ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Mulai Bekerja dan Bekerjasama


__ADS_3

Dianka memakai baju kerjanya untuk bekerja diperusahaan milik Zion. Dia tersenyum memandang dirinya kembali memakai baju kerja setelan jas seperti dulu. Sudah lama sekali dia tak bekerja kantoran. Terakhir sebelum Alex memecatnya karena dituduh menghianatinya.


"Akhirnya aku bisa bekerja kantoran lagi, Dafa pasti suka melihatku bekerja dikantor"ucap Dianka.


Dianka keluar dari kamarnya mencari keberadaan Dafa. Dia melihat Dafa sedang berbicara dengan Zion dibalkon lantai atas.


"Papa, Dafa akan membantumu menaklukan Bunda tapi berjanjilah kau akan datang dihari pertamaku bersekolah"ucap Dafa.


"Bocah kecil, nyalimu besar juga memanggilku Papa, kita ini tak seakrab itu. Lagi pula siapa yang mau naksir Bundamu yang galak dan suka main pukul itu. Kalau aku jadi suaminya bisa babak belur setiap hari"ucap Zion.


"Papa belum tahu aja kalau Bunda lagi manis dan seksi. Nanti ku tunjukan foto-foto Bunda yang lagi manis dan seksi, pasti Papa tertarik"ucap Dafa.


"Anak itu ember sekali mulutnya, liat aja kujitak nanti"ucap Dianka dibelakang mereka menguping.


Sebelum Dafa semakin banyak berbicara dengan Zion, Dianka menghampirinya.


"Dafa sayang"ucap Dianka.


Dafa dan Zion menoleh ke belakang melihat Dianka yang menghampiri mereka.


"Bunda"ucap Dafa memeluk Dianka.


Dafa langsung menghampiri Dianka dan memeluknya. Dianka langsung berbisik pada Dafa saat memeluknya.


"Dafa kenapa kau memanggil monster itu Papa, kau mau Bunda jitak?"tanya Dianka.


"Ampun Bunda, lidah Dafa suka salah ngomong kalau deket dia"ucap Dafa.


Melihat Dianka bisik-bisik dengan Dafa, Zion menegur Dianka.


"Dianka lihat bajumu, aku tak suka. Asistenku harus cantik dan seksi. Bajumu itu mirip bodyguard kaku dan kuno banget. Kau itu ku gaji untuk membuatku enak memandangmu juga. Bukannya kaya gini malas aku melihatnya"ucap Zion.


"Hei, aku ini asisten bukannya model cantik dan seksi yang ingin kau lihat body nya. Kalau aku memakai baju seperti itu, matamu nanti jelalatan"ucap Dianka.


"Siapa yang mau jelalatan padamu, wanita galak dan suka mukul orang sepertimu mana mungkin bisa manis dan seksi"ucap Zion.


"Oya, jangan naik ke mobilku bila bajumu masih kaku dan kuno seperti itu"ucap Zion meninggalkan Dianka dan Dafa.


Zion pergi ke kamarnya sementara Dianka dan Dafa masih dibalkon itu.


"Dasar tukang ngatur"ucap Dianka kesal pada Zion.


"Bunda marahan sama Papa, padahal aku baru saja mau mendekatkan kalian"ucap Dafa.


"Dafa jangan terlalu dekat dengan Monster itu, dia berbahaya, oke"ucap Dianka.


"Oke Bunda kalau gak lupa"ucap Dafa.


"Anak ini sudah terkena sihir Monster itu"ucap Dianka dalam hatinya.


Zion menunggu Dianka dimobilnya. Saat pintu mobil terbuka. Dia kaget sampai melongo melihat Dianka tampil anggun dan seksi dengan kemeja dan rok pendek yang dipakainya.


"Kenapa?....kau tak suka juga aku pakai baju ini?"tanya Dianka.


"Wanita galak sepertimu kurang cocok terlihat anggun dan seksi. Apalagi kalau harus berpura-pura manis pasti membuatku sakit perut melihatnya"ucap Zion.


"Hih"ucap Dianka.


"Cepatlah masuk kalau sampai terlambat ke kantor karena dandanmu yang kelamaan itu kupotong gajimu"ucap Zion.


