ISTRI YANG TERSIKSA

ISTRI YANG TERSIKSA
Apa Kau Putriku?


__ADS_3

Ibu Laura mendekati Dianka yang sedang pingsan. Dia memperhatikan wajah Dianka yang cantik, dia memegang pipinya. Dia merasa Dianka mirip dengannya saat masih muda dulu.


Dia melihat bahu Dianka yang penuh darah. Ibu Laura berpikir harus segera mengeluarkan peluru yang bersarang dibahu gadis itu. Baju Dianka dilepas,lalu Ibu Laura mengambil kotak P3K dan alat tajam yang sudah disterilkan seperti gunting, pisau dan penjepit. Setelah itu dia mengeluarkan peluru itu dari bahu Dianka.


"Untung saja, lukanya tak dalam jadi darahnya bisa dihentikan. Kenapa seorang gadis bisa sampai terkena peluru. Padahal kalau dilihat-lihat dia gadis yang cantik dan manis"ucap Ibu Laura.


Ibu Laura mengecek seluruh tubuh gadis itu,dia menemukan tanda bunga merah dipundak Dianka. Dia ingat bayinya juga memiliki tanda bunga merah seperti itu.


"Kenapa dia memiliki tanda yang sama dengan putriku, apa?....."ucap Ibu Laura sedang berusaha menebak gadis itu.


"Apa dia putriku"ucap Ibu Laura.


Ibu Laura mengecek semua peralatan yang ada dibaju dan celana Dianka. Dia heran kenapa seorang gadis membawa peralatan seperti itu.


Dia curiga gadis itu seorang mata-mata atau mungkin seorang agen rahasia.


"Jika dia putriku, mungkinkah?tapi aku harus menyelidikinya dulu, belum tentu dia putriku"ucap


Ibu Laura.


Tak lama Dianka sadar, dia melihat ada seorang Ibu berada disampingnya. Dianka coba mengingat semuanya. Dia ingat kalau tadi dia berusaha kabur dari kejaran polisi.


"Bu, maaf tadi saya main masuk aja ke dalam rumah ibu"ucap Dianka.


"Tidak apa-apa, kebetulan Ibu juga kasihan melihat keadaanmu yang terluka"ucap Ibu Laura.


Dianka berusaha berdiri tapi dia kesakitan dan kembali duduk.


"Nak kondisimu harus menunggu pulih dulu,tadi kau banyak mengeluarkan darah. Lebih baik kau istirahat disini dulu"ucap Ibu Laura.


"Iya, terimakasih Bu"ucap Dianka.


Ibu Laura keluar dari kamar itu untuk memasakkan makanan untuk Dianka. Dia pergi ke dapur dan segera memasak.

__ADS_1


Dianka memperhatikan ruangan itu, dia bisa lolos dari kejaran polisi karena masuk ke ruangan itu.


"Aku harus segera kembali, pasti Alex menunggu hasil misiku, tapi lukaku masih sangat menyakitkan.Kalau nanti bertemu polisi lagi, sulit untukku bisa lolos dengan keadaan seperti ini. Apa lebih baik aku disini sampai besok pagi,baru aku pergi"ucap Dianka.


Dianka berbaring diranjang itu,kemudian dia tertidur. Setelah mulai malam, Ibu Laura membangunkannya untuk makan malam.


"Nak bangunlah"ucap Ibu Laura.


Dianka langsung membuka matanya mendengar suara Ibu Laura memanggilnya.


"Ibu"ucap Dianka.


"Ayo makan malam, Ibu sudah masak untukmu" ucap Ibu Laura.


"Iya"ucap Dianka.


Dianka ikut Ibu Laura pergi ke ruang makan. Dianka duduk berhadapan dengan Ibu Laura. Semua makanan yang dimasak Ibu Laura untuknya begitu enak. Sampai Dianka menangis saat memakannya.


"Aku rindu Ibuku saat makan masakan ini"ucap Dianka.


"Memang Ibumu kemana?"tanya Ibu Laura.


"Ibuku sudah meninggal sejak aku kecil"ucap Dianka.


"Lalu ayahmu dimana?"tanya Ibu Laura.


"Ayahku juga sudah meninggal saat aku kecil"ucap Dianka.


"Apa kau punya saudara kandung?"tanya Ibu Laura.


"Tidak, aku hanya anak tunggal dari orangtuaku"


ucap Dianka.

__ADS_1


"Oya, siapa namamu?"tanya Ibu Laura.


"Dianka"ucap Dianka.


Ibu Laura penasaran dengan latar belakang Dianka. Dia terus bertanya pada Dianka.


"Kau lahir dimana?"tanya Ibu Laura.


"Di rumah sakit Anabel"ucap Dianka.


"Apa pekerjaan orang tuamu?"tanya Ibu Laura.


"Hanya seorang petani biasa"ucap Dianka.


Ibu Laura merasa Dianka ada hubungannya dengan putrinya. Semua jawaban Dianka sama persis dengan yang dia tahu.


"Apa dia benar-benar putriku?"ucap Ibu Laura dalam hatinya.


Selesai makan Dianka tidur diranjang dikamar itu. Setelah dia tertidur pulas, Ibu Laura masuk ke ke kamar itu. Dia mencabut satu buah rambut Dianka. Dia ingin melakukan Tes DNA untuk membuktikan bahwa Dianka adalah putri kandungnya. Setelah mengambil rambut itu, dia keluar dari kamar Dianka.


Dianka bangun sangat pagi sekali,dia ingin meninggalkan rumah itu tanpa diketahui Ibu Laura. Dianka keluar dari rumah itu lewat jendela kamar itu. Dia hanya menitipkan selembar pesan untuk Ibu Laura.


"Maafkan aku Bu, aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku, sampai bertemu lagi"ucap Dianka berjalan menjauhi rumah itu.


Pagi itu Dianka sudah pergi jauh dari rumah itu.


Sementara Ibu Laura masuk ke kamar itu,dia tidak menemukan Dianka dikamar itu.


"Kemana Dianka? apa dia sudah pergi?"tanya Ibu Laura.


"Aku belum juga menanyakan dimana dia tinggal, dia sudah pergi. Hanya rambut itu yang bisa ku buktikan nantinya"ucap Ibu Laura.


Ibu Laura sedih Dianka telah pergi tanpa pamit padanya. Dia curiga Dianka adalah putri kandungnya. Dia harus mengetes DNA rambut Dianka yang diambilnya semalam agar dia tahu kebenarannya.

__ADS_1


__ADS_2