
Sebulan sudah setelah Chaiden pulang dari rumah sakit. Mahira senang hubungannya dengan Juan kembali normal. Mr.X yang sering mengirim pesan ancaman tapi tak pernah ada. Dia merasa hidupnya mulai tenang sekarang. Mahira ingin berbagi cerita bahagianya bersama adik kecilnya Almira.
Mahira keluar dari kamarnya menuju kamar Almira yang berada di samping kamarnya, dia masuk ke kamar Almira hendak curhat pada Almira tentang Chaiden, tapi ternyata Almira tidak ada di kamarnya. Mahira duduk di ranjang kamar Almira sambil melihat-lihat ke sekeliling kamar Almira.
Entah kenapa Mahira penasaran dengan barang-barang di kamar Almira. Selama ini, Almira lah yang selalu pergi ke kamar Mahira. Dia juga hampir tak pernah pergi ke kamar Almira dalam waktu yang lama, paling hanya memanggil Almira saja baru dia masuk kamar Almira.
Mahira mendekati laci lemari kecil di samping ranjang Almira. Dia membuka laci itu dan menemukan sebuah kotak. Mahira penasaran dengan kotak itu.
"Kotak apa ini? apa isi di dalamnya?" ucap Mahira.
"Aku buka gak ya? kira-kira Almira akan marah gak ya kalau aku buka kotak ini?" ucap Mahira.
Karena penasarannya sudah memuncak, Mahira akhirnya membuka kotak itu. Dia kaget di dalamnya penuh foto, kalung, boneka kecil, bola basket miniatur, tiket bioskop yang sudah usang, kotak musik kecil, dan barang lainnya. Mahira memperhatikan foto itu, dia baru tahu kalau itu foto Chaiden dan Almira. Belum lagi di boneka kecil itu tertulis nama Chaiden dan Jodi. Mahira bingung sebenarnya apa yang sudah terjadi.
"Kenapa Chaiden bersama Almira saat sekolah dulu? apa hubungan mereka? tapi kenapa Chaiden dan Almira tak pernah bilang mereka saling mengenal? bahkan mereka seperti dua orang yang tidak saling mengenal saat bertemu dimakan malam itu," ucap Mahira.
__ADS_1
"Ini kalung bersimbol hirup CJ yang artinya Chaiden Jodi. Bahkan Chaiden tak pernah memberiku sebuah kalung. Apa mereka memiliki hubungan khusus di belakangku?" ucap Mahira. Dia tidak tahu apapun tentang masa lalu Almira. Selama ini Almira selalu tertutup mengenai masalah asmaranya. Dia bahkan tak pernah terlihat dekat dengan seseorang.
"Kenapa mereka tidak cerita padaku kalau mereka pernah memiliki hubungan sedekat ini sebelumnya?apa aku saja yang bodoh dan dibohongi mereka?" ucap Mahira.
Karena Mahira masih penasaran, dia menggeledah kamar Almira dan menemukan beberapa kotak kardus. Mahira membuka kardus itu satu-satu. Kardus pertama berisi boneka Barbie yang tubuhnya sudah dimutilasi, kardus kedua berisi kain kafan dan sebuah surat dari Mr.X, kardus ketiga berisi kotak musik yang ketika diputar berisi suara orang menangis dan merintih kesakitan.
"Kenapa di kamar Almira ada kotak kardus ini? dan isi surat dari Mr.X ditujukan untukku. Apa Mr.X adalah Almira?" ucap Mahira menebak. Semua benda itu seakan memberitahu segalanya.
"Apa karena dia mencintai Juan hingga gelap mata ingin menyingkirkan ku?" ucap Mahira.
Mahira mengingat kembali hari di mana saat dia memberi tahu novel cinta berdarah pada Almira. Saat itu Almira mengatakan perkataan yang cukup menakutkan pada Mahira.
Tak lama Almira masuk ke kamarnya dan melihat Mahira di kamarnya sedang membawa sebuah kardus. Almira langsung mendekati Mahira dan bicara padanya.
"Kak Mahira kenapa ada di kamarku?" tanya Almira.
__ADS_1
"Kamu takut ketahuan kalau selama ini kamulah Mr.X itu. Pantas saja setiap aku cerita tentang Mr.X kau tak pernah percaya. Ingat saat aku jatuh di toilet rumah Chaiden, heels yang kupakai itu baru ku beli, lalu siapa yang membuatnya rusak kalau bukan orang yang berada di rumah ini. Terus saat minum kopi di kafe itu, kau lah yang pertama memegang kopi itu dan menyimpulkan kopi itu beracun. Kau juga yang mengantarkanku ke rumah saat aku pingsan di taksi itu. Dan ini apa Almira? kotak-kotak kardus ini berisi barang-barang untuk membuatku takutkan? Kalau bukan milikmu, kenapa ada dikamarmu? Kaulah Mr.X itu kan? Kau mencintai Chaiden dan ingin menyingkirkanku, agar kau bisa bersama Chaiden untuk selamanya kan?" ujar Mahira.
"Kak, aku bisa jelaskan. Ini salah faham," ucap Almira.
"Salahfaham? Bahkan kau tak memberitahuku kalau kau mengenal Chaiden. Kau bertingkah seperti orang yang tidak mengenal Chaiden saat itu. Kenapa Almira? apa karena kau takut aku tahu kalau kau mencintai Chaiden? kau ingin memiliki Chaiden setelah menyingkirkanku? padahal aku sudah menganggapmu saudaraku sendiri," ucap Mahira.
"Kak dengar penjelasan ku dulu kak, aku dan Chaiden sebenarnya dulu ...," ucap Almira ragu meneruskan kata-katanya.
"Apa? kau dulu mencintai Chaiden? Dan sekarangpun juga samakan Almira. Kenapa kau tega menerorku, mau membunuhku dan melukai orang-orang di sekelilingku bahkan itu Papaku, orang yang sudah membawamu ke rumah ini. Kau tega Almira, hanya demi cinta kau menyakiti kita semua hik ... hik ...," ucap Mahira sambil menangis.
Almira hanya diam dan meneteskan air matanya. Dia ingin menjelaskan semuanya tapi Mahira menutup diri darinya, tak ingin mendengar penjelasannya.
"Aku pikir selama ini kau begitu menyayangiku, dan tulus membantu hubunganku dengan Chaiden. Tapi ternyata kau duri dalam daging. Kau menusukku dari belakang hanya untuk kebahagiaanmu sendiri hik ... hik ...," ucap Mahira.
Almira mendekati Mahira tapi kakaknya mendorongnya. Dia tidak ingin didekati Almira.
__ADS_1
"Pergi! jangan pernah ada disini lagi. Kau bukan adikku lagi. Ambillah semua barangmu dan bawa pergi. Jangan pernah panggil aku kakakmu lagi mulai sekarang. Kau puas,l? dan ingatlah aku tidak akan pernah meninggalkan Chaiden meski kau menerorku dan mau membunuhku sekalipun," ucap Mahira sambil menangis.
Setelah itu Mahira keluar dari kamar Almira. Tinggal Almira yang terduduk di lantai dan menangis. Dia tidak tahu kenapa semua terjadi begitu cepat bahkan dia tak sempat bicara pada Mahira, bahkan Mahira mengusirnya dari rumah itu.