ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Indahnya Kebersamaan


__ADS_3

Lara menghampiri Gibran yang sedang berada diladang perkebunannya. Gibran sedang melihat para pekerja merawat ladang perkebunan miliknya. Dia begitu mencintai alam sampai setiap ada waktu pasti bercocok tanam dan memandangi ladang perkebunannya yang terlihat hijau dipandang mata.


"Sayang ternyata kau disini, tadi selesai memasak aku mencarimu"ucap Lara.


"Tadi aku joging sekalian menghirup udara segar disini, rasanya kalau bumi kita asri seperti ini udaranya sejuk dan begitu indah dipandang"ucap Gibran.


"Kau begitu menyukai alam"ucap Lara.


"Karena kita hidup dan tinggal bergantung pada alam, jika nanti aku punya uang lebih banyak lagi. Aku ingin membeli banyak lahan perkebunan dan pertanian agar alam ini terjaga"ucap Gibran.


Lara langsung memeluk suaminya itu. Dia begitu bangga pada suaminya yang selalu mengabdi pada negara dan mencintai alam.


"Sayang pagi-pagi gini udah nantangin"ucap Gibran.


"Habis aku makin cinta sama kamu"ucap Lara yang memeluk Gibran.


"Kalau gitu olahraga pagi lebih seru kita lanjutkan dibilik cinta"ucap Gibran.


Lara mengangguk dengan ucapan Gibran, lalu mereka pulang ke rumah.


Lara berangkat ke sanggar tari miliknya. Sampai disanggar dia melihat Carlos sudah datang pagi-pagi dan berlatih sendiri. Lara menghampiri Carlos yang sedang belajar menari.


"Gerakanmu sudah mulai bagus, ternyata meski kemarin kau cuek tapi daya ingatmu bagus ya. Pantas kau menjadi artis papan atas"ucap Lara.


"Kau terlalu memujiku, selama ini aku hanya mengerjakan semua yang aku mau itu saja"ucap Carlos.


"Apa kau sudah sarapan? aku membawa bubur kacang hijau, apa kau mau?"tanya Lara.


"Boleh, aku suka bubur kacang hijau, mengandung serat yang cukup banyak"ucap Carlos.


"Oya artis sangat menjaga pola makan dan asupannya ya"ucap Lara.


"Tidak semua artis melakukan itu, tapi menjaga pola makan dan asupan sangat penting dengan pekerjaan kita yang begitu padat dan tak jarang pulang larut malam"ucap Carlos.


"Nih, bubur kacang hijau untukmu"ucap Lara memberikan bubur kacang hijau itu untuk Carlos.


"Terimakasih Lara"ucap Carlos.


"Kau sudah mulai mau memanggil namaku, mari berteman"ucap Lara mengulurkan tangannya.


"Ya"ucap Carlos singkat lalu mengulurkan tangannya.


Mereka bersalaman dan memberi senyuman. Carlos kini mulai membuka dirinya pada Lara. Dia berpikir tidak buruk memiliki seorang teman.


*********


Dianka melihat ke ruang makan tapi Zion belum turun untuk sarapan. Padahal hari ini dia harus bekerja. Dianka langsung pergi ke kamar Zion.


Dia melihat Zion masih tidur menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Suaranya terdengar seperti orang mengigil.


"Ee...ee....ee.....ee......."Zion terus menggigil.


Mendengar itu Dianka langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Hei kau tak bangun, bukannya waktu itu uang bagimu"ucap Dianka.


"Kau tak melihat aku sedang sakit begini, dimana empatimu"ucap Zion.


"Monster jahat sepertimu bisa sakit juga. Aku pikir kau terbuat dari besi jadi tak mungkin sakit"ucap Dianka.


"Hei kau pikir aku manusia besi seperti difilm-film. Aku sakit begini karena kemarin lompat-lompat bersama Dafa"ucap Zion.


"Lagian itukan permainan anak-anak ngapain kau ikut-ikutan juga, kurang kerjaan aja"ucap Dianka.


"Bisakah kau baik sedikit saat aku sakit, aku ini Bosmu kalau aku sakit dan perusahaanku bangkrut siapa yang akan menggajimu"ucap Zion.


"Cari kerja ditempat lain, ngapain harus ikut gulung tikar juga bersamamu"ucap Dianka.


"Kau itu tak ada setianya ya pada Bosmu, aku lapar buatkan aku bubur ayam"ucap Zion.


"Aku sudah masak nasi, jadi lupakan bubur ayamnya"ucap Dianka.


"Aku sakit, mana enak makan nasi. Ayolah Dianka sayang buatkan aku bubur ayam, oke cantik"ucap Zion.


