ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Godaan


__ADS_3

Zion dan Dianka berangkat ke Perusahaan Edelmar Group milik Zion. Mereka sampai diperusahaan itu tepat waktu. Zion dan Dianka masuk ke ruangan kerja mereka. Sekretaris Yuma memasuki ruangan itu membawa beberapa berkas. Dia berdiri didepan meja Zion sambil berbicara padanya.


"Bos ini berkas yang harus Anda tanda tangani"ucap Yuma.


"Oke, nanti ku tanda tangani"ucap Zion.


"Bos ini undangan ulang tahun Perusahaan Antropo Group untuk Anda"ucap Yuma sambil menyodorkan undangan itu diatas meja.


Zion langsung mengambil undangan itu dan membacanya.


"Acaranya malam ini"ucap Zion.


"Undangan itu sudah dari kemarin, tapi Bos cuti jadi baru hari ini saya memberikannya pada Bos" ucap Yuma.


"Kau boleh kembali ke ruanganmu Sekretaris Yuma"ucap Zion.


"Baik Bos"ucap Yuma.


Selesai bicara pada Zion, Yuma keluar dari ruangan itu. Zion menghampiri meja Dianka dan bicara padanya.


"Hei, malam ini pergi bersamaku ke pesta, ini perintah tidak bisa ditolak"ucap Zion.


"Apa-apaan main perintah aja, aku belum bilang iya kenapa kau sudah memutuskan"ucap Dianka.


"Kau ini jangan keras kepala, kita akan menikah. Semua orang harus tahu kalau kau calon istriku, aku berusaha menghargaimu ya, kau mau aku menjadikanmu istri yang ku sembunyikan"ucap Zion.


"Aku tidak masalah, lagian malu sekali jika aku harus disebut istrimu, kau itukan monster jahat" ucap Dianka.


"Lihat saja saat kau jadi milikku, akan kusantap habis bibirmu, biar kau tak bisa berkata-kata yang menyebalkan seperti itu"ucap Zion lalu dia kembali ke meja kerjanya


"Hih"ucap Dianka kesal pada ucapan Zion.


Zion ingin mengenalkan Dianka pada semua rekan bisnisnya. Dia ingin Dianka dikenal semua orang sebagai istrinya nantinya.


************


Lara mau keluar dari sanggar tari miliknya. Tapi wartawan masih ada didepan gerbang sanggarnya. Dia bingung bagaimana caranya bisa pulang ke rumahnya tanpa diketahui wartawan. Carlos datang menghampirinya yang sedang mengintip digerbang sanggar itu.


"Lara kau mau pulang?"tanya Carlos.


"Iya, tapi wartawan masih ada didepan gerbang luar"ucap Lara.


"Kau mau pakai caraku gak?"tanya Carlos.


"Cara seperti apa?"tanya Lara balik.


Carlos mengeluarkan jaket, topi, masker, wig dan kaca mata lalu dia memakainya.


"Apa aku sekarang terlihat seperti Carlos?"tanya Carlos.


"Tidak, seperti orang lain"ucap Lara.


"Nah ikutilah caraku seperti ini"ucap Carlos.


"Tapi aku tidak memiliki barang-barang sepertimu itu"ucap Lara.


"Tenang, diranselku masih ada"ucap Carlos.


"Kau selalu membawa barang seperti itu?"tanya Lara.


"Karena aku artis, kemanapun kadang sulit untuk memiliki privasi, tak jarang jadi kerumunan banyak orang yang ingin berfoto dan minta tanda tangan. Cara seperti ini lebih efektif saat aku berada ditempat umum"ucap Carlos.


"Kau pintar juga"ucap Lara.

__ADS_1


Carlos memberikan barang-barang yang dimilikinya pada Lara, kemudian Lara memakai barang-barang tersebut.


"Carlos bagaimana?"tanya Lara setelah memakai barang-barang itu.


"Cantik (Carlos keceplosan dengan isi hatinya)....."ucap Carlos.


"Kok cantik?"tanya Lara.


"Eh,....maksudku cocok, kau tidak terlihat sepertimu sebelumnya"ucap Carlos.


"Oh.....,aku pulang dulu ya"ucap Lara.


"Oke, hati-hati"ucap Carlos.


