ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Generation 2 : Part 40


__ADS_3

Di kediamannya, Tuan Sadavir tengah bermain golf ditemani dengan seorang wanita. Wanita itu terihat lebih tua dari Tuan Sadavir. Wanita itu tampaknya sangat lihat dalam bermain golf. Terlihat dari banyak bola yang berhasil ia lempar tepat ke lubang sasarannya.


“Hall in one!” Teriak wanita itu kegirangan.


“Inilah alasan mengapa aku tak mau bermain denganmu.” Ucap Tuan Sadavir yang tampak murung.


“Bilang saja kalau kau iri Vir.” Timpal wanita itu.


“Jadi apa maksud kedatangan Kakak kemari?” Tuan Sadavir kini terus terang.


“Bukan apa-apa, aku hanya rindu dengan adikku. Lagi pula kehidupan di LA benar-benar membuatku muak. Aku bosan. Jadi bolehkah aku tinggal di sini untuk beberapa waktu? Ya anggap saja untuk sekedar melepas rindu.” Wanita itu kembali memukul bola dengan tongkat golfnya.


“Boleh-boleh saja.” Jawab Tuan Sadavir dengan santai.


“Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau tidak sedang marah padaku kan?”


“Tidak Kak. Memangnya aku harus menjawab seperti apa?” kini giliran Tuan Sadavir yang melempar bola.


“Ekspresimu, kau seperti tengah memikirkan hal lain. Apa keluargamu baik-baik saja?” kini Wanita itu mencurigai Tuan Sadavir.


“Entahlah, aku tak bisa menerangkannya.” Tuan Sadavir terlihat putus asa.


“Kenapa Vir? Apa Tamara berbuat ulah lagi? Aku akan memberinya pelajaran! Berani sekali dia.” Wanita itu berubah sangar.


“Tidak, bukan Tamara, tetapi Syahira.”


“Apa? Kenapa Syahira?”


“Dia menikahi pria yang tak dikenal.”


“Sorry? Aku gak salah denger? Menikah?”


“Iya Kak, panjang ceritanya. Tapi yang jelas sekarang dia pergi dari rumah. Tamara yang mengusirnya.”


“Berani sekali Tamara mengusir anak kandungnya sendiri. Kenapa kau tidak mencegahnya?”


“Aku tak bisa. Jujur, awalnya aku juga kecewa terhadapnya. Tetapi setelah ku fikir-fikir lagi, mungkin apa yang diperbuat oleh Syahira juga tidak terlalu fatal. Ia difitnah oleh warga kampung tempat pria itu berasal, mereka menikahkan putriku dengan pria itu secara paksa.”


“Jadi di mana Syahira sekarang?”


“Dia tinggal bersama pria itu, masih di dareah Jakarta. Dia dalam pantauanku.”

__ADS_1


“Syukurlah, aku lega mendengarnya. Tetapi pria itu, apa kau yakin dia pria yang baik? Aku hanya khawatir jika Syahira akan disakiti olehnya. Ya, lihatlah, jaman sekarang, pria hanya memanfaatkan wanita. Jika pra itu sudah bosan dengan wanitanya maka wanita itu akan dicampakkan olehnya.”


“Dia pria yang baik. Aku sudah menelusuri siapa dia dan asal usulnya. Dia memang bukan dari kalangan terpandang, dia hanya seorang ustadz di kampung halamannya. Tetapi dari kesaksian orang-orang yang kutanyai mereka bilang bahwa pria itu pria yang baik. Syahira juga tampak sudah jatuh hati padanya. Dia pria yang bertanggung jawab Kak. Waktu itu Syahira mengalami kecelakaan saat di Jawa, pria itu menolongnya, tetapi malah difitnah oleh warga desanya. Mereka akhirnya dinikahkan paksa. Setelah itu mereka diusir dari desa, pria itu mengantarkan Syahira kembali ke sini dengan selamat. Ia bahkan tak menyentuh Syahira sama sekali. Padahal jika ia mau ia bisa saja melakukannya, tidak ada yang akan melarangnya. Toh mereka sudah menikah.”


“Siapa nama pria itu?”


“Syamir.”


“Syam....Syam....Syamir? aku seperti pernah mendengar nama itu.”


“Mungkin namanya sama.”


“Jadi apa rencanamu selanjutnya?”


“Entahlah, mungkin untuk saat ini aku hanya akan memantaunya. Aku ingin lihat apakah dia mampu menjaga puteriku dengan baik, jika tidak maka aku akan mengambil kembali puteriku darinya.”


“Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk keluargamu Vir.” Wanita itu lalu menepuk pundak Tuan Sadavir.


Di Tempat lain, Syahira tengah disibukkan dengan pekerjaanya. Hari ini banyak sekali pasien yang melakukan janji temu dengannya. Syahira dibantu oleh Suster Anna melayani setiap pasien yang datang. Tiba-tiba muncullah seorang pasien yang Syahira kenali.


