ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Pertemuaan


__ADS_3

Dianka memasak didapur untuk sarapan semua orang dirumah itu. Dia masak sangat banyak hari ini sebagai perayaan dihari pertama Dafa sekolah. Ibu Terry memperhatikan Dianka memasak.


"Sebagai istri memang sudah seharusnya bangun pagi seperti ini untuk membuat sarapan untuk suami dan anak"ucap Ibu Terry.


"Kamera filmnya udah ON aja, siap berakting semanis mungkin"ucap Dianka dalam hatinya.


"Selamat pagi Ma"ucap Dianda memberi salam.


"Pagi"ucap Ibu Terry singkat.


"Mama mau sarapan biar Dianka hidangkan kebetulan masakannya sudah matang"ucap Dianka.


"Oke, cepat hidangkan dimeja dan bangunkan suami dan anakmu biar kita sarapan bersama" ucap Ibu Terry.


"Baik Ma"ucap Dianka.


Dianka menghidangkan semua masakannya dimeja makan itu. Ibu Terry duduk dikursi memperhatikan pekerjaan Dianka.


"Jadi istri meski didapur harus tetap cantik, berdandanlah dan memakai dress yang cantik. Kau tahu Zion itu Bos yang dikelilingi banyak wanita. Jangan sampai suamimu tergoda wanita lain jika penampilanmu seperti itu"ucap Ibu Terry.


"Baik Ma, Dianka akan berdandan dan memakai dress"ucap Dianka.


"Bersikaplah romantis pada suamimu, Mama liat kalian kaku sekali kemarin. Kapan Dafa mau punya adik kalau kalian begitu"ucap Ibu Terry.


"Sabar Dianka demi 1 Milyar"ucap Dianka dalam hatinya.


"Baik Ma, oya Dianka ke atas dulu membangunkan suamiku dan anakku"ucap Dianka.


Dianka meninggalkan ruang makan dan naik ke kamar Zion. Dia langsung masuk dan membangunkan Zion yang masih santai tertidur pulas. Baru Dianka mendekat, Zion langsung bangun dan mengagetkannya.


"Da........."ucap Zion mengagetkan Dianka yang mendekat padanya.


"Zion........."ucap Dianka yang kaget.


"Gimana kaget ya? aku lapar sayang udah masak sarapan ya?"tanya Zion.


"Zion cepat mandi dan turun sarapan, Ibumu sudah jadi hansip sendari pagi tadi. Ternyata watakmu yang suka mengatur dan memerintah itu diturunkan dari Ibumu ya"ucap Dianka.


"Ibuku memang seperti itu, kau harus sabar tapi dia itu sebenarnya baik. Nanti kau akan terbiasa, ingat 1 Milyar"ucap Zion.


"Hih, kalau bukan karena 1 Milyar aku malas berakting seperti ini"ucap Dianka sambil menuju ke toilet.


"Sayang, kau mau mandi ya? mandi bareng yuk biar romantis"ucap Zion.


Mata Dianka melotot ke arah Zion. Seketika Zion langsung tersenyum ketakutan melihat Dianka melotot padanya.


"Hanya bercanda sayang, kitakan harus berakting romantiskan biar terlihat natural"ucap Zion.


Dianka masuk ke toilet, Zion keluar kamar untuk pergi fitnes sebentar diruangan fitnes dirumah itu. Setelah dirasa cukup berkeringat, Zion kembali ke kamarnya. Dia melihat Dianka begitu cantik berdandan dan mengenakan dress.


"Sayang kau cantik sekali, semangat kalau setiap hari melihatmu seperti ini, pagi-pagi gini jadi pengen"ucap Zion.

__ADS_1


Dianka langsung mendekati Zion dan memarahinya.


"Kau tahu aku seperti ini karena Ibumu yang memintanya jadi jangan berpikir macam-macam, ataupun memikirkan hal kotor yang ada diotakmu itu. Kalau tidak kau tanggung akibatnya, tanganku ingin sudah panas dari tadi belum menghajar orang"ucap Dianka.


"Sayang jangan ganas gini, aku hanya memujimu. Tenang aku tidak akan berbuat macam-macam kecuali kau yang memulainya"ucap Zion.


"Hih"ucap Dianka kesal.


Dianka, Dafa dan Zion turun untuk sarapan diruang makan. Mereka berkumpul untuk sarapan bersama. Selesai sarapan Zion berbicara pada Ibunya.


"Ma, aku mau mengantarkan Dafa sekolah. Hari ini hari pertamanya sekolah"ucap Zion.


"Sebagai ayah memang harus begitu, kasih sayang dan perhatian kita dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak"ucap Ibu Terry.


"Gak papa Mama aku tinggal dulukan?"tanya Zion.


"Dirumahmu inikan banyak pelayan dan pengawal untuk apa kau mencemaskanku. Antar anakmu, Dafa pasti senang kalian mengantarnya sekolah, betulkan Dafa?"ucap Ibu Terry.


"Betul Nenek, asyik.....Papa dan Bunda mengantar Dafa sekolah"ucap Dafa kegirangan.


Dianka tersenyum melihat Dafa begitu gembira saat Zion dan dirinya akan mengantarkan sekolah. Melihat pemandangan dimeja makan itu dia seolah memiliki keluarga kembali. Dianka berharap suatu hari memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia.