"Menyebalkan"ucap Dianka.


Dianka masuk ke mobil Zion. Dia duduk disampingnya, Dianka risih memakai bajunya. Sepanjang perjalanan tak nyaman berdekatan dengan Zion.

__ADS_1


Sampai dikantor semua karyawan kaget melihat Zion bersama Dianka. Mereka lebih kaget lagi dengan kemeja pink didalam jas yang dipakai Zion. Mereka membicarakan Zion dan Dianka yang baru datang itu.


"Lihat Bos sweet banget, biasa sangar ini jadi sweet kaya hello kitty"ucap Via.


"Apa cewek didekatnya itu pacarnya, cantik banget seksi lagi"ucap Handi.


"Jangan-jangan Bos lagi jatuh cinta sampai hati pakai kemeja sweet gitu. Biasanya diakan perpect banget, killer lagi. Ini kok jadi sweet gini. Manis banget dilihatnya"ucap Keren.


Zion dan Dianka masuk ke ruangan kerja milik Zion. Dianka melihat keseluruh ruangan itu. Semua desain interiornya berwarna hitam dan biru dongker. Tapi ada satu hal yang membuatnya terpana, dia melihat foto anak kecil mirip Dafa duduk diantara sepasang pasangan. Dianka penasaran dan bertanya pada Zion.


"Zion itu foto siapa?"tanya Dianka.


"Fotoku bersama orangtuaku saat aku masih kecil"ucap Zion.


"Berarti dia memang benar-benar bukan Alex. Tapi bagaimana bisa dia begitu mirip Alex, hanya dia lebih menyebalkan"ucap Dianka dalam hatinya.


"Jangan bengong, aku mengajimu bukan untuk melamun, kau kerjakan pekerjaanmu dimeja sebelah sana paham"ucap Zion.


"Aku satu ruangan denganmu?"tanya Dianka.


"Jangan banyak tanya, aku lebih suka orang yang banyak bekerja, oya panggil aku Bos mulai sekarang jika kau tak ingin aku memotong gajimu"ucap Zion.


"Baik Bos, hih"ucap Dianka kesal.


Dianka menuju meja kerjanya dan mulai mengecek pekerjaan dimeja kerjanya. Begitupun dengan Zion yang duduk dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


"Bos, aku tidak paham semua pekerjaan ini, bisa kau sedikit jelaskan"pinta Dianka.


"Aku pikir kau cerdas tak perlu bertanya, itu pekerjaan yang termudah ku berikan padamu. Jadi pelajari saja jangan banyak tanya"ucap Zion.


"Hih, dia mulai jadi monster yang tidak bisa diganggu"ucap Dianka.


"Dianka aku ngantuk, buatkan aku kopi hitam cepetan gak pakai lama"ucap Zion.


"Hei kau masih ingin digajikan, cepat buatkan aku kopi"ucap Zion.


"Dia ini memang monster menyebalkan, liatin aja ku balas kali ini"ucap Dianka dalam hatinya.


Dianka keluar dari ruangan itu menuju ke pantri. Dia membuat kopi untuk Zion. Setelah selesai Dianka kembali ke ruangan kerja Zion.


"Bos ini kopinya, sebaiknya segera diminum selagi panas"ucap Dianka.


"Lihat aja nanti setelah meminumnya"ucap Dianka dalam hatinya.


Zion mengambil cangkir kopi itu dan mulai meminumnya.


"Cih asin sekali kopi ini"ucap Zion.


"Asin?....sorry Bos gulanya habis, aku pikir diberi garam biar lebih gurih kopinya"ucap Dianka.


"Kau mau membuatku darah tinggi terus mati heh"ucap Zion marah.


"Jangan marah Bos nanti darah tinggi beneran, ah  aku lupa harus mempelajari pekerjaan baruku"ucap Dianka lalu berjalan menuju ke meja kerjanya.


"Wanita itu, berani sekali mengerjaiku"ucap Zion dalam hatinya.


Dianka puas bisa mengerjai Zion. Dia tersenyum lebar sambil mengerjakan pekerjaan yang diberikan Zion padanya.


