
Mahira sedang membaca sebuah novel, masih saja mengurung diri di kamarnya. Dia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya dan Papanya. Belum lagi teror yang diberikan Mr.X itu. Mahira belum siap pergi bekerja ke kantornya untuk sementara waktu.
Selesai membaca novel, dia ingin menceritakan isi novel itu pada Almira. Ceritanya lumayan berkesan dan penuh misteri. Mahira berjalan keluar dari kamarnya mencari Almira. Ternyata adik kecilnya baru pulang dari bekerja. Mahira membuntuti Almira sampai ke kamarnya, lalu mereka mengobrol tentang novel itu.
"Almira kakak baca novel berjudul Cinta Berdarah," ucap Mahira antusias.
"Oya, apa isi ceritanya kak?" tanya Almira.
"Seorang kakak beradik yang mencintai orang yang sama, lalu adiknya menjadi terobsesi pada cintanya dan menjadi psikopat cinta. Dia meneror kakaknya hingga hendak membunuh kakaknya. Akhirnya kakak beradik dan orang yang mereka cintai mati bersama," ujar Mahira.
"Ceritanya bagus, tapi jika seandainya aku dan kakak ada diposisi itu, apakah kakak akan mengalah dan merelakan orang yang kakak cintai?" tanya Almira.
"Aku ... aku ... tidak tahu," jawab Mahira.
"Bagaimana jika aku seperti adik dalam cerita novel itu kak? apa kakak akan membenciku atau menyerahkan Chaiden demi hubungan persaudaraan kita? Apa kakak mau mengalah untukku dan berkorban demi cinta kakak untukku?" tanya Almira sambil melotot dan berjalan mendekati Mahira dan membuatnya terpojok.
"Aku ... aku ...," jawab Mahira ragu, dia ketakutan melihat Almira dengan tatapan tajam dan menyudutkannya seperti seekor pemangsa yang siap memangsa buruannya.
"Ha ... ha ... muka kakak ketakutan sekali sih, aku cuma bercanda kak. Habis akhir-akhir ini kakak sedih terus," ujar Almira.
"Adik kecil kau membuatku ketakutan tahu," pekik Mahira mengelus dadanya lega.
"Oya kakak novel itu kan fiksi belaka jadi jangan dianggap serius," ucap Almira.
Mereka akhirnya mengobrol bersama hingga larut malam. Mahira senang bisa bersenda gurau lagi dengan adiknya Almira. Sudah beberapa minggu ini Mahira mengurung diri di kamarnya. Tapi kini Mahira bisa tersenyum kembali dan bercerita banyak hal pada Almira.
***
Mahira janjian dengan Chaiden bertemu di taman siang itu. Kebetulan hari ini hari libur, jadi Chaiden bisa menemani Mahira berjalan-jalan di taman. Mahira senang sekali bisa bersama Chaiden lagi setelah beberapa hari dia tidak bicara dan bertemunya. Chaiden adalah semangat hidup bagi Mahira. Dia selalu berharap suatu hari bisa bersama Chaiden menghabiskan hari tuanya bersama. Saat Mahira dan Chaiden sedang berjalan-jalan di taman itu, muncul Vita dengan muka marahnya melihat ke arah Mahira.
"Mahira sudah ku peringatkan, jangan mendekati Chaiden lagikan!" tegas Vita berapi-api. Telunjuknya mengarah ke muka Mahira.
Vita tak bisa menahan kemarahannya, dia mendorong Mahira menggunakan tangannya. Untung Chaiden menangkap tubuh Mahira sehingga tidak sampai jatuh. Chaiden langsung memarahi Vita.
"Vita apa yang kamu lakukan pada Mahira keterlaluan!" ucap Chaiden.
__ADS_1
"Ini semua karena dia tidak mendengarkan peringatanku," pekik Vita.
Mahira hanya diam. Dia lelah melihat tingkah Vita yang terus saja mengancamnya.
"Kalau kamu begini lagi pada Mahira, jangan harap aku mau bertemu dan bicara padamu lagi," ujar Chaiden.
"Chaiden, aku mohon dengarkan aku, Mahira tidak pantas untukmu," ucap Vita.
"Pantas tidak pantas, aku yang bisa menentukan siapa yang boleh berada di sampingku, dan orang itu adalah Mahira," ujar Chaiden.
"Vita, aku gak akan meninggalkan Chaiden," ucap Mahira.
