ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Generation 2 : Part 26


__ADS_3

Malam itu Mahira belum pulang. Alex dan Lara masih duduk di ruang tamu menunggunya pulang. Sudah jadi kebiasaan mereka, kalau Mahira belum pulang pasti mereka belum tidur dan menunggunya sampai pulang. Maklum Mahira anak perempuan, mereka selalu berusaha melindunginya dan memantau semuanya agar Mahira baik-baik saja. Lara berdiri di depan jendela kaca sembari sesekali membuka gorden, berharap Mahira segera pulang.


"Ma duduklah! nanti encokmu kambuh lagi," pinta Alex.


"Udah malem, Mahira kok belum pulang Pa," ujar Lara.


"Mungkin masih di jalan Ma, coba telpon lagi," saran Alex.


"Tadi dah ditelpon tapi gak diangkat," sahut Lara.


"Mungkin lagi di jalan Ma," ujar Alex.


Mereka terus menunggu Mahira. Sambil sesekali menelponnya kembali walau belum kunjung diangkat olehnya.


Di tempat yang berbeda. Mahira baru saja turun ke lobi. Dia keluar dari perusahaannya. Kebetulan malam itu pekerjaannya menumpuk, jadi Mahira harus lembur sampai malam. Dia mengendarai mobilnya sendiri, keluar dari area perusahaannya.


Baru setengah jam mengendarai, tiba-tiba habdphone-nya berdering. Mahira coba mengenakan headseat untuk mengangkat telpon dari Alex.


"Hallo Pa."


"Hallo sayang, kau sudah pulang?"


"Ini baru pulang Pa, lagi di jalan."


"Lain kali jangan pulang malam-malam, biar bagaimana pun kau perempuan, tidak baik pulang larut malam."


"Iya Pa, ini juga dah pulang."


Baru bicara beberapa kata, mobil Mahira hilang kendali, remnya blong. Dia berusaha mengendalikan mobilnya tapi tak bisa, terus melaju dengan kecepatan yang tinggi.


"Mahira ... Mahira ..." Alex terus memanggilnya tapi Mahira yang panik tak menjawab ucapan Papanya.


Mobil melaju terus tanpa bisa dihentikan. Mahira ketakutan, dia tidak tahu harus bagaimana, tiba-tiba mobilnya menabrak seseorang yang hendak menyeberang.


Bruuuug ...


Orang yang ditabrak Mahira terpental, setir mobil pun dibanting ke kanan hingga menabrak pohon. Barulah mobil berhenti. Kepala Mahira terbentur stir mobil hingga berdarah di dahi dan hidungnya.


Untung saja dia tidak apa-apa. Mahira keluar dari mobil dan mencari sesuatu yang ditabraknya. Dia berjalan ke tengah jalan. Tergeletak seorang wanita cantik yang sudah berlumur darah. Seketika Mahira terdiam ketakutan. Beberapa saat kemudian Mahira memberanikan diri mengecek kondisi wanita itu. Dia meletakkan tangannya di hidung wanita itu.


"Sudah tak bernafas ...," ucap Mahira. Tubuhnya lemas seketika, rasa bersalah memenuhi pikirannya. Dia merasa susah menjadi seorang pembunuh.


"Aku sudah membunuhnya," ucap Mahira.


Mahira berjalan kembali ke mobil dengan wajah yang dipenuhi beban, dia mengambil handphone-nya lalu menelpon Papanya.

__ADS_1


"Mahira kenapa terputus?"


"Pa aku ... aku ..."


"Kenapa Nak?


"Aku menabrak orang sampai mati Pa."


"Apa?" Alex terkejut.


Mahira hanya menangis. Dia merasa sangat bersalah.


"Sudah, jangan panik. Tunggu Papa, jangan kemana-mana. Papa akan segera datang."


"Iya Pa."


Mahira menutup telponnya. Dia duduk di samping mobilnya. Malam itu jadi mimpi buruknya. Dia sudah membuat seorang wanita meninggal.


