
Dianka membawa bubur ayam itu ke kamar Zion. Dia masih berbaring sampai jam 9 pagi. Zion terlihat pucat dan terus menggigil. Dianka menghampirinya, dia naik ke ranjang itu dan membuka selimut yang menyelimuti tubuh Zion.
"Ayo cepat makan bubur ayamnya, setelah itu kau minum obat"ucap Dianka.
"Sayang aku tak bisa makan sendiri tolong suapi aku"ucap Zion.
"Saat sakit begini kau mirip anak burung, manja sekali"ucap Dianka.
"Ayolah aku sudah berusaha manis padamu"ucap Zion.
"Baiklah, lagian kalau kau sakit lebih lama lagi, aku yang akan kerepotan mengurusmu"ucap Dianka.
Dianka menyuapi Zion makan bubur ayam itu. Zion hanya tersenyum melihat Dianka menyuapinya. Selesai makan Dianka membawa obat untuk diminum Zion.
"Minum obat ini biar demammu turun"ucap Dianka.
"Aku tidak mau minum obat, rasanya pahit"ucap Zion.
"Kau ini mirip anak kecil saat minum obat ya, lihat dirimu sudah tua juga. Apa sulitnya sih minum obat"ucap Dianka.
"Beri aku ciuman setelahnya baru aku akan minum obat"ucap Zion.
"Hih, kau itu banyak maunya, kenapa juga kau harus sakit merepotkanku jadinya. Yasudah aku akan memberimu ciuman tapi kau tutup mata ya"ucap Dianka.
"Nah kalau begini aku semangat minum obatnya" ucap Zion.
Zion meminum obat yang diberikan Dianka. Setelah obat itu diminum, dia menangih janji ciuman dari Dianka.
"Ayo cium aku sekarang"ucap Zion.
"Dia ini benar-benar menyebalkan"ucap Dianka dalam hatinya.
Zion menutup matanya dan Dianka mendekatinya untuk memberikan ciuman. Saat mulai dekat, suara teriakan seseorang terdengar dari lantai bawah.
"Zion......Zion........."ucap Ibu Terry.
Dianka dan Zion kaget sehingga tak jadi berciuman.
"Mama, kenapa dia datang secepat ini"ucap Zion.
"Siapa Zion?"tanya Dianka.
"Ikut aku"ucap Zion.
Zion menarik lengan Dianka untuk ikut bersamanya turun ke lantai bawah. Ibu Terry sudah berdiri di ruangan depan tangga.
"Pagi Ma, kok datang tidak memberi kabar"ucap Zion.
"Kau selalu sibuk mana mungkin mau menerima telpon Mama, lagian kau ini kapan mau pulang ke rumah"ucap Ibu Terry.
"Aku sudah betah dinegara ini, Oya kenalkan ini istriku Ma"ucap Zion merangkul Dianka dari samping.
"Istri?"ucap Dianka bingung.
Zion memberi kode senyuman pada Dianka agar mau menuruti sandiwaranya.
"Istrimu, yang betul. Kenapa kau menikah tidak bilang pada Mama, lalu gimana dengan Reva?"tanya Ibu Terry.
"Gimana ya Ma? suruh dia melupakan Zion saja"ucap Zion.
Dafa turun dari tangga dan menghampiri mereka yang sedang mengobrol.
"Papa, siapa nenek ini?"tanya Dafa mendekati Zion.
"Oya Ma ini anakku"ucap Zion.
"Anakmu?...tapi memang mirip denganmu saat kecil dulu"ucap Ibu Terry sambil memerhatikan Dafa.
__ADS_1
"Dafa ini nenek Dafa, mulai sekarang panggil dia nenek"ucap Zion.
"Nenek"ucap Dafa memeluk Ibu Terry.
"Kau tampan seperti Papamu saat seusiamu" ucap Terry.
"Zion, Mama belum bisa dengan mudah menerima istrimu, dia harus menunjukkan bahwa dia layak menjadi istrimu"ucap Ibu Terry.
