ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Generation 2 : Part 21


__ADS_3

Almira keluar dari rumah Mahira, walaupun Lara berusaha mencegahnya. Dia berjalan di tepi jalan menyeret koper di tangannya. Almira sedih karena belum sempat menjelaskan semuanya pada Mahira. Semua yang terjadi begitu cepat, Almira harus menerima kemarahan kakaknya. Dia duduk di kursi tepi jalan. Hujan menguyur tubuhnya sampai basah. Almira hanya diam. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Seseorang keluar dari mobil itu, dia membawa payung meneduhi tubuh Almira dengan payung itu.


"Almira kenapa kau hujan-hujanan?" tanya Chaiden.


Almira menengok ke atas, wajah Chaiden terlihat jelas.


"Aku ...," ujar Almira ragu.


"Ya udah kita ke mobil dulu," ujar Chaiden.


Almira masuk ke dalam mobil Chaiden. Di dalam mobil Chaiden memberinya handuk miliknya untuk mengeringkan tubuhnya yang basah kuyup.


"Aku antar kau pulang," ucap Chaiden.


"Aku tidak bisa pulang," jawab Almira.


"Kenapa?" tanya Chaiden.


Akhirnya Almira menceritakan semuanya pada Chaiden, termasuk Mr.X yang akhir-akhir ini mengganggu hidup Mahira.


"Jadi orang yang selalu meneror Mahira itu Mr.X?" tanya Chaiden.


"Iya, selama ini aku sengaja tidak memberitahu Kak Mahira kalau sebenarnya aku percaya kalau Mr.X itu ada. Hanya saja aku tidak ingin Kak Mahira semakin ketakutan. Setiap Mr.X mengirim barang-barang untuk meneror Kak Mahira, aku coba menerimanya dan tidak memberikan pada kakak, aku menyimpannya di kamarku sembari aku mencari tahu siapa Mr.X yang sebenarnya," ujar Almira.


"Aku sering mendengar cerita itu dari Mahira, ku pikir itu hanya karena rasa bersalahnya pada Papanya, tak ku sangka Mr.X sudah sejauh ini," ungkap Chaiden.


"Kak Mahira salah faham, dia mengira akulah Mr.X karena dia menemukan semua bukti itu di kamarku, ditambah lagi, dia tahu kalau aku dan kau ...," ucap Almira terhenti.


"Aku dan kau apa?" tanya Chaiden.


"Chaiden, aku ... aku Jodi," jawab Almira.


Deg


Chaiden terkejut saat Almira mengatakan bahwa dirinya Jodi. Orang yang selama bertahun-tahun dicari olehnya.


"Kau Jodi? kenapa kau tidak bilang padaku? kenapa kau menutupi semuanya? kau tahu aku mencarimu?" Chaiden marah sambil memegang kedua lengan Almira.


"Iya, aku Jodi, aku tidak bisa memberitahumu karena Kak Mahira sangat mencintaimu, bagaimana aku caranya aku harus memberitahumu, aku tidak ingin berada di antara kalian," ujar Almira.

__ADS_1


Chaiden melepas tangannya dari lengan Almira, dia memukul setir mobilnya.


"Chaiden maafkan aku, sejak pertemuan terakhir kita, ayah dan ibuku meninggal, aku terpuruk, hidup dijalanan dan bertemu Papa Alex, beliau membawaku ke rumahnya dan mengangkatku sebagai anaknya, Mama Lara, Havara dan Kak Mahira, mereka baik menyayangiku seperti keluarganya sendiri, namaku diganti Almira setelah resmi menjadi anggota di keluarga Aliando, saat aku tahu kau calon suami Kak Mahira, aku tak mengungkap jati diriku, semua ku lakukan karena ingin Kak Mahira bahagia," ujar Almira.


"Kau tahu Jodi, hatiku hancur saat kau pergi, aku bahkan tak pernah memegang bola basket lagi, karena bagiku bola basket itu kamu. Aku juga pergi ke tempat yang dulu selalu kita kunjungi, aku pikir itu bisa mengurangi rasa rinduku," ucap Chaiden.


Almira hanya menangis. Hatinya campur aduk.


"Sekarang kita ke rumahku dulu, bajumu basah," ajak Chaiden.


Almira hanya diam. Dia hanya memikirkan kakaknya. Berat rasanya ketika kakaknya membenci dirinya. Padahal selama ini mereka begitu dekat satu sama lain.


