ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Obat Pencahar dan Misi Yang Tidak Sempurna


__ADS_3

Alex bangun dari tidurnya disofa itu.Dia melihat ke sekeliling kamarnya untuk mencari Lara.Tapi dia tak menemukan Lara.Alex berdiri dan berjalan ke toilet untuk mandi,lalu berganti pakaian.Dia turun ke bawah menuju ruang makan.


Alex melihat Lara sedang memasak,dia langsung menghampiri Lara yang sedang memasak untuknya.Dia memeluk Lara dari belakang dan mencium rambutnya.


"Alex kau sudah bangun?"tanya Lara.


"Iya,aku lapar.Apa kau masak untukku?"tanya Alex.


"Iya, tunggulah dimeja makan nanti aku antarkan makanan ini untukmu"ucap Lara.


"Aku menunggumu sayang"ucap Alex.


Cup


Satu ciuman manis mendarat dipipi Lara. Kini Alex tak malu-malu mengungkapkan rasa sukanya pada Lara. Dendam dihatinya mulai mendingin. Dia terbuai cintanya pada Lara yang baru saja dimulai.


Alex menuju meja makan dan menunggu istrinya. Dia membaca koran bisnis sambil sesekali tersenyum seakan kini dia memiliki sebuah keluarga kecil yang baru. Lara masih sibuk memasak makanan untuk Alex.


"Apa ku beri racun saja makanan ini? Alex pasti langsung mati, terus aku bisa bebas dari tempat ini. Tapi bagaimana dengan janjiku pada William? Ricard bilang Willian tidak suka dibohongi"ucap Lara dalam hatinya.


"Ya Allah, maafkan aku jika aku nembenci suamiku sendiri" batin Lara.


"Mungkin ku beri obat pencahar saja, paling tidak aku bisa sedikit membalasnya"ucap Lara.


"Kau harus mendapatkan balasan yang setimpal Alex, aku akan membuatmu jadi mangsaku sekarang. Ardi tenanglah disana, aku akan membayar atas semua perlakuan Alex padamu"ucap Lara dalam hatinya.


Lara menambahkan obat pencahar dalam makanan Alex. Dia tersenyum saat menaruh obat itu.Lara berjalan ke meja makan membawa masakannya untuk Alex. Baru diletakkan, Ibu Maria dan Sila mengambilnya lalu memakan makanan itu.


"Ibu, Sila, itu makanan untuk Alex"ucap Lara.


"Hei kau, berani sekali bicara seperti itu padaku" ucap Sila.


"Biar ku beri pelajaran dia"ucap Ibu Maria.


Ibu Maria berdiri dan menarik rambut Lara.

__ADS_1


Lara kesakitan saat tangan Ibu Maria menarik semakin kencang.Lalu Alex meraih tangan Ibu Maria dan meremasnya.


"Jika kau berani lagi menyakiti mainanku, maka tanganmu ini akan ku patahkan berkeping-keping" ucap Alex.


"Kak Alex, maafkan ibu"ucap Sila.


Alex melepaskan tangan Ibu Maria dan bicara pada Ibu Maria dan Sila.


"Pergi kalian sekarang dari hadapanku, kalau masih mau tinggal disini"ucap Alex.


"Baik"ucap Ibu Maria dan Sila secara bersamaan.


Mereka meninggalkan ruang makan itu. Tinggal Alex dan Lara yang ada diruang makan itu. Tanpa berbicara Alex langsung membelai rambut Lara perlahan. Dia tersenyum manis pada istrinya. Senyuman yang tak pernah ditunjukkan pada Lara sebelumnya.


"Sayang, aku akan pergi keluar. Jika kau ingin pergi keluar, ada mobil pribadi beserta supirnya untukmu"ucap Alex.


"Iya Mas, terimakasih"ucap Lara.


"Pergilah, biar aku bebas mengeledah rumahmu" batin Lara.


Alex langsung pergi keluar meninggalkan Lara. Lara bernafas lega, akhirnya Alex mulai percaya padanya dan mulai bersikap manis padanya. Ini saatnya untuk mencari bukti untuk menjebloskan Alex ke penjara.


"Bu aku sudah ke toilet 10 kali tapi perutku masih saja sakit"ucap Sila.


"Ibu sudah 15 kali malah,perut ibu melilit terus. Aduh Ibu mau ke toilet lagi"ucap Ibu Maria.


Mereka memakan makanan yang sudah diberi obat pencahar oleh Lara, yang seharusnya untuk Alex. Mereka sakit perut yang tak habisnya meski bolak-balik ke toilet.


************


Alex pergi ke apartemen pribadinya untuk bertemu dengan Dianka. Dianka sudah menunggunya di apartemen itu. Alex duduk disofa itu lalu menyuruh Dianka melaporkan misinya.


"Alex aku sudah memberikan racun pada makanan tiga orang itu, mereka sudah memakannya dengan habis. Kemungkinan sekarang mereka sudah mati. Racun itu sangat mematikan,produk buatan perusahaanmu"ucap Dianka.


Alex berdiri dan menghampiri Dianka lalu menepuk pundaknya.

__ADS_1


Plaaak.......


"Aw...."ucap Dianka kesakitan.


"Kenapa? kau terlihat kesakitan"ucap Alex.


Alex menepuk pundak Dianka lagi.


Plaaak.......


"Aw..."ucap Dianka kesakitan.


"Apa yang terjadi padamu Dianka? apa misimu benar-benar clear and clean? atau masih meninggalkan jejak?"tanya Alex.


"Ini hanya luka tembak biasa"ucap Dianka.


"Dianka jam terbangmu sudah tinggi, bahkan kau sudah membunuh begitu banyak orang dengan tanganmu sendiri. Hanya hal kecil seperti ini kau tak bisa mengatasinya"ucap Alex.


"Aku kurang fit kemarin"ucap Dianka.


"Dianka"ucap Alex meremas pundak Dianka yang terluka.


"Aw...sakit Alex"ucap Dianka.


"Kau tahu aku paling tidak suka kata gagal, jika polisi menemukan jejak darahmu yang menetes dijalanan maka mereka akan menemukanmu dan mencurigaiku"ucap Alex.


"Aku tahu, tapi aku sudah berhasil kabur dari kejaran polisi"ucap Dianka.


Alex melepas tangannya dari pundak Dianka. Lalu dia kembali duduk disofa.


"Sementara, tugasmu akan digantikan Ricard. Kau bersembunyilah dulu sampai keadaan terkendali" ucap Alex.


"Baik Bos"ucap Dianka.


Dianka keluar dari apartemen Alex, dia menuju basement apartemen itu dan mengambil mobilnya. Dia mengendarai mobilnya menuju rumah pribadinya.

__ADS_1


"Alex aku sudah melakukan banyak hal untukmu, bahkan aku hampir mati saat kau hampir dibunuh Gengster Kalajengking. Semua sudah ku berikan untukmu, tapi kau selalu kurang dan memintaku melakukan lebih. Kau sudah sangat berubah.Aku rindu kau yang dulu Alex. Ingin rasanya aku pergi dari hidupmu. Tapi aku takut terjadi sesuatu padamu. Selama ini aku selalu berusaha melindungimu, jika aku pergi siapa yang akan melindungimu"ucap Dianka.


Dianka meneteskan air matanya, dia merasa Alex sudah sangat berubah. Dia sekarang hanya robot yang hanya bisa mematuhi perintah Alex.


__ADS_2