"Kamu ya, awas tunggu saja! aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!" ancam Vita lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Chaiden mengajak Mahira duduk di kursi taman itu.
"Mahira apa yang dikatakan Vita jangan dihiraukan ya," ucap Chaiden.
"Iya, aku gak takut kok dengan ancamannya, asalkan ada kamu, aku bisa melewati semuanya," jawab Mahira.
Tak lama mereka berbincang, Chaiden mendapat telpon dari sekretarisnya yang sedang lembur. Chaiden mendapat kabar ada proyek yang terkendala. Dia berpikir harus segera kembali ke perusahaan.
"Mahira, aku harus kembali ke perusahaan hari ini, aku akan mengantarkanmu pulang," kata Chaiden.
"Tidak usah, aku masih ingin di taman ini," tolak Mahira. Dia tahu calon suaminya pasti ada masalah, itu sebabnya Mahira berusaha pengertian.
"Baiklah, aku pergi dulu,jika ada apa-apa kabari aku ya," ucap Chaiden.
"Oke," jawab Mahira.
Chaiden meninggalkan Mahira di taman itu, dia kembali ke perusahaannya. Di taman Mahira berjalan-jalan melihat berbagai macam bunga. Setelah merasa sudah lelah dan sudah sore, dia memutuskan pulang. Mahira berjalan keluar taman, dia berjalan di jalan depan taman, Mahira menunggu taksi lewat, tak lama sebuah taksi datang menghampirinya. Mahira naik ke taksi itu. Saat di dalam taksi, Mahira merasa aneh, supir taksi itu memakai jubah hitam dan memakai topeng. Wajahnya tidak terlihat dan penampilannya menyeramkan.
"Hallo Mahira apa kabar?" tanya Mr.X.
"Siapa kau?" tanya Mahira curiga.
__ADS_1
"Masa kau tak mengenaliku, akulah Mr.X itu," jawab Mr.X.
"Mau apa kau? kenapa selalu menerorku?" tanya Mahira.
"Apalagi, selain ingin membuat permainan denganmu," jawab Mr.X.
"Kenapa harus aku? apa salahku padamu?" tanya Mahira.
"Kau tahu Chaiden? jika kau ingin selamat dan aku tidak melanjutkan permainan ini, tinggalkan Chaiden secepatnya!" jawab Mr.X mengancam Mahira.
Mahira hanya diam. Dia mulai tahu tujuan Mr.X menerornya selama ini, itu semua ada hubungannya dengan Chaiden.
Tak lama Mahira pingsan dan tahu-tahu sudah berada di kamarnya. Dia terbangun dari pingsannya. Wajah yang pertama kali dia lihat adalah Almira adik kesayangannya. Mahira bingung kenapa dia ada di kamarnya padahal tadi ada di taksi bersama Mr.X itu.
"Almira kenapa aku ada di sini?" tanya Mahira.
"Tadi Chaiden meneleponku untuk menjemput kakak di taman, lalu aku pergi ke taman. Aku melihat Kak Mahira sedang tidur di kursi taman," jawab Almira.
"Gak mungkin, Almira tadi kakak naik taksi dan di dalam taksi itu ada Mr.X, terus kakak berbicara dengannya dan setelah itu kakak pingsan," bantah Mahira yang merasa realitanya tidak seperti yang dikatakan Almira.
"Kak Mahira mungkin bermimpi, soalnya kakak tadi kan tidur," sanggah Almira.
"Almira beneran tadi kakak bertemu Mr.X itu dan tadi kakak pingsan bukan tidur." Mahira kembali menjelaskan apa yang terjadi.
"Sudah-sudah Kak, ingat pesan Chaiden, Kakak tidak boleh banyak pikiran, dan juga kakak harus banyak istirahat ya," ucap Almira.
"Tapi Almira ...." ucap Mahira.
"Aku ke kamarku dulu ya, kakak cantik harus istirahat ya"l," ucap Almira.
Mahira mengangguk. Untuk saat ini dia belum bisa membuat Almira percaya padanya.
Almira meninggalkan kamar Mahira, sementara Mahira masih bingung kenapa dia bisa berada di taman. Apakah Mr.X memindahkannya ke taman? kenapa juga Mr.X menyuruh Mahira menjauh dari Chaiden? kenapa dan kenapa itu yang terlintas dipikiran Mahira.
__ADS_1