Chaiden mengendarai mobilnya menuju rumahnya. Almira terlihat murung sepanjang perjalanan. Dia terus meneteskan air matanya.


Sampai di rumah Chaiden, Almira turun dari mobil, Chaiden mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ibu Rika menyambut mereka, Chaiden meminta izin pada ibunya agar Almira bisa tinggal untuk sementara waktu di rumahnya.


"Ya sudah, kau antar Almira ke kamar tamu, biar Bi Nana mengantarkan susu jahe untuk Almira," ujar Ibu Rika.


"Iya Bu," jawab Chaiden.


"Terimakasih Bu Rika," ucap Almira.


"Sama-sama nak," sahut Bu Rika.


"Kak untuk apa Almira ada di sini?" tanya Sisi.


"Dia akan tinggal di rumah ini untuk sementara waktu," jawab Chaiden.


"Apa rumah ini penampungan?" ketus Sisi.


"Sisi jaga ucapanmu, Almira ini adik Mahira, jadi kau harus menghormatinya," ujar Chaiden.


"Kemarin kakaknya, sekarang adiknya, apa dia juga menyukaimu?" celetuk Sisi.


"Sisi!" pekik Chaiden.


"Chaiden sudahlah, lebih baik aku mencari hotel," ujar Almira.


"Tidak, ayo ikut aku," ajak Chaiden.

__ADS_1


Chaiden menarik koper Almira, mengajaknya masuk ke kamar tamu. Tinggal Sisi yang terlihat jeles melihat Chaiden membawa Almira pulang ke rumahnya.


***


Pagi hari itu Chaiden dan Almira main basket di halaman rumah. Mereka terlihat akrab kembali setelah sekian lama berpisah. Seperti biasa Chaiden tak pernah mengalah saat main basket bersama Almira. Dia terus memimpin.


"Chaiden, kau masih seperti dulu," ujar Almira.


"Kau juga masih seperti dulu, kalah denganku," jawab Chaiden.


"Aku tidak akan kalah kali ini," ungkap Almira.


Almira berusaha merebut bola dari tangan Chaiden, mereka saling berebut, tiba-tiba Sisi masuk dan ikut bermain. Dia sengaja mendorong Almira saat bermain basket.


"Kenapa Sisi bersikap seperti itu?" Almira merasa aneh dengan sikap Sisi yang memghalanginya bermain dengan Chaiden.


Almira kembali bermain tapi saat dia berhasil mengambil bola dari tangan Sisi, tiba-tiba Sisi pura-pura terjatuh hingga lututnya baret.


"Sisi," ucap Chaiden menghampirinya.


"Sakit Kak," ucap Sisi manja.


Chaiden langsung membopongnya,membawa Sisi ke kamarnya. Dia membaringkan Sisi di ranjang, Almira mengikuti mereka sampai ke depan pintu. Dia melihat Chaiden sedang mengobati baret di kaki Sisi. Sikap Sisi terlihat manja, bahkan dia tak ingin Chaiden pergi, Sisi meminta Chaiden tetap bersamanya.


"Kenapa sikap Sisi seperti mencari perhatian pada Chaiden? apa ini normal untuk seorang adik yang sudah dewasa minta dipeluk dan ditemani kakak lelakinya?" ungkap Almira.


Almira sengaja mengetuk pintu kamar Sisi.


Tok!tok!tok!


"Masuklah Almira," sahut Chaiden yang sedang duduk di ranjang menemani Sisi.


Almira memberanikan diri masuk. Dia melihat kamar Sisi yang dipenuhi foto Chaiden. Saat Almira mendekat, Sisi langsung menyandarkan kepalanya di bahu Chaiden. Sontak Almira merasa Sisi berlebihan, dan sengaja membuatnya agar berpikir Chaiden itu miliknya.


"Anak ini, sikapnya tidak seperti adik pada kakaknya," batin Almira.


"Sisi bagaimana kakimu? apa masih sakit?" tanya Almira.


"Tenang saja Almira, aku baik-baik saja, aku tahu tadi kau tidak sengaja mendorongku," ucap Sisi.

__ADS_1


"Apa? dia menyalahkanku? jelas-jelas dia menjatuhkan dirinya sendiri, ada yang tidak beres dengan anak ini?" batin Almira.


Almira merasa ada yang aneh dari sikap Sisi. Dia terlihat protektif pada Chaiden, seperti seseorang yang takut kehilangan. Padahal Almira hanya main basket saja tapi sikapnya seolah tak ingin Chaiden dekat dengan Almira.


__ADS_2