"Apa?....aku se......"ucap Dianka langsung ditutup mulutnya dengan tangan kiri Zion.
"Tenang Ma, Dianka ini serba bisa. Dia pandai mengurus rumah, anak, kerja dikantor, dan pandai bela diri jadi Zion aman saat bersamanya"ucap Zion.
"Mama akan tinggal disini beberapa hari, istrimu harus bisa membuat Mama kagum padanya" ucap Ibu Terry.
Setelah perbincangan itu, Ibu Terry beristirahat dikamar tamu. Sementara Dianka ditarik Zion ke kamarnya.
"Zion kau gila, aku bukan istrimu. Kenapa kau membawaku dalam urusan keluargamu"ucap Dianka.
"Dianka ku perintahkan untuk beberapa hari ini kau bersandiwara jadi istriku berserta anakmu" ucap Zion.
"Hei kau tak bisa seenaknya begitu, aku tidak mau bersandiwara seperti ini"ucap Dianka.
"Ingat, kau harus mengikuti perintahku kalau ingin tetap bersama Dafa, kau ingat"ucap Zion.
"Hih"ucap Dianka kesal.
Dianka mau keluar kamar Zion, tapi dihalangi Zion dan ditarik ke ranjang.
"Hei kau mau apa? bukannya ini sandiwara"ucap Dianka.
"Ibuku itu bergentayangan dimana-mana, untuk sementara kau tidur denganku, dan kamarku ini kamarmu untuk selama ibuku ada disini"ucap Zion.
"Apa?.....aku tak mau satu kamar dengan monster seperti mu. Bisa saja kau melakukan sesuatu yang jahat padaku saat aku tidur"ucap Dianka.
"Untuk apa saat kau tidur, sekarang kalau aku mau juga bisa"ucap Zion mendekati Dianka yang duduk diranjang itu.
"Melakukan sesuatu yang biasa dilakukan suami dan istri"ucap Zion semakin mendekat hingga wajah mereka berdekatan.
"Zion ingat janjimu"ucap Dianka.
Zion mendekati Dianka hingga menyudutkannya.
"Kau sudah takut duluan, ternyata mudah menaklukkanmu. Kau bahkan tak menolak jika aku menyentuhmu"ucap Zion.
"Sembarangan, siapa yang mau kau sentuh"ucap Dianka.
Dianka mengambil bantal lalu memukul Zion.
Blug....blug......blug........
"Aw.......sakit kau ini, belum aku apa-apakan saja sudah mengigit"ucap Zion.
"Makanya ingat janjimu, awas saja kau berani mengingkarinya"ucap Dianka.
Zion turun dari ranjang berusaha menghindar dari pukulan bantal itu tapi Dianka tetap mengejarnya.
"Hei, kau ini buas sekali, siapa yang mengajarimu seperti ini"ucap Zion.
"Aku belum puas sebelum memberimu pelajaran" ucap Dianka mengejar Zion.
Mereka kejar-kejaran dikamar itu sampai lelah. Dan akhirnya mereka berbaring diranjang dan tertidur karena kelelahan.
***********
Lara sedang mengajari Carlos menari disanggar tari itu. Carlos memperhatikan semua gerakan yang diajarkan Lara padanya. Lara memberi contoh tarian berpasangan pada Carlos. Setelah itu Lara dan Carlos menari berpasangan. Carlos merasa canggung saat berdekatan dengan Lara.
"Kenapa perasaanku jadi gak karuan saat berdekatan seperti ini"ucap Carlos dalam hatinya.
__ADS_1
"Carlos seimbangkan gerakkanmu denganku" ucap Lara yang sedang menari didekatnya.
"Baik, maaf tadi aku kurang fokus"ucap Carlos.