"Giliran mau sekarat aja bicaranya manis begini, coba kalau sehat, mulutmu itu lost control"ucap Dianka.


"Hari ini kita berdamai dulu, aku masih sakit. Kita lanjutkan besok saja ya berdebatnya"ucap Zion dengan suara yang lemah.


Dianka mendekatinya lalu memegang dahi Zion


"Kau sakit beneran, kasihan kena karma ya"ucap Dianka.


"Yasudah, aku akan membuatkanmu bubur ayam" ucap Dianka.


Dia menghampiri Zion yang sedang mengigil.


"Papa sakit ya"ucap Dafa.


"Bocah kecil kau sudah bangun"ucap Zion.


Dafa masuk ke toilet mengambil gayung dan waslap. Lalu membawanya ke meja didekat ranjang Zion.


"Dafa akan mengompres kepala Papa, biasanya kalau Dafa sakit, Bunda selalu mengompres kepala Dafa"ucap Dafa.


Dafa langsung meletakkan waslap basah itu didahi Zion.


"Gimana Papa, apa sudah enakkan?"tanya Dafa.


"Iya, kepalaku jadi dingin"ucap Zion.


"Anak ini manis juga, tidak buruk jika aku punya istri dan seorang anak kecil seperti Dafa"ucap Zion dalam hatinya.


"Papa mau dipijat?"tanya Dafa.


"Memang tangan kecilmu itu bisa memijat?"tanya Zion balik.


"Bisa dong, kalau Bunda sakit Dafa selalu memijatnya. Sekarang Papa yang sakit jadi Dafa akan memijat Papa"ucap Dafa.

__ADS_1


"Hei dia semakin manis dan baik, wanita itu ternyata pintar mendidik anaknya"ucap Zion dalam hatinya.


Dafa langsung naik ke ranjang dan mulai memijat Zion.


"Walaupun tanganmu kecil tapi bertenaga juga bocah kecil"ucap Zion.


"Dafa ini laki-laki jadi harus kuat, biar bisa menjaga Bunda"ucap Dafa.


"Bocah kecil dimana ayahmu?"tanya Zion.


"Bunda bilang ayahku sudah meninggal saat aku masih didalam perut Bunda"ucap Dafa.


"Dianka ternyata mengurus Dafa sendirian, kasihan juga dia"ucap Zion dalam hatinya.


"Seperti apa ayahmu?"tanya Zion.


"Dafa tidak tahu seperti apa ayahku, fotonya saja tidak ada. Dafa hanya mendengar cerita dari Bunda saja kalau ayahku tampan seperti Dafa"ucap Dafa.


"Bocah kecil, kau boleh tetap memanggilku Papa, anggap saja ini sebagai terimakasih ku karena kau merawatku hari ini"ucap Zion.


"Benarkah?....Papa"ucap Dafa lalu memeluk Zion yang sedang berbaring.


Tangan Zion yang tadinya ragu untuk membalas pelukan Dafa, akhirnya memeluk Dafa erat.


"Rasanya hangat dan nyaman, apa seperti ini memiliki orang yang dekat dengan kita"ucap Zion dalam hatinya.


Zion merasakan kembali hidupnya yang menghangat dan menyenangkan saat adanya Dianka dan Dafa. Dia merasa memiliki keluarga kecilnya sendiri.


***********


Lara sedang bermain bersama Mahira dihalaman rumahnya. Kebetulan dihalaman rumahnya ada sebuah playground. Lara mendorong Mahira yang sedang naik diayunan. Gibran yang baru pulang kerja menghampiri mereka.


"Sayang ayo naik ke ayunan disebelahnya biar aku saja mendorong kalian berdua"ucap Gibran.


"Makasih sayang kau baik deh"ucap Lara.


Lara duduk diayunan sebelahnya, Gibran mulai mendorong ayunan itu.


"Asyik, ini menyenangkan Papa"ucap Mahira.


"Sayang kau tak capek mendorong kita berdua sekaligus?"tanya Lara.


"Apa sih yang gak buat kalian"ucap Gibran.


"Papa memang terbaik"ucap Mahira.


"Sayang tumben kau pulang cepat?"tanya Lara.


"Aku menyelesaikan tugasku secepatnya, biar cepat berkumpul dengan kalian"ucap Gibran.


"Papa sering-sering pulang sore, Mahira seneng main bareng Papa dan Mama"ucap Mahira.


"Papa akan usahakan sering pulang sore ya Mahira sayang"ucap Gibran.

__ADS_1


"Asyik......."ucap Mahira.


Lara tersenyum melihat kegembiraan Mahira putri kecilnya. Dia bersyukur bisa memiliki suami seperti Gibran yang begitu menyayanginya dan Mahira.


__ADS_2