ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Lara Mulai Berani


__ADS_3

Lara pergi meninggalkan rumah besar Alex dengan mobil pribadi yang telah disediakan Alex untuknya. Dia pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli handphone. Dia turun dari mobil lalu berjalan masuk ke pusat perbelanjaan itu. Lara membeli dua buah handphone. Satu handphone yang dipakai sehari-hari, satunya handphone untuk menghubungi William.


Setelah dari pusat perbelanjaan dia pulang. Diperjalanan Lara bertemu dengan mobil milik suaminya. Alex keluar dari mobilnya dan masuk ke mobil yang ditumpangi Lara. Lalu menyuruh supir keluar dari mobil itu.


"Mas kau mau apa?"tanya Lara.


"Aku hanya rindu padamu sayang"ucap Alex.


"Tapi aku ini mangsamu Mas"ucap Lara.


Alex memeluk Lara. Dia tak tahu kenapa akhir-akhir ini selalu mengingat namanya dan wajahnya. Setiap hari Alex ingin menghabiskan waktu bersama Lara.


"Aku membawa sesuatu untukmu" ucap Alex.


Lara hanya diam mengacuhkannya. Bersikap baik padanya sama saja memberinya kesempatan untuk bebas dari jerat hukum.


Alex mengeluarkan setangkai mawar merah dari dalam jasnya. Selama ini dia tak pernah bersikap manis pada siapapun. Ini pertama kalinya dia bersikap manis pada Lara.


"Ini untukmu" ucap Alex sambil memberikan setangkai bunga mawar itu.


Lara hanya melihatnya saja, dia tak sedikitpun ingin mengambilnya. Rasa sakit hatinya sudah menutup pintu hatinya.


"Ambilah, jangan buat aku marah!" perintah Alex mulai marah saat diacuhkan istrinya.


"Benar? bukannya aku ingin menjebloskan Alex ke penjara? bersikap manis adalah salah satu caranya" batin Lara.


Lara mengambil bunga mawar itu sembari memberi Alex senyuman palsu.


"Terimakasih Mas, aku suka" ucap Lara.


"Kali ini aku akan bersikap manis padamu" batin Lara.


Alex meraih wajah Lara dan menciumnya. Dia mengajak Lara merajut cinta. Demi misinya, Lara mengikuti kemauan Alex. Sementara para pengawal menunggunya berjaga diluar.


Setelah selesai, Alex memangku istrinya dan memeluknya.


"Kau lapar? kita bisa makan direstoran dekat sini" ucap Alex.

__ADS_1


"Aku lelah, aku ingin pulang"ucap Lara.


"Baik, aku akan suruh supir mengantarkan kau pulang kembali, nanti malam temani aku main kartu di Club Merdian, Ricard akan menjemputmu nanti malam. Berdandanlah yang cantik untukku"ucap Alex.


Alex keluar dari mobil itu dan masuk ke mobilnya lagi. Sementara Lara diantar supir kembali ke rumah besarnya.Sampai dirumah besar itu, Ibu Maria dan Sila memarahinya lagi.


"Lara kau dari mana? berani sekali kau pergi seenakmu sendiri"ucap Ibu Maria.


Ibu Maria hendak mencengkram tangan Lara tapi Lara malah berbalik mencengkram tangan Ibu Maria. Kali ini dia tak ingin berdiam diri lagi. Wanita tua gila itu harus diladeni agar tak semena-mena lagi.


"Dengar, aku tak akan diam saja sekarang. Kau harus merasakan yang aku rasakan sebelumnya" ucap Lara.


"Aw...sakit. Aku akan melaporkanmu pada Alex"ucap Ibu Maria.


"Lepaskan ibuku Lara!" perintah Sila yang berusaha melepas cengkraman Lara pada Ibunya.


Lara mengcengkram tangan Sila menggunakan tangan satunya. Dia harus melawan kedua wanita yang sudah menganiayanya.


"Aw...sakit. Kau sudah berani melawan kami ya Lara"ucap Sila.


"Aku tidak takut pada kalian sekarang, kalau kalian ingin melaporkanku pada Alex, silahkan!"ucap Lara.


"Aw..."ucap Ibu Maria dan Sila kesakitan.


"Dengar, jika kalian berani macam-macam padaku lagi awas saja"ucap Lara.


Setelah bicara seperti itu, Lara melepas cengkramannya lalu meninggalkan mereka berdua.


"Aku harus lebih berani dan lebih kuat sekarang agar bisa melawan Alex. Aku yakin suatu saat aku bisa menjebloskan Alex ke penjara"ucap Lara.


Lara sekarang memutuskan untuk bisa membalas semua yang telah dilakukan Alex, Ibu Maria, dan Sila padanya. Sedikit kebaikan Alex padanya akan dimanfaatkan Lara untuk mencari tahu kelemahan Alex.


*************


Alex berada di apartemen pribadinya.Dia sedang duduk disofa sambil menikmati minuman beralkohol kesukaannya.Ricard datang menghadapnya.


"Bos, Dianka seertinya berkhinat pada kita"ucap Ricard.

__ADS_1


"Mana mungkin Dianka berani berkhinat padaku" ucap Alex.


"Tadi ada seseorang mengirim ini untuk Bos" ucap Ricard sambil memberikan amplop pada Alex.


Amplop itu berisi foto Dianka dan William. Alex langsung kaget dan marah. Dia menyuruh Ricard untuk memanggil Dianka. Setelah satu jam Dianka datang ke apartemen Alex dan menghadap padanya.


"Alex kau memanggilku?"tanya Dianka.


"Ya, kemarilah"ucap Alex.


Dianka mendekat pada Alex,Alex langsung berdiri dan mencekek Dianka.


"Alex....aku....ti...dak....bi...sa....ber.....na.....fas"


ucap Dianka terbata-bata.


"Dianka, kau berani mengkhianatiku"ucap Alex.


"Aku ti...dak....ta....hu...mak....sud....mu"ucap Dianka.


Alex melepas tangannya dari leher Dianka. Dianka langsung lemas tak berdaya. Alex mendekatinya dan berbicara padanya.


"Dianka kau sudah lama bekerja denganku,dan sekarang kau berani mengkhianatiku"ucap Alex.


"Aku tidak pernah mengkhianatimu Alex. Selama ini aku bekerja sesuai perintahmu, bahkan aku tak pernah menolaknya meskipun nyawa taruhannya"ucap Dianka.


"Dianka jika aku tahu kau benar-benar mengkhianatiku, kau tahu akibatnyakan"ucap Alex.


Dianka memberikan pistol pada Alex.


"Bunuh aku sekarang, jika aku memang pengkhianat. Aku rela mati jika itu maumu"ucap Dianka.


"Alex kau sudah berubah, aku bahkan tak mengenal kau yang sekarang. Aku berharap jika aku mati,aku bisa bertemu dengan dirimu yang dulu"ucap Dianka.


"Pergilah dari hadapanku, dan jangan kembali lagi Dianka"ucap Alex.


"Jaga dirimu baik-baik Alex, aku harap kau selalu baik-baik saja. Maafkan aku jika membuatmu marah, selamat tinggal"ucap Dianka.

__ADS_1


Dianka keluar dari apartemen milik Alex. Dia sedih Alex tak mempercayainya lagi, padahal dia sudah lama jadi tangan kanan Alex.


__ADS_2