"Salah manggilnya Mahira cantik,terus senyum" ucap Mahira.
"Iya Mahira cantik"ucap Dafa lalu tersenyum.
Mereka bermain dengan mainan itu, Mahira begitu senang bermain bersama Dafa, walaupun Dafa jaim.
"Dafa, kamu kalau dirumah main sama Papamu ya"ucap Mahira.
"Aku baru bertemu Papaku, jadi kami belum banyak main bersama"ucap Dafa.
"Terus selama ini main ama siapa?"tanya Mahira.
"Main sendiri dirumah, Bundaku pergi kerja" ucap Dafa.
"Jadi kamu sendiri dirumah?"tanya Mahira.
"Aku sudah biasa sendiri dirumah"jawab Dafa.
"Gak takut ada hantu"ucap Mahira.
__ADS_1
"Gak, kata Bunda hantu itu gak ada, boongan cuma ada difilm aja"ucap Dafa.
Mereka bermain sambil mengobrol, hari itu jadi hari yang membahagiakan untuk Lara, Dianka dan anak mereka. Hubungan yang lama terputus sekarang terjalin kembali.
************
Zion mencari keberadaan Dianka dirumahnya. Dia tak menemukan sepasang Ibu dan anak itu. Mereka juga tak memberi kabar, seharusnya kalau hanya menjemput Dafa, mereka sudah pulang ke rumah. Zion mencemaskan sepasang Ibu dan anak itu. Dia coba menghubungi no telpon Dianka tapi tidak aktif.
"Mereka itu membuatku cemas, kenapa juga aku harus peduli pada sepasang Ibu dan anak itu, heeh"ucap Zion kesal.
Ibu Terry menghampiri Zion yang sedang cemberut karena kesal tidak menemukan sepasang Ibu dan anak itu.
"Zion, kenapa mukamu cemberut?"tanya Ibu Terry.
"Istri dan anakku belum pulang, seharusnya mereka sudah sampai tapi sudah sore begini mereka belum pulang"ucap Zion.
"Cuma bisanya ngomong doang jadi laki, cari dong. Kamu itu kok gak pinter-pinter, gimana kalau nanti istri dan anakmu kenapa-kenapa"ucap Ibu Terry.
"Benar juga Ma"ucap Zion.
"Otakmu itu loh kalau soal cinta lemot banget, gimana istrimu mau betah dirumah. Gak ada keromantisannya, kau ini mirip patung. Untung ayahmu romantis gak kaya kamu. Belajar sama Yuma sana, dia bukannya sudah punya pacar. Biar kamu ngertian dikit cara memperlakukan wanita"ucap Ibu Terry.
"Ma pidatonya nanti aja ya, Zion mau nyari istri dan anakku, I Love You Ma"ucap Zion lalu mencium pipi Mamanya.
Setelah mencium pipi Mamanya Zion keluar dari rumah, dia mengendarai mobilnya tanpa tujuan pasti.
***********
"Bunda, kalau Bunda dan Papa menikah, Dafa bisa setiap hari bermain dengan Papa seperti Mahira dan Papanya"ucap Dafa.
"Eee.......(Dianka bingung).....apa Dafa benar-benar menginginkan seorang Papa?"tanya Dianka.
"Iya Bunda, Dafa mau main sepak bola, mobil-mobilan dan main layangan bersama Papa"ucap Dafa.
Dianka hanya mengusap rambut Dafa sambil tersenyum, dia faham apa yang diinginkan anaknya itu. Saat mereka berjalan, Dafa melihat anak kucing ditengah jalan. Dafa langsung berlari ke tengah jalan dan megambil anak kucing itu, dari arah depan mobil truk dengan kecepatan sedang melaju menuju ke arah Dafa, Dianka yang melihat itu langsung lari ke arah Dafa dan mendorongnya ke tepi. Dianka hampir saja tertabrak tapi Zion berlari ke arah Dianka dan merangkulnya ke tepi jalan. Mereka terjatuh ditepi jalan. Zion membantu Dianka bangun dan duduk ditepi jalan.
"Aw............"ucap Dianka sambil memegang tangannya yang tergores hingga berdarah.
"Kau mau mati, kau tahu aku mencemaskanmu dari tadi. Kalau tadi aku tak mencarimu kau sudah mati ditabrak truk itu"ucap Zion.
"Kenapa kau jadi marah"ucap Dianka.
"Kau tak ada kabar, sudah sore belum pulang, handphonemu gak aktif. Kau itu membuatku seperti orang gila mencarimu kesana sini gak jelas"ucap Zion marah.
"Aku tidak bermaksud membuatmu cemas, maafkan aku"ucap Dianka.
Zion mengambil tangan Dianka, dan menjilati darah ditangan Dianka.
"Zion geli"ucap Dianka.
"Diamlah aku membersihkan lukamu"ucap Zion.
__ADS_1
Dianka melihat Zion membersihkan lukanya dan memerbannya dengan merobek bajunya sendiri.
"Zion tak seburuk yang ku kira, ketika begini dia terlihat romantis, walau kadang menyebalkan" ucap Dianka dalam hatinya.
"Papa Bunda, lihat kucingnya lucukan"ucap Dafa.
"Kau suka kucing, nanti Papa membelikanmu kucing yang besar dan lucu biar kucing kecil ini ada temannya"ucap Zion.
"Asyik terimakasih Papa"ucap Dafa.
Dianka senang melihat keakraban Zion dan Dafa. Dia tahu sosok Zion begitu dibutuhkan oleh Dafa.
Dianka berpikir untuk berusaha membuka hatinya dan memulai hidup baru.
***********
Lara pergi ke sebuah toko kue untuk membeli kue kesukaan Mahira. Dia sedang memilih-milih kue itu. Tak sengaja dia bertemu dengan Carlos yang juga sedang membeli kue ditoko itu. Carlos langsung menyapa Lara.
"Lara kau ada disini juga?"tanya Carlos.
"Aku sedang membeli kue untuk Mahira anakku, apa kau juga sedang membeli kue?"tanya Lara.
"Aku mau membeli kue untuk ibuku, tapi aku tidak tahu kue yang mana yang cocok untuk ibuku" ucap Carlos.
"Biasanya para orangtua menghindari makanan manis, karena umur mereka. Biasanya aku membelikan ibu mertuaku kue keju atau kue yang tidak mengandung banyak gula"ucap Lara.
"Terimakasih atas sarannya"ucap Carlos.
Ada seorang bapak-bapak menyenggol Lara hingga terdorong ke tubuh Carlos, dengan sigap Carlos menangkap Lara dalam pelukannya. Seorang pengunjung yang mengenali Carlos sebagai artis papan atas langsung memfoto mereka.
Cekrek.......cekrek...........
"Wah, ini akan jadi berita yang menghebohkan, follower dan viewerku akan banyak jika aku mengunggah foto ini"ucap Cika.
Dia langsung mengunggah foto itu ke media sosial.
Carlos memandang wajah Lara dari dekat, jantungnya berdetak tak beraturan. Dia grogi saat begitu dekat dengan Lara.
"Jantungku tak berhenti berdetak kencang, perasaanku jadi tak tenang, perasaan apa ini" ucap Carlos dalam hatinya.
Lara langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan Carlos.
"Kau tidak apa-apa?"tanya Carlos.
"Tidak, kalau begitu aku pulang dulu"ucap Lara.
"Hati-hati dijalan"ucap Carlos.
Lara hanya mengangguk dan tersenyum pada Carlos lalu keluar dari toko kue itu. Carlos merasa ada perasaan yang berbeda saat bersama Lara. Tapi dia ragu mengakui perasaan itu.
"
__ADS_1