
Gibran datang ke rumah kecilnya yang ditempati Siva. Dia membawa kue untuk Siva. Gibran masuk ke rumah itu menghampiri Siva yang sedang menyiapkan bahan-bahan kue basah untuk besok.
"Siva"ucap Gibran.
"Om"ucap Siva.
"Aku bawa kue coklat untukmu"ucap Gibran.
"Kue coklat"ucap Siva.
"Apa kau tidak suka?"tanya Gibran.
"Suka banget"ucap Siva.
"Nih"ucap Gibran memberikan kue itu untuk Gibran.
"Makasih Om"ucap Siva.
"Sama-sama"ucap Gibran.
Siva mengambil kuenya lalu membawanya ke ruang makan. Gibran membuntuti Siva dan duduk dikursi ruang makan itu.
"Om mau?"tanya Siva saat memotong kue itu.
"Boleh"ucap Gibran.
Siva meletakkan potongan kue itu ke piring kecil untuk Gibran. Lalu mereka memakan kue itu bersama.
"Rasanya enak Om"ucap Siva.
"Anak remaja sepertimu pasti suka coklatkan" ucap Gibran.
"Suka banget"ucap Siva.
Tak lama Gibran pusing dan sempoyongan. Dia menegang keningnya dengan kedua tangannya.
"Om kenapa?"tanya Siva.
"Kepalaku pusing"ucap Gibran.
Siva menghampiri Gibran dan mengecek dahinya dengan tangannya.
"Om demam"ucap Siva.
"Mungkin karena aku kurang sehat"ucap Gibran.
"Om istirahat dulu ya dikamar"ucap Siva.
"Iya"ucap Gibran.
Siva mengantarkan Gibran ke kamarnya. Lalu Gibran berbaring dikamar itu. Siva mengambilkan waslap dan air dimangkuk untuk mengompres dahi Gibran dan mengambil obat demam untuknya.
"Om minum obat demam dulu ya"ucap Siva.
"Iya Siva"ucap Gibran.
Gibran meminum obat demam yang Siva berikan.
Lalu Siva mengompres dahi Gibran dengan waslap basah.
"Siva makasih ya"ucap Gibran.
"Iya Om"ucap Siva.
"Aku jadi merepotkanmu"ucap Gibran.
__ADS_1
"Nggak kok Om, sekarang Om beristirahat ya, biar cepat sembuh"ucap Siva.
"Iya Siva"ucap Gibran.
Karena obat demam yang diberikan Siva, Gibran sampai tertidur sementara Siva duduk disamping ranjang sambil menjaga Gibran, lama-lama Siva tertidur juga. Setelah satu jam, Gibran bangun dari tidurnya, dia melihat Siva tertidur disamping ranjang. Gibran bangun dan membopong Siva naik ke ranjang.
"Siva makasih ya"ucap Gibran saat membaringkan Siva diranjang.
"Om....."ucap Siva terbangun dari tidur saat dibaringkan diranjang.
Siva meraih kepala Gibran, dia mendekatkan wajahnya lalu berciuman dengan Gibran. Kemudian mereka melakukan pemanasan demi pemanasan hingga keduanya begitu terbuai dalam kemesraan itu. Tahapan demi tahapan dilakukan hingga ke bagian inti. Gibran begitu menikmati semua prosesnya. Dia memandang wajah Siva yang begitu cantik.
"Siva I Love You"ucap Gibran.
Gibran kaget dan terbangun dari tidurnya, dia langsung melihat ke seluruh ruangan itu. Dia baru ingat tadi dia tidur karena minum obat. Siva masih duduk disamping ranjang sambil tertidur dengan menyandarkan kepalanya.
"Tadi aku mimpi ternyata, rasanya begitu nyata" ucap Gibran.
Gibran melihat ke arah Siva yang masih tidur.
"Apa aku mulai menyukai Siva"ucap Gibran.
***********
William mengenakan baju pengantinnya. Dia melirik ke arah Rahel yang sedang duduk menunggu acara dimulai. Rahel terlihat cantik dan anggun mengenakan gaun pengantinnya.
William menghampirinya sambil menggodanya.
"Cantik kau sepertinya memikirkan yang akan terjadi nanti malam"ucap William.
"Aku tak berpikir sejorok dirimu yang selalu bernafsu pada wanita"ucap Rahel.
"Itu karena kau belum tahu rasanya"ucap William.
"Aku tidak ingin tahu juga"ucap Rahel.
"Ogah"ucap Rahel.
"Kau cemberut terus makin cantik jadinya"ucap William.
