ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Mulai Mencintai


__ADS_3

Seusai resepsi pernikahan William masuk kamar bersama Rahel. Terlihat Rahel sedang membersihkan make up dan melepas pakaiannya. William terkesima saat melihat Rahel melepas pakaiannya, Rahel langsung mengenakan pakaiannya kembali saat William masuk kamar itu.


"Hei wanita kenapa kau pakai lagi pakaianmu?" tanya William.


"Gak papa,memang kenapa?"tanya Rahel.


"Aku ini sekarang suamimu, jadi aku ingin melihatnya"ucap William.


"Aku tak terbiasa melepas pakaian didepan laki-laki jadi bisakah kau keluar?"tanya Rahel.


"Aku tidak akan keluar, jangan harap"ucap William.


"Kalau begitu ya sudah"ucap Rahel.


Rahel langsung berbaring diranjang dengan mengenakan gaun pengantinnya. William langsung menyusulnya ke ranjang. Dia memeluk Rahel dari belakang.


"Apa yang kau lakukan lepaskan"ucap Rahel.


"Diamlah kau akan suka"ucap William.


"Lepaskan aku"ucap Rahel.


"Kau sudah jadi istriku, jadi menurutlah"ucap William.


William melakukan pemanasan demi pemanasan sampai Rahel lupa rasa malunya yang tadi. William hanya tersenyum melihat Rahel mulai terbiasa.


"Cantik, ini kali pertamamukan? aku akan membuatmu nyaman"ucap William.


"Willi....."ucap Rahel terbawa suasana.


"Panggil lagi namaku aku ingin dengar"ucap William.


"Willi...."ucap Rahel.


"Bagus aku suka"ucap William.


Setelah pemanasan demi pemanasan yang cukup lama. William mulai tahap yang lebih dalam. Dia memberi aba-aba pada Rahel, Rahel hanya mengangguk tanpa tahu apa yang akan terjadi. William membuktikan keperkasaannya pada Rahel hingga membuatnya menjerit.


"Willi sakit hentikan....lepas..."ucap Rahel.


"Cantik diamlah, nanti kau akan nyaman"ucap William.


"Aku takut hik...hik....."ucap Rahel menangis.


"Cantik baru kali ini ada wanita yang menangis saat bersamaku seperti ini, tapi aku suka"ucap William.


"Hik....hik....hik....."Rahel menangis.


William mengusap air matanya dan mencium matanya.


"Cantik aku akan menghentikannya, berhentilah menangis"ucap William.


"Hik....hik....hik....."Rahel menangis.


"Kau tahu biasanya aku tidak pernah murah hati seperti ini, saat sudah ditengah jalan"ucap William.


William menghentikan hal romantis itu dan duduk disamping Rahel yang menangis.


"Aku akan tidur dikarpet, kau tidurlah ya"ucap William.


William mencium kening Rahel.


Cup


Setelah itu dia mengambil bantal dan selimut kemudian tidur dikarpet dibawah ranjang itu.


Rahel terus menangis sampai akhirnya tangisannya berhenti. Dia bangun dan melihat William tidur dibawah. Dia merasa tidak enak dengan William. Rahel menyusulnya tidur dibawah. Saat William tahu Rahel tidur dibawah bersamanya William langsung memeluknya.


"Cantik kenapa kau tidur disini?"tanya William.

__ADS_1


"Aku..."ucap Rahel.


William langsung mencium bibirnya.


"Willi ayo kita....."ucap Rahel usai melepas ciuman itu.


"Benarkah? kau yakin? aku bisa menunggumu sampai siap cantik"ucap William.


"Aku...aku siap"ucap Rahel.


"Yes..., baru kali ini aku begitu senang"ucap William.


William lamgsung mencium Rahel. Mereka merajut cinta dimalam yang indah. William tak hentinya mencium istrinya. Dia benar-benar dimabuk cinta. Baru kali ini ada wanita yang mau benar-benar mencintainya dan dia juga mencintai wanita itu.


"Willi...."ucap Rahel.


"Iya cantik"ucap William.


William mulai kembali ke tahap lebih dalam. Kali ini dia sangat berhati-hati dan bersabar sampai akhirnya dia berhasil meskipun Rahel sempat meringis dan mencengkram bahunya sampai merah. Akhirnya rasa sakit itu berubah jadi manis. Rahel mulai tersenyum memandang William.


"Terimakasih cantik"bisik William.


Rahel hanya mengangguk dengan ucapan William. Rasa yang begitu luar biasa yang berbeda dari sebelum-belumnya membuat William merasakan kenyamanan yang membuatnya senang. Baru kali ini dia merasakan ini hingga membuatnya benar-benar senang padahal dia baru satu kali melakukannya. Karena Rahel masih terlihat nyaman dan tersenyum padanya, William tak ingin menyudahinya dia melakukannya sampai benar-benar lelah dan akhirnya berbaring disamping Rahel.


"Cantik kemarilah"ucap William.


Rahel malu-malu masuk ke dalam pelukan William.


"Baru kali ini aku melakukannya dengan perasaan"ucap William.


"Willi...berapa banyak wanita yang bersamamu sebelumnya?"tanya Rahel.


"Aku tidak ingat, yang jelas banyak, apa kau kecewa?"tanya William.


"Tidak, asal kau tidak mengulanginya"ucap Rahel.