Lara keluar dari sanggar tari itu tanpa dikenali wartawan.Dia senang akhirnya bisa pulang ke rumahnya tanpa hambatan.


Sampai didepan rumahnya Lara melihat kerumunan wartawan didepan pagar pintu gerbang rumahnya.


"Aduh kenapa para wartawan itu sudah ada disitu, gimana aku masukin mobilnya"ucap Lara.


Lara putar balik dan memarkirkan mobilnya diparkiran lahan perkebunan milik Gibran. Kemudian dia berjalan kaki menuju rumahnya dengan dandanan yang masih menyamar seperti sebelumnya. Dia melewati kerumunan wartawan dan masuk ke dalam area rumahnya.


"Huh......, kalau setiap hari seperti ini merepotkan juga. Aku salut dengan Carlos yang setiap hari harus berhadapan dengan para wartawan, bahkan dimanapun dia berada pasti jadi incaran para wartawan itu"ucap Lara.


Lara langsung menuju ke dalam rumahnya. Dia melepas atribut penyamarannya. Kemudian mandi dan berganti pakaian. Barulah Lara mencari keberadaan Mahira. Ibu mertua dan Mahira sedang asyik bermain diruang bermain dirumahnya. Lara menghampiri mereka dan berbaur bersamanya.


"Nak, didepan banyak wartawan mencarimu, ibu sempat khawatir takut kau tidak bisa masuk ke dalam rumah, tapi syukurlah kau bisa masuk ke dalam rumah"ucap Ibu Yuliana.


"Iya Bu, tadi Lara sangat kesulitan masuk ke dalam rumah"ucap Lara.


"Semoga Gibran cepat pulang, masalah ini harus segera diselesaikan biar hidupmu kembali nyaman"ucap Ibu Yuliana.


"Benar Bu, mungkin dua hari lagi Gibran akan pulang"ucap Lara.


"Iya Lucu"ucap Lara.


Lara menghampiri Mahira dan menemaninya bermain, dia berharap Gibran segera kembali pulang biar masalah ini cepat selesai. Dia juga sangat merindukan suami tercintanya itu.


***********


Gibran sedang membaca koran dan majalah. Dia melihat pemberitaan tentang Carlos dan Lara yang semakin memanas. Rasanya dia ingin cepat pulang dan membuktikan istrinya bukan peselingkuh dan memiliki hubungan terlarang bersama Carlos. Saat sedang asyik membaca koran dan majalah, suara teriakan Nona Zelina terdengar dari kamarnya.


"Ih......,tolong.......ih........"ucap Nona Zelona yang berteriak.


Gibran langsung masuk ke dalam kamar Nona Zelina, khawatir terjadi sesuatu padanya. Ketika Gibran masuk ke kamar itu, Nona Zelina hanya mengenakan handuk. Dia ketakutan dan berdiri diatas meja riasnya. Gibran berusaha menghampirinya untuk tahu kenapa dia berteriak tadi.


"Nona Zelina ada apa?"tanya Gibran.


"Itu.....ada kecoak, aku takut"ucap Nona Zelina.


"Kecoak?......mana?"tanya Gibran.


"Itu, dibawah lantai, tadi kecoaknya merayap ditubuhku, terus terjatuh dilantai"ucap Nona Zelina.


Gibran mencari kecoak itu, setelah mendapatinya, dia membuangnya ke luar jendela kamar itu.


"Nona Zelina turunlah, aku sudah membuang kecoaknya"ucap Gibran yang berada didepan Nona Zelina.


Nona Zelina melompat dari meja rias itu dan menjatuhi tubuh Gibran hingga keduanya jatuh dilantai. Handuk Nona Zelina terbuka dan posisinya memeluk Gibran diatasnya. Gibran langsung menutup mata ketika melihat tubuh Nona Zelina. Tapi Nona Zelina sengaja terus memeluk Gibran.


"Nona Zelina cepat pakai handukmu"ucap Gibran.


"Kenapa?...bukannya lelaki suka melihatnya"ucap Nona Zelina.

__ADS_1


"Nona Zelina saya meminta dengan hormat cepat pakai handukmu dan bangunlah dari tubuhku"ucap Gibran.