“Dokter Syahira Arsyla Sundari Sadavir.” Ucap pria itu dengan senyum lebarnya.


“Ya, silahkan masuk.” Ucap Syahira sembari sibuk mencatat.


“Teon?” Ucap Syahira dengan kaget.


“Wow? Ada apa dengan ekspresimu? Kau seperti baru melihat hantu saja.” Teon kini memajukkan kursinya.


“Kapan kau pulang ke Jakarta?” Syahira tampak canggung.


“Surprise! Aku sengaja tak memberitahu kepulanganku kepadamu.” Teon tampak ceria.


“Oh, jadi, kau ingin menemuiku sekarang? Tapi aku sedang bertugas. Nanti saja saat jam istirahat okay.” Syahira tampak tak nyaman dengan keberadaan Teon.


“Tapi aku sudah membuat janji temu denganmu untuk tiga puluh menit ke depan. Betulkan Suster Anna?” Teo kini tersenyum pada Suster Anna.


“Betul, tetapi ku kira untuk pemeriksaan.” Jawab Suster Anna.


“Teon, jika kau hanya ingin mengobrol denganku maka kau boleh keluar sekarang. Aku tak boleh menggunakan waktu kerjaku untuk hal lain.” Kata Syahira.


“Yah, sayang sekali. Baiklah, kalau begitu besok kita dinner okay? Di tempat biasa, kau masih ingat kan? Besok kau kan libur, so, lets have some fun meeting.”

__ADS_1


“Gak bisa Teon, besok aku ada urusan lain.”


“Really? Tapi kata Tante Tamara kau tidak memiliki kesibukan apapun selain bekerja di rumah sakit ini.”


“Mamaaah!.” Syahira tampak emosi.


“But, aku tetep gak bisa. Kau pergi saja dengan wanita lain. Kau kan tampan, pasti banyak wanita yang menginginkanmu Teon.”


“Tapi aku hanya menginginkanmu Sya.” Teo kini menatap Syahira dengan dalam.


“No, kamu gak boleh dekati aku lagi. So please, stay away from me, okay!”


“Why?”


“Pokoknya ak boleh, sekarang tolong keluar dari ruang praktikku.”


“Okay, but i will never give up Sya. Aku akan terus berjuang untuk mendpatkanmu, remember that!” Teon kini keluar dari ruangan.


Syahira menggelengkan kepalanya. Ia lalu memijit mijit kepalanya. Ia tampak pusing hari ini. suster Anna lalu menenangkan Syahira.


“Tenang dok.” Ucap Suster Anna sembari mengelus pundak Syahira.


“Iya Ann. Aku benar-benar pusing! Masalahku sudah banyak, sekarang ditambah dengan kemunculan Teon. Aku sangat membenci pria itu sejak kecil. He’s so annoying, udah gitu show off, jijik pokoknya.” Syahira kini *******-***** kertas yang ia robekkan dari catatannya.


Usai bekerja dengan sangat lelah, akhirnya tibalah waktu pulang, seperti biasa, Syahira diantarkan pulang oleh Alma. Dan saat tiba, Syamir sudah menunggunya di pinggir jalan. Syahira lalu melambai-lambai pada Alma yang mulai beranjak pergi. Kini giliran Syahira danSyamir yang beranjak pergi.


“Sya, bagaimana hari ini?” tanya Syamir.


“Capek Syam. Hari ini pasien memeludak, aku hampir kewalahan. Ini gara-gara Edward gak masuk. Dia pergi ke Jawa, katanya dia hendak menemui Zulaikha.” Jelas Syahira.


“....” Syamir terdiam beberapa saat.


“Syam, are you okay?” tanya Syahira.


“Aku gak papa Sya. Aku hanya merasa bahagia untuk sesaat. Mungkin dokter Edward adalah jodoh Zulaikha, buktinya dokter Edward rela menyusul Zulaikha ke pedalaman Jawa. Pasti dokter Edward sudah serius dengan Zulaikha.” Jawab Syamir.


“Semoga saja, lagi pula aku mulai melihat Edward berubah menjadi pria yang jauh lebih baik semenjak kenal dengan Zulaikha.” Timpal Syahira.


“Kita doakan saja yang terbaik untuk mereka berdua.” Ucap Syamir. mereka terus berjalan menuju kontrakan.


Tanpa Syahira maupun Syamir ketahui, ada seseorang yang tengah mengikuti mereka dari belakang. Ia adalah Tante Syahira, Nyonya Fanya. Wanita itu mengenakan kacamat hitam dan topi bundar seta gaun putih tulang. Ia bersama salah satu bodyguard milik keluarga Sadavir membuntuti Syahira dan Syamir hingga di Kontrakan.

__ADS_1


“Aku sudah mengetahui lokasinya. Baiklah, cukup untuk hari ini. besok aku akan kemari lagi.” Ucap Nyonya Fanya pelan. Ia pun beranjak pergi diikuti bodyguardnya.


__ADS_2