
Malam itu Zack Alison berdiri di depan jendela lantai dua rumahnya. Dia berusaha menghubungi nomor telpon kekasihnya tapi tidak aktif. Kekasih Zack bernama Sabrina Nurmala. Sudah lama mereka bersama dan saling mencintai. Mereka seperti pasangan sejoli yang selalu memahami dan memiliki satu sama lain. Bersama Sabrina,hidup Zack begitu bahagia. Namun malam ini perasaan Zack tidak enak, dia terus memikirkan Sabrinan. Zack mencemaskannya, biasanya kekasihnya akan menelponnya sebelum tidur tapi dari tadi Zack menunggu belum ada telpon darinya. Tiba-tiba anak buah Zack menghadapnya.
"Bos Nona Sabrina kecelakaan."
"Apa? Sabrina kecelakaan?" Zack terkejut mendengar kabar dari anak buahnya.
"Iya Bos, Nona Sabrina menjadi korban tabrak lari."
"Tabrak lari? siapa yang telah berani melakukan ini pada Sabrina?" tanya Zack.
"Belum diketahui pelakunya, yang jelas Nona Sabrina meninggal di tempat."
"Meninggal? tidak mungkin." Zack tidak percaya. Tubuhnya mendadak lemas tak bertenaga. Semua kenangan bersama Sabrina terlintas di pikirannya. Dia menyesal tidak menjemput Sabrina pulang bekerja.
Zack mengepalkan tangannya,meninju dinding sekuat tenaga. Dia sangat mencintai Sabrina dan berencana menikah dalam waktu dekat. Namun mimpinya tak akan pernah terwujud, Sabrina pergi untuk selamanya.
Pagi itu Zack pergi kepemakaman Sabrina. Dia menyaksikan kekasihnya dikebumikan. Hari ini seharusnya Zack dan Sabrina pergi menemui orangtuanya untuk minta restu tapi takdir berkata lain. Sabrina harus pergi meninggalkan Zack.
Keluarga Sabrina terlihat berduka. Mereka tak bisa menyembunyikan kesedihannya. Bagi mereka Sabrina orang yang paling berharga dan baik.
Zack hanya mematung melihat nisan bertuliskan nama Sabrina. Dia tak percaya Sabrina akan meninggalkannya secepat ini. Bahkan mereka belum sempat mengucapkan salam perpisahan.
Satu jam berlalu. Keluarga Sabrina dan orang-orang yang melayat meninggalkan area pemakaman. Tinggal Zack yang ditemani anak buahnya yang masih berada di tempat itu.
__ADS_1
Zack duduk di samping nisan Sabrina, meletakkan seikat bunga mawar merah kesukaannya di dekat nisan. Matanya berkaca-kaca, hatinya hancur, orang yang paling dicintainya harus pergi untuk selamanya.
"Sabrina kenapa kau tinggalkan aku? bukankah kita akan menikah?" Zack berbicara sendiri. Dia terus mengungkapkan isi hatinya.
"Bos cuacanya mulai mendung, kita harus segera pergi dari sini."
Zack berdiri, berjalan meninggalkan tanah pemakaman itu.
***
Alex sudah mendapatkan informasi dari anak buahnya. Dia pergi ke rumah wanita yang semalam ditabrak Mahira. Bersama anak buahnya yang berjumlah dua orang, Alex turun dari mobil. Berjalan memasuki gang sempit menuju perumahan penduduk menengah ke bawah.
Sampai di depan rumah Sabrina, anak buah Alex mengetuk pintu. Alex masih diam menunggu si empunya rumah keluar. Tak lama seorang bapak paruh baya membuka pintu.
Bapak paruh baya melihat penampilan Alex yang rapi dan keren. Dia tidak tahu apa tujuan Alex dan anak buahnya datang berkunjung
"Pagi."
"Kedatangan saya ke sini untuk membicarakan hal penting," ucap Alex.
"Kalau begitu silahkan masuk!" perintah Pak Norman, ayah dari Sabrina Nurmala.
Pak Norman mempersilahkan Alex dan anak buahnya masuk ke dalam rumah. Mereka semua duduk di sofa yang sudah tua. Rumah itu juga berukuran kecil dan sempit. Tak ada barang yang bagus terpajang di ruangan itu. Hanya televisi tabung 29 inch berada di atas meja kayu yang sudah usang, begitupun dengan dinding rumah yang masih batako yang belum diplester.
__ADS_1
Alex duduk di kursi setelah tuan rumah mempersilahkan, tak lama istri Pak Norman datang membawa air putih di gelas, dia meletakkannya di meja kemudian meninggalkan ruang tamu. Istri Pak Norman bernama Ibu Endah. Mereka memiliki 5 anak. Anak pertamanya Sabrina sebagai tulang punggung keluarga. Adik-adik Sabrina masih sekolah, bahkan ada yang mau masuk ke universitas tahun ini.
Ibu Endah menguping di dekat pintu. Dia ingin tahu maksud kedatangan Alex. Di ruang tamu Alex memulai pembicaraannya.
"Maksud kedatangan saya ke sini untuk membicarakan soal kecelakaan yang menimpa Sabrina," ujar Alex.
"Kecelakaan Sabrina? memang apa hubungannya dengan anda?" tanya Pak Norman.
"Anak saya Mahira, kemarin malam tidak sengaja menabrak putri bapak," ucap Alex.
"Apa?" Pak Norman terkejut. Seperti tersambar petir. Bulu kuduknya sampai berdiri.
"Iya putri saya telah menabrak putri bapak, tapi semua ini ketidak sengajaan. Rem mobil putri saya blong, sehingga mobil tidak bisa dikendalikan dan menabrak putri bapak," ucap Alex.
Pak Norman terdiam. Mencerna semua perkataan Alex. Semuanya mendadak. Putrinya yang jarang sakit tiba-tiba harus meninggal karena sebuah kecelakaan di jalan raya. Padahal Sabrina malam itu baru pulang lembur. Selama ini Sabrina bekerja sebagai staf biasa untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ayahnya sudah lama mengangguk sejak kakinya sering rematik, ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus anak. Kehilangan Sabrina sama saja kehilangan sumber keuangan mereka.
"Putri bapak harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia harus di penjara!" tegas Pak Norman.
"Tenang Pak, mari kita selesaikan secara kekeluargaan, saya akan mengganti semua kerugian bapak. Saya tahu Sabrina adalah tulang punggung keluarga, lagi pula putri saya benar-benar tidak sengaja menabraknya." Alex berusaha membujuk Pak Norman.
"Tidak bisa, anak bapak harus di penjara, ini tindak kriminal!" tegas Pak Norman.
Alex mengeluarkan Cek dari saku jasnya. Dia menulis sejumlah angka di Cek itu lalu meletakkannya di meja.
__ADS_1
"Itu Cek sebesar 3 Milyar, anda bisa pakai untuk apa saja, bagaimana? apa anda bersedia berdamai dan menyelesaikannya dengan kekeluargaan tanpa harus dibawa keperadilan?" tanya Alex.