
Malam itu Zion pergi ke luar untuk bertemu Yuma. Dia mengendarai mobilnya menuju apartemen milik Yuma. Sampai diaparteman, Zion dan Yuma duduk dibar kecil milik Yuma.
Mereka duduk sambil berbincang dan minum.
"Zion minum ini"ucap Yuma.
"Gue udah gak minum itu lagi"ucap Zion.
"Wah mendadak suami idaman loh"ucap Yuma.
"Semenjak bersama Dianka, gue merasa ingin lebih baik, gue pengen bisa jadi orang yang dicintainya sebagai Zion bukan karena mirip Alex" ucap Zion.
"Hidup Lo dalam bayang-bayang Alex, itu yang membuat Lo takut Dianka tidak benar-benar mencintai Lo tapi karena Lo mirip Alex begitu" ucap Yuma.
"Iya, gue takut suatu saat Alex kembali dan mengambil Dianka dari gue"ucap Zion.
"Bukannya Alex sudah dihukum mati?"tanya Yuma.
"Agen rahasia yang gue bayar untuk menyelidiki kasus Alex bilang ada keganjalan setelah Alex ditembak mati, ada keraguan jika yang dimakamkan itu Alex atau bukan"ucap Zion.
"Berarti ada yang sengaja mengincar Alex setelah ditembak mati, tapi apa mungkin setelah ditembak mati Alex masih bisa hidup"ucap Yuma.
"Mungkin saja, jika orang itu sangat berpengaruh dan memiliki kekuatan yang bisa menggerakkan apa saja sesuai kemauannya"ucap Zion.
"Jika benar Alex masih ada kemungkinan hidup, Dianka mungkin akan memilih Alex. Biar bagaimanapun dulu dia begitu mencintai Alex, bahkan mereka telah bersama sejak kecil. Selain itu Alex adalah ayah biologis Dafa"ucap Yuma.
"Gue harus bisa membuat Dianka mencintai gue apa adanya, bukan karena gue mirip Alex"ucap Zion.
"Dua saudara yang mencintai satu orang yang sama, satu masa lalunya dan yang satu masa depannya"ucap Yuma.
"............"Zion hanya diam.
"Zion, Lo harus tetap optimis, Dianka pasti bisa mencintai Lo"ucap Yuma.
__ADS_1
"Gue gak akan melepas Dianka dari hidup gue, dia orang yang berharga untuk gue, meski nanti gue harus bersaing dengan Alex sekalipun"ucap Zion.
"Nah gitu baru laki, Lo harus perjuangkan cinta Lo, apalagi dia cinta pertama Lo"ucap Yuma.
"William juga mengincar Dianka, lelaki itu takkan menyerah mendekati Dianka"ucap Zion.
"William?......bukannya lelaki itu selalu haus perempuan. Aku dengar dia selalu mengincar gadis perawan. Entah berapa banyak gadis yang sudah tidur dengannya. Lelaki itu tidak pantas bersama Dianka, walaupun dia mencintai Dianka" ucap Yuma.
"Apa bedanya William dengan gue?....bahkan gue dulu juga pernah beberapa kali bermalam dengan wanita, aku dan William memiliki peluang yang sama untuk mendapatkan Dianka, tapi jika Alex juga ada, mungkin sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya"ucap Zion.
"Rumit,....kalian bertiga memperebutkan Dianka, semuanya punya peluang yang sama. Meski Alex peluangnya lebih besar tapi semua itu tergantung Dianka"ucap Yuma.
"Gue bukan orang baik atau malaikat yang tak memiliki dosa, yang mungkin pantas dipilih oleh Dianka, dan mungkin saja Dianka ragu untuk bersama gue dengan masa lalu gue yang kelam" ucap Zion.
"Bro, yang terpenting itu Lo sekarang udah jauh lebih baik dan gue lihat Lo juga banyak memperbaiki diri, gue rasa Dianka juga tahu itu. Dia saja tetap tinggal dirumah Lo meskipun gue tahu dia bisa saja kabur membawa Dafakan, tapi dia tetap tinggal bersama Lo dan setiap hari bercengkrama dengan Lo, itu tandanya dia nyaman bersama Lo"ucap Yuma.
"Ya semoga saja itu benar, gue pengen bisa ada ada dihatinya dan jadi orang yang dia cintai"ucap Zion.
Zion senang bisa bercerita masalahnya pada Yuma. Hanya pada Yuma Zion bisa mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Dia begitu takut kehilangan Dianka.
Setelah selesai melakukan penyelidikan ditempat kejadian perkara, Gibran menuju ke kantor polisi. Sampai dikantor polisi, dia turun dari mobilnya menuju ke dalam kantor. Saat sampai dikantor sekitar jam 1 siang, semua teman sejawatnya sedang beristirahat untuk makan siang. Saat Gibran masuk ke kantin, teman-teman sejawatnya sedang makan-makanan enak. Bahkan makanan itu tersedia begitu banyak dimeja parasmanan dikantin itu. Gibran penasaran lalu bertanya pada teman sejawatnya.
"Toni ada acara apa kok banyak makanan enak?" tanya Gibran.
"Tidak ada acara, tapi ini semua pemberian Nona Zelina, itu orangnya datang kemari"ucap Toni.
Nona Zelina menghampiri Gibran yang sedang berdiri didekat meja makan Toni.
"Anda tidak makan?"tanya Nona Zelina.
"Saya sudah makan diluar tadi"ucap Gibran.
"Sayang sekali ya padahal saya membawa makanan itu juga untuk Anda"ucap Nona Zelina.
__ADS_1
"Anda tak perlu repot-repot, saya bisa beli makan diluar"ucap Gibran.
"Jika aku jadi seorang istri, aku pasti membawakan makan siang untuk suamiku"ucap Nona Zelina.
"Kalau begitu kenapa Anda tidak menikah saja, mungkin setiap hari Anda bisa membawakan makan siang untuk suami Anda"ucap Gibran.
"Inginnya begitu, tapi sayang orang yang ingin saya nikahi milik orang lain"ucap Nona Zelina.
"Kalau begitu carilah yang lain"ucap Gibran.
"Hatiku sudah terpana olehnya, meski milik orang, aku akan setia menanti dan berusaha mendapatkannya"ucap Nona Zelina.
"Mengambil sesuatu milik orang lain itu tidak baik"ucap Gibran.
"Tapi mengambil sesuatu milik orang lain itu menyenangkan dan jauh berharga"ucap Nona Zelina.
"Saya rasa pembicaraan kita sudah cukup, selamat siang"ucap Gibran lalu pergi meninggalkan Nona Zelina.
Nona Zelina tak peduli seberapa lama akan menunggu Gibran. Dia tetap ingin berusaha dan berusaha agar Gibran mencintainya.
***********
William kembali lagi ke rumah sakit. Dia masuk ke dalam ruang perawatan untuk melihat seorang lelaki yang mulai sadarkan diri. Dia hanya terlihat bengong dan tatapannya kosong.
"Siapa aku?"ucap Lelaki itu.
"Kau adalah budakku sekarang"ucap William.
"Budak"ucap Lelaki itu.
"Ucapanku adalah perintah untukmu"ucap William.
"Baik"ucap Lelaki itu.
__ADS_1
"Aku akan mengajarimu banyak hal, mulai sekarang aku adalah Bosmu"ucap William.
Lelaki itu hanya mengangguk, dia seperti kertas kosong. Pikirannya kembali seperti anak kecil yang baru lahir, William akan mulai mengisi memorinya dengan semua perintah dan kemauannya.