
Mahira hari ini tidak pergi ke kantornya, dia masih takut dengan ancaman dari pesan Mr.X itu. Mahira merasa ancaman itu benar-benar ditujukan untuknya, tapi Mahira tidak tahu kenapa Mr.X mengancamnya. Dia merasa tidak membuat masalah. Dan apa tujuan Mr.X mengancamnya. Selama ini hidup Mahira baik-baik saja. Semua ini tiba-tiba menjadi tidak tenang dan tidak aman. Mahira takut melangkah, dia merasa gerak geriknya selalu diawasi oleh Mr.X itu. Mahira kembali membaca pesan dari Mr.X itu.
Pesan dari Mr.X
Hari ini kamu tidak masuk kerja ya.
Kamu takut aku melukaimu hari ini.
Tenang,aku akan memberimu hadiah lain.
Membaca pesan dari Mr.X, Mahira semakin ketakutan. Dia merasa hidupnya terancam. Entah pada siapa Mahira harus menceritakan hal ini. Dia menangis di kamarnya.
***
Almira sedang berada di kantor, dia mengerjakan tugas yang diberikan Mico padanya. Almira begitu serius mengerjakan pekerjaannya. Mico sesekali
memandangi wajah Almira. Mico benar-benar mulai menyukai Almira.
"Almira istirahat makan siang pergi ke cafe depan kantor yuk," ajak Mico.
Almira tetap diam. Sudah biasa Mico terus menawarinya ini itu.
"Aku tidak punya niat apapun hanya ingin mengajakmu makan saja," ucap Mico.
"Ya, aku mau," sahut Almira.
Mico senang sekali,nini pertama kalinya Almira mau diajak makan siang oleh Mico. Berkali-kali sebelumnya selalu ditolak.
Setelah jam istirahat Mico dan Almira pergi menuju cafe di depan kantor. Saat sedang berjalan di depan jalan raya, Mico berhenti dan menuju ke arah nenek-nenek yang hendak menyeberang jalan. Mico membantu nenek itu menyeberang jalan. Melihat itu Almira tahu kalau Mico sebenarnya baik dan ramah pada siapapun.
Mico dan Almira sampai di cafe depan kantor. Mereka mulai memesan makanan yang diinginkannya. Pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Pak Manager, saya lihat anda sering makan sayuran saja, apa anda vegetarian?" tanya Almira.
"Ini mungkin karena kebiasaan, dulu hidupku dan ibuku sangat susah. Ayahku meninggal saat aku baru lahir. Ibu bersusah payah membesarkanku. Jadi aku tidak ingin menyusahkan ibu, aku membiasakan diri hanya makan nasi pakai sayuran yang lebih mudah dan murah dibeli," jawab Mico.
Almira tidak menyangka Mico yang terlihat suka menggoda gadis cantik ternyata punya sisi seperti ini. Mungkin ini adalah sisi sebenarnya dari Mico.
"Oya, Almira aku dengar kakakmu calon istri Presdir Chaiden?" tanya Mico.
"Iya," jawab Almira.
"Pasti kakakmu cantik sepertimu ya," ucap Mico mulai menggoda lagi.
Almira hanya diam. Dia tidak suka cara Mico menggodanya.
"Aku jadi ingin bertemu dengan ibumu pasti dia cantik sepertimu," ujar Mico.
"Ibuku sudah meninggal saat melahirkanku," ucap Almira.
"Aku beruntung masih memiliki seorang ibu dan aku sangat menyayanginya," ucap Mico.
"Pak Manajer anda sering menggoda wanita, apa pacar anda tidak cemburu?" tanya Almira.
__ADS_1
"Aku belum pernah punya pacar, selama ini aku hanya berfokus pada karir agar bisa memberikan ibuku hidup yang bahagia," jawab Mico
Almira tidak menyangka Mico yang terlihat sering menggoda wanita ternyata belum pernah memiliki pacar. Dan selama ini dia hanya berusaha membahagiakan ibunya.
***
Almira sedang berjalan di jalan raya untuk mencari angkutan umum. Chaiden melihatnya dari dalam mobilnya dan mengajak Almira pulang bersama. Almira ikut pulang bersama Chaiden. Saat jalan macet, sopir memilih jalur yang berbeda. Jalur itu menuju ke arah SMP tempat Chaiden dan Almira sekolah dulu. Chaiden melihat kedai mie pedas yang sering dia dan Jodi makan di situ.
"Almira mau makan mie pedas gak?" tanya Chaiden.
"Apa?" tanya Almira.
"Mie pedas," sahut Chaiden memperjelas ucapannya.
Almira terdiam, dia ingat masa lalunya bersama Chaiden. Semua itu masih teringat jelas di pikirannya, matanya berkaca-kaca, tapi Chaiden justru langsung mengajak Amira turun dari mobil menuju kedai mie pedas. Almira bingung kenapa Chaiden mengajaknya ke tempat itu. Mereka masuk ke kedai mie pedas itu.
"Eh, Chaiden mau makan mie pedas ya," ucap Bu Keke.
"Iya Bu, pesan seperti biasa," sahut Juan.
"Beres ..., terus gadis cantik yang di sampingmu mau pesan apa?" tanya Bu Keke.
"Aku pesan mie pedas cabenya 15 biji, pakai bakso udang, telur mata sapi di atasnya dan pakai potongan daun bawang di atasnya jangan pakai kecap," ucap Almira.
Chaiden langsung terkejut melihat Almira yang baru dia bawa ke tempat itu sudah langsung hafal menu di situ. Dan juga yang dia pesan itu adalah menu yang dipesan Jodi. Dulu Jodi selalu memesan seperti itu tidak pernah berubah. Sekilas Chsiden melihat Jodi didiri Almira, tapi dia langsung tersadar dari imajinasinya itu.
