
Zion pulang ke rumah besarnya, dia masuk ke dalam kamar. Dia melihat Dianka sedang berbaring diranjang membelakanginya. Zion langsung menghampirinya dan memeluk Dianka. Dia tahu pasti Dianka marah padanya karena meninggalkannya kemarin.
"Sayang kau marah?"tanya Zion.
"............."Dianka hanya diam.
"Aku sebenarnya tidak percaya kalau anak Katrine itu anakku, itu sebabnya aku ikuti dulu kemauannya. Aku ingin tahu apa maunya dan apa yang terjadi sebenarnya"ucap Zion.
Mendengar ucapan Zion, Dianka langsung berbalik dan memeluk Zion.
"Kangen ya"ucap Zion.
"Tapi kenapa kau tidak bilang dari kemarin?" tanya Dianka.
"Sayang aku kemarin ke rumah Katrine dan menemui anaknya. Maaf ya membuatmu cemas padaku"ucap Zion.
"Zion jangan tinggalkan aku lagi"ucap Dianka.
"Aku cinta padamu sayang, mana mungkin aku meninggalkanmu"ucap Zion.
"Zion seperti apa hubunganmu dengan Katrine dimasa lalu?"tanya Dianka.
"Dulu aku dan Katrine saling mencintai, kami bahkan tinggal bersama diapartemen selama bertahun-tahun lamanya. Tapi saat aku ingin mengajaknya ke jengjang yang serius tiba-tiba dia memutuskanku dan meninggalkanku tanpa alasan yang pasti, aku bahkan sampai terpuruk dan tidak memiliki semangat hidup lagi, bagiku dulu Katrine adalah hidupku ketika dia pergi hidupku hancur. Aku memutuskan pergi ke negara ini untuk melupakan Katrine dan memulai bisnis baru disini eh malah dapat jodoh disini" ucap Zion.
"Bagaimana perasaanmu pada Katrine sekarang Zion setelah kau bertemunya kembali?"tanya Dianka.
"Perasaanku sudah hilang untuk Katrine, hanya ada cinta untukmu sayang"ucap Zion.
"Zion.....kau tidak sedang menggodaku"ucap Dianka.
"Tidak sayang, apa perlu aku praktekkan rasa cintaku padamu biar kau percaya"ucap Zion.
"Aku lagi gak enak badan"ucap Dianka.
"Jangan-jangan kamu hamil sayang"ucap Zion.
"Masa sih? nanti ku tes pack deh"ucap Dianka.
"Semoga kau cepat hamil, biar Dafa punya adik, dan aku punya Zion junior"ucap Zion.
"Zion aku lapar"ucap Dianka.
"Kau belum makan memangnya?"tanya Zion.
"Habis aku memikirkanmu terus jadi gak ***** makan"ucap Dianka.
__ADS_1
"Kalau begitu makasih ya sayang sudah memikirkanku terus, I Love You"ucap Zion.
"I Love You Too"ucap Dianka.
Zion membopong Dianka turun ke lantai bawah menuju ruang makan.
"Zion aku ini berat"ucap Dianka.
"Gak masalah, toh aku menggendong orang yang ku cintai jadi rasanya ringan"ucap Zion.
"Turunkan aku sudah sampai"ucap Dianka.
Zion menurunkan Dianka, mereka duduk dikursi dan mulai makan. Selesai makan Zion berbicara pada Dianka.
"Sayang aku akan tinggal beberapa hari bersama Katrine, ada banyak hal yang harus ku selidiki, apa kau tidak masalah?"tanya Zion.
"Baiklah, tapi jangan lupa menelponku"ucap Dianka.
"Siap sayang"ucap Zion.
"Sayang malam ini kita itu dulu ya, tarkan kita gak bertemu berhari-hari"ucap Zion.
"Iya, nanti ku berikan sepuasmu, biar kau tidak lagi melirik wanita lain"ucap Dianka.
"Jadi semangat kalau kaya gini"ucap Zion.
