
Dianka sedang membereskan kamarnya untuk tidur siang. Zion masuk ke kamar dengan seorang pegawai toko bunga itu membawa banyak bunga ke kamarnya. Dianka sampai terdiam melihat banyak bunga diletakkan dikamarnya. Dia tidak tahu sedang ada acara apaan sampai Zion membeli bunga sebanyak itu. Setelah semua bunga diletakkan dikamar itu, pegawai toko bunga itu keluar dari kamar Zion.
Dianka menghampiri Zion yang terus melihat ke arahnya.
"Zion memang ada acara apa kok beli banyak bunga?"tanya Dianka.
Zion langsung menarik lengan Dianka dan mengajaknya duduk dilantai ditengah-tengah bunga yang sudah tertata rapi dikamarnya.
"Apa kau suka? biasanya wanita menyukai bunga mawar merah"ucap Zion.
"Suka, tapi ini untuk acara apa?"tanya Dianka.
"Semua bunga ini dikirim pangeran berkuda putih untukmu, dia bilang kau harus tersenyum saat menerimanya dan berikan ciuman pada laki-laki yang duduk disampingmu"ucap Zion.
"Itu mah maumu, kau masih saja belum kapok, mau ku cubit lagi"ucap Dianka.
"Sayang bisakah sedikit romantis, kau lihat latarnya sudah romantis gini. Seharusnya kita sebagai pemerannya harus romantis. Kau tahu aku membeli semua ini untukmu"ucap Zion.
"Benarkah?.....kau tidak sedang kerasukan setan atau kejedot pintu"ucap Dianka.
"Sembarangan, setidaknya kau hargai semua pemberianku, aku sudah susah payah untuk membelinya meskipun aku sangat malu. Ini pertama kalinya aku memberikan bunga untuk seorang wanita"ucap Zion sedikit kesal.
Dianka tersenyum melihat Zion marah padanya.
"Zion terimakasih ya, kau sudah memberiku semua bunga ini"ucap Dianka.
"Dianka jika kita menikah beneran apa kau mau?" tanya Zion.
Dianka tidak begitu mendengar dan malah menanyakan ulang ucapan Zion.
"Hah, kau bilang apa tadi?'tanya Dianka.
"Itu,....eee......maksudku hari ini kau terlihat manis tidak seperti hari sebelumnya. Oh...aku tahu pasti kau sudah ke rumah sakit jiwa untuk mengobati penyakit bawel dan galakmu"ucap Zion.
"Hei monster jahat, aku sudah tahu orang sepertimu mana mungkin bisa romantis paling juga mulut jahatmu itu kembali mengoceh"ucap Dianka.
"Aku hanya bicara fakta, susah kalau harus ditutupi, namanya pembohongan publik"ucap Zion.
Dianka menepuk-nepuk lengan Zion karena kesal.
Zion langsung menangkap tangan Dianka.
"Dianka ayo kita menikah sungguhan"ucap Zion.
Seketika Dianka terdiam mendengar pernyataan dari Zion.
"Dianka apa kau tidak mau menikah denganku?" tanya Zion.
"............"Dianka hanya terdiam.
Dianka langsung berdiri dan berjalan masuk ke toilet dan menguncinya. Zion menyusul Dianka ke toilet tapi pintunya terkunci dari dalam. Zion hanya berdiri dan berbicara dari luar pintu toilet itu.
"Dianka aku tidak sedang bercanda, aku serius ingin menikah denganmu. Mungkin sikapku yang suka meledekmu membuat kau ragu padaku ya"ucap Zion.
"Tapi kau tahu aku bahagia saat berdebat dan bersitegang denganmu. Rasanya hidupku menarik dan ada saja yang membuatku tertawa saat bersamamu"ucap Zion.
"Aku akan menunggu sampai kau mau menerimaku Dianka"ucap Zion.
Dianka keluar dari toilet itu dengan matanya yang dipenuhi air mata.
__ADS_1
"Zion aku ini bukan wanita lajang yang pantas untukmu, aku bahkan punya seorang anak"ucap Dianka.
"Dianka aku justru senang saat bersamamu dan Dafa, kalian membuat hidupku berwarna"ucap Zion.
"Kau tak sedang berbohong, biasanya kau suka meledekku"ucap Dianka.
"Baiklah, kita jemput Dafa lalu kita beli cincin pernikahan, ayo kita menikah hari ini juga"ucap Zion.
"Monster jahat, siapa juga yang sudah menerimamu, kau pede sekali kalau aku ini mau hidup dengamu"ucap Dianka.
"Tadi kau terlihat menangis dan bersedih saat aku melamarmu tadi"ucap Zion.
"Baru jadi asistenmu saja aku sudah menderita apalagi jadi istrimu, bisa-bisa aku harus mengabdikan seluruh hidupku jadi babumu"ucap Dianka.
"Bukannya kau suka itu, kau terlihat bahagia terus menempel denganku kemanapun"ucap Zion.
"Dengar ya, aku takkan menerimamu semudah itu, nanti saat Ibumu sudah pergi. Aku harus melihat kesungguhan mu dulu, baru ku beri penilaian apa aku mau menerimamu atau tidak"ucap Dianka.
"Kau benar-benar jual mahal sekali, aku curiga kau pasti mau membalasku atas semua perlakuanku padamu"ucap Zion.
"Yasudah, kalau tidak mau. Lupakan saja ucapanmu tadi padamu"ucap Dianka sambil berjalan keluar dari kamar itu.