Chaiden dan Almira duduk di tempat yang biasa dulu mereka duduki bersama. Chaiden dan Almira merasa seperti kembali bernostalgia. Kenangan masa lalu membuat Chaiden rindu Jodi, lama sekali mereka tak pernah bertemu lagi.
"Ini mienya, Chaiden apa dia pacarmu?" tanya Bu Keke.
"Bukan," bantah Almira dengan cepat.
"Dia adik calon istriku," ujar Chaiden.
"Oo ..., kirain pacarmu, oya kamu sudah menemukan Jodi belum?" tanya Bu Keke.
"Ugh ..ugh ...." Almira yang sedang minum beberapa teguk air putih yang diberikan Ibu Keke tersedak.
"Almira oke?" tanya Chaiden.
"Oke," jawab Almira.
"Dulu padahal kalian sering makan di sini kalau istirahat, ibu inget banget itu. Cuma kalian yang berani makan paling pedas dan paling banyak di sini," ujar Bu Keke.
"Iya kenangan itu masih ku ingat sampai sekarang, sayangnya aku belum menemukannya," ucap Chaiden.
Almira menunduk. Dia sedih, sebenarnya dia rindu pada Chaiden tapi waktu tak bisa membuatnya mengakui bahwa dia Jodi. Setelah Bu Keke pergi meninggalkan meja, mereka mulai makan mie pedas itu. Almira ingat betul rasa mie pedas yang biasa dia pesan bersama Chaiden. Rasa yang tidak pernah berubah seperti perasaan dihatinya.
Selesai makan mereka berbincang.
"Chaiden kamu sering kesini?" tanya Almira.
"Sebulan sekali atau dua kali, tempat ini penuh kenangan untukku, ada seseorang yang kurindukan di tempat ini. Setiap aku rindu padanya aku pasti makan mie ke tempat ini," ucap Chaiden.
__ADS_1
"Orang itu pasti berarti untukmu ya?" tanya Almira.
"Ya, aku belum bisa menemukannya, sudah lama dia pergi. Aku sudah berusaha mencarinya tapi belum ketemu," ujar Chaiden.
"Jika kau bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Almira.
"Aku akan bilang padanya kalau aku rindu, aku akan marah padanya karena meninggalkanku tanpa pamit. Aku akan mengajaknya bertanding basket sampai dia kelelahan sebagai hukumannya," ucap Chaiden.
Almira diam. Mulutnya terkunci, kebenaran hanya akan disimpannya selamanya.
Hati Almira begitu sakit mendengar kata-kata Chaiden. Seandainya Chaiden tahu Almira adalah Jodi orang yang dia cari selama ini. Almira berdiri dan melihat-lihat foto di dinding kedai makan itu dan dia melihat fotonya dan Chaiden saat makan mie pedas waktu SMP ternyata masih ada walau sudah agak buram. Almira mendekati foto itu dan memeganginya.
"Itu fotoku dan Jodi," ucap Chaiden.
"Ooo ini Jodi yang kau maksu?" tanya Almira.
"Ya, foto itu diambil saat kami ikut lomba makan mie pedas. Kami menang saat itu dan kami sakit perut setelahnya. Kami sampai di rawat di rumah sakit bersama," ucap Chaiden.
Almira bisa diam.
Almira juga masih sangat ingat momen itu.Almira tidak menyangka ternyata Chaiden masih mengingat momen itu dengan betul.
Setelah makan dari kedai mie pedas, Chaiden mengajak Almira mampir sebentar di SMP waktu Chaiden dan Jodi bersekolah disitu.
"Almira ini adalah sekolah waktu aku dan Jodi bersekolah,' ucap Chaiden
"Sekolahnya bagus ya?" tanya Almira.
Mereka berjalan-jalan menuju kelas Jodi. Chaiden mengajak Almira masuk ke dalam kelas itu.
"Dulu Jodi duduk di situ," ucap Juan.
Almira langsung menduduki tempat duduk milik Jodi.Juan melihat Almira seperti Jodi saat duduk dikursi itu.
"Apa ini imajinasiku"l?" ucap Juan berkata dalam hati.
Setelah dari kelas itu Juan mengajak Almira ke halaman belakang sekolah. Di sana ada batu besar yang berdiri kokoh.
"Almira sini!" ucap Juan.
Almira menuju ke tempat Juan duduk di dekat batu besar itu. Chaiden menunjukkan sesuatu pada Almira.
"Walau sudah banyak lumut dan termakan usia tapi pahatan ini masih ada. Aku dan Jodi menulis nama kami dibatu ini waktu itu," ucap Chaiden.
"Iya masih ada padahal itu sudah lama. Kita waktu itu kan sambil kehujanan pas memahatnya, setelah hari itu kita terkena flu bersama ya," ucap Almira.
"Kita? ..., kamu kok tahu kalau waktu itu kehujanan dan sakit flu setelahnya"ucap Chaiden.
"Ooh, aku ... ak ..," cuma mengarang biasa difilm-film begitukan,tadi salah bicara"ucap Almira bingung mencari alasan.
"Oooo...mungkin aku rindu pada Jodi jadi salah mendengar kata-katamu"ucap Chaiden.
Setelah itu mereka pergi dari sekolah itu. Chaiden mengantarkan Almira pulang kerumahnya.Kisah yang masih menjadi misteri untuk mereka berdua.Juan tidak menyadari kalau Almira adalah Jodi yang sebenarnya.
__ADS_1