"Benarkah? lalu bagaimana dengan wanita yang kau cintai itu?"tanya Rahel.


"Aku...aku akan coba melupakannya, cantik kau harus membantuku untuk melupakannya" ucap William.


"Iya"ucap Rahel.


"Cantik semoga kita memiliki buah hati secepatnya, aku sudah berumur, ingin rasanya memiliki buah hati" ucap William.


"Aku juga ingin memiliki seorang bayi, pasti menggemaskan dan lucu"ucap Rahel.


"Kita akan punya bayi nanti, aku sudah menanam benihnya"ucap William.


Rahel memeluk William dengan erat.


"Willi terimakasih, aku belum pernah punya seseorang yang spesial dihatiku. Kau jadi orang pertama dihatiku"ucap Rahel.


"Aku juga akan jadi orang yang terakhir untukmu cantik"ucap William.


"Iya"ucap Rahel.


"I Love You"ucap William.


"I Love You Too"ucap Rahel.


Pertama kali dalam hidup William memiliki keluarga kecilnya sendiri. Dia senang nanti mungkin ada sikecil yang akan berlari-lari bersamanya dan memanggilnya Papa. Kini dia merasa hidupnya lebih tertata dan ada tujuan.


***********


Gibran pulang ke rumah besarnya. Dia masuk ke dalam rumah itu. Baru mau naik ke lantai atas, Ibu Yuliana langsung memberitahu Gibran tentang Mahira.


"Gibran Mahira hilang"ucap Ibu Yuliana.


"Apa Ibu sudah mencarinya disemua ruangan rumah?"tanya Gibran.

__ADS_1


"Sudah"ucap Ibu Yulianan.


"Apa mungkin Mahira main ke sekolahnya"ucap Gibran.


"Ibu sudah kesana tapi gak ada"ucap Ibu Yuliana.


"Mungkin dikebun, aku akan ke kebun"ucap Gibran.


"Ibu juga sudah ke kebun, semua pegawaimu bilang Mahira tidak ada disana"ucap Ibu Yuliana.


"Kalau begitu aku akan mencari Mahira Bu"ucap Gibran.


"Ya, hati-hati nak"ucap Ibu Yuliana.


Gibran langsung mengendarai mobilnya menuju jalan raya. Dia mencari Mahira kesana kemari sampai turun ke jalan menanyakan setiap orang yang dijumpainya. Gibran juga lapor ke kantornya untuk mencari Mahira.


Satu Bulan Kemudian


Siva sedang berdagang dijalanan. Dia menawarkan kue-kue basahnya itu pada pejalan kaki. Dia terus menelusuri jalan menawarkan kue-kue basahnya.


"Kue...kue....kue......."ucap Siva.


Tak lama dia merasa pusing dan terjatuh dijalan.


Beberapa orang langsung mengerumuninya. Untung saat itu Gibran sedang melewati jalan itu.


Dia sedang mencari Mahira yang belum kunjung ditemukan. Saat melihat kerumunan itu, dia penasaran dengan kerumunan orang, Gibran turun dari mobilnya menghampiri kerumunan itu. Ternyata Siva berbaring ditepi jalan itu. Gibran langsung membopong Siva ke mobilnya. Lalu membawanya ke rumah sakit. Sampai dirumah sakit Siva diperiksa Dokter. Setelah Dokter selesai memeriksanya, dia bicara dengan Gibran.


"Selamat ya Mas, Nona Siva hamil"ucap Dokter Indah.


"Hamil?"ucap Gibran kaget.


"Iya, kehamilannya baru menginjak 4 minggu. Harus dijaga dengan baik apalagi ini trisemester pertama"ucap Dokter Indah.


"Iya Dok"ucap Gibran.


"Apa itu bayi yang dikandung Siva itu anakku?" batin Gibran.


Tak lama Siva menghampiri Gibran yang duduk bersama Dokter.


"Dok saya sakit apa?"tanya Siva.


"Nona Siva tidak sedang sakit, tapi sedang hamil" ucap Dokter Indah.


"Hamil?"tanya Siva kembali.


"Iya, Nona Siva hamil baru menginjak 4 minggu" ucap Dokter Indah.


Siva kaget dia tak menyangka malam itu membuatnya hamil. Dia hanya diam saja saat keluar dari ruangan Dokter. Tangannya begitu dingin karena ketakutan. Gibran langsung mengajaknya bicara di cafe rumah sakit itu.


"Siva apa itu anakku?"tanya Gibran.


"Aku tidak pernah melakukannya selain dengan Om, saat itu kali pertamaku melakukannya"ucap Siva.


"Jadi itu anakku?"tanya Gibran memastikan.


"Ini salahku, Om tidak usah khawatir, aku tidak akan minta pertanggungjawaban"ucap Siva.


Gibran menghampiri Siva dan berjongkok didepannya.


"Aku tidak mungkin membiarkan anakku tumbuh tanpa seorang ayah, Siva menikahlah denganku biar anak ini bisa bersamaku"ucap Gibran.


"Tapi apa ini tidak merepotkan Om, ini kesalahanku"ucap Siva.


"Tidak, aku ingin melihat anakku tumbuh memanggilku Papa"ucap Gibran.


"Iya, aku mau menikah dengan Om"ucap Siva.


Gibran akhirnya memutuskan untuk menikahi Siva

__ADS_1


__ADS_2