"Dosa apa aku dimasa lalu hingga harus menikahi pria cabul sepertimu"ucap Rahel.
"Dosa terindah sayang"ucap William.
"Ampun deh...."ucap Rahel.
"Bibirmu merah aku ingin segera memakannya" ucap William.
"Bisa tidak kau tidak cabul dulu"ucap Rahel.
"Wajar seorang pengantin memikirkan hal itu, bukannya nanti malam akan melakukannya"ucap William.
"Aku gak mau"ucap Rahel.
"Aku akan memaksamu, mau tidak mau"ucap William.
"Itu namanya pemaksaan"ucap Rahel.
William mendekati wajah Rahel dan berbisik padanya.
"Tidak masalah kalau memaksa istri"ucap William.
Rahel mendorong tubuh William agar menjauh darinya.
"Merinding aku mendengarnya"ucap Rahel.
__ADS_1
"Kau akan tahu betapa hotnya aku, jangan ragukan pengalamanku yang sudah bersama banyak wanita"ucap William.
"Najis"ucap Rahel.
William dan Rahel duduk dipelaminan setelah menjadi suami istri. Mereka bersalaman dengan tamu yang notabennya tetangganya Rahel. Beberapa tetangga menggosipkan Rahel.
"Lihat tuh Si Rahel, katanya suaminya orang kaya" ucap Bu Sari.
"Mas kawinnya saja tadi berlian, rumah dan mobil loh"ucap Bu Indah.
"Jangan-jangan dia menggoda lelaki itu duluan"ucap Bu Yesi.
"Maksudnya?"tanya Bu Sari.
"Dia itukan gak pernah punya pacar, eh tau-taunya nikah dadakan, kalau bukan hamidun apa dong?" ucap Bu Yesi.
"Iya ya, walaupun dia tomboy tapi Rahel itukan cantik, dengan kecantikannya itu dia menggoda lelaki itu"ucap Bu Sari.
"Ibu-ibu yang terhormat udah gosipnya? kau iri bilang Bos"ucap Emak Titin.
"Eh Mak Titin"ucap Bu Yesi.
"Maaf Mak Titin kita hanya berdiskusi saja"ucap Bu Sari.
"Bibir keseleo"ucap Bu Indah.
"Rahel anakku memang cantik dan baik ya wajar lelaki sekaya William suka padanya. Lagi pula mau hamidun atau gak kan gak ngerugiin ibu-ibu sekalian. Untuk apa ngurusin urusan orang, apa ibu-ibu semua kurang kerjaan? dibelakang cucian piring numpuk, boleh dong bantuin"ucap Emak Titin.
"Baik Bu"ucap Bu Sari, Bu Indah dan Bu Yesi.
William duduk bersama Rahel dikursi pengantin.
"Eh....pria cabul ngapain mepet-mepet"ucap Rahel.
"Memang kenapa,? aku mau nyobain sedikit aja kan udah halal"ucap William.
"Nyobain apaan?"tanya Rahel.
William meraih kepala Rahel dan mencium paksanya.
"Ehm...ehm....."ucap Rahel kesulitan bernafas karena William begitu rakus.
Rahel akhirnya membalas ciuman itu dengan kelembutan. Seketika William menghentikan kerakusannya dan mencium Rahel dengan kelembutan.
"Enak"ucap William seusai mencium Rahel.
"Kau rakus"ucap Rahel.
"Kau imut membuatku tak bisa menahannya"ucap Wiliam.
"Aku gak mau dicium lagi"ucap Rahel.
"Kau harus terbiasa sayang, aku bahkan akan melakukannya setiap satu jam sekali"ucap William.
"Apa?"ucap Rahel kaget.
William hanya tersenyum melihat Rahel yang cemberut. Dia mengambil tangan Rahel dan meletakkan didadanya.
"Kau ngapain?"tanya Rahel.
"Aku suka begini"ucap William.
Rahel memalingkan mukanya melihat tingkah William. Tapi justru William begitu senang melihat Rahel seperti itu.
************
__ADS_1
Mahira keluar dari rumahnya. Dia berjalan sendirian ditepi jalan. Mahira memanggil-manggil Lara. Dia menggendong bonekanya sambil menanyakan Lara pada setiap orang yang ditemuinya. Mahira naik ke bus, dia berpikir mungkin akan menemukan Mamanya. Setelah turun dari bus, Mahira berjalan menelusuri jalan. Dia ingin bertemu dengan Lara yang tak tahu dimana keberadaannya.
"Mama....Mama.....Mahira kangen....Mama dimana?"ucap Mahira.