"Tidak apa-apa, terkadang penari juga sering kehilangan fokusnya tapi kau harus berusaha tetap konsentrasi agar tarianmu benar dan bagus. Selain ini bisa dinikmati karena tarian yang kita suguhkan begitu indah"ucap Lara.
Setelah berlatih beberapa kali, mereka akhirnya beristirahat. Lara dan Carlos makan dikursi bawah pohon disanggar itu. Selesai makan mereka berbincang.
"Lara, apa kau sudah menikah?"tanya Carlos.
"Aku sudah menikah bahkan sudah memiliki seorang putri kecil"ucap Lara.
"Siapa suamimu?"tanya Carlos.
"Gibran, dia seorang polisi"ucap Lara.
"Oh.....keluarga kecilmu pasti bahagia"ucap Carlos.
"Ya, Gibranlah yang membuat keluarga kecilku bahagia. Dia selalu berusaha membahagiakan kami. Dia membuat hidupku yang gelap menjadi terang dan memberiku kehidupan baru yang bahagia"ucap Lara.
"Kau beruntung bertemu dengannya"ucap Carlos.
"Kenapa hatiku tak nyaman saat Lara menceritakan Gibran"ucap Carlos dalam hatinya.
"Aku memang beruntung bertemu dengannya saat itu, aku sangat mencintainya. Oya kok aku terus yang bercerita. Kau sendiri apa sudah punya pacar?"tanya Lara.
"Selama ini belum ada satupun wanita yang membuatku tertarik untuk mencintainya, jadi aku masih sendiri"ucap Carlos.
"Aku tak percaya artis papan atas sepertimu masih sendiri, padahal pemberitaan itu ramai sekali memberitakanmu dengan banyak wanita" ucap Lara.
"Itu hanya kebutuhan popularitas semata, sebenarnya aku sendiri tak pernah memiliki seseorang yang aku cintai"ucap Carlos.
"Kalau begitu mulai sekarang carilah cinta sejatimu"ucap Lara.
"Ada seseorang yang menarik perhatianku, tapi sepertinya aku takkan bisa memilikinya"ucap Carlos memandang Lara.
"Oya, perjuangkan dong kalau kau cinta padanya" ucap Lara.
"Ingin, tapi aku takut malah menyakitinya"ucap Carlos.
"Yasudah, ayo kita berlatih lagi waktu istirahatnya sudah selesai"ucap Lara.
"Baik"ucap Carlos.
Mereka kembali berlatih menari lagi. Lara terus mengajari Carlos sampai dia mampu menari dengan benar dan indah dilihat.
**********
Lara pulang ke rumah cukup larut malam karena harus pergi ke rumah produksi Beutiful Garden untuk mengurus beberapa keperluan yang berhubungan dengan film tersebut. Lara masuk ke kamar dan melihat banyak bunga berjejer dikamarnya. Dia bingung kenapa banyak bunga dikamarnya. Gibran keluar membawa kue ulang tahun untuk Lara.
"Selamat ulang tahun sayang"ucap Gibran.
"Terimakasih sayang, aku saja tidak ingat hari ulang tahunku"ucap Lara
"Malam ini perayaan untuk kita berdua saja, besok kita merayakan bersama Mahira dan Ibu" ucap Gibran.
"Aku cinta padamu sayang"ucap Lara.
"Aku juga sangat mencintaimu, ayo potong kuenya"ucap Gibran.
Lara memotong kue itu dan menyuapinya ke mulut Gibran. Mereka saling suap menyuapi kue itu sampai habis.
"Kenyangnya"ucap Lara sambil berbaring diranjang.
"Apa kau senang sayang dengan semua surprise yang ku berikan?"tanya Gibran.
"Aku senang sekali atas semuanya, atas hadirmu dihidupku, dan lahirnya putri kecil diantara kita. Aku sangat bahagia bersamamu sayang"ucap Lara lalu memeluk Gibran.
__ADS_1
Gibran memeluk Lara balik, mereka saling berpelukan dan melepas semua penat hingga mereka tertidur dengan nyaman.