"Wanita itu sombong sekali, dia pikir dia siapa" ucap Zion kesal.
Zion kesal karena Dianka menggantung jawabannya. Sepertinya Dianka sengaja ingin menguji Zion terlebih dahulu. Dianka tidak mau semudah itu menerima Zion yang pernah bersama dengan banyak wanita. Dia harus tau keseriusannya.
**********
Gibran mengantar Nona Zelina ke villa yang disewanya selama melakukan perjalanan bisnisnya. Dia seorang pebisnis wanita yang cukup sukses. Selain sukses dia juga cantik dan seksi. Gibran dan Nona Zelina masuk ke villa itu.
"Nona Zelina silahkan masuk ke kamarmu, saya akan berjaga disini"ucap Gibran yang berada diruang keluarga.
"Tidak perlu, saya bisa membuatnya sendiri, sebaiknya Nona Zelina istirahat"ucap Gibran.
"Baiklah kalau begitu"ucap Nona Zelina.
Nona Zelina masuk ke kamarnya dan membereskan baju dikopernya. Dia memikirkan Gibran yang sangat profesional dan begitu dingin padanya.
"Lelaki itu sangat menutup hatinya, apa mungkin dia sudah punya istri? lelaki setia, tidak seperti suamiku perebut istri orang. Seandainya aku punya seseorang yang setia dan sayang padaku tentunya hidupku pasti bahagia"ucap Nona Zelina.
Selesai merapikan baju-bajunya Nona Zelina keluar dari kamarnya. Dia melihat Gibran tidur disofa ruang keluarga. Nona Zelina mengambil selimut dan menghampiri Gibran yang sedang tidur disofa itu untuk menyelimutinya.
"Sepertinya dia kelelahan dari tadi mengikuti dan menjagaku. Kalau dari dekat seperti ini dia tampan sekali"ucap Nona Zelina.
Saat Nona Zelina mendekati wajah Gibran, secara tiba-tiba Gibran terbangun.
"Nona Zelina apa yang sedang Anda lakukan?" tanya Gibran.
Nona Zelina langsung berdiri dan menjauh dari Gibran.
"Itu.....tadi aku melihatmu tertidur jadi aku menyelimutimu supaya tidak kedinginan, soalnya AC ruangan ini cukup dingin"ucap Nona Zelina.
"Kembalilah ke kamarmu jika tak ada urusan lain, kalau kau mau makan diluar atau mau kemanapun bilang padaku, disini aku bertugas menjagamu, kau paham"ucap Gibran.
"Aku paham, terimakasih"ucap Nona Zelina.
Nona Zelina kembali ke kamarnya dengan kecewa. Dia merasa Gibran tak bisa bersikap lebih santai seperti seorang teman tapi lebih seperti bodyguard untuknya.
Gibran bangun dan duduk disofa itu lalu dia video call dengan Lara istrinya.
__ADS_1
"Hallo sayang"ucap Lara.
"Aku kangen sayang"ucap Gibran.
"Oya, padahal belum sehari"ucap Lara.
"Apa kau sudah menjemput Mahira?"tanya Gibran.
"Sebentar lagi"ucap Lara.
"Nanti kalau aku pulang, mau dibawakan oleh-oleh apa sayang?"tanya Gibran.
"Yang penting kau pulang dengan selamat, itu oleh-oleh yang selalu kuharapkan dan ku tunggu" ucap Lara.
"Aku akan pulang segera, bilang pada Mahira aku akan membelikannya boneka baru"ucap Gibran.
"Iya sayang, jaga dirimu ya"ucap Lara.
"Oke, I Love You"ucap Gibran.
"I Love You Too"ucap Lara.
Mereka mengakhiri video call itu, Gibran yang jarang jauh dari Lara dan Mahira merasa rindu pada mereka padahal belum seharian berpisah dengan mereka. Bagi Gibran kebahagiaannya disaat bersama istri, anak dan ibunya.
***********
Lara menjemput Mahira pulang sekolah, dia bertemu Dianka yang juga menjemput Dafa pulang sekolah. Mereka langsung memperkenalkan anak mereka satu sama lain.
"Dafa perkenalkan dirimu"ucap Dianka.
"Hallo cantik, aku Dafa teman sekelasmu tadi" ucap Dafa.
"Oh kamu Dafa, dari tadi aku melihatmu loh. Namaku Mahira"ucap Mahira.
"Lucu ya kalau anak-anak berkenalan begini"ucap Lara.
"Iya ya, apalagi kalau main bersama pasti seru" ucap Dianka.
"Kalau begitu gimana kalau kau main ke rumahku, biar anak-anak bermain bersama"ucap Lara.
"Boleh juga, pekerjaanku dirumah juga sudah selesai"ucap Dianka.
"Asyik......Dafa kerumahku"ucap Mahira.
"Kau selalu terlihat ceria ya"ucap Dafa.
"Iya dong, nanti kita main mainanku Dafa"ucap Mahira.
"Aku ikut saja deh"ucap Dafa pasrah melihat tingkah Mahira yang kegirangan.
"Kau bawa mobil?"tanya Lara.
"Kebetulan tadi aku naik taksi"ucap Dianka.
"Kalau begitu ayo naik mobilku saja"ucap Lara.
"Yasudah, ayo"ucap Dianka.
Lara dan Dianka bersama anak mereka naik ke mobil Lara pergi ke rumah besar milik Gibran.
__ADS_1
Lara dan Dianka berusaha menyambung kembali hubungan mereka sebagai seorang teman baik.