
Chaiden sedang berada di perusahaan cabangnya, ada beberapa berkas yang harus ditandatanganinya. Setelah jam istirahat dia keluar dari ruangan kerjanya, dia melihat Almira yang sedang berjalan tepat di depannya. Chaiden berusaha untuk menyusul Almira kemudian dia memanggilnya.
"Almira," panggil Chaiden.
"Presdir," ucap Almira.
"Kau mau pergi makan siang ya?" tanya Chadein.
"Iya Presdir," jawab Almira.
"Bagaimana kalau kita makan bersama di cafe depan?" tanya Chaiden.
"Oke, kebetulan di sana makanannya enak," jawab Almira.
Chaiden dan Almira berjalan menuju cafe di depan perusahaan. Mereka duduk di cafe itu kemudian mulai memesan makanan. Tak lama pesanan datang, Chaiden dan Almira mulai memakan makanan mereka.
Ketika mereka sedang makan, Vita masuk ke cafe di mana Chaiden dan Almira sedang makan bersama. Vita berjalan mencari meja yang kosong. Tanpa disengaja dia melihat Chaiden dan Almira yang sedang makan bersama. Vita tidak tahu wanita yang sedang makan bersama dengan Chaiden. Vita memiliki sebuah ide licik, dia memfoto mereka berdua.
"Akan ku kirimkan foto ini pada Mahira," ucap Vita.
Vita sengaja ingin membuat Mahira cemburu dan marah pada Chaiden. Agar dia punya kesempatan untuk mendekati Chaiden kembali.
Tak lama setelah mendapat foto dari Vita, Mahira datang ke cafe itu. Dia langsung menuju meja di mana Chaiden dan Almira berada. Mereka berdua melihat Mahira berjalan menuju ke arahnya. Setelah dekat dengan meja itu Mahira baru tahu yang makan berdua dengan Chaiden adalah Almira adiknya.
"Kak Mahira," ucap Almira.
"Mahira," ucap Chaiden.
"Kalian sedang makan siang ya?" tanya Mahira.
__ADS_1
"Kebetulan aku sedang di perusahaan cabang jadi sekalian mengajak Almira makan siang," ujar Chaiden.
"Kak Mahira mau makan juga biar ku pesankan?" tanya Almira.
"Tidak usah, kakak mau menemui seseorang dulu," jawab Mahira setelah itu pergi meninggalkan Chaiden dan Almira.
Mahira menuju meja di mana Vita duduk di cafe itu, lalu Mahira memarahi Vita karena sudah membuat gosip yang tidak jelas.
"Vita kamu sengajakan memfoto Chaiden dan Almira supaya aku cemburu dan marah pada merekakan?" pekik Mahira
"Iya, memang kenapa?" tanya Vita.
"Kamu ya gak berhenti mengganggu hidupku," jawab Mahira.
"Itu karena kamu gak mau ninggalin Chaiden," ucap Vita.
"Baik karena itu maumu, aku akan terus mengganggu hidupmu sampai kau rela melepas Chaiden," ucap Vita sambil meninggalkan Mahira.
Setelah Vita pergi meninggalkan Mahira, Almira dan Chaiden menghampiri Mahira. Mereka menanyakan apa yang terjadi pada Mahira dan Vita.
"Kak wanita itu siapa? kenapa kakak begitu marah padanya?" tanya Almira.
"Mahira, apa yang dikatakan Vita padamu?" tanya Chaiden.
"Vita tadi memfoto kalian berdua lalu mengirimnya padaku supaya aku cemburu dan marah," jawab Mahira.
"Dia sepertinya terus saja mengganggumu Mahira, biar aku buat perhitungan dengannya," ujar Chaiden.
"Iya Kak, kalau dia mengganggu kakak, aku juga akan buat perhitungan dengannya," ucap Almira.
__ADS_1
"Tidak usah, tadi aku sudah memarahinya," timbal Mahira.
Setelah itu mereka memutuskan untuk kembali ke perusahaan. Mereka berjalan di jalan raya untuk menyeberang ke arah perusahaan Chaiden di seberang jalan. Mahira berada di samping kiri, Chaiden di tengah dan Almira di samping kanan. Ada sebuah mobil dari arah kiri melaju cepat tak terkendali. Mahira hanya kaget tak sempat menyelamatkan diri. Chaiden langsung mendorong Mahira dan Almira dengan kedua tangannya tapi malah Chaiden yang tertabrak mobil itu.
"Chaideeeen ...," teriak Mahira dan Almira bersamaan.
Chaiden terpental dan jatuh di jalan raya itu dengan keras. Mahira dan Almira berlari ke arah Chaiden, mereka melihat Chaiden sudah berlumur darah. Beberapa warga langsung berdatangan. Mahira dan Almira mendekati Chaiden dan menangis kencang. Salah satu warga menelpon ambulan. Tak lama Ambulans sampai di tempat kejadian, lalu membawa Chaiden ke rumah sakit. Mahira dan Almira ikut naik ke ambulan itu. Baju mereka penuh dengan darah Chaiden. Mahira dan Almira terus memegangi tangan Chaiden yang penuh darah itu, dia mulai tak sadarkan diri.
Sampai di rumah sakit Chaiden langsung dibawa ke ruang UGD, setelah itu dibawa ke ruang operasi. Ibu Rika dan Sisi sudah ada di sana. Sisi tak hentinya menangis. Mahira, Almira, Ibu Rika dan Sisi berada di luar ruang operasi. Sisi mendekat ke arah Mahira berada.
"Mahira ini semua karena kau, Kak Chaiden jadi begini," ucap Sisi.
"Maafkan aku Sisi hik ... hik ...," ucap Mahira sambil menangis.
"Aku sangat menyayangi Kak Chaiden, jika terjadi sesuatu pada Kak Chaiden, aku tidak akan memaafkanmu," ujar Sisi.
"Sisi semua ini terjadi begitu saja, ini kecelakaan yang tidak disengaja hik ... hik ...," ucap Almira sambil menangis.
"Diam kau! aku tidak menyuruhmu bicara," ucap Sisi.
"Sisi sudah-sudah, lebih baik kita berdoa untuk kelancaran operasi Chaiden," ucap Ibu Rika.
Setelah dinasehati Ibu Rika, emosi Sisi mereda. Sisi memang sangat menyayangi kakaknya. Dia begitu ketakutan jika sesuatu terjadi pada Chaiden.
Setelah 2 jam operasi itu selesai, dokter bicara pada Ibu Rika mengenai kondisi Chaiden. Mendengar kabar dari dokter Ibu Rika langsung menangis. Dia tidak bisa menerima semua itu.
Almira dan Mahira mendekati Ibu Rika, mereka berusaha menguatkan hati Ibu Rika walaupun mereka sendiri juga sedih. Setelah itu Chaiden dibawa ke ruang perawatan. Mahira, Almira, Ibu Rika dan Sisi masuk keruangan perawatan itu. Chaiden masih belum sadarkan diri. Mereka menunggu Chaiden sampai berjam-jam dan belum sadarkan diri.
"Bu apa kata Dokter? kenapa Chaiden belum sadarkan diri juga?" tanya Almira.
__ADS_1