
Lara pulang ke rumah dengan mata yang sembab. Tubuhnya lemas berjalan perlahan menaiki setiap tangga dirumah itu. Setelah sampai dilantai atas, Alex menghampirinya dan memeluk Lara. Tangan Lara langsung melepas paksa pelukan Alex darinya. Alex tak tahu kenapa Lara tiba-tiba begitu lalu dia bertanya pada Lara.
"Sayang kamu kenapa pulang-pulang kok kelihatan murung, apa ada yang salah?"tanya Alex.
"Kau puas Alex, sekarang kau sudah bisa menghancurkan hidupku. Aku yang tak tahu apapun jadi sasaran dendam pribadimu yang membrutal"ucap Lara.
"Sayang aku..."ucap Alex langsung berhenti bicara saat Lara memotong ucapannya.
"Pantas kau baik padaku akhir-akhir ini, itu karena aku bukan anak Giorgiokan?"ucap Lara.
"Sayang aku memang bersalah atas semua yang ku lakukan padamu, aku minta maaf sayang"ucap Alex langsung berlutut dikaki Lara.
"Minta maaf, apa kata-kata itu bisa merubah semuanya, perbuatanmu, rasa sakit ku dan kematian Ardi yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan dendammu Alex"ucap Lara.
"Aku lelah Alex, sepertinya aku memang takkan pernah bisa bersamamu. Hidup bersama orang yang telah menghancurkan hidupku hanya akan membuatku semakin terluka dan bersalah pada Ardi"ucap Lara.
Lara melangkah meninggalkan Alex yang masih berlutut. Dia masuk ke kamarnya dan memasukkan pakaian miliknya yang ada dilemari ke dalam koper. Sudah tak ada lagi yang bisa membuatnya bertahan. Dendam yang ingin dia balas terasa menghilang setelah dia tahu semua kebenaran ini.
"Aku tak mau tinggal dengannya lagi, hatiku sakit sekali. Kenapa semua ini tak adil untukku? Apa salahku sehingga harus menanggung semua penderitaan ini?"ucap Lara.
Lara keluar dari kamarnya dengan menyeret koper ditangannya. Melihat Lara seperti itu, Alex langsung menghampirinya dan mengambil koper ditangannya.
"Kau mau kemana sayang? kau istriku, selamanya akan seperti itu"ucap Alex.
"Istri?....bahkan kau menjadikanku mangsamu. Kau memperlakukanku seperti binatang tak ada sedikitpun belas kasihmu padaku.Apa itu yang disebut istri?"ucap Lara.
"............."Alex terdiam karena merasa bersalah.
"Kalau seandainya aku masih anak Giorgio sampai sekarang, pasti kau masih menyiksaku sesuka hatimu, iyakan?"ucap Lara sambil menangis.
".............."Alex hanya diam.
"Aku dan Dianka bertukar tempat dan takdir.Aku harus menanggung takdir Dianka untukku, padahal aku tidak tahu apapun bahkan aku tak pernah membayangkan sebelumnya akan melewati penderitaan ini hik...hik...."ucap Lara.
__ADS_1
"Sayang, aku memang bersalah dan bodoh karena hidup dalam dendam yang tak ada habisnya. Dendam yang telah membuatku kehilangan orang-orang terdekatku, aku pantas mendapat hukuman atas semua kesalahanku"ucap Alex.
Lara berjalan menuju tangga tapi Alex langsung memeluknya dari belakang.
"Aku mohon jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu sayang bukan karena aku bersalah.
Aku sudah mencintaimu sebelum mengetahui kalau kau bukan anak Giorgio"ucap Alex.
Lara berpikir dan memikirkan semuanya yang telah terjadi. Apa jadinya bila dia pergi tanpa membalas apa yang telah dilakukan Alex padanya. Kematian Ardi adalah saksi hidup kekejaman Alex. Semua itu harus dibalas dan memenjarakan Alex adalah hukuman yang paling tepat untuknya.
"Aku mohon sayang jangan tinggalkan aku"ucap Alex memohon lagi pada Lara.
"Baik, aku akan tetap disini bersamamu.Tapi berjanjilah padaku kau akan berubah lebih baik Alex"ucap Lara.
"Aku janji untuk itu sayang"ucap Alex.
Alex membalikkan tubuh Lara dan mencium bibir cantiknya itu. Lara meneriman ciuman dari Alex walaupun dihatinya dipenuhi dendam pada Alex.
***********
"Tunggu, boleh tanya sesuatu?"tanya Dianka.
"Nona Dianka ingin bertanya apa?"tanya Pengawal itu.
"William sedang apa sekarang?"tanya Dianka.
"Boss sedang sakit dikamarnya, Nona"ucap Pengawal itu.
"Kenapa dia tidak berobat ke rumah sakit?"tanya Dianka.
"Boss tidak pernah mau berobat dimanapun tempatnya. Biasanya dia menahan rasa sakitnya sampai sembuh sendiri"ucap Pengawal itu.
"Baiklah, terimakasih atas informasinya"ucap Dianka.
__ADS_1
Pengawal itu meninggalkan Dianka, sementara Dianka berjalan menuju ke kamar William. Tanpa ragu dia mengetuk pintu kamar William.
Tuk.........tuk........tuk.........
Karena tak ada jawaban dari William. Dianka coba membuka pintu kamar itu. Ternyata tak dikunci, Dianka masuk ke kamar William. Dia melihat William berbaring diranjang dengan wajah yang pucat. Dianka langsung menghampirinya dan duduk disampingnya. Tangan kanannya memegang dahi William untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Panas sekali"ucap Dianka.
William hanya memandang wajah cantik Dianka.
"Aku akan mengambilkanmu obat dan alat untuk mengompres"ucap Dianka.
William hanya mengangguk tanpa bersuara. Dianka mengambil obat dan alat kompres.
"William kau harus minum obat penurun panas ini ya"ucap Dianka memberikan obat berupa pil ke mulut William.
William menahan tangan Dianka dan bicara padanya.
"Aku ingin minum obat kalau kau ada disini menemaniku Dianka," ucap William.
"Iya, aku akan disini menemanimu," ucap Dianka.
Dianka memberi obat untuk William. Dia juga menyelimutinya. William sangat senang bisa melihat Dianka disaat dia sedang sakit seperti ini.
"Dianka berbaringlah disampingku, aku tidak akan melakukan apapun padamu," ucap William.
Dianka menganggguk. Dia berbaring disamping William. Ditengah ada guling yang membatasi mereka tidur.
"Kau akan tidur denganku sayang?"tanya William.
"Aku hanya tidur disini untuk memastikanmu tidak demam lagi"ucap Dianka.
"Kalau begitu aku ingin sakit setiap hari, biar kau tidur denganku setiap hari"ucap William.
__ADS_1
Tak lama Dianka tidur disamping William.Melihat Dianka tertidur William membelai wajahnya.
"Sayang akhirnya kita bertemu dan bersama kembali setelah perpisahan bertahun-tahun lamanya, aku bisa menemukanmu. Terimakasih atas pertolonganmu waktu itu sayang, aku akan menjagamu dan membahagiakanmu"ucap William.