***********


Lara berdandan didepan kaca memperhatikan penampilannya. Dia ingin tampil sebaik mungkin dihari pertama Mahira sekolah. Gibran masuk kamar dan menghampirinya. Dia tahu istrinya itu sedang kebingungan memilih dress yang sesuai untuknya.


"Sayang, kau cantik memakai baju apa saja"ucap Gibran.


"Beneran, itu sebabnya aku selalu menempel terus padamu, habis kau cantik membuatku rindu terus"ucap Gibran.


"Pagi-pagi begini kau sudah menggombal sayang"ucap Lara.


"Ini kenyataan bukan gombalan, apa mau dibuktikan diranjang biar kau percaya"ucap Gibran menggoda.


"Sayang kau ini pagi-pagi sudah genit padaku" ucap Lara sambil memeluk Gibran.


"Habis aku akan terpisah darimu selama satu minggu ini, rasanya berat meninggalkanmu dan Mahira. Kalau bukan karena tugas negara, aku pasti memilih bolos"ucap Gibran.


"Sayang aku selalu bangga dengan pekerjaanmu. Kau bukan hanya suami dan ayah yang baik tapi juga abdi negara yang selalu patuh dan taat peraturan, aku selalu bersyukur telah dipertemukan denganmu dan hidup bersamamu" ucap Lara.


"Hei, aku juga bersyukur karena memiliki istri yang baik hati, cantik dan pintar memasak sepertimu, Lara semoga kita selamanya bersama sampai maut memisahkan kita"ucap Gibran.


"Iya sayang"ucap Lara.


"Ayo kita ke kamar Mahira, Ibu tadi menemaninya berkemas"ucap Gibran.


"Ayo"ucap Lara sambil melepas pelukannya.


Gibran dan Lara keluar dari kamar mereka menuju ke kamar Mahira. Terlihat Mahira sedang berkemas dibantu Ibu Gibran.


"Papa, Mama lihat tas Mahira lucu ya, ini hadiah dari Nenek"ucap Mahira.

__ADS_1


"Wah lucu sekali"ucap Lara sambil mendekati Mahira yang memakai tas miliknya.


"Makasih ya Bu"ucap Gibran.


"Sama-sama, Ibu jadi ingat saat kau seusia Mahira, dulu kau lompat-lompat kegirangan saat Ibu memberimu tas baru untuk sekolah dihari pertamamu. Rasanya sudah sangat lama, dan kini Ibu memiliki cucu yang cantik, manis dan lucu. Ibu bahagia diusia Ibu yang sudah tua ini masih bisa berkumpul bersama anak, menantu dan cucu Ibu"ucap Ibu Yuliana.


"Ibu....."ucap Gibran memeluk Ibunya.


Lara dan Mahira melihat Gibran memeluk Ibunya.


"Kemarilah, Ibu ingin memeluk kalian semua" ucap Ibu Yuliana pada Lara dan Mahira.


Akhirnya mereka berpelukan bersama. Kasih sayang Ibu memang tak terhingga. Lara bahagia memiliki keluarga yang begitu menyayanginya.


***********


TK Almanda


Zion, Dianka dan Dafa sampai di sekolah TK Almanda, mereka masuk ke TK tersebut. Sudah banyak para orangtua yang mengantarkan putra putri mereka. Dafa langsung berlari bergabung dengan anak-anak seusianya bermain diarea playground di TK tersebut. Zion dan Dianka berdiri sambil mengawasi Dafa.


"Zion, kau selalu menyebalkan, tapi untuk hari ini aku berterimakasih karena kau mau mengantar Dafa dihari pertamanya bersekolah"ucap Dianka.


"Hei, ini tidak gratis. Nanti malam temani aku nonton film dikamar ya"ucap Zion.


"Hih, sudah ku tebak, pasti ada maunya"ucap Dianka.


"Kau cantik kalau sedang marah, sering-seringlah marah ya, aku gemas melihatnya"ucap Zion.


Dianka hanya cemberut dengan ucapan Zion.


Tak lama Gibran, Lara dan Mahira datang di TK tersebut. Mahira langsung berlari ke arah playground, Gibran dan Lara membuntutinya. Lara melihat Dianka ada disitu. Mereka saling memandang. Ingatan masa lalupun muncul dipikiran mereka. Lara juga kaget melihat Zion yang mirip dengan Alex. Gibran yang mengenal Zion langsung menyapanya.


"Tuan Zion ada disini?"tanya Gibran.


"Iya, aku sedang mengantar anakku sekolah"ucap Zion.


"Berarti sama, saya juga sedang mengantar anak saya"ucap Gibran.


"Oya kenalkan ini istri saya"ucap Zion pada Gibran.


"Hah istri?"ucap Dianka kaget.


"Sayang ayo perkenalkan dirimu"ucap Zion.


"Oo....,saya Dianka senang bertemu dengan kalian"ucap Dianka.


"Oya ini istriku"ucap Gibran.


"Saya Lara, senang bertemu dengan kalian juga" ucap Lara.


Dianka dan Lara terlihat canggung. Tapi Zion dan Gibran malah asyik mengobrol. Lara bingung mengawali pembicaraan pada Dianka. Begitupun Dianka, dia bingung harus membicarakan apa.

__ADS_1


__ADS_2