***********


Lara duduk diranjang kamarnya malam itu. Kebetulan Gibran baru pulang, dia langsung mandi dan berganti pakaian. Setelah itu dia menghampiri Lara yang sedang duduk diranjang.


Gibran melihat istrinya terlihat murung, dia coba menanyakan apa yang sedang dipikirkan Lara.

__ADS_1


"Sayang apa ada masalah?"tanya Gibran.


"Sayang, tadi rumah produksi Beautiful Garden menawariku kerjasama difilm terbaru mereka. Film itu mengangkat cerita tentang tarian daerah. Mereka memintaku mengajari artis mereka menari tarian daerah"ucap Lara.


"Bagus dong, terus kenapa kau murung?"tanya Gibran.


"Kau tidak masalah aku menerima tawaran itu?"tanya Lara.


"Tidak memangnya kenapa?"tanyaGibran kembali.


"Nanti mungkin aku akan jarang dirumah dan lebih sibuk, apa itu tak masalah?"ucap Lara.


"Inikan mimpimu, sebagai suami aku ingin bisa mendukungmu, jadi terimalah tawaran itu"ucap Gibran.


"Tapi gimana dengan Mahira?"ucap Lara.


"Ada neneknya yang sayang padanya, lagipula Mahira sudah besar. Ada suster Tari juga, apalagi yang kurang. Lagipula kau tak mungkin kerja 24 jamkan, pasti masih bisa bertemu Mahira"ucap Lara.


"Makasih sayang, kau memang selalu bisa memberiku solusi, aku makin cinta padamu"ucap Lara.


"Aku juga sangat mencintaimu Lara"ucap Gibran.


Mereka akhirnya tidur berpelukan diranjang kamarnya. Lara lega setelah bercerita pada Gibran dan malah didukungnya untuk menerima tawaran itu.


***********


Hari esoknya Lara pergi ke Rumah Produksi Beautiful Garden. Dia menerima tawaran itu dan menandatangani kontrak kerjasama itu. Benso mulai mengenalkan Lara dengan beberapa artis yang akan bermain difilm Semua Orang Bisa Menari.


"Nona Lara yang duduk menyendiri itu namanya Carlos, dia pemeran utama pria difilm ini. Orangnya sulit diajak bicara, tertutup, dingin, dan cuek. Anda harus ekstra bersabar bila nanti mengajarinya menari"ucap Benso.


"Oh begitu ya"ucap Lara.


"Mari saya kenalkan dengan orangnya"ucap Benso.


Benso dan Lara menghampiri Carlos yang duduk menyendiri dan hanya mendengarkan musik lewat headset miliknya. Benso langsung menarik headset itu. Carlos hanya melirik ke arah Benso dan Lara dengan tatapan marah.


"Carlos ini Lara, orang yang akan mengajarimu menari untuk film ini"ucap Benso.


"Hai aku Lara, senang bertemu denganmu"ucap Lara sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"........."Carlos hanya diam tak mau bersalaman dengan Lara.


"Maaf Nona Lara"ucap Benso tidak enak melihat sikap Carlos pada Lara.


"Tidak apa-apa"ucap Lara sambil menarik lagi tangannya.


"Sudah selesaikan"ucap Carlos lalu mendengarkan musik kembali dengan memasang headset ditelinganya.


Bensopun mengajak Lara meninggalkan Carlos.


Mereka berbincang-bincang sambil berjalan menuju ke lobi perusahaan.


"Nona Lara maafkan sikap Carlos tadi, dia memang begitu"ucap Benso.


"Tidak apa-apa, mungkin dia memerlukan waktu untuk saling mengenal"ucap Lara.


"Kami berharap Anda bisa mengajarinya menari secepatnya, karena jadwal syuting film itu akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini"ucap Benso.


"Baik, besok saya dan tim akan mulai mengajari para artis menari disanggar kami"ucap Lara.


"Terimakasih"ucap Benso.


"Sama-sama"ucap Lara.

__ADS_1


Benso mengantar Lara sampai ke mobil miliknya. Setelah itu Lara pulang kerumahnya. Dia senang bisa menerima tawaran itu.


__ADS_2