Tak lama Alex sampai di tempat kejadian. Alex membawa anak buahnya untuk membersihkan tempat kejadian. Dia menghampiri Mahira yang duduk di samping mobilnya sambil menangis.


"Mahira."


"Papa!"


Alex langsung memeluk putrinya.


"Sudah ..., sudah Nak, pasti kau tak sengaja. Papa yakin itu."


"Tapi Pa, dia meninggal, semua ini salah Mahira."


"Tenang nak, ceritakan sama Papa apa yang terjadi."


Mahira menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai dia menabrak wanita itu. Dia terus menangis dan menyalahkan dirinya.


"Sudah Nak, semua ini takdir. Kau tidak bersalah. Ini tidak disengaja."


Alex berusaha menenangkan putrinya. Dia yakin Mahira tidak bersalah, apapun akan dilakukan untuk mengamankan putrinya.


"Bos tidak ada CCTV di jalan ini, tidak ada saksi, dan ini kartu identitas wanita itu," ucap anak buah Alex sambil memberi kartu identitas wanita itu.


"Bagus, bersihkan tempat kejadian!" perintah Alex.


"Baik Bos."


Mahira hanya diam. Dia masih syok dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba. Tak pernah terbayangkan akan terjadi seperti itu.

__ADS_1


"Bos ada polisi patroli."


"Ayo pergi!" perintah Alex.


"Oke Bos."


Alex mengajak Mahira pergi meninggalkan tempat itu karena ada polisi yang sedang patroli malam.


Sampai di rumah Mahira masuk kamar. Dia mengunci pintu kamarnya, duduk di depan pintu sambil menangis. Dia merasa sangat bersalah.


"Aku sudah membunuhnya. Aku pembunuh."


Mahira terus menyalahkan dirinya. Dia menyaksikan sendiri kejadian itu sampai membuat seorang wanita yang tak bersalah ditabtrak olehnya.


Di ruangan kerja, Alex dan anak buahnya sedang bicara. Alex duduk di kursi kerjanya sedangkan anak buahnya berdiri menghadapnya.


"Cari tahu seperti latar belakang pemilik kartu identitas itu!" perintah Alex.


"Baik Bos."


"Kalau bisa, besok pagi, kalian sudah mendapatkan informasinya," ucap Alex.


"Siap Bos."


Anak buah Alex keluar dari ruangan itu setelah selesai bicara dengannya. Di kursi Alex masih duduk memikirkan masalah yang terjadi pada putrinya.


"Polisi pasti sudah menemukan kecelakaan itu, besok aku harus bergerak lebih cepat dari polisi, Mahira harus terbebas dari hukuman," ujar Alex.


Lara yang merasa cemas melihat putrinya mengunci pintu, menghampiri Alex di ruangan kerjanya.


"Pa, apa yang sudah terjadi? kenapa Mahira mengunci pintu kamarnya?" tanya Lara.


"Tadi Mahira menabrak orang sampai meninggal," jawab Alex.


"Apa? Papa gak salah ngomongkan Pa?" tanya Lara memastikan kembali.


"Tidak," jawab Alex. Ekspresi di wajahnya datar. Penuh kesedihan mendalam. Sebagai seorang ayah tentunya Alex bisa merasakan beban mental yang dirasakan putrinya saat ini.


"Kenapa bisa terjadi seperti ini Pa?" tanya Lara.


Alex menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Lara. Seketika Lara menangis. Alex berdiri, berjalan menghampiri Lara dan memeluknya.


"Sabar Ma, semua yang terjadi sudah takdir untuk Mahira."


"Bagaimana kalau anak kita dipenjara Pa?" tanya Lara sambil menangis.

__ADS_1


"Papa akan melakukan apapun agar Mahira bebas hukum Ma," jawab Alex.


Mereka berdua berbagi kesedihan. Bukan karena kejadian ini, tapi perasaan Mahira yang saat ini pasti hancur. Belum lagi masalah hukum yang harus dihadapi.


__ADS_2