Nona Zelina tak menggubris malah memberi pemanasan ringan pada tubuh Gibran. Dengan sentuhan itu, Gibran lansung menggerakkan tangannya mengambil handuk itu dan bangun sambil melepas pelukan Nona Zelina lalu membungkus tubuh Nona Zelina dengan handuk itu tanpa membuka matanya.


"Apa kau tak menginginkan hal ini bersamaku?" tanya Nona Zelina.


"Nona Zelina yang terhormat, tolong jaga sikap Anda"ucap Gibran.


"Aku bisa jadi simpanan untukmu, akan ku puaskan setiap kesepianmu"ucap Nona Zelina.


"Anda seharusnya belajar dari kasus suamimu, tapi kau malah mengulangi kesalahannya. Apa pantas seorang wanita terhormat sepertimu mengatakan hal itu"ucap Gibran.


"Apa arti sebuah kehormatan jika kita tidak bahagia"ucap Nona Zelina.


"Anda bisa memulai hidup baru dan mendapatkan lelaki yang baik untuk Anda"ucap Gibran.


"Tapi aku maunya kamu Gibran, aku cinta padamu"ucap Nona Zelina.


"Nona ku peringatkan lagi, tolong profesional jika tidak saya akan meminta orang lain menggantikan saya"ucap Gibran.


Gibran keluar dari kamar Nona Zelina selesai bicara padanya.


"Gibran kenapa?.....apa aku tak pantas untukmu" ucap Nona Zelina.


Nona Zelina menangis tersedu-sedu dikamarnya.


Dia sedih dengan penolakan Gibran padanya. Baru saja dia merasa jatuh cinta tapi langsung ditolak begitu saja. Hatinya begitu terluka karena penolakan itu.


***********


Zion menemani Dianka pergi ke butik memilih gaun yang akan dipakainya dipesta. Berkali-kali Dianka berganti gaun untuk mencari gaun yang cocok untuknya. Zion terus meminta agar desainernya mencarikan gaun yang paling bagus dan mahal untuk dipakai Dianka malam ini.


"Hei Zion, dari tadi kau terus bilang belum sempurna, kau tahu aku lelah berganti gaun terus menerus"ucap Dianka.


"Wanita sepertimu harus memakai gaun terbagus supaya ada nilai harganya dimata orang lain" ucap Zion.


"Apa kau bilang tadi"ucap Dianka sambil menghampiri Zion.


"Sudahlah itu kenyataannya, kau mau orang-orang mentertawakanmu yang tak sebanding denganku nanti jika kau tak terlihat sempurna"ucap Zion meledek Dianka.


"Mulutmu itu ya memang pedas, berapa kilo hari ini kau makan cabai"ucap Dianka.


"Kau tahu mulutku pedas jadi jangan protes, cepat bergantilah gaun lain yang lebih mahal dan bagus biar singa ini berubah jadi Putri yang cantik jelita"ucap Zion.


"Hih"ucap Dianka kesal pada Zion yang meledeknya terus.


Dianka berganti gaun yang mahal dan terbagus dibutik itu. Dia juga didandani penata rias yang sudah disewa Zion untuk mendandani Dianka.


Setelah selesai Dianka keluar dari ruangan berhias, Zion sampai melongo melihat Dianka begitu cantik mengenakan gaun berwarna biru dongker yang mewah itu. Dia melihat Dianka dari ujung kepala sampai kaki.


"Kenapa?...singa ini sudah berganti putri cantik jelita kan, kalau begini aku bisa mencari calon suami yang mulutnya seperti pangeran berkuda putih bukan sepertimu yang bermulut cabai bikin telingaku panas"ucap Dianka.


"Hei kau tidak tahu terimakasih ya, aku yang membuatmu jadi Putri cantik jelita, dan kau mau meninggalkanku, jangan harap. Aku takkan melepaskanmu sedetikpun. Kau tidak akan bisa jelalatan disana"ucap Zion.


Zion langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Dianka. Dia mengambil tangan Dianka dan meletakkan ditangannya.


"Gandeng terus tanganku, jangan berani melepaskan tanpa seizinku"ucap Zion.


"Ditaktor"ucap Dianka.


"Tapi kau suka itu"ucap Zion.


"Hih"ucap Dianka kesal.

__ADS_1


__ADS_2