**********
Lala sedang memainkan hamdphone miliknya. Tiba-tiba ada pesan bergambar dari nomor telpon yang tidak dikenalnya. Dia membuka pesan bergambar itu. Lara kaget saat mendapati foto itu adalah foto Gibran dan Nona Zelina dalam pose sensual. Dia langsung meneteskan air matanya dan seolah tak percaya kalau Gibran melakukan itu bersama Nona Zelina.
"Tidak mungkin, Gibran tidak mungkin seperti ini" ucap Lara.
"Tapi foto ini? jika ini benar, apa yang telah terjadi pada Gibran?"ucap Lara.
Lara langsung keluar kamarnya, dia menuju parkiran mobil. Dia mengendarai mobilnya menuju ke kantor polisi. Saat sampai dikantor polisi, Lara melihat Gibran sedang bersama Nona Zelina dikoridor kantor polisi itu. Saat Nona Zelina sadar kedatangan Lara, dia langsung pura-pura terjatuh dan akhirnya ditangkap Gibran.
Lara yang sedang berjalan menghampiri mereka sampai terpaku dan terdiam sesaat. Mata Gibran melihat kedepan, dia melihat istrinya mematung diarah depannya. Gibran langsung melepas Nona Zelina dari pelukannya.
"Lara sayang"ucap Gibran.
Lara langsung menangis dan meninggalkan tempat itu. Gibran mengejar Lara keluar dari kantor polisi itu. Nona Zelina hanya tersenyum melihat keadaan itu.
"Rencanaku sepertinya mulai berhasil, semoga secepatnya Lara menceraikan Gibran, dan aku bisa memilikinya"ucap Nona Zelina.
Lara terus berjalan menuju ke mobilnya. Saat dia mau membuka pintu mobilnya, Gibran menahannya.
__ADS_1
"Sayang, apa kau marah padaku?"tanya Gibran.
"............"Lara hanya diam.
"Sayang tidak seperti yang kau lihat"ucap Gibran.
"Lalu ini foto apa?"tanya Lara sambil menunjukkan foto sensual itu.
"Dari mana kau dapat ini?"tanya Gibran.
"Apa ini benar?"tanya Lara.
"Sayang aku.........."ucap Gibran kebingungan karena dia sendiri juga sedang menyelidiki kejadian itu.
"Oh, kau tidak menjawab berarti benar"ucap Lara.
"Sayang pada saatnya aku akan menjelaskan semuanya"ucap Gibran.
"Tidak perlu, semua jelas"ucap Lara.
Lara masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan Gibran.
"Sayang maafkan aku, aku masih menyelidiki kejadian itu, nanti pasti aku akan menjelaskan padamu setelah semuanya selesai"ucap Gibran.
Lara mengendarai mobilnya sambil menangis. Dia sebenarnya ragu dengan foto itu tapi jawaban Gibran tidak membuatnya lega bahkan membuatnya kecewa. Dia takut foto itu benar dan kebahagiaannya selama ini akan menghilang.
Lara pergi ke alun-alun diantara keramaian orang yang sedang berkumpul untuk jalan-jalan sore.
Dia duduk sambil memikirkan masalahnya, tiba-tiba Charlos duduk disamping kursinya.
"Kau sedang ada masalah?"tanya Charlos.
Charlos memakai topi dan masker saat dialun-alun itu untuk menghindari kerumunan para fansnya.
".........."Lara hanya diam.
"Kalau itu masalah pribadi, kau harus segera menyelesaikannya, jangan menghindar karena percuma juga. Masalah takkan selesai hanya dengan menghindar"ucap Charlos.
"Kau benar"ucap Lara.
"Bicarakan masalahmu itu baik-baik, aku yakin setiap masalah pasti ada jalan keluarnya"ucap Charlos.
"Makasih ya Charlos atas nasihat baikmu, ini sangat berguna untukku saat ini"ucap Lara sambil tersenyum.
"Nah gitu dong, aku seneng melihatmu kembali tersenyum"ucap Charlos.
__ADS_1
Meskipun hatinya mencintai Lara, tapi bagi Charlos melihatnya bahagia itu sudah membuatnya senang.